Selama tahun 2024, saya memaksakan diri untuk menambah bacaan saya karena selama ini, saya merasa bahwa waktunya hanya habis sia-sia.
1. Polemik Sains.
Buku yang merupakan kumpulan dari berbagai tulisan oleh beberapa tokoh. Awalnya tulisan ini distimulasi oleh status GM di facebooknya pada awal merebaknya Covid-19. Kurang lebih dia mempertanyakan sains yang tidak jua menjawab Pandemi saat itu. Saling sanggah melalui tulisan kemudian menjadi sarapan renyah bagi khalayak untuk menikmati dialektika yang terjadi.
Tulisan tersebut memicu reaksi dari kelompok yang pro terhadap sains dan memulai perdebatan yang gurih. Mereka mengeluarkan semua jurus untuk saling menantang dengan rasionalitas standpoint masing-masing. Sains, Agama, dan Filsafat.
2. SAMSARA.
Novel ini dikarang oleh Zara Zettira yang sudah sangat lama saya miliki ketika masih tergabung di Penerbit Erlangga. Novel yang merupakan program diskon dari kantor.
Novel ini bercerita tentang Asya, seorang perempuan yang tidak terlalu mendapat kasih sayang dari ibunya, sementara ayahnya sudah meninggal, memiliki tekad untuk berkarir di Amerika Serikat. Selepas kuliah di Psikologi UI, dia akhirnya menemukan jalan menuju AS melalui tante Amri, yang ternyata merupakan ibu kandungnya. Ibu yang membesarkannya bukanlah ibu kandungnya.
Cerita ini sarat hal-hal metafisika di mana tante Amri dan Asya merupakan tokoh yang mampu memikirkan masa depan, cenayang.
3. Who Rules the World.
Noam Chomsky adalah seorang seorang aktivis keturunan Yahudi yang tinggal di AS tetapi pandangan politiknya sangat keras mengkritik kedua negara tersebut. Dalam buku ini, Chomsky memperlihatkan begitu banyak fenomena yang menggambarkan AS menerapkan standar ganda dalam setiap kebijakannya. Dalam satu kasus mendukung penegakan HAM tetapi di kasus lain, mereka menginjak-injak penegakan HAM.
Dalam buku ini juga, Chomksy menguliti relasi antara Palestina dan Israel. Relasi tersebut terbentuk dari pola kolonialisme yang diterapkan oleh Israel dan tentu saja dibantu oleh AS.
4. Hidup di luar Tempurung
Buku karya Benedict Anderson yang tidak terlalu tebal. Ben bercerita awal hidupnya sampai akhirnya jatuh cinta terhadap Indonesia, meskipun pada suatu masa, dia dicekal masuk ke Indonesia selama 27 tahun. Ben akhirnya memilih Siam sebagai tempat tinggalnya sebelum akhirnya dia diperbolehkan masuk ke Indonesia pasca reformasi.
Ben menceritakan lika liku kehidupannya sebagai peneliti dan akademisi. Kajian wilayah yang ditekuninya dianggap kelas kedua tetapi tidak menyurutkam kecintaannya terhadap bidangnya.
Ben memberikan cara ideal memulai riset menarik yaitu seorang periset berangkat dari pertanyaan yang dia sendiri juga tidak tahu jawabannya. Setelah itu, baru menentukan perangkat intelektual yang akan digunakan.
Ben juga menceritakan bagaimana mahakaryanya Imagined Communities mulai digagas sampai menghasilkan buku yang mempesona
5. The Socrates Express
Ini buku terakhir yang saya selesaikan di bulan Januari 2024 merupakan karya Eric Weiner. Buku ini merupakan ekspresi Eric menerjemahkan beberapa pemikiran Filsuf dengan mengkontekstualisasikan dengan kehidupan sehari-hari.
Eric sangat menyukai berjalan kaki, pun bepergian dengan kereta api. Namun dia tidak menyukai bepergian dengan bis karena menurutnya tidak bisa berpikir saat di perjalanan. Tulisannya dibuka dengan pandangan Aurelius tentang kehidupan, bagaimana bangun dari rebahana.
Eric juga mengelaborasi bagaimana Rousseau sangat menyenangi jalan kaki bahkan sampai kakinya terluka karena jalan kaki. Selanjutnya beberapa pemikiran filsuf yang diceritakan oleh Eric.
Saya merasa bahwa buku ini seperti buku Dunia Sophie nya Jostein Gaarder tetapi tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Eric, sangat lebih menyukai cara Jostein merumuskan pemikiran para filsuf melalui cerita-cerita fiksinya dengan menggunakan orang ketiga.
6. Melihat Terang
Setelah beberapa bulan tidak fokus membaca buku karena serangkaian pekerjaan yang menumpuk dan kebiasaan lama menghabiskan waktu dengan HP, maka mulai lagi menyelesaikan janji kepada diri untuk memperbanyak asupan bacaan.
Buku kali ini merupakan buku ringan yang ditulis oleh Agung Adiprasetyo, mantan CEO Gramedia. Buku ini merupakan hikmah keseharian yang sangat dengan aktivitas sehari-hari untuk menemukan diri yang tersesat dengan rutinitas yang jumud. Mungkin terkesan klise karena banyaknya genre buku yang sama tetapi selalu ada kisah-kisah baru yang menggugah kembali gairah memulai hal-hal yang baik.
Saya suka bab yang berjudul "Tenang Saja, Jagoan Biasanya Menang Terakhir." Pada bagian ini, ada satu kisah yang sangat menyentuh. Kisah tentang seorang ayah bernama Tom Smith yang mengumpulkan anak-anaknya saat sakaratul maut. Salah seorang putrinya komplain karena ayahnya sama sekali tidak mewariskan harta kepada anak-anaknya.
Sekian tahun berlalu, anaknya yang bernama Sara Smith sedang mengikuti wawancara di sebuah perusahaan ternama. Salah seorang panitia memastikan kepada Sara mengenai nama belakang Smith. Sara menjawab bahwa nama itu diambil dari nama ayahnya.
Ketua panitia tiba-tiba kaget dan berseru, Anda ini putrinya Tom Smith. Dia kemudian bercerita bahwa Tom Smith yang menandatangani formulir keanggotaannya di institut Administrator secara cuma-cuma bahkan dia sama sekali tidak tahu alamat Tom Smith karena dia melakukan pekerjaannya secara profesional.
Singkat cerita, Sara diterima dan karirnya cemerlang di perusahaan yang dia daftar. Pada suatu kesempatan, Sara Smith ditanya rahasia kesuksesannya. Dia menjawab dengan yakin, "Ayah."
Sara Smith yang awalnya komplain terhadap Ayahnya karena tidak mewariskan harta, pada akhirnya baru menyadari bahwa Ayahnya mewariskan intergritas, disiplin, kontrol diri, dan takut kepada Tuhan. Ayahnya tidak mewariskan saldo rekening.
#Desember 2024
No comments:
Post a Comment