February 19, 2017

Andrea Ranocchia, Mencari diri di Iiga Inggris

http://www.andrearanocchia.com/2014/04/08/visita-in-sede/
Saya pernah menulis tentang para Pemain Inter Milan yang pantas untuk dijual dan Ranocchia adalah Pemain yang saya tempatkan berada di urutan pertama. alasan saya karena sejak bergabung dengan Nerazurri, dia tidak pernah benar-benar mampu menarik perhatian saya malahan dia sering melakukan blunder yang berujung kekalahan. postur tubuh yang mumpuni untuk menjadi seorang palang pintu ternyata tidak mampu dimanfaatkan dengan baik.

keinginan saya melihat Ranocchia untuk keluar dari pintu Inter Milan akhirnya terwujud. dia dipinang oleh salah satu klub Liga inggris, Hull City. penampilan perdananya membawa hoki ketika mengalahkan Liverpool dan ikut menyumbangkan satu assist, namun hal tersebut belum jua membuatku terkesan.

keputusannya untuk pindah ke Liga Inggris benar-benar di luar dugaanku. bagaimana tidak, Liga Inggris yang sejak dulu dikenal sebagai Liga yang mengandalkan kecepatan sangat berbanding terbalik dengan apa yang diperlihatkan oleh Ranocchia selama berbaju Nerazurri. dia selalu keteteran meladeni seorang striker yang mempunyai kecepatan di atas rata-rata.

Meski berstatus pemain pinjaman, saya berharap bahwa Ranocchia akan dipermanenkan oleh Hull City karena penampilannya selama berada di klub tersebut terbilang lumayan. mungkin saja Ranocchia adalah pemain yang potensial namun tidak cocok dengan pola permainan Inter Milan.

Semoga saja betah di Liga Premier bersama Hull City, Om Rano. cayoooo!!!!

Februari 2017

Gerombolan Analisator

Apa yang paling menyebalkan atas perkembangan internet yang semakin canggih? Menurut saya, munculnya gerombolan analisator abal-abal di media sosial.

Untuk setiap fenomena yang sedang mengemuka di ruang publik, kita pasti disuguhi berbagai macam analisa entah di beranda fesbuk, twitter, blog ataupun ruang dimana mereka bisa mengekspresikan eksistensi mereka dengan analisa-analisa yang menggelikan.

Saya akan melakukan kroscek terhadap penulisnya jika membaca sebuah artikel. Jika tidak jelas dan tidak relevan, dengan segera kutinggalkan. Memang sih semua hikmah harus diambil meski keluar dari dubur ayam tetapi toh terkadang menyebalkan.

Hal yang paling memuakkan menurutku adalah fenomena pilkada jakarta. Para anlisator karbitan keluar dari goa dengan berbagai macam ulasan. semua demi mencari perhatian atas kepentingan oligarki yang sedang dibelanya.

saya sangat kesal terhadap mereka yang berusaha menganalisa pilkada dari sudut pandang kelompoknya sendiri tanpa berusaha membuka sedikit ruang diskusi dengan analisa yang dianggapnya tidak sesuai dengan kepentingan kelompoknya. dia mengambil semua referensi yang berpihak pada kelompoknya untuk menguatkan pendapatnya meski disadari bahwa referensi tersebut tidak ilmiah bahwa berita Hoax.

saya menjumpai salah seorang yang dengan bahagianya mengcapture judul berita di salah satu media online kemudian menertawakannya karena menganggapnya bahwa media tersebut sedang menyebarkan berita Hoax dan di lain waktu ketika kelompok yang dibelanya ketahuan menyebarkan Hoax, dia hanya berujar singkat kemudian memakluminya sebagai bagian dari perjuangan. ingin rasanya saya menghujatnya saat itu juga namun saya kembali berpikir, apa bedanya saya dengan mereka jika harus mengeluarkan beribu hujatan. lebih baik diam kemudian mengusap dada ketika berhadapan dengan orang yang berpendirian seperti itu.

