January 20, 2017

OTS #2

Kota pertama yang kudatangi di Pulau Sumatera. tidak ada yang terlalu istimewa dari setiap ruang yang kupandangi di kota ini yang berbeda dengan beberapa kota yang sudah kujejaki. 

kota yang menurutku sudah masuk dalam ketegori panas. bayangkan saja, sesaat setelah masuk hotel, saya masih berkutat dengan keringat yang tidak berhenti mengucur dari pori-pori kulitku. suhu kota ini seakan menyeduh tubuh.

laiknya masakan khas dari daerah Sumatera, kota ini pun menyajikan makanan dengan bumbu aneka rasa dan pastinya santan yang mendominasi. bayangkan saja, ketika selesai makanan dengan lauk penuh santan kemudian disajikan buah durian sebagai hidangan cuci mulut. oh tak terkira ahli kesehatan akan sangat murka dengan menu seperti itu. namun manusia punya pertahanan tubuh alamiah, tidak serta merta rontok hanya karena makanan yang dikategorikan tidak sehat oleh ahli gizi. rumus dalam menjaga tubuh dari penyakit akibat makanan hanyalah berhenti makan sebelum kenyang. jangan terlalu berlebihan dalam memasok makanan ke tubuh kita yang nantinya sari-sari makanan tersebut hanya berakhir di closet.

ruang-ruang kota ini tidak terlalu berbeda. di jantung kota dipenuhi dengan gedung perkantoran dan usaha kuliner. kepadatan terjadi ketika pagi hari dan pada saat sore menjelang maghrib. jalanannya menurutku terlalu sempit untuk ukuran ibu kota Provinsi.

kota ini sangat akrab dengan asap dari hutan-hutan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit. saat saya di sana, asap sedang enggan menyambangi kota tersebut. namun menurut warga bahwa ketika terjadi serangan asap maka jarang pandang tidak lebih dari 50 meter atau bahkan kurang. amat sangat mengerikan mengingat masyarakat di kota ini sangat mobile.

kita akan sangat sulit membedakan orang Minang, Melayu dan China yang mendominasi kota ini. mereka memiliki tekstur wajah yang hampir mirip atau mungkin juga saya yang baru pertama kali ke sini sehingga kesulitan mengidentifikasi mereka.

oh, ya. kita ini mengesankan namun tidak terlalu cukup membuatku tertarik untuk tinggal di kota ini. jelas sangat berbeda ketika beberapa tahun silam, saat pertama kali menginjakkan kaki di salah satu kota di Jawa Timur, saya sudah punya firasat akan menetap lama di sana tetapi mungkin juga karena faktor isteriku yang membuatku mau tidak mau harus memantapkan hati untuk menetap di kota tersebut. hmm
20 1 17
sisa cerita di Pekanbaru

No comments: