October 17, 2025

Khawatir Tentang Rumah

Two days ago, my wife informed me that the house in front our house was being expanded, which would likely narrow the access way to our house. This was sad news because our house is located in the middle of other people's houses.

A few months earlier, a high wall had been built on the empty land behind our house, set aside only about half a meter of access from the back. We often use the front access road, but it turns out that the house in front is also building a wall that almost completely blocks access to our house.

I feel like I'm the main character in a soap opera with a story about a house trapped among other houses. I'm sad, not for myself, but for my wife and kid. I haven't been able to think clearly about what steps to take because, until now, moving is not an option. The mortgage on the house still has three years left, while our savings are far from enough to buy a new house.  

I sit in the corner of the room, thinking about all the waves of life that keep crashing in, but as long as I’m still breathing, I have to keep my knees strong to stand and be there for my wife and children. They deserve a better life.  

Oh God, forgive your servant.

Mempertanyakan Diri

Bisa dibayangkan dengan umur segini, saya masih bergulat dengan pertanyaan eksistensi. Tentang jalan yang sedang ditempuh, tentang keputusan hidup yang sudah dijalani dan semua rasa penasaran akan eksistensi diri. 

Mungkin saya terlalu terlambat untuk bergulat dengan diri dan jawaban-jawaban yang ada di dalam karena merasa mampu menaklukkan dunia. Ketika waktunya kembali, saya menemukan semua hampa dalam diri, kosong dan gelap.

Saya sudah terlalu jauh tersesat di labirin kehidupan tanpa ada pemandu yang jelas. Benar-benar tercerabut dari dalam diri sendiri dan mengambang seperti kapas yang diterbangkan oleh angin entah kemana.

Saya tiba pada satu momen ketika semua tidak mampu saya taklukkan bahkan sekadar menatap diri di depan cermin pun tak sanggup. Saya seperti mengejar fatamorgana yang tak berwujud dan pada akhirnya membuat saya tak tahu arah pulang.

Saya sedang di sini, di tempat yang dulu pernah saya cita-citakan tetapi realitasnya meleset jauh dari idealitas yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Semua seakan memuaskan keinginan tetapi tidak dengan makna yang saya cari.

Di titik ini, saya membayangkan ibu saya yang semakin menua dengan rambut yang sudah memutih, ayah yang tidak lagi ke kebun karena dimakan usia dan saya di sini, meratapi semua kegagalan demi kegagalan hidup untuk lebih bermakna.

Dada saya seringkali berdegup kencang sekian kali lipat dari yang biasanya. Degup yang lahir dari ketidakmapuan diri menahan keinginan demi keinginan yang semakin membara tetapi tidak jua tercapai, yang tersisa hanya raga yang letih.


15 Okt 2025

October 15, 2025

Saya Lupa Menulis

Tahun 2025 sudah memasuki bulan Oktober dan saya merasa tidak memiliki progress yang berarti. Pagi ini, tetiba saya membuka blog lalu menyadari bahwa betapa malasnya saya menulis tahun ini. Sejak Memulai blog ini 15 tahun lalu, maka tahun ini adalah tahun paling sedikit postingan bahkan sampai tulisan ini saya posting, baru dua tulisan yang nangkring di beranda.

Entahlah, namun begitu saya menyadari bahwa sudah sekian lama saya lupa caranya menulis, tidak hanya sekadar merangkai kata namun juga mengartikulasikan setiap hal yang saya alami sehari-hari, entah yang sifatnya reflektif maupun kejadian empirik.

Saya sudah tidak muda lagi dan angka usia semakin bertambah namun cita-cita lama menerbitkan buku masih tetap saja mengambang. Memang tahun ini saya menerbitkan buku namun saja buku referensi, bukan buku refleksi kehidupan seperti yang saya bayangkan sebelum.

Saya lupa menulis dan entah sampai kapan karena terjerat dengan drama kehidupan.

15 Oktober 2025

April 17, 2025

Belajar Menahan

Minggu lalu di salah satu kelas, saya mengalami hal yang membuat saya perlahan mengelus dada. Pengalaman yang menguji apakah saya harus bertindak reaktif untuk memperlihatkan kuasa saya atau tetap tenang untuk berdamai dengan hal yang bisa saja saya perlakukan lebih dari itu.

Pada salah satu mata kuliah, saya sedang memberikan pengarahan penugasan kepada mahasiswa. Saya menunjukkan salah seorang mahasiswa untuk memberikan contoh mengenai apa yang diinginkan sepuluh tahun ke depan? atau dia mau jadi seperti apa sepuluh tahun lagi?

Jawabannya tentu membuat saya sedikit terpancing ketika dia menjawab ingin membeli mobil mewah namun dengan nada bercanda dan diiringi sorakan dari teman-temannya.

Tentu tidak keliru tetapi ada yang salah dari bagaimana interaksi dia di dalam kelas. Saya memilih untuk tidak reaktif karena saya benar-benar khawatir, jangan-jangan responsnya seperti itu karena tidak terlalu suka dengan mata kuliah yang sedang diajarkan atau mungkin cara saya yang terlalu monoton.

Namun demikian, refleksi mendalam terhadap kejadian itu membuat saya semakin sadar bahwa selain berpikir bagaimana mengubah cara pandang mereka, saya juga berpikir bagaimana mengubah cara saya dalam mengajar.

January 1, 2025

1 Januari 2025

Tidak banyak yang saya lakukan di awal tahun 2025 selain menghabiskan waktu di perjalanan balik ke Jakarta. Ketika gemuruh Terompet bersahut-sahutan sebagai penanda perganti tahun waktu indonesia tengah (WITA), saya sedang berada di atas travel dari kampung ke bandara Sultan Hasanuddin. Saya tidak menyadari tepatnya di daerah mana ketika pergantian tahun, mungkin saja di Pare-Pare karena saya terlelap dalam tidur. Sebelumnya saya terbangun di daerah Pinrang dan waktu masih menunjukkan 23.20 WITA.

Satu hal yang berkesan karena mobil travel Daihatsu Xenia yang kami tumpangi dari kampung ke bandara Hasanuddin penuh sesak dengan barang dan penumpang. Terdapat tiga orang di depan termasuk Sopir dan sekarung beras serta tas pakaian yang diletakkan di bawah. Kami berempat di tengah yang idealnya hanya memuat tiga orang sehingga cara duduk kami harus serong agar muat. Sementara di belakang ada satu penumpang tetapi barang bawaan tumpah ruah. Ada sekitar 70 plastik besar lombok yang sebagian besar di ikat di atap mobil. Kap bagasi bahkan tidak bisa ditutup rapat sehingga diikat dengan tali. Bahkan ada satu penumpang yang tidak jadi ikut karena sudah tidak ada tempat duduk.

Saya baru tahu bahwa ternyata di setiap momen tahun baru, tidak ada travel yang berangkat ke Makassar, bukan karena alasan ingin merayakan tahun baru tetapi kekhawatiran keselamatan di jalanan. Begitu banyak pemuda yang mengadakan pesta di setiap daerah jalan poros bahkan terkadang tidur di tengah jalan ketika dalam keadaan mabuk berat.

Itu juga yang menyebabkan mobil yang kami tumpangi sesak dengan penumpang yang harus berangkat malam itu juga dan barang-barang. Sebenarnya mobil yang kami tumpangi juga awalnya tidak akan berangkat tetapi pesanan lombok dalam jumlah besar yang mengharus dia berangkat di malam tahun baru.

Sopir menyetir dengan sangat kencang bahkan bebarapa kali hampir menabrak kendaraan di depannya. Saya kira dia sedang dalam pengaruh alkohol ternyata dia harus sampai di Makassar sebelum subuh karena lombok harus segera diambil Pelanggan. Praktis kami menempuh perjalanan dua jam lebih cepat dari biasanya.

Kami tiba di bandara pukul 03.20 WITA artinya sekitar sepuluh jam sebelum terbang ke Jakarta. Setiba di bandara, tujuan kami adalah Musala untuk istirahat. Untungnya bisa tidur di Musala sehingga bisa istirahat tetapi saya memilih tidak tidur dan hanya putra saya yang tidur. Kami di Musala sampai pukul 07.30 WITA sebelum bergeser ke gerai Roti O untuk sarapan kopi dan coklat dingin serta dua potong roti O.

Sekira puku 09.00 WITA, kami memutuskan masuk ke ruang tunggu dan menikmati pemandangan orang-orang yang sedang bersiap berangkat. Kami menunggu di gate 6 bersama beberapa penumpang yang juga hendak ke berbagai daerah.

Waktu tidak terasa berlalu karena saya masih harus ikut zoom meeting membahas persiapan AMI Prodi bahkan sejam sebelum boarding, rapat baru selesai. Putra saya masih sempat makan siang di gerai AW sementara saya memilih untuk tidak makan karena tidak ada lauk selain ayam, setahuku.

Oh iya, memang saya memutuskan tidak makan daging selain ikan sejak beberapa tahun belakangan. Saya hanya menoleransi komitmen saya ketika berada di kampung dan yakin bahwa daging ayam/sapi disembelih oleh keluarga dan dimasak oleh ibu atau kakak perempuan saya.

Kami boarding tepat waktu pada pulul 13.55 WITA. Tidak ada masalah berarti bahkan perjalanan sangat lancar sampai di Jakarta. Setiba di kedatangan bandara Soekarno Hatta terminal 1A, kami langsung keluar memesan taxi online karena saya menaruh semua barang bawaan di kabin sehingga tidak perlu menunggu barang dari bagasi.

Awalnya saya ingin memesan taxi Maxim tetapi menurut saya harganya di atas taxi online pada umumnya. Saya kemudian menuju titik pemesanan Gocar dan ternyata memang benar, harganya jauh lebih murah. Awalnya saya order tanpa memasukkan kode promo "Gobandara" namun ketika menyadari bahwa ada promo, saya menanyakan ke petugasnya dan untungnya masih bisa dicancel lalu kemudian diinput kembali dan mendapatkan potongan sekitar 40 ribu rupiah.

Sistem pick up di Gocar bandara menggunakan sistem antrean. Butuh waktu sekitar 10 menit menunggu sebelum dijemput mobil. Perjalanan dari bandara ke Kebagusan sangat lancar, mungkin warga ibu kota masih di luar kota merayakan momen liburan tahun baru. Meskipun jalanan lancar tetapi mobil berjalan sangat pelan. Saya menduga si sopir dalam keadaan lelah. 

Kami tiba di rumah sekitar pukul 16.00 WIB. Saya memutuskan langsung mandi karena sedari berangkat dari bandara, ingin buang air kecil. Setelah itu, saya istirahat untuk melepas penat perjalanan panjang dari kampung.

Habis maghrib sekira pukul 18.30 WIB, saya tertidur di sofa sementara saya belum salat Isya. Saya sudah tidak sadar sampai akhirnya terbangun pada pukul 03.40 WIB keesokan harinya. Akhirnya saya baru salat Isya pada pukul 04.45 WIB.

Begitulah perjalanan di hari pertama tahun 2025. Tidak ada yang spesial bahkan semua berakhir dengan hari-hari yang sama.

Selanjutnya, mari menyelesaikan tugas-tugas kecil di hari-hari berikutnya.

December 31, 2024

Semacam Resolusi

Saya sangat menyadari bahwa resolusi yang saya buat setiap akhir tahun/awal tahun baru selalu berakhir pada arsip berdebu, tetapi entah kenapa, menyusun resolusi semacam candu atau mungkin rutinitas yang harus dituliskan. 

Tahun ini pun demikian adanya. Saya tahun perjalanan 2025 pada akhirnya bagaimana bertahan dari satu masalah ke masalah yang lain tetapi menulis resolusi wajib saya lakukan, setidaknya komitmen mengisi blog ini.

Awal tahun seringkali serasa sangat panjang tetapi entah kenapa, rasanya sedetik berlalu, kita akan sampai lagi pada akhir tahun dan menyalakan kembang api. Selalu begitu setiap tahunnya dan kita melewati kesedihan demi kesedihan yang diselingi sedikit canda tawa.

Tahun ini, saya menuliskan resolusi yang repetitif dari tahun-tahun sebelumnya dan sedikit penambahan. Resolusi ini secara random dan urutan penulisan tidak berdasarkan prioritas. 

Here's the resolution I'm aiming for:

Melanjutkan study S3 jurusan HI (konsentrasi EPI/Studi keamanan dan HAM/politik Islam) di kampus luar negeri dengan beasiswa full funding. Mendapatkan sertifikat toefl ITP minimal skor 550. Membaca buku minimal 3 buku sebulan. Earning a salary at least equal to my wife's salary. Mengurangi kontak dengan gadget yang tidak produktif. a vacation abroad with my family. Rutin salat Tahajud. Became a guest speaker at various events. Mengajar di kampus yang sekota dengan istri* (pass pppk). Lingkungan pekerjaan yang kondusif dan saling mendukung. Menemukan mentor dalam pekerjaan dan hidup. Menguasai satu bidang keilmuan secara mendalam. Melunasi cicilan rumah. Mengunjungi orang tua di kampung minimal 2x setahun. Membelikan mobil untuk istri. Menerbitkan tiga buku termasuk buku keilmuan dan buku renungan. Mampu mengelola emosi dan menghilangkan penyakit hati.

* Mengajar di kampus dengan jurusan HI dan kampus yang memenuhi kuota minimal mahasiswa per kelas sehingga tidak mengharuskan setiap dosen terlibat aktif dalam tim PMB.
Demikianlah, mungkin saja selanjutnya perjalanan melewati tahun hanyalah perjalanan untuk bertahan atas setiap masalah yang akan menghadang, mungkin pada akhirnya kita hanya bicara bagaimana bertahan, bahkan tidak sempat memikirkan impian-impian besar.

Pada akhirnya, setelah menjalani hari demi hari di tahun 2025, saya akan mengutip lirik lagu Melly Goeslow yang berjudul Catatanku.

"… Tuhan terserah padamu
Aku ikut maumu TuhanKu catat semua ceritakuDalam harianku"

Buku yang Saya Baca di Tahun 2024

Selama tahun 2024, saya memaksakan diri untuk menambah bacaan saya karena selama ini, saya merasa bahwa waktunya hanya habis sia-sia.

1. Polemik Sains

Buku yang merupakan kumpulan dari berbagai tulisan oleh beberapa tokoh. Awalnya tulisan ini distimulasi oleh status GM di facebooknya pada awal merebaknya Covid-19. Kurang lebih dia mempertanyakan sains yang tidak jua menjawab Pandemi saat itu. Saling sanggah melalui tulisan kemudian menjadi sarapan renyah bagi khalayak untuk menikmati dialektika yang terjadi.

Tulisan tersebut memicu reaksi dari kelompok yang pro terhadap sains dan memulai perdebatan yang gurih. Mereka mengeluarkan semua jurus untuk saling menantang dengan rasionalitas standpoint masing-masing. Sains, Agama, dan Filsafat.

2. SAMSARA.

Novel ini dikarang oleh Zara Zettira yang sudah sangat lama saya miliki ketika masih tergabung di Penerbit Erlangga. Novel yang merupakan program diskon dari kantor.

Novel ini bercerita tentang Asya, seorang perempuan yang tidak terlalu mendapat kasih sayang dari ibunya, sementara ayahnya sudah meninggal, memiliki tekad untuk berkarir di Amerika Serikat. Selepas kuliah di Psikologi UI, dia akhirnya menemukan jalan menuju AS melalui tante Amri, yang ternyata merupakan ibu kandungnya. Ibu yang membesarkannya bukanlah ibu kandungnya.

Cerita ini sarat hal-hal metafisika di mana tante Amri dan Asya merupakan tokoh yang mampu memikirkan masa depan, cenayang.

3. Who Rules the World.

Noam Chomsky adalah seorang seorang aktivis keturunan Yahudi yang tinggal di AS tetapi pandangan politiknya sangat keras mengkritik kedua negara tersebut. Dalam buku ini, Chomsky memperlihatkan begitu banyak fenomena yang menggambarkan AS menerapkan standar ganda dalam setiap kebijakannya. Dalam satu kasus mendukung penegakan HAM tetapi di kasus lain, mereka menginjak-injak penegakan HAM.

Dalam buku ini juga, Chomksy menguliti relasi antara Palestina dan Israel. Relasi tersebut terbentuk dari pola kolonialisme yang diterapkan oleh Israel dan tentu saja dibantu oleh AS.

4. Hidup di luar Tempurung

Buku karya Benedict Anderson yang tidak terlalu tebal. Ben bercerita awal hidupnya sampai akhirnya jatuh cinta terhadap Indonesia, meskipun pada suatu masa, dia dicekal masuk ke Indonesia selama 27 tahun. Ben akhirnya memilih Siam sebagai tempat tinggalnya sebelum akhirnya dia diperbolehkan masuk ke Indonesia pasca reformasi.

Ben menceritakan lika liku kehidupannya sebagai peneliti dan akademisi. Kajian wilayah yang ditekuninya dianggap kelas kedua tetapi tidak menyurutkam kecintaannya terhadap bidangnya.

Ben memberikan cara ideal memulai riset menarik yaitu seorang periset berangkat dari pertanyaan yang dia sendiri juga tidak tahu jawabannya. Setelah itu, baru menentukan perangkat intelektual yang akan digunakan.

Ben juga menceritakan bagaimana mahakaryanya Imagined Communities mulai digagas sampai menghasilkan buku yang mempesona

5. The Socrates Express

Ini buku terakhir yang saya selesaikan di bulan Januari 2024 merupakan karya Eric Weiner. Buku ini merupakan ekspresi Eric menerjemahkan beberapa pemikiran Filsuf dengan mengkontekstualisasikan dengan kehidupan sehari-hari.

Eric sangat menyukai berjalan kaki, pun bepergian dengan kereta api. Namun dia tidak menyukai bepergian dengan bis karena menurutnya tidak bisa berpikir saat di perjalanan. Tulisannya dibuka dengan pandangan Aurelius tentang kehidupan, bagaimana bangun dari rebahana.

Eric juga mengelaborasi bagaimana Rousseau sangat menyenangi jalan kaki bahkan sampai kakinya terluka karena jalan kaki. Selanjutnya beberapa pemikiran filsuf yang diceritakan oleh Eric.

Saya merasa bahwa buku ini seperti buku Dunia Sophie nya Jostein Gaarder tetapi tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Eric, sangat lebih menyukai cara Jostein merumuskan pemikiran para filsuf melalui cerita-cerita fiksinya dengan menggunakan orang ketiga.

6. Melihat Terang

Setelah beberapa bulan tidak fokus membaca buku karena serangkaian pekerjaan yang menumpuk dan kebiasaan lama menghabiskan waktu dengan HP, maka mulai lagi menyelesaikan janji kepada diri untuk memperbanyak asupan bacaan.

Buku kali ini merupakan buku ringan yang ditulis oleh Agung Adiprasetyo, mantan CEO Gramedia. Buku ini merupakan hikmah keseharian yang sangat dengan aktivitas sehari-hari untuk menemukan diri yang tersesat dengan rutinitas yang jumud. Mungkin terkesan klise karena banyaknya genre buku yang sama tetapi selalu ada kisah-kisah baru yang menggugah kembali gairah memulai hal-hal yang baik.

Saya suka bab yang berjudul "Tenang Saja, Jagoan Biasanya Menang Terakhir." Pada bagian ini, ada satu kisah yang sangat menyentuh. Kisah tentang seorang ayah bernama Tom Smith yang mengumpulkan anak-anaknya saat sakaratul maut. Salah seorang putrinya komplain karena ayahnya sama sekali tidak mewariskan harta kepada anak-anaknya.

Sekian tahun berlalu, anaknya yang bernama Sara Smith sedang mengikuti wawancara di sebuah perusahaan ternama. Salah seorang panitia memastikan kepada Sara mengenai nama belakang Smith. Sara menjawab bahwa nama itu diambil dari nama ayahnya.

Ketua panitia tiba-tiba kaget dan berseru, Anda ini putrinya Tom Smith. Dia kemudian bercerita bahwa Tom Smith yang menandatangani formulir keanggotaannya di institut Administrator secara cuma-cuma bahkan dia sama sekali tidak tahu alamat Tom Smith karena dia melakukan pekerjaannya secara profesional.

Singkat cerita, Sara diterima dan karirnya cemerlang di perusahaan yang dia daftar. Pada suatu kesempatan, Sara Smith ditanya rahasia kesuksesannya. Dia menjawab dengan yakin, "Ayah."

Sara Smith yang awalnya komplain terhadap Ayahnya karena tidak mewariskan harta, pada akhirnya baru menyadari bahwa Ayahnya mewariskan intergritas, disiplin, kontrol diri, dan takut kepada Tuhan. Ayahnya tidak mewariskan saldo rekening.


#Desember 2024

November 19, 2024

Digital Creative Preneurship

Jauh sebelum memilih menjadi seorang akademisi, saya membayangkan diri saya sibuk dengan berbagai riset dan diskusi publik. Sebuah potret diri yang dulu selalu membayangi kepala sehingga memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan di sebuah perusahaan dengan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang saya dapatkan di kampus.
Tetapi apakah itu sebuah penyelesan?
Sesekali muncul rasa konyol kenapa mengambil keputusan yang nampaknya seperti bunuh diri karena pemasukan tidak mencukupi kebutuhan, tetapi kemudian ketika membayangkan bahwa jalan ini yang pernah saya bayangkan maka kemudian saya berpikir inilah yang menjadi langkah saya kali ini.
Minggu lalu, saya dihubungi oleh salah seorang rekan untuk menjadi narasumber di seminar terkait pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif di kota Bandung. Saya tentu saya merasa sangat senang karena mendapat kepercayaan namun kemudian ketika membaca ToR kegiatan, ada sedikit rasa ragu karena sadar diri bahwa apa yang harus saya sampaikan tidak sesuai dengan kompetensi yang selama ini saya jalani.
Setelah beberapa saat menakar diri dan memastikan bahwa materi terkait bisnis yang harus saya bawakan merupakan materi dasar, maka kemudian saya mengiyakan. Niat awal saya untuk memperbanyak sepak terjang sebagai pembicara publik yang nanti ketika sampai pada satu titik, saya merasa biasa saja ketika harus menjalani kegiatan yang sama.
Saya kemudian mempersiapkan segala hal yang harus saya sampaikan pada saat kegiatan khususnya materi terkait proses bisnis UMKM. Tentu karena secara praktikal tidak punya bisnis maka saya menguatkan pada poin-poin penting teoritis. Saya sedikit gelisah karena momen ini merupakan langkah awal untuk kemudian belajar banyak hal termasuk juga supaya bisa dipercaya oleh panitia pelaksana seminar agar selanjutnya tetap mendapat kepercayaan. Kegiatannya dua hari tetapi dengan materi yang sama karena dilaksanakan dalam dua batch.
Tiba lah hari pelaksanaan dan saya harus berangkat pagi hari karena mendapat giliran materi pertama di jam 10. Saya sengaja datang agak awal supaya bisa mempelajari suasana di ruangan seminar. Saat tiba, peserta masih persiapan dan melakukan ice breaking dengan panitia. Saya kemudian memilih untuk duduk di belakang sambil menyapu pandangan ke seluruh sudut ruangan.
Sekitar jam 10, saya dipersilakan MC kemudian mengambil alih forum. Tentu saya sudah memikirkan kalimat pembuka yang kira-kira membuat suasana agak santai. Kalimat pembuka saya lumayan berhasil dan selanjutnya saya membawakan materi dengan tenang. Hal ini juga sebenarnya juga didukung dengan audience yang memang sudah memiliki usaha dalam jangka waktu yang lama tetapi belum menerapkan proses bisnis secara sistematis.
Pada akhirnya, kegiatan selama 3 jam berlangsung dengan lancar. Saya merasa lega dengan apa yang saya lakukan. Hari kedua akan dilaksanakan rabu dengan materi yang sama tetapi perserta yang berbeda. Saya berharap semoga semua berjalan lancar.

Palasari, 19 Nov 2024
#Mulainulislagi

October 12, 2024

Jangan Merasa Sok Dekat

This morning, one of the people I consider a mentor because he had taught me in class and guided my final project, updated his WA status. He was attending a religious event and praying for ancestors who had passed away. I, who felt close to him, immediately responded to his status by wishing him good health because he was my mentor.

Of course, I didn't expect her to reply to my response at all but usually, such a response would be reciprocated with at least a thumbs up. But what happened was that she only read my message without any reply at all.

As an ordinary human being, I suddenly wondered if I was being too pretentious to get close to him because I knew his huge exposure. He is very often a resource person in national events and even various other activities that are quite large.

I then decided to delete my message to avoid being reminded of my mistake. It's not really a sin but for some reason, I sometimes feel inferior and think of myself as an idiot every time I try to get close to others. Perhaps this is inseparable from past experiences when at one time, I always tried to get close to people in my neighborhood but was rejected several times..

There are two experiences of rejection that really stick in my memory and both of them were during my undergraduate years. I was rejected by a friend who was even a classmate. She was known to be very friendly even with me in the beginning but I don't know exactly why so she didn't want to chat with me at all even years after we graduated.

The second incident was a rejection from a senior who I thought was quite close when I was in college. For some reason, he didn't want to interact with me and I don't even remember what I did wrong to him.

There are still many small rejections in my life that brought me to this point where I decided not to try to get close to people who don't want to interact with me.

Hence, what I did this morning was a decision that brought up a bad experience a few years ago.

Dua Kawan Menikah

Hari ini saya menghadiri pernikahan rekan kerja, baik dari pihak wanita maupun pria adalah rekan kerja saya. Mereka memang sudah mengingatkan diri sejak dua tahun belakang dan berkomitmen untuk bersama-sama menjalani hidup mereka.

Pernikahan ini membawa memori saya kembali ke 9 tahun lalu ketika saya memutuskan untuk menikah. Saya mencoba untuk mengingat apa yang sedang saya rasakan saat menikah dan memori saya buram. Hal yang muncul dalam ingatan saya hanya hal-hal teknis seperti menjemput keluarga yang datang dari kampung, mempersiapkan tetek bengek pernikahan, mengucapkan ijab kabul, menyalami setiap tamu yang datang kemudian malamnya istirahat.

Tidak ada perasaan asing yang hadir dalam relung hati saya kecuali ingatan tentang friksi yang terjadi pada beberapa hari di awal pernikahan. Saya merasa tidak dianggap sebagai keluarga sehingga perasaan tersebut mengganggu nuansa pernikahan yang seharusnya dinikmati.

Kawan yang menikah hari ini nampak bahagia, begitulah seharusnya yang dirasakan oleh pasangan karena naluriahnya, manusia ingin hidup dengan pasangan yang membuatnya bahagia. Setelah ini, mereka akan menjadi hidup sebagai pasangan suami istri dengan berbagai dinamika yang akan dihadapinya. 

Semua pasangan mempunyai strategi masing-masing untuk survive dalam segala hal keadaan. Setiap kita diberikan kemampuan untuk menemukan solusi dalam berbagai masalah yang dihadapi.

Demikianlah dua kawan yang sedang berbahagia hari ini.

October 3, 2024

3 Oktober

Sembilan tahun yang lalu, mengambil sebuah keputusan untuk menikah. Semua keputusan yang biasa-biasa saja karena semua orang bisa melakukannya dengan berbagai niat masing-masing. Pernikahan menjadi momentum untuk terus bersama dengan seseorang yang sudah dipilih sebagai pendamping. Tentu banyak sekali tantangan yang harus dihadapi dalam pernikahan namun harus dilewati karena saya selalu menanamkan dalam diri bahwa saya yang memilih jadi sebisa mungkin saya menjalani dengan sebaik-baiknya.

Saya sepakat jika banyak orang mengatakan bahwa awal pernikahan merupakan cobaan yang berat. Selalu saja ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau mungkin karena masih dalam proses adaptasi. Jika sebelumnya tidak ada yang harus dipikirkan sebagai sebuah tanggung jawab maka setelah menikah, ego masing-masing harus diturunkan.

Apakah menikah sesuatu yang wajib dalam hidup? 

Tidak juga. Siapapun bisa memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihan masing-masing selama tidak merugikan orang lain. Ada yang menikah tetapi tidak bahagia di dalam hidupnya karena hanya menyisakan luka dan ada juga yang tidak menikah tetapi menikmati kebahagiaan. Menikah bukan untuk bahagia tetapi untuk bertumbuh bersama dengan pasangan.

Terlalu abstrak? Iya karena bertumbuh mempunyai banyak arti. Tujuan yang ideal memang harus abstrak yang bisa diartikulasikan dengan berbagai cara.

Apa sih konsep pernikahan yang sedang saya jalani? 

Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjadikan pernikahan sebagai neraka bagi pasangan saya maka jadi dalam banyak hal, saya tidak menuntu banyak kepadanya. Meskipun terkadang dalam beberapa kali kesempatan, saya bilang ingi memiliki puteri tetapi nampaknya di keberatan dengan pertimbangannya sendiri.

Dua tahun terakhir merupakan tantangan yang cukup berat dalam dua hal; pertama dalam hal ekonomi karena saya merasa masih sangat kurang memberikan ekonomi kepada istri saya bahkan jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sialnya, belum ada tanda-tanda perbaikan yang terlihat jelas. Bahkan jalannya masih saja menurun dan entah titiknya sampai di batas yang mana.

Kedua; jarak dengan pasangan. Saya sedang sangat jauh dari pasangan secara jarak minimal dalam lima hari karena dua tahun terakhir, saya memutuskan mengambil pekerjaan di kota yang berbeda tempat dia bekerja. Akhirnya kesepakatannya ada saya harus ngekos dan hanya bisa pulang ke rumah saat weekend. Menurut saya cukup berat tetapi keputusan sudah dibuat dan harus mulai lagi memetakan apa jalan yang akan diambil kemudian hari.

Setelah ini, masih banyak langkah yang harus diselesaikan untuk menunaikan janji di awal. Langkah yang mungkin lebih berat dari yang sebelumnya sudah dijejak.

Entahlah. Semua Tuhan menguatkan sendi-sendi ini untuk menunaikan tanggung jawab yang sedang saya emban.

#latepost

September 7, 2024

7 September

Tidak ada yang berbeda, semua terlewati sebagaimana lazimnya. Di hari yang biasanya orang-orang rayakan dalam suka cita, saya bahkan tidak melakukan selebrasi apa-apa, selain karena saya tidak punya kultur semacam itu, ini juga lebih pada keyakinan bahwa hidup akan berjalan sebagaimana adanya.

Satu-satunya hal yang berbeda adalah saya semakin sadar bahwa waktu terus menggerus kesempatan saya hidup di bumi ini. Saya semakin menua tetapi fokus hidup masih berganti-ganti. Di saat manusia lain di usia yang sama dengan saya, mereka sudah fokus dalam menjalani karir masing-masing tetapi alih-alih, saya bahkan masih menakar apa yang sedang saya lakukan di hidup ini.

Hari ini, tidak ada yang berbeda, semua berjalan sebagaimana mestinya. Saya bangun tepat jam 5, artinya saya melewatkan lagi salat subuh tepat waktu. Setelah itu semua berjalan normal. Saya menghabiskan waktu memegang HP kemudian menjelang jam 6 pagi, saya memaksakan diri mengenakan sepatu running, mulai menyetel smartwatch, lalu berlari kecil menyusuri rute yang sering saya tempuh.

Tentu bisa ditebak setelah itu, saya akan meracik kopi susu, menyiapkan beberapa potong jajanan sebagai teman ngopi kemudian buka laptop. Nonton youtube dan berbagai aktivitas yang sama sekali tidak produktif.

Hari ini, sekeras apapun hati untuk memulai pola hidup yang baru tetapi ternyata tetap saja gagal. Saya kembali menjalani rutinitas yang membosankan tanpa ada perubahan apa-apa.

Di salah satu kuliahnya, Dr. Haryatmoko melontarkan lelucon yang bernuansa filosofis tetapi sebenarnya bisa juga dijadikan dasar untuk mengubah cara pandang terhadap hidup.

Alkisah, seorang anak trauma tidak di kamarnya karena dia meyakini ada hantu di bawah kolong ranjangnya. Selanjutnya, si anak kemudian mendatangi Psikolog untuk menghilangkan rasa takutnya. Sekian puluh kali mendatangi Psikolog tersebut, sang anak tidak kunjung sembuh, akhirnya berganti Psikolog. Hanya sekali saja dia mendatangi Psikolog kedua dan langsung sembuh.

Selang beberapa waktu, si anak bertemu dengan Psikolog yang pertama. Dia sangat senang karena mengetahui si anak sudah sembuh dari rasa takutnya. Si Psikolog kemudian bertanya kepada si anak, bagaimana anda bisa sembuh? 

"Saya berganti Psikolog." Jawab di anak singkat.

Ternyata Psikolog yang kedua memberikan solusi yang fungsional yaitu, orang tua si anak disuruh untuk memotong ranjang anaknya sehingga ranjangnya tidak memiliki lagi kolong. Akhirnya si anak tidak takut lagi karena tidak ada lagi hantu yang ada di bawah kolong ranjangnya.

Seringkali, mengubah hidup adalah dengan cara mengubah realitas kita. Solusi ini yang seharusnya saya lakukan dalam hidup saya yang sangat monoton dan tidak pernah berhasil fokus dalam berbagai hal yang saya lakukan. Memotong realitas saya merupakan salah satu cara yang harus saya tempuh.

Hari ini sama seperti hari-hari kemarin. Saya merasa tidak ada perubahan atas diri saya selain keyakinan bahwa waktu akan membawa saya pada titik akhir. Mungkin semua akan berjalan normal dan tiba-tiba pada suatu waktu, saya menyesali diri yang tidak mampu mengalahkan semua hal sia-sia.

Apa yang harus saya lakukan ke depan?

Kebagusan III, 

Sabtu, 7 September 2024

May 31, 2024

31 Mei

Tidak ada tulisan bulan ini yang ada hanya sumpah serapah yang bertebaran di setiap ruang waktu yang tersisa. Masih dalam masalah yang sama saat diri tidak mampu sama sekali lepas dari kesia-siaan. Waktu seakan terbuang begitu saja dan secara tidak sadar, sudah berjalan terlalu jauh.

Bulan ini, Palestina semakin merana dengan serang bertubi-tubi dari kaum penjajah. Namun demikian, negara-negara Arab seakan merasa bahwa kejadian itu hal yang lumrah karena sama sekali tidak ada langkah konkrit untuk mengadvokasi bangsa Palestina untuk lepas dari penjajahan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Bulan ini juga, fakta persidangan mantan menteri Pertanian yang berasal dari Gowa, menunjukkan betapa mengerikannya realitas yang diuangkap. Aliran dana hasil korupsi dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang sangat memilukan, untuk membiayai apartemen seorang Biduan, uang bulanan istri, acara khitan, cucu, biaya dokter kecantikan anak, skincare puterinya, dan berbagai aliran dana yang membuat rakyat Indonesia miris menyaksikan apa yang dilakukan oleh seoran pejabat publik.

Bulan ini, saya sama sekali tidak menulis artikel yang biasanya saya publish di media online nasional. Saya sudah berusaha keras untuk menemukan serpihan ide tetapi selalu gagal dan hanya berakhir pada sebuah angan-angan semata.