saya tidak punya tendensi apa-apa terhadap kubu yang sedang bertarung di pilkada kali ini, toh saya yakini bahwa mereka sedang berkompetisi atas kepentingan kelompok mereka namun saya hanya bersimpati bagi mereka yang benar-benar menutup hati demi melanggengkan tujuan mereka meski saya juga menyadari bahwa dari kelompok yang sedang bertarung, masih ada individu-individu di dalamnnya yang bersetia terhadap kebenaran dan saya menyenangi ulasan mereka yang berbuat adil sejak dalam pikiran. "meminjam istilah om Pram."

Februari 2017

Menyoal Sikap Iwan Fals

“Bang Iwan soal pilkada DKI mendukung Ahok, benarkah?”

Iwan Fals :
“Orang suka punya asumsi. Saya selalu ditarik-tarik ke politik. Dan bukan hanya sekarang Pilkada DKI, Pilpres 2014 pun demikian. Dari jaman-jamannya 3 partai pun demikian. Saya sudah katakan saya warga Depok Jawa Barat nggak mungkin dukung Ahok. Nggak mungkin juga dukung yang lainnya. Saya mengenal Ahok, saya mengenal Anies Baswedan, saya mengenal SBY. Saya apresiasi kepada orang yang berani berbuat untuk kebaikan. Saya netral kecuali untuk agama, keluarga, negara, kopi, dan followers.” Sumber.


Bertubi-tubi cacian, umpatan bahkan kritik yang menyerang pribadi Iwan Fals menjelang pilkada Jakarta. dari berbagai penjuru mata angin hanya karena berhembus isu bahwa IF berafiliasi dengan salah satu kandidat Gubernur meski berkali-kali IF sudah mengklarifikasi isu tersebut baik melalui wawancara maupun media sosial miliknya.

mungkin mereka belum lahir atau bahkan orang tua mereka masih mengenakan seragam sekolah ketika IF sudah berteriak lantang melawan rezim orde baru. pada saat itu, jelas lawan yang dihadapi adalah oligarki di negeri ini yang bersatu sedang berpesta pora menikmati keringat rakyatku.

sikap IF yang seakan netral pada saat situasi politik saat ini adalah pilihan terbaik. tetapi sialnya, sikap netral saat ini dianggap sebagai dosa besar. mereka yang sedang memperebutkan kekuasaan mengklaim diri mereka paling benar sehingga tidak salah jika publik figur yang tidak berafiliasi dengan kepentingan politik akan menjadi sasasaran empuk dari kedua kubu. 

Mereka seakan ingin menarik IF ke dalam pusaran politik yang berpihak ke kubu masing-masing. IF yang menyadari konstalasi perpolitikan terkini memilih untuk tidak bersuara karena sulitnya mengidentifikasi siapa sebenarnya lawan yang harus dihadapi.

IF mungkin saja paham bahwa kondisi yang sedang memanas saat ini adalah pertentangan kepentingan antar oligarki.memilih mengasingkan diri di pinggiran daerah Depok dan menyibukkan diri dengan berbagai konser adalah pilihan bijak. bagaimana tidak, kondisi politik sedang tidak ideal untuk menyuarakan aspirasi karena menentang salah satu kubu oligarki akan menjerumuskan ke dalam kepentingan oligarki yang lain.

IF yang tidak mau terlalu terlibat dalam peta politik saat ini membuatnya digugat massa yang sedang labil. banyak sentilan yang berseliweran di dunia maya yang menghujat IF bahwa ketika orde baru, dia sangat lantang mengkritisi pemerintah namun kenapa sekarang melempen. 
pertanyaan polos saya kepada mereka, memangnya IF punya tanggung jawab apa sehingga kalian selalu menggugatnya? jika dulu IF militan dalam menghalau pengaruh rezim orde baru maka itu salah satu pilihan hidupnya, pun demikian jalan yang beliau tempuh saat itu. memilih diam dan tidak ingin terlalu sok kritis di tengah kondisi politik yang abu-abu maka itupun adalah pilihan sadarnya. tidak ada paksaan baginya. saya yakin bahwa kalian hanya ingin menyeret IF menjadi bagian kubu kalian untuk merebut massa demi memenangkan kepentingan oligarki karena kalian sadar betul bahwa IF masih punya fans fanatik yang tergabung dalam OI.

salah seorang temanku bercerita dengan bangga bahwa ada seirang yang membakar semua koleksi kaset IF karena dia menganggap IF sudah tidak lagi memegang idealisme seperti yang ditunjukkannya pada masa orba. 

terlepas dari semua tudingan yang dialamatkan kepada IF. saya masih sangat yakin bahwa IF masih bersetia kepada idealisme yang dianutnya selama ini. keyakinan saya diperkuat oleh kenyataan bahwa IF tidak pernah menjadi anggota partai politik manapun sedangkan jika mau jujur, IF amat sangat mudah melanggeng di panggung politik jika saja dia mau dengan fans yang memujanya sebegitu banyaknya.

bagi mereka yang masih menganggap IF sudah menggadaikan idealismenya demi makan siang maka saya hanya bisa katakan bahwa kalian hanya sedang berusaha menghujatnya karena menginginkan IF menjadi bagian dari kalian.

Februari 2017

February 17, 2017

Buku Itu

Saya lupa persisnya tapi kalau ingatanku tidak keliru, kejadian tersebut kulalui minggu lalu.

Bukan sesuatu yang terlalu menarik untuk kutulis tentang sebuah buku yang kutemukan tergeletak di jalan menuju rumahku. Buku sampul putih yang masih terbungkus plastik.

"A Man Called #AHOK." iya buku tentang sosok figur yang sedang populer di negeri ini kutemukan di pinggir jalan. Ada keinginan untuk memungutnya namun kuurungkan dengan berbagai pertimbangan.

Hal yang paling mendominasi pikiranku adalah apakah buku tersebut sengaja dibuang atau mungkin jatuh tanpa sengaja?

Februari 2017

February 14, 2017

Pendirian

Beberapa waktu lalu sesaat setelah pindah rumah, saya menyempatkan menyortir buku-buku yang menurutku tidak layak kupajang di meja dekat tv. List paling atas adalah buku karya Tere Liye yang satu persatu kusingkirkan dan kusumbangkan ke kakakku.

Penyebabnya karena beberapa waktu yang lalu,Tere Liye menihilkan andil kader PKI dalam perjuangan kemerdekaaan. entah Tere Liye memang tidak membaca secara komprehensif sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia ataukah mungkin saja dia sedang berusaha menghapus andil gerakan yang berhaluan komunis dari sejarah panjang bangsa Indonesia

Fokus saya tidak sedang membahas tentang motif Tere Liye namun lebih kepada sikap saya yang memboikot karyanya padahal hampir pasti semua seri buku karya Tere Liye sudah dibeli isteri saya.

saya harus mengakui bahwa ada beberapa buku Tere Liye yang layak untuk dibaca disaat rindu kampung atau sedang ingin memunculkan rasa sentimental atas kepingan-kepingan masa lalu. salah satu bukunya yang menurutku bagus adalah "Rembulan tenggelam di wajahMu." buku ini sedikit mengandung unsur sufistik di mana setiap potongan-potongan kisah yang dialami di dunia pada akhirnya terangkai pada sebuah cerita utuh.

meski pada akhirnya, saya menyadari bahwa membaca tiga sampai empat buku Tere Liye maka kita akan mengetahui buku karyanya yang belum dibaca. selalu ada kesamaan ketika dia bercerita panjang dalam setiap bukunya.

kesalahan saya berikutnya adalah seringkali pula ketika membeli buku, pertimbangan pertama mengacu pada asumsi umum bahwa buku tersebut dianggap keren dan digandrungi banyak orang padahal saya sendiri terkadang tidak menyukainya.

setidaknya saya harus membaca buku apa saja yang menurutku bermanfaat. lebih pada diri sendiri. toh jika saja memang saya menyukai novel tentang percintaan remaja maka kenapa tidak saya membaca.

14 2 17
Draft tulisan yang mengendap sudah terlalu lama

February 7, 2017

Tentang Kerja

Sampai saat ini, saya sudah pernah bekerja di tiga Perusahaan. dari ketiga tempatku bekerja, saya berkesimpulan bahwa setiap kerja punya tanggung jawab masing-masing. hal yang paling menggelikan menurutku adalah menjumpai para pekerja yang selalu tidak puas atas setiap pencapaiannya atau bahkan selalu merasa cukup atas pendapatan yang diterima.

tidak, sama sekali tidak ingin mengamini Perusahaan-Perusahaan yang memeras keringat pekerja terutama buruh Pabrik yang dikebiri haknya. saya hanya ingin berbicara tentang Karyawan kantoran yang sedang menapaki jalan menjadi kelas menengah yang selalu mengeluh namun tetap saja berada dalam bayang-bayang kekuasaan Perusahaannya dimana mereka sebenarnya punya pilihan lain jika tidak sepakat sama peraturan sebuah Perusahaan. 

Mereka atau bahkan mungkin saya, tidak puas atas gaji yang diterima sedangkan pada dasarnya kita sudah sadar bahwa memilih menjadi Karyawan berarti siap atas konsekuensi dari Peraturan Perusahaan yang mengikat dan pendapatan yang flat. maka sangat absurd ketika pada perjalanannya, Para serdadu Perusahaan mulai menggugat kesepakatan awal.

Karyawan yang selalu merasa sudah berjasa sekaligus merasa bahwa apresiasi dari Perusahaan tidak sebanding dengan karyanya maka mereka akan memilih resign atau jika mereka tidak berani mengambil resiko maka pelariannya hanya mengomel di kantor dan menggugat perusahaan.

Saya bukan sok idealis namun saya juga menyadari bahwa pilihan menjadi seorang Karyawan otomatis akan berkorelasi dengan aturan yang mengikat, jika sudah tidak sepakat dengan aturan tersebut maka resign adalah cara yang paling efektif.


pilihan pindah kerja dengan alasan tidak puas atas apresiasi Perusahaan menurutku sangat absurd karena pada intinya, semua perusahaan punya aturan dan saya yakin, karakter karyawan yang pindah perusahaan dengan alasan tidak puas dengan gaji ataupun suasana kantor pada akhirnya akan mengalami hal yang sama di perusahaan lain.

sampai saat ini, saya masih menyakini pilihanku bahwa saya hanya akan pindah perusahaan jika menyangkut hal prinsipil. jika perusahaan sudah berseberangan dengan prinsip yang kuanut maka waktunya mencari tempat yang baru. saya tidak pernah punya rencana pindah perusahaan hanya karena tidak suka suasana kantor ataupun hal-hal kecil yang berada di lingkungan kerja karena menurutku, hal seperti itu ada pada semua Perusahaan.

7 2 17

February 6, 2017

Berhati-hati dalam menilai

Suatu hari ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang baik, ‘ Umar bin Khattab bertanya padanya,

Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya ?”
” Belum,” jawabnya ragu.
Pernahkah engkau,” cecar Umar, ” Berselisih perkara dan bertengkar hebat dengannya sehingga tahu bahwa dia tidak fajir dalam berbantahan ?”
” Ehm, juga belum…”
Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya ?”
” Itu juga belum. “
Kalau begitu pergilah kau, hai hamba Allah. Demi Allah kau sama sekali tidak mengenalnya
mudahnya kita menghakimi seseorang, mencaci dan mengumpat serasa sudah kenal dari semua sisi padahal mungkin saja hanya berselisih pendapat. kita harus membedakan antara mengkritisi pikiran seseorang dan menghakimi.

saya selalu berpatokan pada keyakinan bahwa apa yang telah kupelajari dan menjadi landasan pengetahuanku mungkin saja salah dan tidak selalu benar.

keyakinan seperti ini penting dalam menilai pendapat seseorang karena amat sulit mengamini pendapat seseorang yang bertentangan dengan pendapat pribadi. pada akhirnya saya bersepakat bahwa kebenaran mutlak tidak ada pada diri manusia. kebenaran tersebut hanya berada dalam kekuasaan Tuhan.

kasus menyalahkan orang lain sedang merajalela di negeri ini. semua orang menunjuk hidung sendiri bahwa dialah yang paling benar sembari menihilkan pendapat orang lain. fenomena seperti ini berbahaya bagi kesehatan otak karena kita tidak berpikir lagi untuk belajar saat hati sudah berkeyakinan penuh bahwa kita mutlak benar.

wallahu alam bissawab.

Cipaku 6 2 17

January 20, 2017

Khutbah Jum'at

Pernah saya berniat rutin menuliskan kembali ceramah Jum'at. sekedar mengisi blog dan merawat ilmu yang disampaikan oleh para Khatib di setiap hari Jum'at, namun saya lupa tepatnya kapan niat saya tersebut terhenti. isi ceramah Jum'at yang membuatku malas untuk mewujudkan niatku bahkan terkadang saat khutbah Jum'at, saya memilih untuk menunduk dan menahan kepalaku dengan tangan kemudian mulai merapatkan mata. 

saya tidak kuat mendengar khutbah yang dipenuhi caci maki dan teriakan mengajak untuk membenci umat lain. khutbah seperti itu sangat sering bahkan hampir kudengar setiap Jum'at di Masjid yang berbeda. benar-benar membuatku menutup telinga untuk menghalau satu katapun kebencian yang merasuki kepalaku. bahkan serasa seperti hanya menyanggupi syarat sah shalat Jum'at ketika saya memilih untuk duduk menunggu shalat jum'at.

kali ini, meskipun khutbahnya termasuk lama namun tak sedikit pun mataku terpejam. saya menikmati tuturan lugas dari Khatib yang membahas hakekat Fisabilillah yang berbeda dari pemaparan Khatib pada umumnya. beliau tidak mempertentangkan antara Ibadah Mahdhah dan Ghaira Mahdhah. penjelasan yang runut dan mengajak jamaah untuk memahami secara komprehensif hal tersebut di atas.

beliau mengajak kita untuk bekerja keras dengan niat karena Allah untuk menjaga kehormatan kita. beliau menganjurkan jangan sesekali memiliki mentalitas peminta-minta. bekerja pada hakekatnya adalah berjuang Fisabilillah ketika diniatkan untuk mencari nafkah karena Allah, meniatkan untuk memberi hasil keringat kepada orang tua, kepada anak isteri yang menjadi tanggungan dan menafkahi diri sendiri untuk menjaga kehormatan diri.

Khatib kemudian menceritakan sebuah kisah tentang seorang Pengemis yang datang ke Rasulullah. pengemis tersebut hanya mempunyai tikar yang sudah terbakar dan sebuah cangkir. Rasulullah kemudian melelang dua barang milik pengemis tersebut. hasil penjualannya senilai 2 dirham sebagian diserahkan ke Pengemis tersebut untuk dibelikan makanan kepada keluarganya dan sisanya dibelikan sebuah kapak.

kapak tersebut diserahkan ke Pengemis kemudian Rasulullah menyuruhnya untuk mencari kayu di hutan dan dijual di Pasar. Pengemis tersebut tidak boleh menemui Rasulullah dalam rentang waktu 15 hari. pada hari yang telah ditentukan, Pengemis tersebut datang ke Rasulullah dan menyampaikan bahwa sekarang dia sudah punya 10 dirham.

Khutbah seperti itu benar-benar sudah langka ditemui pada masa sekarang. mayoritas Khatib meneriakkan takbir pada saat khutbah dan menebar kebencian. mereka yang menebar benih kebencian selalu merasa bahwa umat lain sedang membangun grand design untuk menghancurkan Islam. 

pada akhirnya, saya kembali menemukan kesejukan dalam sebuah khutbah Jum'at.

20 1 16

OTS #2

Kota pertama yang kudatangi di Pulau Sumatera. tidak ada yang terlalu istimewa dari setiap ruang yang kupandangi di kota ini yang berbeda dengan beberapa kota yang sudah kujejaki. 

kota yang menurutku sudah masuk dalam ketegori panas. bayangkan saja, sesaat setelah masuk hotel, saya masih berkutat dengan keringat yang tidak berhenti mengucur dari pori-pori kulitku. suhu kota ini seakan menyeduh tubuh.

laiknya masakan khas dari daerah Sumatera, kota ini pun menyajikan makanan dengan bumbu aneka rasa dan pastinya santan yang mendominasi. bayangkan saja, ketika selesai makanan dengan lauk penuh santan kemudian disajikan buah durian sebagai hidangan cuci mulut. oh tak terkira ahli kesehatan akan sangat murka dengan menu seperti itu. namun manusia punya pertahanan tubuh alamiah, tidak serta merta rontok hanya karena makanan yang dikategorikan tidak sehat oleh ahli gizi. rumus dalam menjaga tubuh dari penyakit akibat makanan hanyalah berhenti makan sebelum kenyang. jangan terlalu berlebihan dalam memasok makanan ke tubuh kita yang nantinya sari-sari makanan tersebut hanya berakhir di closet.

ruang-ruang kota ini tidak terlalu berbeda. di jantung kota dipenuhi dengan gedung perkantoran dan usaha kuliner. kepadatan terjadi ketika pagi hari dan pada saat sore menjelang maghrib. jalanannya menurutku terlalu sempit untuk ukuran ibu kota Provinsi.

kota ini sangat akrab dengan asap dari hutan-hutan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit. saat saya di sana, asap sedang enggan menyambangi kota tersebut. namun menurut warga bahwa ketika terjadi serangan asap maka jarang pandang tidak lebih dari 50 meter atau bahkan kurang. amat sangat mengerikan mengingat masyarakat di kota ini sangat mobile.

kita akan sangat sulit membedakan orang Minang, Melayu dan China yang mendominasi kota ini. mereka memiliki tekstur wajah yang hampir mirip atau mungkin juga saya yang baru pertama kali ke sini sehingga kesulitan mengidentifikasi mereka.

oh, ya. kita ini mengesankan namun tidak terlalu cukup membuatku tertarik untuk tinggal di kota ini. jelas sangat berbeda ketika beberapa tahun silam, saat pertama kali menginjakkan kaki di salah satu kota di Jawa Timur, saya sudah punya firasat akan menetap lama di sana tetapi mungkin juga karena faktor isteriku yang membuatku mau tidak mau harus memantapkan hati untuk menetap di kota tersebut. hmm
20 1 17
sisa cerita di Pekanbaru

January 7, 2017

Ibu Pulang Kampung

waktu serasa berlari terlalu cepat. seperti hanya kibasan angin yang tak meninggalkan kesan. sebulan yang lalu, saya menjemput Ibu di Bandara. tak terasa, sudah sebulan berlalu dan esok hari, Ibu akan pulang kampung.

Saya menikmati masa ketika Ibu di sini menemaniku. mencium tangan Ibu ketika hendak berangkat ke kantor dan melihat wajahnya ketika pulang kantor. tidur bersama Ibu di ruang tengah dan bercerita apa saja tentang kabar dari kampung. menyicil rindu pada kenangan masa lalu di setiap detail tubuhnya dan geraknya.

lalu kemudian waktu dengan teganya berlalu begitu saja dan membawa Ibu pulang kampung esok hari. inginku Ibu tetap di sini bersamaku namun saya juga kasihan melihat Ibu tidak bisa melakukan apa-apa di rumah. hidup Ibu ada di kampung, hatinya telah bersemayam indah pada suasana kampung, tentang kesibukannya mengurusi dagangan, menengok kebun dan bercengkerama dengan sanak saudara.

meski hanya sebulan, namun setidaknya dahaga rindu terhadap Ibu sedikit terobati, apalagi setiap malam sebelum memejamkan mata, saya bisa sepuasnya memandang wajahnya.

Ibu pulang kampung

ada kesamaan saya dengan Ibu ketika tidur. kami sama-sama tidak bisa memejamkan mata ketika masa ada cahaya yang memapar wajah kami. alhasil saya dan Ibu pasti mematikan semua lampu ketika hendak tidur.

ah, Ibu adalah salah satu sebab hidupku masih bergairah. melakukan banyak hal demi mereka yang membuat gairah hidupku meledak-ledak.
 
7 1 17

semoga saya punya banyak waktu untuk menengok Ibu kapan saja saya mau.

December 31, 2016

Kepergian

Saya benci menulis tulisan penutup tahun ini. Seharusnya resolusi adalah tulisan penutup tahun 2016 di lapak ini namun apa daya, dengan segala keterpaksaan, tulisan tentang kepergianlah yang menutup tahun ini.
Selalu ada rasa hampa yang menggelayut di lubuk hati ketika ditinggal seorang keluarga.

Berbagai kenangan kebersamaan kembali menari-nari di kepalaku. Memoriku dengan jelas menghadirkan wajahnya yang penuh dengan senyuman dan setiap perlakuannya terhadapku dengan penuh kasih.

Nenek hada- seringkali kami cucunya memangilnya dengan julukan nenek tega. Saya tidak tahu asal muasal julukan tersebut- tadi selepas maghrib sudah menunaikan perjalanan hidupnya di bumi. Beliau sedang melakukan perjalanan ke alam selanjutnya.

Jelas akan banyak tangis yang melepas kepergiannya. Kebaikannya sudah menjadi rahasia umum di keluarga besar kami. 

Mayoritas remaja dari kampung kami ketika pertama kali datang ke Makassar melanjutkan kuliah, maka rumahnya menjadi persinggahan pertama. Beliau menyiapkan apapun yang dibutuhkan.

Saya sendiri tidak bisa melupakan semua kebaikannya. Sejak 2006, saya mulai mengakrabi rumahnya di Makassar saat masih kuliah. Meski saat itu saya ngekos namun selalu saja nenek tega menjadi pelarianku ketika stok makanan sudah habis di kos.

Saat saya melangsungkan pernikahan di ujung timur pulau ini, nenek tega hadir menghadiri acara resepsi pernikahanku. Beliau yang menjadi pendampingku.

Terakhir kali bersua dengannya saat saya mudik di akhir tahun 2015. Saya mengunjungi beliau bersama isteriku. Sikapnya tidak pernah berubah. Beliau masih selalu mencurahkan perhatiannya terhadapku. Menanyakan remeh temeh tentangku.

Saya berbicara dengannya lewat telepon sesaat sebelum beliau berangkat menunaikan ibadah haji. 

Sepulang dari tanah suci, beliau mengalami sesak nafas yang kemudian membatasi aktivitasnya. Beliau sudah tidak berjualan di pasar mulai saat itu.

Hidup memang tentang perpisahaan namun tetap saja, setiap kali perpisahan datang menyapa, kita seakan sulit berdamai dengannya.

Ajal kematian adalah keniscayaan. Hidup memang teman sejati dari kematian yang berarti melangkahkan kaki ke keabadian.

Semoga Tuhan menempatkan nenek hada di tempat yang terbaik di sisiNya.

Cilandak, 31 12 16. 22:06 Wib


December 30, 2016

Semacam Impian 2017

http://sijorikepri.com/tujuh-resolusi-keuangan-tahun-baru/
 
Sudah sangat banyak olok-olok pada setiap kebiasaan menuliskan resolusi di akhir tahun. menuliskan resolusi berarti sudah siap lahir batin menjadi bahan bullyan oleh beberapa teman. namun saya tidak pernah kapok menulis niatan yang menurutku baik di setiap akhir tahun sebagai rencana dan harapan tahun berikutnya.

Resolusi 2016 :
"Melanjutkan resolusi 2015 yang belum tercapai yang dibuat pada tahun 2014 dan direncakan tahun 2013 serta dicita-citakan tahun 2012."

Menggelikan memang. setiap akhir tahun, kita bersemangat menghadapi tahun berikutnya dengan kobaran semangat dalam mencapai target hidup namun seringkali, belum sampai pertengahan tahun, semangat tersebut meredup digerus kerikil-kerikil hidup meski saya sendiri berpendapat bahwa seringkali komitmen kita yang tidak terlalu kuat.

Saya lupa dari tahun berapa saya ikut-ikutan membuat resolusi di setiap akhir tahun. dua tahun belakangan, beberapa resolusi yang kubuat di tahun sebelumnya tercapai. seperti ada energi dari semesta yang ikut mendoakan ketika niatan baik diabadikan dalam tulisan sehingga ketika semangat sedang dalam titik nadir, tulisan tersebut menjadi reminder bahwa ada niatan baik yang harus saya tuntaskan.

Untuk akhir tahun ini, saya tidak terlalu muluk-muluk merencanakan apa yang harus kucapai tahun depan, mungkin juga karena kehadiran bayi mungilku yang membuat perhatianku terfokus padanya. jelas jika harus membuat resolusi maka saya hanya berharap semoga anak isteriku tetap dalam keadaan sehat lahir batin. meski saya kira hal tersebut bukan sebuah resolusi karena setiap saat saya berdoa kepada Tuhan atas kebaikan-kebaikan untuk keluargaku.

Impian yang lebih konkrit ingin kucapai tahun 2017 adalah melanjutkan kuliah ke jenjang S2. rencana yang lain membeli rumah untuk anak isteri dan keluarga. Saya pun berharap semoga di tahun 2017, saya bekerja di bidang yang tidak bersentuhan dengan bidang finance. berpikir untuk tidak bekerja di bidang finance lebih kepada usaha saya mencoba belajar menjaga nafkah untuk keluargaku dari unsur riba, gharar ataupun haram, meski sebenarnya sih ruang riba, haram ataupun gharar dalam kajian yang lebih mendalam bisa ada di semua lini tidak hanya di finance namun mungkin jiwa saya yang tidak settle di dunia finance. semoga  di tahun depan bisa berkarya di bidang pengawasan atau bidang yang bergerak dalam bidang kajian, Penelitian dan riset. Saya juga menyimpan harapan yang amat besar di tahun depan bisa melakukan hal-hal baik yang konkrit bagi orang lain.
 
Terakhir keinginan yang selalu kupendam adalah melihat Ibu dan Bapak umrah, Amin.



Cipaku, 30 12 16

December 29, 2016

Penat

Penat

dalam diam yang bersekat
entah rasa yang berkali lipat
tak paham akan kalimat

kata
kerja
hampa
dan bosan yang menyergap

statis dalam sebuah kondisi yang menggerus ide
membunuh waktu yang seharusnya berharga

sampai kapan?
harus ada perubahan
belajar adalah jawaban
menemukan visi hidup
semoga bisa sekolah lagi

Amin

29 12 16