Sembilan tahun yang lalu, mengambil sebuah keputusan untuk menikah. Semua keputusan yang biasa-biasa saja karena semua orang bisa melakukannya dengan berbagai niat masing-masing. Pernikahan menjadi momentum untuk terus bersama dengan seseorang yang sudah dipilih sebagai pendamping. Tentu banyak sekali tantangan yang harus dihadapi dalam pernikahan namun harus dilewati karena saya selalu menanamkan dalam diri bahwa saya yang memilih jadi sebisa mungkin saya menjalani dengan sebaik-baiknya.
Saya sepakat jika banyak orang mengatakan bahwa awal pernikahan merupakan cobaan yang berat. Selalu saja ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau mungkin karena masih dalam proses adaptasi. Jika sebelumnya tidak ada yang harus dipikirkan sebagai sebuah tanggung jawab maka setelah menikah, ego masing-masing harus diturunkan.
Apakah menikah sesuatu yang wajib dalam hidup?
Tidak juga. Siapapun bisa memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihan masing-masing selama tidak merugikan orang lain. Ada yang menikah tetapi tidak bahagia di dalam hidupnya karena hanya menyisakan luka dan ada juga yang tidak menikah tetapi menikmati kebahagiaan. Menikah bukan untuk bahagia tetapi untuk bertumbuh bersama dengan pasangan.
Terlalu abstrak? Iya karena bertumbuh mempunyai banyak arti. Tujuan yang ideal memang harus abstrak yang bisa diartikulasikan dengan berbagai cara.
Apa sih konsep pernikahan yang sedang saya jalani?
Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjadikan pernikahan sebagai neraka bagi pasangan saya maka jadi dalam banyak hal, saya tidak menuntu banyak kepadanya. Meskipun terkadang dalam beberapa kali kesempatan, saya bilang ingi memiliki puteri tetapi nampaknya di keberatan dengan pertimbangannya sendiri.
Dua tahun terakhir merupakan tantangan yang cukup berat dalam dua hal; pertama dalam hal ekonomi karena saya merasa masih sangat kurang memberikan ekonomi kepada istri saya bahkan jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sialnya, belum ada tanda-tanda perbaikan yang terlihat jelas. Bahkan jalannya masih saja menurun dan entah titiknya sampai di batas yang mana.
Kedua; jarak dengan pasangan. Saya sedang sangat jauh dari pasangan secara jarak minimal dalam lima hari karena dua tahun terakhir, saya memutuskan mengambil pekerjaan di kota yang berbeda tempat dia bekerja. Akhirnya kesepakatannya ada saya harus ngekos dan hanya bisa pulang ke rumah saat weekend. Menurut saya cukup berat tetapi keputusan sudah dibuat dan harus mulai lagi memetakan apa jalan yang akan diambil kemudian hari.
Setelah ini, masih banyak langkah yang harus diselesaikan untuk menunaikan janji di awal. Langkah yang mungkin lebih berat dari yang sebelumnya sudah dijejak.
Entahlah. Semua Tuhan menguatkan sendi-sendi ini untuk menunaikan tanggung jawab yang sedang saya emban.
#latepost
No comments:
Post a Comment