January 1, 2026

2016

Semalam, sebelum tidur lebih awal dari biasanya, saya merekam sebisa mungkin memori tentang pergantian tahun. Saya menyadari bahwa sedari dulu, pergantian tahun tidak pernah menjadi momen yang spesial bagi saya. Semalam, tepat jam 10, saya sudah memejamkan mata di sofa ruang tamu sambil memegang buku.

Saya terjaga kira-kira jam 12 lewat sedikit ketika dentuman petasan yang seakan memecah gendang telinga. Saya terjaga tidak lebih dari lima menit kemudian melanjutkan tidur. Pada akhirnya semua berjalan normal. Momentum pergantian tahun tidak lebih hanya abstraksi dalam pikiran kita untuk memaknai hal-hal yang dianggap ada padahal ilusi. Esoknya, tidak ada yang spesial dan saya pun menjalani hari sebagaimana biasanya.

Saya bangun lebih awal dari biasanya untuk kembali menemukan hal-hal baik yang saya lakukan. Sedikit meditasi dan lanjut rebahan. Rutinitas pagi hari tidak lepas dari secangkir kopi susu dan beberapa potong pisang goreng sambil membunuh waktu di depan layar laptop.

saya menemukan sebuah tulisan di website rumah filsafat dengan judul "Menjadi Nyata di Tahun 2026." Sebuah tulisan membumi tanpa angan-angan layaknya resolusi para manusia yang memburu kenyamanan materi. Tulisan ini menjelaskan tentang momentum tahun baru yang sejatinya abstrak dan ilusif dan tidak nyata, seperti halnya dunia, pikiran kita bahkan emosi juga tidak nyata karena dibatasi ruang dan waktu.

Penulisnya, Reza menyatakan bahwa resolusinya cukup simpel yaitu lebih sering berada dalam keabadian, mengakrabi keheningan yang disebutnya sebagai dirinya yang hakiki.

***

Dua hari sebelumnya, saya melumat sebuah buku dalam sehari kurang lebih 370 halaman. Sebuah buku semacam catatan perjalanan yang ditulis oleh Mohammad Zaim, Muslim dari Kediri yang menceritakan perjalanan panjang kehidupan spiritualnya. Awalnya kuliah di IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN) karena keadaan. Dia diterima di Unesa namun saudaranya menyuruh untuk kuliah di UIN. Hanya beberapa tahun, dia memilih pindah ke sekolah Tinggi Agama Budha di Jakarta.

Zaim memilih sekolah ini karena hasratnya untuk menjalani spiritual model meditasi yang lazim dilakukan pemeluk agama Budha. Selanjutnya dia melanjutkan pencarian jiwanya ke biara yang bernama Plume Village di Bordeaux. Selama 6 tahun, dia menempa dirinya di sana. Satu hal yang unik bahwa meskipun dalam tradisi Budha, dia tetap menganut agama Islam bahkan menurutnya, dengan melakukan itu semua, kepercayaannya terhadap Islam semakin menguat.

***

Momen lain dalam dua kali kesempatan pada platform berbahasa Inggris, saya mengobrol dengan Jade, salah satu mahasiswi di sekolah Budha di Vietnam yang sebentar lagi akan lulus. Kami mengobrol banyak tentang bagaimana meditasi dilakukan.

Saya membukan obrolan dengan menceritakan bahwa di tahun ini, saya berencana untuk meluangkan waktu minimal dua kali dalam sehari untuk belajar meditasi, ketika akan tidur di malam hari dan saat bangun pagi.

Jade dengan penuh semangat mengatakan bahwa meditasi bukan tentang bagaimana kita menyepi dalam keheningan, bukan tentang kondisi tetapi meditasi bisa dilakukan setiap saat. Ketika bekerja, ketika mengobrol, ketika belajar, dan apapun yang sedang kita lakukan. Meditasi sejatinya adalah menyadari apa yang sedang kita lakukan sekarang dan memanggil "Mind" untuk tetap berada pada kondisi present. Ketika dia sedang berkelana ke masa lalu maka panggil dia kembali, pun ketika dia sedang pergi ke masa depan, maka kembalikan dia di masa sekarang.

Dari ketiga momen di atas, mungkin saya sedang diingatkan untuk berusaha belajar sadar akan saat ini. Pikiran tidak bisa dipenjara tetapi dapat dikontrol untuk tidak terlalu mengembara karena sejatinya pikiran yang akan melahirkan berbagai macam hal yang berhubungan dengan psikologis. 


No comments: