Showing posts with label 2024. Show all posts
Showing posts with label 2024. Show all posts

December 31, 2024

Buku yang Saya Baca di Tahun 2024

Selama tahun 2024, saya memaksakan diri untuk menambah bacaan saya karena selama ini, saya merasa bahwa waktunya hanya habis sia-sia.

1. Polemik Sains

Buku yang merupakan kumpulan dari berbagai tulisan oleh beberapa tokoh. Awalnya tulisan ini distimulasi oleh status GM di facebooknya pada awal merebaknya Covid-19. Kurang lebih dia mempertanyakan sains yang tidak jua menjawab Pandemi saat itu. Saling sanggah melalui tulisan kemudian menjadi sarapan renyah bagi khalayak untuk menikmati dialektika yang terjadi.

Tulisan tersebut memicu reaksi dari kelompok yang pro terhadap sains dan memulai perdebatan yang gurih. Mereka mengeluarkan semua jurus untuk saling menantang dengan rasionalitas standpoint masing-masing. Sains, Agama, dan Filsafat.

2. SAMSARA.

Novel ini dikarang oleh Zara Zettira yang sudah sangat lama saya miliki ketika masih tergabung di Penerbit Erlangga. Novel yang merupakan program diskon dari kantor.

Novel ini bercerita tentang Asya, seorang perempuan yang tidak terlalu mendapat kasih sayang dari ibunya, sementara ayahnya sudah meninggal, memiliki tekad untuk berkarir di Amerika Serikat. Selepas kuliah di Psikologi UI, dia akhirnya menemukan jalan menuju AS melalui tante Amri, yang ternyata merupakan ibu kandungnya. Ibu yang membesarkannya bukanlah ibu kandungnya.

Cerita ini sarat hal-hal metafisika di mana tante Amri dan Asya merupakan tokoh yang mampu memikirkan masa depan, cenayang.

3. Who Rules the World.

Noam Chomsky adalah seorang seorang aktivis keturunan Yahudi yang tinggal di AS tetapi pandangan politiknya sangat keras mengkritik kedua negara tersebut. Dalam buku ini, Chomsky memperlihatkan begitu banyak fenomena yang menggambarkan AS menerapkan standar ganda dalam setiap kebijakannya. Dalam satu kasus mendukung penegakan HAM tetapi di kasus lain, mereka menginjak-injak penegakan HAM.

Dalam buku ini juga, Chomksy menguliti relasi antara Palestina dan Israel. Relasi tersebut terbentuk dari pola kolonialisme yang diterapkan oleh Israel dan tentu saja dibantu oleh AS.

4. Hidup di luar Tempurung

Buku karya Benedict Anderson yang tidak terlalu tebal. Ben bercerita awal hidupnya sampai akhirnya jatuh cinta terhadap Indonesia, meskipun pada suatu masa, dia dicekal masuk ke Indonesia selama 27 tahun. Ben akhirnya memilih Siam sebagai tempat tinggalnya sebelum akhirnya dia diperbolehkan masuk ke Indonesia pasca reformasi.

Ben menceritakan lika liku kehidupannya sebagai peneliti dan akademisi. Kajian wilayah yang ditekuninya dianggap kelas kedua tetapi tidak menyurutkam kecintaannya terhadap bidangnya.

Ben memberikan cara ideal memulai riset menarik yaitu seorang periset berangkat dari pertanyaan yang dia sendiri juga tidak tahu jawabannya. Setelah itu, baru menentukan perangkat intelektual yang akan digunakan.

Ben juga menceritakan bagaimana mahakaryanya Imagined Communities mulai digagas sampai menghasilkan buku yang mempesona

5. The Socrates Express

Ini buku terakhir yang saya selesaikan di bulan Januari 2024 merupakan karya Eric Weiner. Buku ini merupakan ekspresi Eric menerjemahkan beberapa pemikiran Filsuf dengan mengkontekstualisasikan dengan kehidupan sehari-hari.

Eric sangat menyukai berjalan kaki, pun bepergian dengan kereta api. Namun dia tidak menyukai bepergian dengan bis karena menurutnya tidak bisa berpikir saat di perjalanan. Tulisannya dibuka dengan pandangan Aurelius tentang kehidupan, bagaimana bangun dari rebahana.

Eric juga mengelaborasi bagaimana Rousseau sangat menyenangi jalan kaki bahkan sampai kakinya terluka karena jalan kaki. Selanjutnya beberapa pemikiran filsuf yang diceritakan oleh Eric.

Saya merasa bahwa buku ini seperti buku Dunia Sophie nya Jostein Gaarder tetapi tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Eric, sangat lebih menyukai cara Jostein merumuskan pemikiran para filsuf melalui cerita-cerita fiksinya dengan menggunakan orang ketiga.

6. Melihat Terang

Setelah beberapa bulan tidak fokus membaca buku karena serangkaian pekerjaan yang menumpuk dan kebiasaan lama menghabiskan waktu dengan HP, maka mulai lagi menyelesaikan janji kepada diri untuk memperbanyak asupan bacaan.

Buku kali ini merupakan buku ringan yang ditulis oleh Agung Adiprasetyo, mantan CEO Gramedia. Buku ini merupakan hikmah keseharian yang sangat dengan aktivitas sehari-hari untuk menemukan diri yang tersesat dengan rutinitas yang jumud. Mungkin terkesan klise karena banyaknya genre buku yang sama tetapi selalu ada kisah-kisah baru yang menggugah kembali gairah memulai hal-hal yang baik.

Saya suka bab yang berjudul "Tenang Saja, Jagoan Biasanya Menang Terakhir." Pada bagian ini, ada satu kisah yang sangat menyentuh. Kisah tentang seorang ayah bernama Tom Smith yang mengumpulkan anak-anaknya saat sakaratul maut. Salah seorang putrinya komplain karena ayahnya sama sekali tidak mewariskan harta kepada anak-anaknya.

Sekian tahun berlalu, anaknya yang bernama Sara Smith sedang mengikuti wawancara di sebuah perusahaan ternama. Salah seorang panitia memastikan kepada Sara mengenai nama belakang Smith. Sara menjawab bahwa nama itu diambil dari nama ayahnya.

Ketua panitia tiba-tiba kaget dan berseru, Anda ini putrinya Tom Smith. Dia kemudian bercerita bahwa Tom Smith yang menandatangani formulir keanggotaannya di institut Administrator secara cuma-cuma bahkan dia sama sekali tidak tahu alamat Tom Smith karena dia melakukan pekerjaannya secara profesional.

Singkat cerita, Sara diterima dan karirnya cemerlang di perusahaan yang dia daftar. Pada suatu kesempatan, Sara Smith ditanya rahasia kesuksesannya. Dia menjawab dengan yakin, "Ayah."

Sara Smith yang awalnya komplain terhadap Ayahnya karena tidak mewariskan harta, pada akhirnya baru menyadari bahwa Ayahnya mewariskan intergritas, disiplin, kontrol diri, dan takut kepada Tuhan. Ayahnya tidak mewariskan saldo rekening.


#Desember 2024

May 31, 2024

31 Mei

Tidak ada tulisan bulan ini yang ada hanya sumpah serapah yang bertebaran di setiap ruang waktu yang tersisa. Masih dalam masalah yang sama saat diri tidak mampu sama sekali lepas dari kesia-siaan. Waktu seakan terbuang begitu saja dan secara tidak sadar, sudah berjalan terlalu jauh.

Bulan ini, Palestina semakin merana dengan serang bertubi-tubi dari kaum penjajah. Namun demikian, negara-negara Arab seakan merasa bahwa kejadian itu hal yang lumrah karena sama sekali tidak ada langkah konkrit untuk mengadvokasi bangsa Palestina untuk lepas dari penjajahan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Bulan ini juga, fakta persidangan mantan menteri Pertanian yang berasal dari Gowa, menunjukkan betapa mengerikannya realitas yang diuangkap. Aliran dana hasil korupsi dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang sangat memilukan, untuk membiayai apartemen seorang Biduan, uang bulanan istri, acara khitan, cucu, biaya dokter kecantikan anak, skincare puterinya, dan berbagai aliran dana yang membuat rakyat Indonesia miris menyaksikan apa yang dilakukan oleh seoran pejabat publik.

Bulan ini, saya sama sekali tidak menulis artikel yang biasanya saya publish di media online nasional. Saya sudah berusaha keras untuk menemukan serpihan ide tetapi selalu gagal dan hanya berakhir pada sebuah angan-angan semata.

February 27, 2024

Februari Mencekam

Bulan ini benar-benar payah. Tidak ada satu pun buku yang saya selesaikan di bulan ini bahkan beberapa pekerjaan saya terbengkalai. Saya masih selalu menghabiskan waktu hanya menghayal tanpa melakukan keputusan-keputusan yang berbeda untuk mengubah keadaan.

Satu hal lagi yang sangat menyedihkan bahwa tidak ada tulisan yang sanggup saya selesaikan di bulan ini sementara lebih dari sepuluh draft sudah saya susun. Entahlah, untuk saya benar-benar buntu memikirkan dan menjalankan program pribadi.

Pekerjaan di kampus pun tidak kalah payahnya. Proposal penelitian tidak kunjung kelar sementara tugas mengajar masih juga terbengkalai bahkan di minggu ke-IV, masih ada target di minggu pertama yang belum kelar.

Saya juga merasa sangat tidak maksimal dalam proses mengajar karena kurang menyiapkan segalanya. Saya hampir saja putus asa dengan semua ini, dengan keputusan diri yang tidak jua berjuang untuk meningkatkan kualitas diri.

Pemimpi yang payah

27 Feb 2024

January 5, 2024

Dosa di Awal Tahun

Keputusan untuk bekerja di luar kota menyisakan berbagai masalah, selain karena tidak setiap hari bertemu keluarga, saya juga harus mengeluarkan dana ekstra di setiap akhir pekan untuk membayar sewa travel.

Akhirnya untuk sedikit berhemat karena gaji yang saya dapatkan juga tidak besar, maka seringkali saya berburu diskon. Travel langganan saya memiliki banyak sekali pool di Jakarta sehingga memudahkan saya memilih harga yang lebih murah, tetapi saya seringkali memilih jurusan ke arah Lenteng Agung dan Depok karena lebih dekat dengan rumah.

Sebenarnya jurusan ke Lenteng Agung dan Depok Juanda satu arah. Jadi rutenya keluar dari tol Simatupang menuju arah Lenteng Agung, transit sebentar kemudian menuju pemberhentian terakhir di Depok-Juanda.

Nah entah kenapa, diskon di aplikasi travel tidak merata jadi ada beberapa rute yang diskon sementara rute yang lain tidak diskon. Perkiraan saya karena mungkin yang diskon sepi penumpang. Salah satu rute yang diskon adalah arah Depok sementara yang arah Lenteng Agung tidak diskon. Padahal sebenarnya rute dan mobilnya sama hanya transit di Lenteng Agung.

Saya kemudian memilih memesan pemberhentian Depok karena menganggap bahwa saya bisa turun di Lenteng Agung. selisih harganya cukup jauh ketika memilih pemberhentian Depok dengan Lenteng Agung, sekitar 70 ribu.

Semua berjalan lancar dan keberangkatan hanya telat 15 menit. Saya kemudian mengambil seat sesuai dengan yang sudah saya pesan via aplikasi.

Ketika berhenti di rest area KM 72, sopir menanyakan kepada saya bahwa apakah saya memilih rute Depok?

Saya menjawab bahwa memang saya memilih pemberhentian Depok tetapi biasanya saya turun tidak sampai di pool Depok. Saya baru tahu bahwa ketika tidak ada penumpang yang akan turun di Lenteng Agung maka rute mobil tidak akan mengambil arah Lenteng Agung tetapi langsung masuk ke tol menuju Depok.

Mengetahui hal tersebut, saya sedikit agak keberatan karena seharusnya rute mobil tetap harus mengikuti jalur yang sebelumnya. Sopir menjelaskan bahwa konsepnya memang seperti itu bahwa jika tidak ada penumpang memesan pemberhentian Lenteng Agung maka rutenya diarahkan langsung ke tol arah Depok.

Saya agak kesal dan menunjukkan rasa ketidaksenangan. Si sopir yang kelihatannya udah sepuh pun sedikit merasa bersalah dan mencoba untuk menenangkan saya.

Setelah sekian menit berlalu, saya merasa sangat bersalah bahwa pada dasarnya saya yang keliru karena memburu diskon dan memilih rute Depok tetapi ingin turun di Lenteng Agung. Saya kemudian memilih untuk menenangkan diri dan membiarkan si sopir mengambil jalur yang langsung ke Depok.

Kesalahan saya membuat mood si sopir yang sudah sepuh merasa bersalah.


Kamis, 4-1-2024

January 1, 2024

1 Januari 2024

Sekarang sudah 2024 dan saya bahkan masih mengingat dengan sangat jelas menjelang 2023, saya menulis beberapa resolusi salah satunya tantangan untuk menulis apapun setiap hari ini blog ini. Ikrar tersebut bertahan selama 7 bulan sebelum akhirnya saya menyerah karena kehabisan ide untuk ditulis.

Sekarang sudah 2024 yang artinya bahwa saya kembali menyusun resolusi di tahun ini. Semalam menjelang pergantian tahun, saya menulis beberapa catatan kecil yang merupakan target pribadi di tahun ini. Saya sengaja menulisnya di kertas menggunakan pulpen agar bisa saya simpan di dompet dan sewaktu-waktu bisa saya buka untuk sekadar mengingatkan saya akan ikrar kepada diri sendiri.

Di awal 2024, saya tidak banyak melakukan sesuatu kecuali menyelesaikan sebuah buku yang minggu lalu saya beli di Togamas Buah Batu. Setelah itu, saya dan keluarga ke Gramedia membaca komik.

#2024