Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

October 3, 2018

Tiga Tahun

Perjalanan waktu tiga tahun hanya seperti mengedipkan mata beberapa detik kemudian semua lain dari sebelumnya. jejak demi jejak sudah dilukis di beberapa ruang dan waktu kemudian bergulir sampai saat ini di sebuah keadaan yang baru. 

Masih tergambar jelas di memoriku tiga tahun silam ketika saya harus bergegas ke Surabaya bertemu keluargaku kemudian bersama mereka menjemputmu di kediamanmu. momen yang seringkali membuatku sentimental karena begitu jauhnya jarak yang akhirnya mempertemukan mereka.

Tiga tahun berlalu yang penuh dengan drama kehidupan. tangisan, amarah, tawa, teriakan, pelukan, dan semua drama yang lazim dalam sebuah keluarga. meski saya yakin bahwa masih banyak rintangan yang menanti namun biarlah waktu yang membawa kita bersama dan menjawab semua.

Seringkali terlintas di benakku bahwa sebenarnya apa hakekat dari semua ini? apakah hanya sebatas hidup bersama, tidur, makan, bersenggama, punya anak kemudian hal lain yang lazim dalam sebuah keluarga? apakah sebatas itu?

Sepertinya sangat klise namun berkeluarga tidak sesederhana ini. jika ingin menyederhanakan mungkin lebih pada sebuah perintah atas keyakinan yang dianut yaitu jawaban jika ditanya kenapa berkeluarga maka jawabannya karena keyakinan atas agama yang saya anut memerintahkan saya menikah dan berkeluarga. ujung-ujungnya bermuara di jawaban tersebut. 

Saya membina keluarga karena diperintahkan seperti itu, saya mencintai keluarga karena diwajibkan dan bla bla bla. toh pada hakekatnya itulah yang utama. tidak ada jawaban lain selain bahwa agama saya memerintahkan seperti itu. sama halnya jika saya tidak minum alkohol, bukan karena alasan kesehatan namun karena agama saya jelas melarang hal tersebut maka saya tinggalkan.

Begitulah yang ada di pikiranku namun terlepas dari itu semua, kebersamaan ini akan tetap menjadi tanggung jawabku. meski pada sebuah kenyataan bahwa saya belum bisa memberi materi secara berlebih bahkan lebih sering isteri yang berperan sedangkan tadi siang, saya diingatkan Allah melalui ceramah aa Gym bahwa jangan sekali-kali meminta kepada isteri bahkan untuk membeli bensin sekalipun. saya masih sering melakukan hal tesebut.

di tiga tahun kebersamaan ini, ada satu kado yang akan membahagiakan isteri saya yang merupakan sebuah mimpinya dan juga impian saya. semoga terwujud dan menjadi kado spesial baginya. 

Semoga Allah meridha saya diterima di pekerjaan yang sedang saya daftar dan ini akan membahagiakan isteri saya.

31018

July 18, 2017

Tentang Ulang Tahun

"Lagi sibuk mas? Ini tg brp? Ingat gak ya? Hehe"
Masih tentang ulang tahun yang sedari dulu tidak pernah menjadi sebuah momen yang menurutku wajib diingat apatahlagi harus dirayakan.

Hari ini, isteri saya telah menggenapi keberadaannya di kehidupan ini selama 27 tahun dan sama sekali saya tidak menyadarinya. Kalimat pertama di tulisan ini adalah pesan via whatsapp yang dikirim oleh mertua saya untuk momen hari ini.

Sebulan yang lalu, sehari sebelum idul fitri 1438 H. Anak saya menjalani hidupnya di tahun pertama. Memang ada kue tart atau bahkan lebih cocok disebut kue bolu buatan saudara saya. Kue tersebut dipotong lalu kami saling menyuapi namun sama sekali hal tersebut bukan usaha untuk membiasakannya dan menjadikan potong kue sebagai tradisi pengingat ulang tahun.

Saya selalu menghindari hal-hal yang nampaknya tidak prinsipil. Memang sih bisa jadi momen ulang tahun dijadikan tolak ukur mentafakkuri setiap langkah yang sudah terlewati namun kenyataannya, hal yang kemudian terjadi selama ini adalah merayakannya dengan sesuatu yang sungguh tidak bermakna.

Kalau hari ini saya melupakan momen ulang tahun isteri saya atau lebih tepatnya tidak berusaha mengingatnya, itu karena saya menganggap tidak terlalu urgent. Doa-doa semacam yang terucap saat momen ulang tahun bisa saja dipanjatkan kapan saja. Toh pada dasarnya, kita tidak boleh melepaskan sekian waktu sekalipun untuk merapal doa terbaik untuk setiap orang terkasih.

Karena saya sudah diingatkan akan hari ini, saya tetap harus secara formal mengamini doa khas ulang tahun.

Ini ulang tahun yang kedua selama kami berstatus sebagai pasangan resmi. Tahun-tahun awal pernikahan yang menurut saya lumayan berat dilalui karena menjaga komitmen pernikahan ternyata tidak seindah saat masih pacaran. Semua sisi dalam diri terkuak dan terkadang menyebabkan benturan-benturan antara dua kepala yang sama sekali tidak sama.

Pada akhirnya, menurutku pernikahan bukan tentang apa-apa tetapi lebih pada sikap yang kuat menjaga komitmen dan janji.

Oh iya kan ini tulisan ulang tahun, kenapa menjurus ke pernikahan?

Ya sudah, selamat ulang tahun buat isteriku. Jangan terlalu longgar dalam beragama. Saya merindukan kesungguhanmu menjalankan banyak amalan sunnah saat dulu ketika belum bekerja. Semoga pekerjaan tidak melalaikan dirimu.
Amin

Cirebon, 18 7 17

July 14, 2017

Mudik

Merantau adalah satu satunya cara untuk merasakan euforia mudik. setiap kali momen tersebut tiba, aroma wewangian tanah leluhur sudah menyerbak bahkan seminggu sebelum pulang. pikiran berangkat sebelum raga menyusul. tidak ada lagi rasa yang tertinggal di kota ini.

mudik kali ini mungkin terasa lebih spesial karena saya sudah mempunyai putra. ada semacam rasa senang membawa putra saya menyusuri kampung halaman apatahlagi kali ini adalah mudik pertama baginya. Ramadhan 1437 H tahun lalu adalah momen kehadirannya di dunia dan itu terjadi di kampung halaman ibunya.

hari rabu dinihari 22 Juni 2017 sekira pukul 02:00 WIB. kami sudah siap ke Bandara. sedikit merasa bersalah juga sudah membangunkan anakku di jam yang seharusnya dia menikmati tidurnya dengan pulas namun mengingat pesawat yang akan membawa kami ke Sulawesi akan take off pukul 05:00 WIB maka kami harus siap sedari awal.

kami tidak mengalami hambatan yang berarti di perjalanan bahkan putraku tidak rewel di dalam pesawat sampai pada akhirnya kami tiba di bandara Hasanuddin pukul 08:30 WITA. kami harus bersabar karena jarak dari bandara ke kampung masih memakan waktu sekitar 6-8 jam. untungnya kali ini, kami tidak perlu bersusah payah ke terminal menunggu mobil sewaan karena kakakku berbaik hati menjemput kami di bandara.

perjalanan ke kampung benar-benar menguras tenaga ditambah lagi dengan cuaca yang lumayan panas. kami baru tiba di kampung pukul 19:00 WIB karena mampir di 2 titik dalam perjalanan. pertama mampir di daerah Bojo istirahat sekaligus shalat kemudian mampir di Pare-Pare membeli oleh-oleh.

menginjakkan kaki di rumah setelah sekian lama meninggalkannya selalu mengharu biru apatahlagi disambut oleh wajah sendu seorang wanita yang mulai menua yang selalu merapalkan doa-doa terbaiknya untukku selama di perantauan. saya selalu yakin bahwa kiriman doanya untukku selama di tanah rantau yang membuat jiwa dan ragaku masih terjaga dari cobaan yang dahsyat, tanpa doa tulusnya yang dipanjatkan ke Pemilik Semesta setiap selesai sujud, mungkin saya sudah sering salah langkah.

Saya selalu menikmati wajahnya yang mematung di pintu setiap kali beliau tahu saya mudik. tidak banyak kata yang terucap dari mulutnya pertama kali melihatku, hanya senyum tipis yang menghiasi wajahnya namun itu lebih dari semua apa yang kuinginkan. senyumnya sudah cukup meruntuhkan segala penat yang kubawa dari tanah rantau. saya menyayangi wanita yang rambutnya sudah didominasi warna putih. saya menyayanginya dengan sepenuh hatiku.

hari-hari di kampung berjalanan seperti biasanya. 10 hari di kampung hanya terasa seperti 3 hari. Saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi setiap sudut kampung halaman karena putra saya terlalu rewel bahkan dia tidak mau digendong oleh orang lain.

Dua hari menjelang arus balik, saya selalu merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan. kembali harus meninggalkan bau rumah, aroma masakan ibu dan setiap kemesraan bersama handai tauladan. saya harus kembali ke ibu kota yang benar-benar memekakkan telingaku. arus kehidupan ibu kota sepertinya sudah menggerus begitu banyak sisi manusiaku sampai rasanya saya berjalan seperti robot yang mengikuti alunan kehidupan yang terlalu cepat dan keras.

momen arus balik tiba dan saya kembali mencium setiap sudut wajah Ibu. aroma badannya kubiarkan menempel abadi di tubuhku dan kujadikan sebagai penyicil rindu saat saya di tanah rantau karena kusadari betul bahwa rindu untuknya kembali hadir bahkan sebelum mobil meninggalkan batas kampung.

arus balik lebih menguras tenaga daripada saat mudik. saya dan keluarga menderita flu bahkan putra saya beberapa kali menangis di dalam Pesawat saat perjalanan pulang. meski begitu, tidak mengurangi kesyukuran saya untuk mudik kali ini.

semoga Ibu dan Bapak serta handai tauladan sehat selalu di kampung halaman. saya akan mengunjungi mereka minimal sekali setahun.

Catatan Mudik
minggu ke-2 Syawal

April 18, 2017

Klub lokal yang bernama PSM

Tidak seperti di Jawa Timur yang mayoritas  kota/kabupaten punya klub profesional, Sulawesi Selatan praktis hanya memiliki PSM sebagai salah satu klub yang berlaga di pentas liga tertinggi di tanah air. meski dulu sempat mencuat Persim Maros namun lambat laut hilang dari peredaran. Persipare Pare-Pare belum mampu menancapkan eksistensinya di dunia persepakbolaan Indonesia.

tidak mengherankan jika seluruh penduduk yang berasal dari Sulawesi selatan bahkan juga Sulawesi Barat yang dulunya adalah bagian dari Sulawesi Selatan, mengidolakan PSM Makassar. meski sudah berdiri sendiri sebagai sebuah Provinsi, Warga Sulawesi Barat masih punya ikatan emosional dengan klub PSM apatahlagi, beberapa pemain andalan PSM berasal dari Sulbar. 

PSM Makassar hampir sama dengan Persib Banding yang diidolakan masyarakat se Provinsi. hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena klub sepakbola di dua provinsi tersebut hanya satu yang masuk dalam jajaran klub elit. coba bandingkan di Jawa Timur. hampir setiap kota kabupaten memiliki klub yang berkompetisi di liga 1 maupun liga 2. bahkan rivalitas atas suporter Persebaya dan Arema yang notabene masih dalam satu provinsi sangat kental. sejarah perseteruan antar kedua Suporter tersebut sudah memakan banyak korban jiwa. selain kedua klub tersebut, ada Persela Lamongan, Madura United, Persik, Persegres dan beberapa klub lain.

sebagai warga yang lahir dan tumbuh di Sulawesi Selatan, Saya pun tidak ketinggalan mengidolakan PSM. Saya masih ingat di erah awal tahun 2000 sebelum banyaknya TV yang beredar di Kampung, kami sering mengikuti setiap pertandingan PSM lewat radio. ada sensasi tersendiri mengikuti pertandingan lewat radio yang tidak didapatkan saat menonton bola. misalnya saja, ketika bola masih jauh di tengah lapangan, reporter begitu menggebu-gebu dengan nada tinggi layaknya bola sudah hampir gol.

sampai sekarang, meski sudah merantau di beberapa daerah dan menetap di pulau lain, sama sekali tidak mengurangi rasaku untuk mengidolai PSM. meski di beberapa musim, PSM seperti tidak punya taji namun PSM tidak pernah benar-benar tenggelam.

untuk musim liga 1 2017. PSM kembali menggeliat dengan kepengurusan di dalam tubuh internal yang lebih profesional. transfer pemain yang didatangkan pun tidak mengecewakan. salah satu terobosan yang paling membahagiakan adalah kembalinya beberapa pemain asli Sul-Sel yang sudah menjadi bintang sepakbola. Hamka Hamzah dan Zulkifli Syukur adalah representasi dari pemain Makassar yang sukses di blantika sepakbola Nasional. 

kedua pemain tersebut memang bukan jaminan PSM secara otomatis juara namun setidaknya, mentalitas juara yang sudah ada di dalam diri mereka bisa ditularkan ke pemain muda. ada semacam kebahagiaan tersendiri ketika melihat klub idola diisi oleh pemain binaan sendiri.

di pertandingan awal, PSM mampu menundukkan Persela meski secara pribadi, Saya masih belum puas melihat permainan yang ditunjukkan oleh pemain PSM. mereka kurang greget dalam bermain apatahlagi ketika salah satu Pemain Persela terkena kartu merah. 

kredit poin harus diberikan ke Hamka Hamzah melihat totalitasnya dalam menjaga pertahanan PSM. terlihat semangat yang membara di setiap ekspresi wajahnya untuk mempersembahkan yang terbaik untuk klub kelahirannya, bahkan di salah satu momen ketika gawang PSM hampir dibobol syamsul Arif, Ekspresi emosional Hamka diperlihatkan kepada teman-temannya yang terlambat menutup pergerakan Syamsul Arif.

apresiasi yang tinggi pun pantas dialamatkan kepada pemain muda yang berperan penting di sektor gelandang, Asnawi Mangkualam. pemain yang baru berumur 17 tahun tersebut menunjukkan karakter PSM yang keras dan tidak pantang menyerah. jika dia tetap berada di jalur yang benar dan tidak cepat merasa puas maka saya yakin, dia akan menjadi pemain gelandang terbaik di Negeri ini.

oh iya semoga tahun ini PSM Makassar bisa menjuarai Liga 1.
Ewako PSM

18 4 17

April 7, 2015

Menyapa Malam

malam menerjang siang yang lelah. hingga kabut senja bercucuran dari atap langit yang basah
selalu saja seperti itu

aku duduk menunggumu yang tak jua muncul. entah engkau dihadang rindu yang semakin menyiksa

tiada dua kata yang mampu kuucap. karena para pengejar mentari telah tiba diujung senja

tinggal kita berdua
merangkai katakata yang kemarin tertinggal jatuh
untukku satu dan yang lain untukku

rawamangun.070415