February 19, 2017

Gerombolan Analisator

Apa yang paling menyebalkan atas perkembangan internet yang semakin canggih? Menurut saya, munculnya gerombolan analisator abal-abal di media sosial.

Untuk setiap fenomena yang sedang mengemuka di ruang publik, kita pasti disuguhi berbagai macam analisa entah di beranda fesbuk, twitter, blog ataupun ruang dimana mereka bisa mengekspresikan eksistensi mereka dengan analisa-analisa yang menggelikan.

Saya akan melakukan kroscek terhadap penulisnya jika membaca sebuah artikel. Jika tidak jelas dan tidak relevan, dengan segera kutinggalkan. Memang sih semua hikmah harus diambil meski keluar dari dubur ayam tetapi toh terkadang menyebalkan.

Hal yang paling memuakkan menurutku adalah fenomena pilkada jakarta. Para anlisator karbitan keluar dari goa dengan berbagai macam ulasan. semua demi mencari perhatian atas kepentingan oligarki yang sedang dibelanya.

saya sangat kesal terhadap mereka yang berusaha menganalisa pilkada dari sudut pandang kelompoknya sendiri tanpa berusaha membuka sedikit ruang diskusi dengan analisa yang dianggapnya tidak sesuai dengan kepentingan kelompoknya. dia mengambil semua referensi yang berpihak pada kelompoknya untuk menguatkan pendapatnya meski disadari bahwa referensi tersebut tidak ilmiah bahwa berita Hoax.

saya menjumpai salah seorang yang dengan bahagianya mengcapture judul berita di salah satu media online kemudian menertawakannya karena menganggapnya bahwa media tersebut sedang menyebarkan berita Hoax dan di lain waktu ketika kelompok yang dibelanya ketahuan menyebarkan Hoax, dia hanya berujar singkat kemudian memakluminya sebagai bagian dari perjuangan. ingin rasanya saya menghujatnya saat itu juga namun saya kembali berpikir, apa bedanya saya dengan mereka jika harus mengeluarkan beribu hujatan. lebih baik diam kemudian mengusap dada ketika berhadapan dengan orang yang berpendirian seperti itu.

saya tidak punya tendensi apa-apa terhadap kubu yang sedang bertarung di pilkada kali ini, toh saya yakini bahwa mereka sedang berkompetisi atas kepentingan kelompok mereka namun saya hanya bersimpati bagi mereka yang benar-benar menutup hati demi melanggengkan tujuan mereka meski saya juga menyadari bahwa dari kelompok yang sedang bertarung, masih ada individu-individu di dalamnnya yang bersetia terhadap kebenaran dan saya menyenangi ulasan mereka yang berbuat adil sejak dalam pikiran. "meminjam istilah om Pram."

Februari 2017

No comments: