Bisa dibayangkan dengan umur segini, saya masih bergulat dengan pertanyaan eksistensi. Tentang jalan yang sedang ditempuh, tentang keputusan hidup yang sudah dijalani dan semua rasa penasaran akan eksistensi diri.
Mungkin saya terlalu terlambat untuk bergulat dengan diri dan jawaban-jawaban yang ada di dalam karena merasa mampu menaklukkan dunia. Ketika waktunya kembali, saya menemukan semua hampa dalam diri, kosong dan gelap.
Saya sudah terlalu jauh tersesat di labirin kehidupan tanpa ada pemandu yang jelas. Benar-benar tercerabut dari dalam diri sendiri dan mengambang seperti kapas yang diterbangkan oleh angin entah kemana.
Saya tiba pada satu momen ketika semua tidak mampu saya taklukkan bahkan sekadar menatap diri di depan cermin pun tak sanggup. Saya seperti mengejar fatamorgana yang tak berwujud dan pada akhirnya membuat saya tak tahu arah pulang.
Saya sedang di sini, di tempat yang dulu pernah saya cita-citakan tetapi realitasnya meleset jauh dari idealitas yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Semua seakan memuaskan keinginan tetapi tidak dengan makna yang saya cari.
Di titik ini, saya membayangkan ibu saya yang semakin menua dengan rambut yang sudah memutih, ayah yang tidak lagi ke kebun karena dimakan usia dan saya di sini, meratapi semua kegagalan demi kegagalan hidup untuk lebih bermakna.
Dada saya seringkali berdegup kencang sekian kali lipat dari yang biasanya. Degup yang lahir dari ketidakmapuan diri menahan keinginan demi keinginan yang semakin membara tetapi tidak jua tercapai, yang tersisa hanya raga yang letih.
15 Okt 2025
No comments:
Post a Comment