Showing posts with label 2025. Show all posts
Showing posts with label 2025. Show all posts

October 17, 2025

Mempertanyakan Diri

Bisa dibayangkan dengan umur segini, saya masih bergulat dengan pertanyaan eksistensi. Tentang jalan yang sedang ditempuh, tentang keputusan hidup yang sudah dijalani dan semua rasa penasaran akan eksistensi diri. 

Mungkin saya terlalu terlambat untuk bergulat dengan diri dan jawaban-jawaban yang ada di dalam karena merasa mampu menaklukkan dunia. Ketika waktunya kembali, saya menemukan semua hampa dalam diri, kosong dan gelap.

Saya sudah terlalu jauh tersesat di labirin kehidupan tanpa ada pemandu yang jelas. Benar-benar tercerabut dari dalam diri sendiri dan mengambang seperti kapas yang diterbangkan oleh angin entah kemana.

Saya tiba pada satu momen ketika semua tidak mampu saya taklukkan bahkan sekadar menatap diri di depan cermin pun tak sanggup. Saya seperti mengejar fatamorgana yang tak berwujud dan pada akhirnya membuat saya tak tahu arah pulang.

Saya sedang di sini, di tempat yang dulu pernah saya cita-citakan tetapi realitasnya meleset jauh dari idealitas yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Semua seakan memuaskan keinginan tetapi tidak dengan makna yang saya cari.

Di titik ini, saya membayangkan ibu saya yang semakin menua dengan rambut yang sudah memutih, ayah yang tidak lagi ke kebun karena dimakan usia dan saya di sini, meratapi semua kegagalan demi kegagalan hidup untuk lebih bermakna.

Dada saya seringkali berdegup kencang sekian kali lipat dari yang biasanya. Degup yang lahir dari ketidakmapuan diri menahan keinginan demi keinginan yang semakin membara tetapi tidak jua tercapai, yang tersisa hanya raga yang letih.


15 Okt 2025

October 15, 2025

Saya Lupa Menulis

Tahun 2025 sudah memasuki bulan Oktober dan saya merasa tidak memiliki progress yang berarti. Pagi ini, tetiba saya membuka blog lalu menyadari bahwa betapa malasnya saya menulis tahun ini. Sejak Memulai blog ini 15 tahun lalu, maka tahun ini adalah tahun paling sedikit postingan bahkan sampai tulisan ini saya posting, baru dua tulisan yang nangkring di beranda.

Entahlah, namun begitu saya menyadari bahwa sudah sekian lama saya lupa caranya menulis, tidak hanya sekadar merangkai kata namun juga mengartikulasikan setiap hal yang saya alami sehari-hari, entah yang sifatnya reflektif maupun kejadian empirik.

Saya sudah tidak muda lagi dan angka usia semakin bertambah namun cita-cita lama menerbitkan buku masih tetap saja mengambang. Memang tahun ini saya menerbitkan buku namun saja buku referensi, bukan buku refleksi kehidupan seperti yang saya bayangkan sebelum.

Saya lupa menulis dan entah sampai kapan karena terjerat dengan drama kehidupan.

15 Oktober 2025

January 1, 2025

1 Januari 2025

Tidak banyak yang saya lakukan di awal tahun 2025 selain menghabiskan waktu di perjalanan balik ke Jakarta. Ketika gemuruh Terompet bersahut-sahutan sebagai penanda perganti tahun waktu indonesia tengah (WITA), saya sedang berada di atas travel dari kampung ke bandara Sultan Hasanuddin. Saya tidak menyadari tepatnya di daerah mana ketika pergantian tahun, mungkin saja di Pare-Pare karena saya terlelap dalam tidur. Sebelumnya saya terbangun di daerah Pinrang dan waktu masih menunjukkan 23.20 WITA.

Satu hal yang berkesan karena mobil travel Daihatsu Xenia yang kami tumpangi dari kampung ke bandara Hasanuddin penuh sesak dengan barang dan penumpang. Terdapat tiga orang di depan termasuk Sopir dan sekarung beras serta tas pakaian yang diletakkan di bawah. Kami berempat di tengah yang idealnya hanya memuat tiga orang sehingga cara duduk kami harus serong agar muat. Sementara di belakang ada satu penumpang tetapi barang bawaan tumpah ruah. Ada sekitar 70 plastik besar lombok yang sebagian besar di ikat di atap mobil. Kap bagasi bahkan tidak bisa ditutup rapat sehingga diikat dengan tali. Bahkan ada satu penumpang yang tidak jadi ikut karena sudah tidak ada tempat duduk.

Saya baru tahu bahwa ternyata di setiap momen tahun baru, tidak ada travel yang berangkat ke Makassar, bukan karena alasan ingin merayakan tahun baru tetapi kekhawatiran keselamatan di jalanan. Begitu banyak pemuda yang mengadakan pesta di setiap daerah jalan poros bahkan terkadang tidur di tengah jalan ketika dalam keadaan mabuk berat.

Itu juga yang menyebabkan mobil yang kami tumpangi sesak dengan penumpang yang harus berangkat malam itu juga dan barang-barang. Sebenarnya mobil yang kami tumpangi juga awalnya tidak akan berangkat tetapi pesanan lombok dalam jumlah besar yang mengharus dia berangkat di malam tahun baru.

Sopir menyetir dengan sangat kencang bahkan bebarapa kali hampir menabrak kendaraan di depannya. Saya kira dia sedang dalam pengaruh alkohol ternyata dia harus sampai di Makassar sebelum subuh karena lombok harus segera diambil Pelanggan. Praktis kami menempuh perjalanan dua jam lebih cepat dari biasanya.

Kami tiba di bandara pukul 03.20 WITA artinya sekitar sepuluh jam sebelum terbang ke Jakarta. Setiba di bandara, tujuan kami adalah Musala untuk istirahat. Untungnya bisa tidur di Musala sehingga bisa istirahat tetapi saya memilih tidak tidur dan hanya putra saya yang tidur. Kami di Musala sampai pukul 07.30 WITA sebelum bergeser ke gerai Roti O untuk sarapan kopi dan coklat dingin serta dua potong roti O.

Sekira puku 09.00 WITA, kami memutuskan masuk ke ruang tunggu dan menikmati pemandangan orang-orang yang sedang bersiap berangkat. Kami menunggu di gate 6 bersama beberapa penumpang yang juga hendak ke berbagai daerah.

Waktu tidak terasa berlalu karena saya masih harus ikut zoom meeting membahas persiapan AMI Prodi bahkan sejam sebelum boarding, rapat baru selesai. Putra saya masih sempat makan siang di gerai AW sementara saya memilih untuk tidak makan karena tidak ada lauk selain ayam, setahuku.

Oh iya, memang saya memutuskan tidak makan daging selain ikan sejak beberapa tahun belakangan. Saya hanya menoleransi komitmen saya ketika berada di kampung dan yakin bahwa daging ayam/sapi disembelih oleh keluarga dan dimasak oleh ibu atau kakak perempuan saya.

Kami boarding tepat waktu pada pulul 13.55 WITA. Tidak ada masalah berarti bahkan perjalanan sangat lancar sampai di Jakarta. Setiba di kedatangan bandara Soekarno Hatta terminal 1A, kami langsung keluar memesan taxi online karena saya menaruh semua barang bawaan di kabin sehingga tidak perlu menunggu barang dari bagasi.

Awalnya saya ingin memesan taxi Maxim tetapi menurut saya harganya di atas taxi online pada umumnya. Saya kemudian menuju titik pemesanan Gocar dan ternyata memang benar, harganya jauh lebih murah. Awalnya saya order tanpa memasukkan kode promo "Gobandara" namun ketika menyadari bahwa ada promo, saya menanyakan ke petugasnya dan untungnya masih bisa dicancel lalu kemudian diinput kembali dan mendapatkan potongan sekitar 40 ribu rupiah.

