April 10, 2020

2020

2020 sudah memasuki bulan keempat. proses perjalanan dalam setahun yang belum genap mencukupi setengahnya, namun nampaknya tahun ini menjadi sebuah perjalanan panjang yang melelahkan bukan hanya fisik namun juga psikis bahkan bukan masalah yang relatif maka masing-masing orang namun menjadi masalah yang universal. sebuah tahun yang benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. saya tidak sedang menghakimi sebuah perjalanan dari sudut pandang orang secara psikis namun saya hanya ingin mengatakan bahwa secara lahiriah, semua orang marasakan dampak dari musibah yang sedang terjadi.

Mungkin di akhir tahun kemarin, semua orang sudah menyusun resolusi dengan sistematis dan penuh dengan optimisme yang tinggi dengan bayang-bayang akan berjumpa dengan mimpi-mimpi di tahun ini namun baru tiga bulan berjalan, saya yakin bahwa semua relosusi tersebut porak-poranda dengan makhluk yang begitu sangat kecil dan tak kasat mata. sesuatu yang tak terlihat secara indrawi memang lebih membahayakan.

Virus Corona atau yang sering dikenal dengan nama Covid-19...!!!

Pandemi virus ini benar-benar menciptakan sebuah horor bagi seluruh manusia di bumi ini. Akhir Desember 2019, virus ini sudah mengirimkan pesan kepada seluruh Manusia untuk menyiapkan amunisi dengan sebaik-baiknya namun nampaknya Manusia tidak pernah mau belajar terhadap alam. apa yang mereka raih selama ini dalam hal yang mereka sebut sebagai sebuah "peradaban" membuat manusia lupa akan asalnya. Manusia menjadikan dirinya sebagai pusat dari alam semesta yang segalanya bisa mereka kendalikan.

Peringatan yang sudah sangat jelas dari makhlus tak kasat mata ini bahkan disikapi dengan pongah oleh para Manusia pemegang otoritas di beberapa negara. Presiden di negeri saya bahkan dengan cerobohnya melakukan langkah yang berani ketika periode Februari 2020, virus ini belum menyerang negeriku, Presiden membuka jalur wisata dari negara yang sudah terpapar, bahkan Menteri Kesehatan mengerdilkan virus ini bahwa hanya virus biasa yang bisa disembuhkan sendiri oleh tubuh Manusia. pun demikian dengan negara yang mendaku pemimpin dunia, Presidennya meremehkan virus ini.

Kemudian apa yang terjadi tidak lama setelah itu, virus ini kemudian dengan membabi buta menyerang semua Manusia tanpa kecuali. Negara yang sebelumnya meremehkan ternyata kewalahan dari menghadapi makhluk yang sama sekali tak terlihat. 

Peringatan yang sangat jelas dari Alam...!!!

Teori-teori sudah berseliweran di linimasa tentang asal muasal munculnya virus ini. bagi para aktivitis lingkungan, mereka mungkin mengatakan bahwa virus ini lahir dari keserakahan Manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa batas. bagi para pengamatan ekonomi politik, mungkin akan berpikir bahwa ini adalah hasil dari design perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. bagi para Ilmuwan Alam bahwa virus ini sebenarnya sesuatu yang lazim karena dalam proses perjalanan alam semesta ini, setiap makhluk akan saling menyerang untuk tetap eksis, di balik makhluk yang eksis hari ini, ada berbagai jenis makhluk lain yang dikorbankan. bagi para teori konspirasi, Mereka meyakini bahwa virus ini dibuat di laboratorium sebagai senjata kimia.

Bayangkan di sekitar Jakarta dan kota satelitnya, setiap orang melihat tanah kosong sebagai potensi untuk membangun perumahan yang kemudian dijual dengan harga yang tidak masuk akal. membangun rumah tidak lagi membangun sebuah bangunan sebagai tempat istirahatnya jiwa namun membangun rumah semata untuk sebuah bangunan kokoh yang dinilai dengan bebeberapa lembar kertas yang kemudian dijadikan pride sebagai sebuah simbol keberhasilan, kemewahan dan simbol duniawi lainnya.

Di kota ini, tidak ada lagi ruang untuk makhluk selain Manusia selain Makhluk yang bisa dimanfaatkan oleh mereka.

Terlepas dari semua teori yang ada, saya tidak terlalu tertarik untuk meyakini salah satunya. satu hal yang pasti bahwa ancaman virus ini nyata dan sedang menyerang eksistensi Manusia. setiap individu seharusnya mengambil bagian dalam proses penyelesaian masalah ini dalam ranahnya masing-masing. jika seorang Dokter maka akan bahu membahu di rumah sakit, jika seperti saya yang tidak terlalu berkepentingan di luar, maka tinggal di rumah sesuai anjuran Pemerintah.

Saya yakin bahwa eksistensi Manusia masih akan tetap berlanjut dan momen akan akan berlalu suatu saat nanti meskipun tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir. namun bukan pada persoalan apakah Manusia masih tetap eksis atau tidak namun pada persoalan bahwa seberapa Manusia yang harus takluk di depan virus ini. kematian memang sesuatu yang pasti namun kematian massal adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang harus disikapi. atau jangan-jangan memang kita hidup hanya untuk mempertahankan eksistensi masing-masing. mungkin kebetulan saya bahwa kita menghadapi musuh yang sama sehingga saling membantu mempertahankan eksistensi, jika badai ini berlalu, kita akan kembali lagi ke pola lama untuk saling mengalahkan demi sebuah pride yang namanya eksistensi.



Dampaknya menghancurkan semua lini kehidupan bahkan salah satu lini yang selama ini diagungkan-agungkan oleh Manusia adalah keagamaan yang juga porak poranda. lihatlah Gereja, Masjid, Pura, Sinagoge dan semua tempat yang selalu dijadikan tempat penyembahan. semua dikosongkan atas nama virus ini. lalu kemudian apa yang tersisa dan keegoan Manusia selama ini tentang siapa yang benar dalam beribadah kepada Sang Pemilik semesta. semua terdiam menyadari bahwa tidak ada yang patut mendaku kelompoknya sebagai paling suci. rumah-rumah ibadah tersebut hanyalah bangunan sebagai sebuah simbol yang paling sering hanya dijadikan sebagai sebuah pengukuhan diri sebagai paling suci, namun yang paling hakiki bahwa Tuhan sebenarnya tidak membutuhkan itu semua. Tuhan membutuhkan hati Manusia yang jernih dalam benar-benar mencariNya dalam keheningan terlepas dari kalkulasi duniawi.

Salah satu gambar yang entah benar atau tidak, terlihat seorang Manuasia duduk di depan Kabbah sambil berlutut. gambar tersebut disertai dengan caption kurang lebih seperti ini bahwa bukan raja, buka orang kaya namun hanya seorang tukang bersih yang boleh beribadah di depan Kabbah. 

Semua orang harus tinggal di rumah. banyak hal yang harus ditarik garis lurusnya. menjadi pelajaran bagi Manusia bahwa rumah bukan hanya tempat singgah untuk berbaring namun juga harus dihidupkan dengan kehangatan antar anggota keluarga. selama ini sesama keluarga hanya bertatapan pada subuh sebelum berangkat dan pada malam hari sepulang kantor dan ini adalah momen untuk kemudian merekonstruksi kembali apa makna rumah sebenarnya. sejatinya rumah bukan hanya bagunan fisik semata untuk berteduh dan sebagai pride bagi sebagian orang berpunya yang mempunyai rumah bak istana, namun rumah lebih dari itu semua.

Tinggal di rumah juga mengajarkan kita bahwa betapa tersiksanya hewan yang dikurung dalam kandang tanpa dikeluarkan. meskipun sebenarnya saya masih sangat awam untuk menarik garis dengan ranah ini karena beberapa hewan yang sudah didomestikasi memang perlu dikandangkan.

Namun terlalu jauh jika saya melihat apa yang ada di luar diri saya tanpa melihat apa yang sudah berubah dalam diri saya setelah hampir tiga minggu harus mendekam di rumah karena makhluk yang tak kasat mata.

Nampaknya belum ada yang terlalu signifikan terjadi di dalam diri saya. rencana-rencana yang seharusnya sudah bisa saya selesaikan di rumah tidak tercapai. hati saya masih picik dalam menghadapi musibah ini dan jarang sekali berbisik ke dalam diri saya, apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang Manusia, dan jika momen ini berlalu, langkah apa selanjutnya yang harus kuteruskan supaya hidup sedikit lebih bermakna? 

No comments: