Minggu lalu di salah satu kelas, saya mengalami hal yang membuat saya perlahan mengelus dada. Pengalaman yang menguji apakah saya harus bertindak reaktif untuk memperlihatkan kuasa saya atau tetap tenang untuk berdamai dengan hal yang bisa saja saya perlakukan lebih dari itu.
Pada salah satu mata kuliah, saya sedang memberikan pengarahan penugasan kepada mahasiswa. Saya menunjukkan salah seorang mahasiswa untuk memberikan contoh mengenai apa yang diinginkan sepuluh tahun ke depan? atau dia mau jadi seperti apa sepuluh tahun lagi?
Jawabannya tentu membuat saya sedikit terpancing ketika dia menjawab ingin membeli mobil mewah namun dengan nada bercanda dan diiringi sorakan dari teman-temannya.
Tentu tidak keliru tetapi ada yang salah dari bagaimana interaksi dia di dalam kelas. Saya memilih untuk tidak reaktif karena saya benar-benar khawatir, jangan-jangan responsnya seperti itu karena tidak terlalu suka dengan mata kuliah yang sedang diajarkan atau mungkin cara saya yang terlalu monoton.
Namun demikian, refleksi mendalam terhadap kejadian itu membuat saya semakin sadar bahwa selain berpikir bagaimana mengubah cara pandang mereka, saya juga berpikir bagaimana mengubah cara saya dalam mengajar.
No comments:
Post a Comment