Sistem pick up di Gocar bandara menggunakan sistem antrean. Butuh waktu sekitar 10 menit menunggu sebelum dijemput mobil. Perjalanan dari bandara ke Kebagusan sangat lancar, mungkin warga ibu kota masih di luar kota merayakan momen liburan tahun baru. Meskipun jalanan lancar tetapi mobil berjalan sangat pelan. Saya menduga si sopir dalam keadaan lelah. 

Kami tiba di rumah sekitar pukul 16.00 WIB. Saya memutuskan langsung mandi karena sedari berangkat dari bandara, ingin buang air kecil. Setelah itu, saya istirahat untuk melepas penat perjalanan panjang dari kampung.

Habis maghrib sekira pukul 18.30 WIB, saya tertidur di sofa sementara saya belum salat Isya. Saya sudah tidak sadar sampai akhirnya terbangun pada pukul 03.40 WIB keesokan harinya. Akhirnya saya baru salat Isya pada pukul 04.45 WIB.

Begitulah perjalanan di hari pertama tahun 2025. Tidak ada yang spesial bahkan semua berakhir dengan hari-hari yang sama.

Selanjutnya, mari menyelesaikan tugas-tugas kecil di hari-hari berikutnya.

December 31, 2024

Semacam Resolusi

Saya sangat menyadari bahwa resolusi yang saya buat setiap akhir tahun/awal tahun baru selalu berakhir pada arsip berdebu, tetapi entah kenapa, menyusun resolusi semacam candu atau mungkin rutinitas yang harus dituliskan. 

Tahun ini pun demikian adanya. Saya tahun perjalanan 2025 pada akhirnya bagaimana bertahan dari satu masalah ke masalah yang lain tetapi menulis resolusi wajib saya lakukan, setidaknya komitmen mengisi blog ini.

Awal tahun seringkali serasa sangat panjang tetapi entah kenapa, rasanya sedetik berlalu, kita akan sampai lagi pada akhir tahun dan menyalakan kembang api. Selalu begitu setiap tahunnya dan kita melewati kesedihan demi kesedihan yang diselingi sedikit canda tawa.

Tahun ini, saya menuliskan resolusi yang repetitif dari tahun-tahun sebelumnya dan sedikit penambahan. Resolusi ini secara random dan urutan penulisan tidak berdasarkan prioritas. 

Here's the resolution I'm aiming for:

Melanjutkan study S3 jurusan HI (konsentrasi EPI/Studi keamanan dan HAM/politik Islam) di kampus luar negeri dengan beasiswa full funding. Mendapatkan sertifikat toefl ITP minimal skor 550. Membaca buku minimal 3 buku sebulan. Earning a salary at least equal to my wife's salary. Mengurangi kontak dengan gadget yang tidak produktif. a vacation abroad with my family. Rutin salat Tahajud. Became a guest speaker at various events. Mengajar di kampus yang sekota dengan istri* (pass pppk). Lingkungan pekerjaan yang kondusif dan saling mendukung. Menemukan mentor dalam pekerjaan dan hidup. Menguasai satu bidang keilmuan secara mendalam. Melunasi cicilan rumah. Mengunjungi orang tua di kampung minimal 2x setahun. Membelikan mobil untuk istri. Menerbitkan tiga buku termasuk buku keilmuan dan buku renungan. Mampu mengelola emosi dan menghilangkan penyakit hati.

* Mengajar di kampus dengan jurusan HI dan kampus yang memenuhi kuota minimal mahasiswa per kelas sehingga tidak mengharuskan setiap dosen terlibat aktif dalam tim PMB.
Demikianlah, mungkin saja selanjutnya perjalanan melewati tahun hanyalah perjalanan untuk bertahan atas setiap masalah yang akan menghadang, mungkin pada akhirnya kita hanya bicara bagaimana bertahan, bahkan tidak sempat memikirkan impian-impian besar.

Pada akhirnya, setelah menjalani hari demi hari di tahun 2025, saya akan mengutip lirik lagu Melly Goeslow yang berjudul Catatanku.

"… Tuhan terserah padamu
Aku ikut maumu TuhanKu catat semua ceritakuDalam harianku"