Showing posts with label suasana hati. Show all posts
Showing posts with label suasana hati. Show all posts

September 7, 2018

Semakin Menua

Tepat hari ini, berkali lipat tahun yang lalu, saya dihadirkan ke dunia ini tanpa kesadaranku secara kalkulasi manusia. Tuhan memilihku menjadi salah satu penghuni bumi sampai pada detik ini. 

Di saat manusia lain sudah menemukan misinya dihadirkan sebagai manusia, saya masih bingung sampai sekarang, apa sebenarnya tujuan Tuhan mengirimku ke dunia ini dalam wujud manusia. jika banyak orang dengan klise mengatakan bahwa jadilah manusia dan berbuat baiklah namun menurutku tidak berhenti sampai di situ. ada hal lain kenapa setiap orang dihadirkan. saya yakin semua punya misi khusus dan itu yang sampai sekarnag belum kutemukan.

"وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan, AKu tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku.” [Adz-Dzariat/51 : 56]"
Ayat di atas menurutku misi umum bagi semua manusia, namun pribadi masing-masing punya kekhasan dan itu yang harus digali, sialnya saya yang sudah hidup hampir dua kali lipat usia Nabi Muhammad Saw belum menemukan apa sebenarnya keunikan atau potensi yang diselipkan Tuhan dalam diriku yang bermanfaat bagi orang lain. 

Umur yang semakin menua, saya masih berada pada pergulatan pekerjaan yang tidak sesuai dengan prinsip namun tetap bertahan karena kebutuhan. oh mengerikan memang namun pada puncak kegelisahan pun belum ada jalan keluar sampai pada detik ini. perasaan paling bersalah apalagi yang melebih rasa bersalah terhadap penghianatan kata hati. kita bergulat dengan rasa bersalah setiap saat namun tidak kuasa mengikuti kata hati, hanya mengeluh tanpa berada bertindak.

Saya kembali berikrar kepada nuraniku bahwa tahun ini terakhir berada di pekerjaan yang tidak sejalan dengan prinsipku, kekuatan hati dan doa-doa yang mengalir deras dari lisanku senantiasa membangkitkan harapanku bahwa Tuhan sang Pemilik semesta akan berkenan mengamini doaku karena sekeras apapun usaha dan tekad jika Sang Maha belum berkenan maka tidak ada yang bisa mengubah apapun. saya sudah mengalami banyak hal yang menurutku memang tidak bisa diganggu gugat terkait kejadian-kejadian yang tidak disangka.

paling tidak kita hanya bisa berdoa yang terbaik dengan meenyerahkan keputusan yang terbaik menurut-Nya. "jika memang impian ini terbaik untuk diri dan keluarga, dunia dan akhirat maka ridhailah karena yang tahu segalanya adalah Engkau Ya Tuhanku." mungkin seperti itu redaksi yang lebih baik dibandingkan dengan redaksi meminta untuk diluluskan dengan nada yang menggebu.

Tahun ini, saya punya impian keluar dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan hati. saya berencana dan berusaha mendaftar di instansi yang menurutku lebih aman. ironinya lagi bahwa ini yang kesekian kalinya saya mencoba. saya tidak tahu di tempat mana saya terdampar namun saya akan berusaha dan berdoa kemudian menyerahkan segala keputusan kepada Tuhanku dengan mengandalkan intervensi doa. saya yakin Tuhanku akan selalu mengiringi jalanku dan menunaikan impianku. 

Ibuku, ibu dari anakku dan Ibu dari ibu anakku akan bahagia ketika impian ini terwujud. mereka adalah kebahagianku.

sampai jumpa di akhir tahun ini. semoga Tuhanku menunjukkan kuasanya kepadaku dan mengamini doa-doaku untuk impianku dengan keridhaanNya.

7 9 18

April 30, 2018

Sesal

aku menghakimi diriku dengan berbagai macam kekhawatiran yang tak seharusnya. aku menuduh diriku gagal dalam menjalani hidup dan mencapai banyak impian di masa lalu hingga akhirnya aku terdampar di tempat ini. merana, sungguh merana hati yang tak berbesar atas setiap yang sudah terjadi.

aku bersedih atas duniawi yang terlewati. bersedih mengingat diriku yang masih berkutat pada tempat seperti ini di mana mereka yang seusiaku sudah fokus pada kehidupan masing-masing bahkan pada tujuan yang bukan duniawi lagi. tetapi aku..? ah ironi.

aku bersedih pada beberapa keputusanku yang menurutku tidak seharusnya kupilih. mungkin pada hal yang paling pribadi sekali pun. menyesal tidak terlalu keras pada diri untuk menjadi lebih baik dan yang lebih parah, tidak keras pada diri untuk memeluk prinsip sehingga apa yang kujalani sekarang adalah sesuatu yang sangat kontras dengan prinsipku. lalu apa..? ingin berlari jauh namun banyak pertimbangan yang membuatku berkubang dalam kondisi yang tidak mengenakkan.

kemana saja diriku selama ini. membuang begitu banyak kesempatan yang berseliweran di depanku kemudian berlarut-larut dan berakhir pada penyesalan.

tapi,

aku tidak mau kalah. aku masih punya Tuhan yang berjanji akan membantuku dalam setiap masalah yang kutemui. akan kubisiki Tuhan dengan bujukanku di setiap helaan nafasku untuk membuat kondisi menjadi lebih baik. kurayu Tuhan untuk mempertemukanku dengan harapan-harapanku yang tertunda dan yang lebih penting lagi, kuberserah kepada Tuhanku untuk menjauhkanku dari apa yang Dia haramkan dan disyubhatkan dari setiap makanan dan harta yang harus kuberikan kepada keluargaku.

paling tidak,

aku lepas dari sesuai yang masih abu-abu. sesuatu yang menguras pikiran dan tenagaku sedangkan hatiku sudah ingin berlepas. 

Tuhan. kau lebih tahu apa yang kubutuhkan dan kau tahu bahwa ada prinsip yang melekat dalam diriku. apa yang kukerjakan sekarang mungkin tidak terlalu menentramkan jiwaku dan semoga Engkau mendengar bujukanku di setiap sadarku.
Amin.

Awal Mei 18

August 14, 2017

Menakar Diri

Hal yang paling menakutkan dalam perjalanan hidup adalah momen di mana diri terjerembab dalam masa futur. klise untuk mengatakan hal tersebut manusiawi namun beranjak dari kefuturan sangat berat apatahlagi berhubungan dengan hal duniawi.

apalagi yang lebih mengerikan dari diri yang sedang berjalan jauh di luar koridor. menabrak semua tabu yang merusak hati dan mengamini tingkah yang menghitamkan jejak. itu sedang terjadi dan membuat diriku tidak sanggup melakukan perbaikan. kata-kata sudah meluncur dari lidah dan mustahil dipungut kembali.

Saya selalu berandai-andai tentang semua momen yang silih berganti datang menghampiri. berandai akan keindahan dan semua urusan yang dipermudah namun pada kenyataannya, hal tersebut jauh dari harapan. selalu ada kerikil yang menjegal. Saya mengukur diri mengenai unsur-unsur makanan yang masuk ke dalam diri, mungkin dominan unsur haram yang menjelma menjadi butir-butir makanan dan melebur dalam aliran darah.

dua minggu terakhir, Saya diperhadapkan dengan masalah yang menurutku sangat duniawi namun Saya gagal melewatinya. reaksi terhadap masalah terlalu berlebihan. Saya terlalu menggunakan rasionalisasi pikiran yang seringkali tidak seperti yang dipikirkan. 


kalkulasi material tentang hidup terlalu mendominasi pikiran yang membuat perasaan merasa was-was atau bahkan insecure di masa datang padahal kenyataannya semua akan berjalan baik-baik saja. Saya sudah berada pada beberapa momen yang menguatkanku bahwa tidak semua mesti dikalkulasi dengan pikiran karena sejatinya, tangan Tuhan bekerja melebihi apa yang kita pikirkan.

Langkah berikutnya, Saya harus menguatkan diri untuk kembali ke jalur yang seharusnya. menjalani hidup dengan mengurangi cara berpikir yang licik dan mengikuti cara kerja Tuhan. tidak mudah memang untuk kembali menstabilkan hati namun hal tersebut adalah sebuah keharusan, tidak ada tawar menawar.

14 8 17

July 14, 2017

Mudik

Merantau adalah satu satunya cara untuk merasakan euforia mudik. setiap kali momen tersebut tiba, aroma wewangian tanah leluhur sudah menyerbak bahkan seminggu sebelum pulang. pikiran berangkat sebelum raga menyusul. tidak ada lagi rasa yang tertinggal di kota ini.

mudik kali ini mungkin terasa lebih spesial karena saya sudah mempunyai putra. ada semacam rasa senang membawa putra saya menyusuri kampung halaman apatahlagi kali ini adalah mudik pertama baginya. Ramadhan 1437 H tahun lalu adalah momen kehadirannya di dunia dan itu terjadi di kampung halaman ibunya.

hari rabu dinihari 22 Juni 2017 sekira pukul 02:00 WIB. kami sudah siap ke Bandara. sedikit merasa bersalah juga sudah membangunkan anakku di jam yang seharusnya dia menikmati tidurnya dengan pulas namun mengingat pesawat yang akan membawa kami ke Sulawesi akan take off pukul 05:00 WIB maka kami harus siap sedari awal.

kami tidak mengalami hambatan yang berarti di perjalanan bahkan putraku tidak rewel di dalam pesawat sampai pada akhirnya kami tiba di bandara Hasanuddin pukul 08:30 WITA. kami harus bersabar karena jarak dari bandara ke kampung masih memakan waktu sekitar 6-8 jam. untungnya kali ini, kami tidak perlu bersusah payah ke terminal menunggu mobil sewaan karena kakakku berbaik hati menjemput kami di bandara.

perjalanan ke kampung benar-benar menguras tenaga ditambah lagi dengan cuaca yang lumayan panas. kami baru tiba di kampung pukul 19:00 WIB karena mampir di 2 titik dalam perjalanan. pertama mampir di daerah Bojo istirahat sekaligus shalat kemudian mampir di Pare-Pare membeli oleh-oleh.

menginjakkan kaki di rumah setelah sekian lama meninggalkannya selalu mengharu biru apatahlagi disambut oleh wajah sendu seorang wanita yang mulai menua yang selalu merapalkan doa-doa terbaiknya untukku selama di perantauan. saya selalu yakin bahwa kiriman doanya untukku selama di tanah rantau yang membuat jiwa dan ragaku masih terjaga dari cobaan yang dahsyat, tanpa doa tulusnya yang dipanjatkan ke Pemilik Semesta setiap selesai sujud, mungkin saya sudah sering salah langkah.

Saya selalu menikmati wajahnya yang mematung di pintu setiap kali beliau tahu saya mudik. tidak banyak kata yang terucap dari mulutnya pertama kali melihatku, hanya senyum tipis yang menghiasi wajahnya namun itu lebih dari semua apa yang kuinginkan. senyumnya sudah cukup meruntuhkan segala penat yang kubawa dari tanah rantau. saya menyayangi wanita yang rambutnya sudah didominasi warna putih. saya menyayanginya dengan sepenuh hatiku.

hari-hari di kampung berjalanan seperti biasanya. 10 hari di kampung hanya terasa seperti 3 hari. Saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi setiap sudut kampung halaman karena putra saya terlalu rewel bahkan dia tidak mau digendong oleh orang lain.

Dua hari menjelang arus balik, saya selalu merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan. kembali harus meninggalkan bau rumah, aroma masakan ibu dan setiap kemesraan bersama handai tauladan. saya harus kembali ke ibu kota yang benar-benar memekakkan telingaku. arus kehidupan ibu kota sepertinya sudah menggerus begitu banyak sisi manusiaku sampai rasanya saya berjalan seperti robot yang mengikuti alunan kehidupan yang terlalu cepat dan keras.

momen arus balik tiba dan saya kembali mencium setiap sudut wajah Ibu. aroma badannya kubiarkan menempel abadi di tubuhku dan kujadikan sebagai penyicil rindu saat saya di tanah rantau karena kusadari betul bahwa rindu untuknya kembali hadir bahkan sebelum mobil meninggalkan batas kampung.

arus balik lebih menguras tenaga daripada saat mudik. saya dan keluarga menderita flu bahkan putra saya beberapa kali menangis di dalam Pesawat saat perjalanan pulang. meski begitu, tidak mengurangi kesyukuran saya untuk mudik kali ini.

semoga Ibu dan Bapak serta handai tauladan sehat selalu di kampung halaman. saya akan mengunjungi mereka minimal sekali setahun.

Catatan Mudik
minggu ke-2 Syawal

April 18, 2017

Membincang Kembali Dampak Teknologi

Kemajuan teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. ruang dan waktu sudah menjadi wacana yang usang. sepertinya ruang dan waktu hanya ilusi dalam tataran komunikasi di era seperti sekarang. semua serba modern dan ternafikan dengan kemajuan teknologi. kendala apa lagi yang harus dikeluhkan atas setiap hal yang serba ada dan serba bisa seperti sekarang.

memutar kembali diskursus yang lampau ternyata semakin menguatkan pada kenyataan sekarang, bahwa teknologi bisa mendekatkan orang dengan jarak bermil-mil baik via suara, video atau segala fitur-fitur yang disiapkan oleh kecanggihan teknologi namun di sisi yang lain, teknologi pun seakan melebarkan jarak antar mereka yang hanya berada beberapa jengkal namun komunikasi lewat handphone, benar-benar ironi. interaksi antar sesama hanya sebatas chat maupun telepon. itulah mengapa kita sering melihat gerembolan zombie di setiap tempat, mereka menunduk sembari memandang layar handpone tanpa mengerti dan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Betapa absurnya mereka yang duduk di taman, berjalan bersama handai tauladan, menghabiskan makan malam dengan keluarga di rumah namun tangan tidak lepas dari tombol hp dan mata tidak sekalipun luput memandangi layar hp yang entah apa daya tarik dari benda kecil tersebut yang dengan jelas telah merenggut kemanusiaan kita.

setiap kali berkunjung ke Swalayan atau gerai HP maka kenyataan yang kita temui adalah orang bejibun mengantri di setiap stand handphone. setiap hari, penjualan hp tidak pernah sepi dan sebenarnya, fungsinya sudah menggantikan fungsi manusia itu sendiri. mereka atau sesungguhnya kita semua mencurahkan waktu dan tenaga bekerja berjam-jam kemudian melempar hasil keringat di setiap gerai hp. betapa mengerikan.

mereka bekerja untuk membeli barang yang menjadi simbol bahwa mereka bisa survive di tengah manusia-manusia "modern."

pada suatu titik, manusia akan merasa hampa dengan setiap apa tersedia secara instan. seharusnya kemudahan dalam mengakses segala hal tentunya berbanding lurus dengan kualitas diri namun pada kenyataan tidak. kita muda mengakses informasi, mengetahui banyak hal namun tidak mendalam. seringkali hanya mengambil sedikit manfaat untuk dijadikan bahan debat supaya terlihat cerdas. 

kenyataan lain mungkin tentang janji. bagaimana generasi pra milenium mampu menepati janji dengan baik tanpa komunikasi via telepon dibandingkan generasi sekarang yang selalu keteteran mengatur waktu. jalinan silaturrahim generasi sebelumnya selalu terjalin dengan erat namun manusia sekarang tidak mampu menjaga silaturrahim dengan baik karena tergadaikan dengan barang-barang teknologi. mereka seakan tidak bisa jauh dari benda kecil.
ada guyonan yang entah dimana saya baca. "seberapa lama kita bisa hidup tanpa paket internet?"

18 4 17

February 19, 2017

Menyoal Sikap Iwan Fals

“Bang Iwan soal pilkada DKI mendukung Ahok, benarkah?”

Iwan Fals :
“Orang suka punya asumsi. Saya selalu ditarik-tarik ke politik. Dan bukan hanya sekarang Pilkada DKI, Pilpres 2014 pun demikian. Dari jaman-jamannya 3 partai pun demikian. Saya sudah katakan saya warga Depok Jawa Barat nggak mungkin dukung Ahok. Nggak mungkin juga dukung yang lainnya. Saya mengenal Ahok, saya mengenal Anies Baswedan, saya mengenal SBY. Saya apresiasi kepada orang yang berani berbuat untuk kebaikan. Saya netral kecuali untuk agama, keluarga, negara, kopi, dan followers.” Sumber.


Bertubi-tubi cacian, umpatan bahkan kritik yang menyerang pribadi Iwan Fals menjelang pilkada Jakarta. dari berbagai penjuru mata angin hanya karena berhembus isu bahwa IF berafiliasi dengan salah satu kandidat Gubernur meski berkali-kali IF sudah mengklarifikasi isu tersebut baik melalui wawancara maupun media sosial miliknya.

mungkin mereka belum lahir atau bahkan orang tua mereka masih mengenakan seragam sekolah ketika IF sudah berteriak lantang melawan rezim orde baru. pada saat itu, jelas lawan yang dihadapi adalah oligarki di negeri ini yang bersatu sedang berpesta pora menikmati keringat rakyatku.

sikap IF yang seakan netral pada saat situasi politik saat ini adalah pilihan terbaik. tetapi sialnya, sikap netral saat ini dianggap sebagai dosa besar. mereka yang sedang memperebutkan kekuasaan mengklaim diri mereka paling benar sehingga tidak salah jika publik figur yang tidak berafiliasi dengan kepentingan politik akan menjadi sasasaran empuk dari kedua kubu. 

Mereka seakan ingin menarik IF ke dalam pusaran politik yang berpihak ke kubu masing-masing. IF yang menyadari konstalasi perpolitikan terkini memilih untuk tidak bersuara karena sulitnya mengidentifikasi siapa sebenarnya lawan yang harus dihadapi.

IF mungkin saja paham bahwa kondisi yang sedang memanas saat ini adalah pertentangan kepentingan antar oligarki.memilih mengasingkan diri di pinggiran daerah Depok dan menyibukkan diri dengan berbagai konser adalah pilihan bijak. bagaimana tidak, kondisi politik sedang tidak ideal untuk menyuarakan aspirasi karena menentang salah satu kubu oligarki akan menjerumuskan ke dalam kepentingan oligarki yang lain.

IF yang tidak mau terlalu terlibat dalam peta politik saat ini membuatnya digugat massa yang sedang labil. banyak sentilan yang berseliweran di dunia maya yang menghujat IF bahwa ketika orde baru, dia sangat lantang mengkritisi pemerintah namun kenapa sekarang melempen. 
pertanyaan polos saya kepada mereka, memangnya IF punya tanggung jawab apa sehingga kalian selalu menggugatnya? jika dulu IF militan dalam menghalau pengaruh rezim orde baru maka itu salah satu pilihan hidupnya, pun demikian jalan yang beliau tempuh saat itu. memilih diam dan tidak ingin terlalu sok kritis di tengah kondisi politik yang abu-abu maka itupun adalah pilihan sadarnya. tidak ada paksaan baginya. saya yakin bahwa kalian hanya ingin menyeret IF menjadi bagian kubu kalian untuk merebut massa demi memenangkan kepentingan oligarki karena kalian sadar betul bahwa IF masih punya fans fanatik yang tergabung dalam OI.

salah seorang temanku bercerita dengan bangga bahwa ada seirang yang membakar semua koleksi kaset IF karena dia menganggap IF sudah tidak lagi memegang idealisme seperti yang ditunjukkannya pada masa orba. 

terlepas dari semua tudingan yang dialamatkan kepada IF. saya masih sangat yakin bahwa IF masih bersetia kepada idealisme yang dianutnya selama ini. keyakinan saya diperkuat oleh kenyataan bahwa IF tidak pernah menjadi anggota partai politik manapun sedangkan jika mau jujur, IF amat sangat mudah melanggeng di panggung politik jika saja dia mau dengan fans yang memujanya sebegitu banyaknya.

bagi mereka yang masih menganggap IF sudah menggadaikan idealismenya demi makan siang maka saya hanya bisa katakan bahwa kalian hanya sedang berusaha menghujatnya karena menginginkan IF menjadi bagian dari kalian.

Februari 2017

February 7, 2017

Tentang Kerja

Sampai saat ini, saya sudah pernah bekerja di tiga Perusahaan. dari ketiga tempatku bekerja, saya berkesimpulan bahwa setiap kerja punya tanggung jawab masing-masing. hal yang paling menggelikan menurutku adalah menjumpai para pekerja yang selalu tidak puas atas setiap pencapaiannya atau bahkan selalu merasa cukup atas pendapatan yang diterima.

tidak, sama sekali tidak ingin mengamini Perusahaan-Perusahaan yang memeras keringat pekerja terutama buruh Pabrik yang dikebiri haknya. saya hanya ingin berbicara tentang Karyawan kantoran yang sedang menapaki jalan menjadi kelas menengah yang selalu mengeluh namun tetap saja berada dalam bayang-bayang kekuasaan Perusahaannya dimana mereka sebenarnya punya pilihan lain jika tidak sepakat sama peraturan sebuah Perusahaan. 

Mereka atau bahkan mungkin saya, tidak puas atas gaji yang diterima sedangkan pada dasarnya kita sudah sadar bahwa memilih menjadi Karyawan berarti siap atas konsekuensi dari Peraturan Perusahaan yang mengikat dan pendapatan yang flat. maka sangat absurd ketika pada perjalanannya, Para serdadu Perusahaan mulai menggugat kesepakatan awal.

Karyawan yang selalu merasa sudah berjasa sekaligus merasa bahwa apresiasi dari Perusahaan tidak sebanding dengan karyanya maka mereka akan memilih resign atau jika mereka tidak berani mengambil resiko maka pelariannya hanya mengomel di kantor dan menggugat perusahaan.

Saya bukan sok idealis namun saya juga menyadari bahwa pilihan menjadi seorang Karyawan otomatis akan berkorelasi dengan aturan yang mengikat, jika sudah tidak sepakat dengan aturan tersebut maka resign adalah cara yang paling efektif.


pilihan pindah kerja dengan alasan tidak puas atas apresiasi Perusahaan menurutku sangat absurd karena pada intinya, semua perusahaan punya aturan dan saya yakin, karakter karyawan yang pindah perusahaan dengan alasan tidak puas dengan gaji ataupun suasana kantor pada akhirnya akan mengalami hal yang sama di perusahaan lain.

sampai saat ini, saya masih menyakini pilihanku bahwa saya hanya akan pindah perusahaan jika menyangkut hal prinsipil. jika perusahaan sudah berseberangan dengan prinsip yang kuanut maka waktunya mencari tempat yang baru. saya tidak pernah punya rencana pindah perusahaan hanya karena tidak suka suasana kantor ataupun hal-hal kecil yang berada di lingkungan kerja karena menurutku, hal seperti itu ada pada semua Perusahaan.

7 2 17

December 29, 2016

Penat

Penat

dalam diam yang bersekat
entah rasa yang berkali lipat
tak paham akan kalimat

kata
kerja
hampa
dan bosan yang menyergap

statis dalam sebuah kondisi yang menggerus ide
membunuh waktu yang seharusnya berharga

sampai kapan?
harus ada perubahan
belajar adalah jawaban
menemukan visi hidup
semoga bisa sekolah lagi

Amin

29 12 16