Tidak banyak yang saya lakukan di awal tahun 2025 selain menghabiskan waktu di perjalanan balik ke Jakarta. Ketika gemuruh Terompet bersahut-sahutan sebagai penanda perganti tahun waktu indonesia tengah (WITA), saya sedang berada di atas travel dari kampung ke bandara Sultan Hasanuddin. Saya tidak menyadari tepatnya di daerah mana ketika pergantian tahun, mungkin saja di Pare-Pare karena saya terlelap dalam tidur. Sebelumnya saya terbangun di daerah Pinrang dan waktu masih menunjukkan 23.20 WITA.
Satu hal yang berkesan karena mobil travel Daihatsu Xenia yang kami tumpangi dari kampung ke bandara Hasanuddin penuh sesak dengan barang dan penumpang. Terdapat tiga orang di depan termasuk Sopir dan sekarung beras serta tas pakaian yang diletakkan di bawah. Kami berempat di tengah yang idealnya hanya memuat tiga orang sehingga cara duduk kami harus serong agar muat. Sementara di belakang ada satu penumpang tetapi barang bawaan tumpah ruah. Ada sekitar 70 plastik besar lombok yang sebagian besar di ikat di atap mobil. Kap bagasi bahkan tidak bisa ditutup rapat sehingga diikat dengan tali. Bahkan ada satu penumpang yang tidak jadi ikut karena sudah tidak ada tempat duduk.
Saya baru tahu bahwa ternyata di setiap momen tahun baru, tidak ada travel yang berangkat ke Makassar, bukan karena alasan ingin merayakan tahun baru tetapi kekhawatiran keselamatan di jalanan. Begitu banyak pemuda yang mengadakan pesta di setiap daerah jalan poros bahkan terkadang tidur di tengah jalan ketika dalam keadaan mabuk berat.
Itu juga yang menyebabkan mobil yang kami tumpangi sesak dengan penumpang yang harus berangkat malam itu juga dan barang-barang. Sebenarnya mobil yang kami tumpangi juga awalnya tidak akan berangkat tetapi pesanan lombok dalam jumlah besar yang mengharus dia berangkat di malam tahun baru.
Sopir menyetir dengan sangat kencang bahkan bebarapa kali hampir menabrak kendaraan di depannya. Saya kira dia sedang dalam pengaruh alkohol ternyata dia harus sampai di Makassar sebelum subuh karena lombok harus segera diambil Pelanggan. Praktis kami menempuh perjalanan dua jam lebih cepat dari biasanya.
Kami tiba di bandara pukul 03.20 WITA artinya sekitar sepuluh jam sebelum terbang ke Jakarta. Setiba di bandara, tujuan kami adalah Musala untuk istirahat. Untungnya bisa tidur di Musala sehingga bisa istirahat tetapi saya memilih tidak tidur dan hanya putra saya yang tidur. Kami di Musala sampai pukul 07.30 WITA sebelum bergeser ke gerai Roti O untuk sarapan kopi dan coklat dingin serta dua potong roti O.
Sekira puku 09.00 WITA, kami memutuskan masuk ke ruang tunggu dan menikmati pemandangan orang-orang yang sedang bersiap berangkat. Kami menunggu di gate 6 bersama beberapa penumpang yang juga hendak ke berbagai daerah.
Waktu tidak terasa berlalu karena saya masih harus ikut zoom meeting membahas persiapan AMI Prodi bahkan sejam sebelum boarding, rapat baru selesai. Putra saya masih sempat makan siang di gerai AW sementara saya memilih untuk tidak makan karena tidak ada lauk selain ayam, setahuku.
Oh iya, memang saya memutuskan tidak makan daging selain ikan sejak beberapa tahun belakangan. Saya hanya menoleransi komitmen saya ketika berada di kampung dan yakin bahwa daging ayam/sapi disembelih oleh keluarga dan dimasak oleh ibu atau kakak perempuan saya.
Kami boarding tepat waktu pada pulul 13.55 WITA. Tidak ada masalah berarti bahkan perjalanan sangat lancar sampai di Jakarta. Setiba di kedatangan bandara Soekarno Hatta terminal 1A, kami langsung keluar memesan taxi online karena saya menaruh semua barang bawaan di kabin sehingga tidak perlu menunggu barang dari bagasi.
Awalnya saya ingin memesan taxi Maxim tetapi menurut saya harganya di atas taxi online pada umumnya. Saya kemudian menuju titik pemesanan Gocar dan ternyata memang benar, harganya jauh lebih murah. Awalnya saya order tanpa memasukkan kode promo "Gobandara" namun ketika menyadari bahwa ada promo, saya menanyakan ke petugasnya dan untungnya masih bisa dicancel lalu kemudian diinput kembali dan mendapatkan potongan sekitar 40 ribu rupiah.
Sistem pick up di Gocar bandara menggunakan sistem antrean. Butuh waktu sekitar 10 menit menunggu sebelum dijemput mobil. Perjalanan dari bandara ke Kebagusan sangat lancar, mungkin warga ibu kota masih di luar kota merayakan momen liburan tahun baru. Meskipun jalanan lancar tetapi mobil berjalan sangat pelan. Saya menduga si sopir dalam keadaan lelah.
Kami tiba di rumah sekitar pukul 16.00 WIB. Saya memutuskan langsung mandi karena sedari berangkat dari bandara, ingin buang air kecil. Setelah itu, saya istirahat untuk melepas penat perjalanan panjang dari kampung.
Habis maghrib sekira pukul 18.30 WIB, saya tertidur di sofa sementara saya belum salat Isya. Saya sudah tidak sadar sampai akhirnya terbangun pada pukul 03.40 WIB keesokan harinya. Akhirnya saya baru salat Isya pada pukul 04.45 WIB.
Begitulah perjalanan di hari pertama tahun 2025. Tidak ada yang spesial bahkan semua berakhir dengan hari-hari yang sama.
Selanjutnya, mari menyelesaikan tugas-tugas kecil di hari-hari berikutnya.
No comments:
Post a Comment