Hari ini saya menghadiri pernikahan rekan kerja, baik dari pihak wanita maupun pria adalah rekan kerja saya. Mereka memang sudah mengingatkan diri sejak dua tahun belakang dan berkomitmen untuk bersama-sama menjalani hidup mereka.
Pernikahan ini membawa memori saya kembali ke 9 tahun lalu ketika saya memutuskan untuk menikah. Saya mencoba untuk mengingat apa yang sedang saya rasakan saat menikah dan memori saya buram. Hal yang muncul dalam ingatan saya hanya hal-hal teknis seperti menjemput keluarga yang datang dari kampung, mempersiapkan tetek bengek pernikahan, mengucapkan ijab kabul, menyalami setiap tamu yang datang kemudian malamnya istirahat.
Tidak ada perasaan asing yang hadir dalam relung hati saya kecuali ingatan tentang friksi yang terjadi pada beberapa hari di awal pernikahan. Saya merasa tidak dianggap sebagai keluarga sehingga perasaan tersebut mengganggu nuansa pernikahan yang seharusnya dinikmati.
Kawan yang menikah hari ini nampak bahagia, begitulah seharusnya yang dirasakan oleh pasangan karena naluriahnya, manusia ingin hidup dengan pasangan yang membuatnya bahagia. Setelah ini, mereka akan menjadi hidup sebagai pasangan suami istri dengan berbagai dinamika yang akan dihadapinya.
Semua pasangan mempunyai strategi masing-masing untuk survive dalam segala hal keadaan. Setiap kita diberikan kemampuan untuk menemukan solusi dalam berbagai masalah yang dihadapi.
Demikianlah dua kawan yang sedang berbahagia hari ini.
No comments:
Post a Comment