Tidak seperti di Jawa Timur yang mayoritas kota/kabupaten punya klub profesional, Sulawesi Selatan praktis hanya memiliki PSM sebagai salah satu klub yang berlaga di pentas liga tertinggi di tanah air. meski dulu sempat mencuat Persim Maros namun lambat laut hilang dari peredaran. Persipare Pare-Pare belum mampu menancapkan eksistensinya di dunia persepakbolaan Indonesia.
tidak mengherankan jika seluruh penduduk yang berasal dari Sulawesi selatan bahkan juga Sulawesi Barat yang dulunya adalah bagian dari Sulawesi Selatan, mengidolakan PSM Makassar. meski sudah berdiri sendiri sebagai sebuah Provinsi, Warga Sulawesi Barat masih punya ikatan emosional dengan klub PSM apatahlagi, beberapa pemain andalan PSM berasal dari Sulbar.
PSM Makassar hampir sama dengan Persib Banding yang diidolakan masyarakat se Provinsi. hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena klub sepakbola di dua provinsi tersebut hanya satu yang masuk dalam jajaran klub elit. coba bandingkan di Jawa Timur. hampir setiap kota kabupaten memiliki klub yang berkompetisi di liga 1 maupun liga 2. bahkan rivalitas atas suporter Persebaya dan Arema yang notabene masih dalam satu provinsi sangat kental. sejarah perseteruan antar kedua Suporter tersebut sudah memakan banyak korban jiwa. selain kedua klub tersebut, ada Persela Lamongan, Madura United, Persik, Persegres dan beberapa klub lain.
sebagai warga yang lahir dan tumbuh di Sulawesi Selatan, Saya pun tidak ketinggalan mengidolakan PSM. Saya masih ingat di erah awal tahun 2000 sebelum banyaknya TV yang beredar di Kampung, kami sering mengikuti setiap pertandingan PSM lewat radio. ada sensasi tersendiri mengikuti pertandingan lewat radio yang tidak didapatkan saat menonton bola. misalnya saja, ketika bola masih jauh di tengah lapangan, reporter begitu menggebu-gebu dengan nada tinggi layaknya bola sudah hampir gol.
sampai sekarang, meski sudah merantau di beberapa daerah dan menetap di pulau lain, sama sekali tidak mengurangi rasaku untuk mengidolai PSM. meski di beberapa musim, PSM seperti tidak punya taji namun PSM tidak pernah benar-benar tenggelam.
untuk musim liga 1 2017. PSM kembali menggeliat dengan kepengurusan di dalam tubuh internal yang lebih profesional. transfer pemain yang didatangkan pun tidak mengecewakan. salah satu terobosan yang paling membahagiakan adalah kembalinya beberapa pemain asli Sul-Sel yang sudah menjadi bintang sepakbola. Hamka Hamzah dan Zulkifli Syukur adalah representasi dari pemain Makassar yang sukses di blantika sepakbola Nasional.
kedua pemain tersebut memang bukan jaminan PSM secara otomatis juara namun setidaknya, mentalitas juara yang sudah ada di dalam diri mereka bisa ditularkan ke pemain muda. ada semacam kebahagiaan tersendiri ketika melihat klub idola diisi oleh pemain binaan sendiri.
di pertandingan awal, PSM mampu menundukkan Persela meski secara pribadi, Saya masih belum puas melihat permainan yang ditunjukkan oleh pemain PSM. mereka kurang greget dalam bermain apatahlagi ketika salah satu Pemain Persela terkena kartu merah.
kredit poin harus diberikan ke Hamka Hamzah melihat totalitasnya dalam menjaga pertahanan PSM. terlihat semangat yang membara di setiap ekspresi wajahnya untuk mempersembahkan yang terbaik untuk klub kelahirannya, bahkan di salah satu momen ketika gawang PSM hampir dibobol syamsul Arif, Ekspresi emosional Hamka diperlihatkan kepada teman-temannya yang terlambat menutup pergerakan Syamsul Arif.
apresiasi yang tinggi pun pantas dialamatkan kepada pemain muda yang berperan penting di sektor gelandang, Asnawi Mangkualam. pemain yang baru berumur 17 tahun tersebut menunjukkan karakter PSM yang keras dan tidak pantang menyerah. jika dia tetap berada di jalur yang benar dan tidak cepat merasa puas maka saya yakin, dia akan menjadi pemain gelandang terbaik di Negeri ini.
oh iya semoga tahun ini PSM Makassar bisa menjuarai Liga 1.
Ewako PSM
18 4 17





