January 6, 2026

Pria Yang Terdiam di Bangku Taman (1)

 BAGIAN I — Aku yang Kehilangan Arah

1. Aku tidak sedih, tapi juga tetap hidup

Apa itu sedih, dari mana datangnya dan bagaimana menawar kesedihan? Atau mungkin sedih merupakan hal yang alamiah dalam hidup setiap manusia. Bagaimana bangkit dari kesedihan  dan menemukan jawaban hidup dari perasaan sedih.

Mengapa ketika manusia sedih, energinya seakan terkuras dan tak mampu melakukan hal-hal yang produktif. Sedih tidak terlihat namun membunuh manusia perlahan bahkan keramaian sekalipun tidak berarti. 

Aku seorang pria yang sangat sering merasakan kesedihan sejak memutuskan menikah. Bukan, bukan karena menyesal tetapi begitu banyak alasan yang melahirkan kesedihan tak berujung. Atau mungkin juga khawatir, entahlah apapun namanya.

Aku lahir dari keluarga sederhana dengan tujuh bersaudara. Kami tidak pernah begitu menderita, setidaknya kami masih bisa makan bahkan sampai berapa kali dalam sehari jika mau. Kami pun masih mampu melanjutkan pendidikan bahkan sampai ke tingkat universitas. 

Namun demikian, aku tidak pernah begitu merasakan hal berlebih saat masih kecil. Seingatku, kami memiliki sepeda namun pemberian dari saudara dan sepeda itu beberapa kali diservis, sekali digunakan, tiga kali diservis.

Kami pun tidak punya kamar pribadi karena hanya ada tiga kamar di rumah. Alhasil kami berbagi kamar. Pengalaman ini yang membuat aku begitu sedih ketika menyadari bahwa aku belum mampu menyediakan kamar sendiri untuk satu-satunya putra kami. Saat menggambar atau belajar, dia harus berada di depan ruang tamu yang itupun tidak memadai. Itu kesedihanku dan beberapa kesedihan-kesedihan lain.

Begitu membayangkan ketidakmampuanku, aku memilih untuk berdiam diri di bangku taman, menyesapi udara sore hari yang nampaknya menyadari kehadiranku. Dia menyapa begitu lembut bahkan sangat hati-hati, mungkin dia mengerti bahwa aku sedang dalam kesedihan dan hanya butuh sedikit ruang untuk merasakan diri.

Aku cukup lama membenamkan pikiranku di bangku taman itu. Bocah-bocah bercanda di sebrang jalan sambil sesekali melirik kepadaku, mungkin mereka iba sambil berguman, "alangkah mengerikannya menjadi orang dewasa dengan berbagai problematikanya."

Ada benarnya, tidak harus disadari bahwa saat nafas masih menyatu dengan jasad maka pastikanlah bahwa masalah akan terus mengintai. Dia tidak akan menghilang dari setiap jejak langkah yang diukir di dunia ini.

Jika sebagian orang dewasa iri melihat bocah yang membunuh waktu dengan bermain, maka aku tidak, sama sekali tidak. Hidup adalah saat ini maka masa lalu hanya sejarah sementara esok hari adalah angan-angan.

Di bangku taman itu aku menyadari sesuatu yang ganjil, kesedihan tidak selalu datang untuk menghancurkan. Kadang ia hanya duduk di samping kita, diam, menunggu kita berani menatapnya. Dan sore itu, untuk pertama kalinya, aku tidak mengusirnya.

Aku menarik napas panjang. Udara terasa lebih berat, tapi juga lebih jujur. Mungkin aku belum mampu memberi kamar sendiri untuk anakku, belum mampu menjanjikan masa depan yang mewah. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup. Dan entah mengapa, kesadaran itu memberiku alasan kecil untuk tetap mendekap sore di bangku taman.

Tarikan nafasku melalui hidung sambil pikiranku menghitung sampai delapan. Aku menahan nafas dengan hitungan yang sama lalu melepaskan nafas melalui mulut, pun dengan hitungan yang sama. Aku menyadari menjadi nyata, merasakan pikiran yang menari-nari ke masa lalu kemudian ke masa depan. Aku tidak memenjarakannya, hanya mengontrolnya.

Setiap kali pikiran terbang, aku menariknya kembali ke masa sekarang. Kemudian mulai merasakan pundak, aliran darah di tangan, jemari yang seringkali kaku, perut yang tidak pernah lelah dijejali makanan. Aku pun merasakan kedua kaki yang tidak pernah lelah melangkah.

Bersama itu, aku juga merasakan hal dari luar diri, sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam, udara sore yang menyejukkan, suara-suara riuh dari lalu lalang manusia.

Aku merasakan semuanya kemudian tiba-tiba terang. Kepalaku seperti dikalibrasi dari berbagai kotoran yang menumpuk. Aku beranjak lalu berguman, mulai sekarang aku ingin hidup dalam kenyataan bukan dan kesadaran.

No comments: