“Bang Iwan soal pilkada DKI mendukung Ahok, benarkah?”
Iwan Fals :
mungkin mereka belum lahir atau bahkan orang tua mereka masih mengenakan seragam sekolah ketika IF sudah berteriak lantang melawan rezim orde baru. pada saat itu, jelas lawan yang dihadapi adalah oligarki di negeri ini yang bersatu sedang berpesta pora menikmati keringat rakyatku.
sikap IF yang seakan netral pada saat situasi politik saat ini adalah pilihan terbaik. tetapi sialnya, sikap netral saat ini dianggap sebagai dosa besar. mereka yang sedang memperebutkan kekuasaan mengklaim diri mereka paling benar sehingga tidak salah jika publik figur yang tidak berafiliasi dengan kepentingan politik akan menjadi sasasaran empuk dari kedua kubu.
Mereka seakan ingin menarik IF ke dalam pusaran politik yang berpihak ke kubu masing-masing. IF yang menyadari konstalasi perpolitikan terkini memilih untuk tidak bersuara karena sulitnya mengidentifikasi siapa sebenarnya lawan yang harus dihadapi.
IF yang tidak mau terlalu terlibat dalam peta politik saat ini membuatnya digugat massa yang sedang labil. banyak sentilan yang berseliweran di dunia maya yang menghujat IF bahwa ketika orde baru, dia sangat lantang mengkritisi pemerintah namun kenapa sekarang melempen.
Iwan Fals :
“Orang suka punya asumsi. Saya selalu ditarik-tarik ke politik. Dan
bukan hanya sekarang Pilkada DKI, Pilpres 2014 pun demikian. Dari
jaman-jamannya 3 partai pun demikian. Saya sudah katakan saya warga
Depok Jawa Barat nggak mungkin dukung Ahok. Nggak mungkin juga dukung
yang lainnya. Saya mengenal Ahok, saya mengenal Anies Baswedan, saya
mengenal SBY. Saya apresiasi kepada orang yang berani berbuat untuk
kebaikan. Saya netral kecuali untuk agama, keluarga, negara, kopi, dan
followers.” Sumber.
Bertubi-tubi cacian, umpatan bahkan kritik yang menyerang pribadi Iwan Fals menjelang pilkada Jakarta. dari berbagai penjuru mata angin hanya karena berhembus isu bahwa IF berafiliasi dengan salah satu kandidat Gubernur meski berkali-kali IF sudah mengklarifikasi isu tersebut baik melalui wawancara maupun media sosial miliknya.
mungkin mereka belum lahir atau bahkan orang tua mereka masih mengenakan seragam sekolah ketika IF sudah berteriak lantang melawan rezim orde baru. pada saat itu, jelas lawan yang dihadapi adalah oligarki di negeri ini yang bersatu sedang berpesta pora menikmati keringat rakyatku.
sikap IF yang seakan netral pada saat situasi politik saat ini adalah pilihan terbaik. tetapi sialnya, sikap netral saat ini dianggap sebagai dosa besar. mereka yang sedang memperebutkan kekuasaan mengklaim diri mereka paling benar sehingga tidak salah jika publik figur yang tidak berafiliasi dengan kepentingan politik akan menjadi sasasaran empuk dari kedua kubu.
Mereka seakan ingin menarik IF ke dalam pusaran politik yang berpihak ke kubu masing-masing. IF yang menyadari konstalasi perpolitikan terkini memilih untuk tidak bersuara karena sulitnya mengidentifikasi siapa sebenarnya lawan yang harus dihadapi.
IF mungkin saja paham bahwa kondisi yang sedang memanas saat ini adalah pertentangan kepentingan antar oligarki.memilih mengasingkan diri di pinggiran daerah Depok dan menyibukkan diri dengan berbagai konser adalah pilihan bijak. bagaimana tidak, kondisi politik sedang tidak ideal untuk menyuarakan aspirasi karena menentang salah satu kubu oligarki akan menjerumuskan ke dalam kepentingan oligarki yang lain.
IF yang tidak mau terlalu terlibat dalam peta politik saat ini membuatnya digugat massa yang sedang labil. banyak sentilan yang berseliweran di dunia maya yang menghujat IF bahwa ketika orde baru, dia sangat lantang mengkritisi pemerintah namun kenapa sekarang melempen.
pertanyaan polos saya kepada mereka, memangnya IF punya tanggung jawab apa sehingga kalian selalu menggugatnya? jika dulu IF militan dalam menghalau pengaruh rezim orde baru maka itu salah satu pilihan hidupnya, pun demikian jalan yang beliau tempuh saat itu. memilih diam dan tidak ingin terlalu sok kritis di tengah kondisi politik yang abu-abu maka itupun adalah pilihan sadarnya. tidak ada paksaan baginya. saya yakin bahwa kalian hanya ingin menyeret IF menjadi bagian kubu kalian untuk merebut massa demi memenangkan kepentingan oligarki karena kalian sadar betul bahwa IF masih punya fans fanatik yang tergabung dalam OI.
salah seorang temanku bercerita dengan bangga bahwa ada seirang yang membakar semua koleksi kaset IF karena dia menganggap IF sudah tidak lagi memegang idealisme seperti yang ditunjukkannya pada masa orba.
terlepas dari semua tudingan yang dialamatkan kepada IF. saya masih sangat yakin bahwa IF masih bersetia kepada idealisme yang dianutnya selama ini. keyakinan saya diperkuat oleh kenyataan bahwa IF tidak pernah menjadi anggota partai politik manapun sedangkan jika mau jujur, IF amat sangat mudah melanggeng di panggung politik jika saja dia mau dengan fans yang memujanya sebegitu banyaknya.
bagi mereka yang masih menganggap IF sudah menggadaikan idealismenya demi makan siang maka saya hanya bisa katakan bahwa kalian hanya sedang berusaha menghujatnya karena menginginkan IF menjadi bagian dari kalian.
Februari 2017
salah seorang temanku bercerita dengan bangga bahwa ada seirang yang membakar semua koleksi kaset IF karena dia menganggap IF sudah tidak lagi memegang idealisme seperti yang ditunjukkannya pada masa orba.
terlepas dari semua tudingan yang dialamatkan kepada IF. saya masih sangat yakin bahwa IF masih bersetia kepada idealisme yang dianutnya selama ini. keyakinan saya diperkuat oleh kenyataan bahwa IF tidak pernah menjadi anggota partai politik manapun sedangkan jika mau jujur, IF amat sangat mudah melanggeng di panggung politik jika saja dia mau dengan fans yang memujanya sebegitu banyaknya.
bagi mereka yang masih menganggap IF sudah menggadaikan idealismenya demi makan siang maka saya hanya bisa katakan bahwa kalian hanya sedang berusaha menghujatnya karena menginginkan IF menjadi bagian dari kalian.
Februari 2017
No comments:
Post a Comment