February 17, 2017

Buku Itu

Saya lupa persisnya tapi kalau ingatanku tidak keliru, kejadian tersebut kulalui minggu lalu.

Bukan sesuatu yang terlalu menarik untuk kutulis tentang sebuah buku yang kutemukan tergeletak di jalan menuju rumahku. Buku sampul putih yang masih terbungkus plastik.

"A Man Called #AHOK." iya buku tentang sosok figur yang sedang populer di negeri ini kutemukan di pinggir jalan. Ada keinginan untuk memungutnya namun kuurungkan dengan berbagai pertimbangan.

Hal yang paling mendominasi pikiranku adalah apakah buku tersebut sengaja dibuang atau mungkin jatuh tanpa sengaja?

Februari 2017

February 14, 2017

Pendirian

Beberapa waktu lalu sesaat setelah pindah rumah, saya menyempatkan menyortir buku-buku yang menurutku tidak layak kupajang di meja dekat tv. List paling atas adalah buku karya Tere Liye yang satu persatu kusingkirkan dan kusumbangkan ke kakakku.

Penyebabnya karena beberapa waktu yang lalu,Tere Liye menihilkan andil kader PKI dalam perjuangan kemerdekaaan. entah Tere Liye memang tidak membaca secara komprehensif sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia ataukah mungkin saja dia sedang berusaha menghapus andil gerakan yang berhaluan komunis dari sejarah panjang bangsa Indonesia

Fokus saya tidak sedang membahas tentang motif Tere Liye namun lebih kepada sikap saya yang memboikot karyanya padahal hampir pasti semua seri buku karya Tere Liye sudah dibeli isteri saya.

saya harus mengakui bahwa ada beberapa buku Tere Liye yang layak untuk dibaca disaat rindu kampung atau sedang ingin memunculkan rasa sentimental atas kepingan-kepingan masa lalu. salah satu bukunya yang menurutku bagus adalah "Rembulan tenggelam di wajahMu." buku ini sedikit mengandung unsur sufistik di mana setiap potongan-potongan kisah yang dialami di dunia pada akhirnya terangkai pada sebuah cerita utuh.

meski pada akhirnya, saya menyadari bahwa membaca tiga sampai empat buku Tere Liye maka kita akan mengetahui buku karyanya yang belum dibaca. selalu ada kesamaan ketika dia bercerita panjang dalam setiap bukunya.

kesalahan saya berikutnya adalah seringkali pula ketika membeli buku, pertimbangan pertama mengacu pada asumsi umum bahwa buku tersebut dianggap keren dan digandrungi banyak orang padahal saya sendiri terkadang tidak menyukainya.

setidaknya saya harus membaca buku apa saja yang menurutku bermanfaat. lebih pada diri sendiri. toh jika saja memang saya menyukai novel tentang percintaan remaja maka kenapa tidak saya membaca.

14 2 17
Draft tulisan yang mengendap sudah terlalu lama

February 7, 2017

Tentang Kerja

Sampai saat ini, saya sudah pernah bekerja di tiga Perusahaan. dari ketiga tempatku bekerja, saya berkesimpulan bahwa setiap kerja punya tanggung jawab masing-masing. hal yang paling menggelikan menurutku adalah menjumpai para pekerja yang selalu tidak puas atas setiap pencapaiannya atau bahkan selalu merasa cukup atas pendapatan yang diterima.

tidak, sama sekali tidak ingin mengamini Perusahaan-Perusahaan yang memeras keringat pekerja terutama buruh Pabrik yang dikebiri haknya. saya hanya ingin berbicara tentang Karyawan kantoran yang sedang menapaki jalan menjadi kelas menengah yang selalu mengeluh namun tetap saja berada dalam bayang-bayang kekuasaan Perusahaannya dimana mereka sebenarnya punya pilihan lain jika tidak sepakat sama peraturan sebuah Perusahaan. 

Mereka atau bahkan mungkin saya, tidak puas atas gaji yang diterima sedangkan pada dasarnya kita sudah sadar bahwa memilih menjadi Karyawan berarti siap atas konsekuensi dari Peraturan Perusahaan yang mengikat dan pendapatan yang flat. maka sangat absurd ketika pada perjalanannya, Para serdadu Perusahaan mulai menggugat kesepakatan awal.

Karyawan yang selalu merasa sudah berjasa sekaligus merasa bahwa apresiasi dari Perusahaan tidak sebanding dengan karyanya maka mereka akan memilih resign atau jika mereka tidak berani mengambil resiko maka pelariannya hanya mengomel di kantor dan menggugat perusahaan.

Saya bukan sok idealis namun saya juga menyadari bahwa pilihan menjadi seorang Karyawan otomatis akan berkorelasi dengan aturan yang mengikat, jika sudah tidak sepakat dengan aturan tersebut maka resign adalah cara yang paling efektif.


pilihan pindah kerja dengan alasan tidak puas atas apresiasi Perusahaan menurutku sangat absurd karena pada intinya, semua perusahaan punya aturan dan saya yakin, karakter karyawan yang pindah perusahaan dengan alasan tidak puas dengan gaji ataupun suasana kantor pada akhirnya akan mengalami hal yang sama di perusahaan lain.

sampai saat ini, saya masih menyakini pilihanku bahwa saya hanya akan pindah perusahaan jika menyangkut hal prinsipil. jika perusahaan sudah berseberangan dengan prinsip yang kuanut maka waktunya mencari tempat yang baru. saya tidak pernah punya rencana pindah perusahaan hanya karena tidak suka suasana kantor ataupun hal-hal kecil yang berada di lingkungan kerja karena menurutku, hal seperti itu ada pada semua Perusahaan.

7 2 17

February 6, 2017

Berhati-hati dalam menilai

Suatu hari ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang baik, ‘ Umar bin Khattab bertanya padanya,

Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya ?”
” Belum,” jawabnya ragu.
Pernahkah engkau,” cecar Umar, ” Berselisih perkara dan bertengkar hebat dengannya sehingga tahu bahwa dia tidak fajir dalam berbantahan ?”
” Ehm, juga belum…”
Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya ?”
” Itu juga belum. “
Kalau begitu pergilah kau, hai hamba Allah. Demi Allah kau sama sekali tidak mengenalnya
mudahnya kita menghakimi seseorang, mencaci dan mengumpat serasa sudah kenal dari semua sisi padahal mungkin saja hanya berselisih pendapat. kita harus membedakan antara mengkritisi pikiran seseorang dan menghakimi.

saya selalu berpatokan pada keyakinan bahwa apa yang telah kupelajari dan menjadi landasan pengetahuanku mungkin saja salah dan tidak selalu benar.

keyakinan seperti ini penting dalam menilai pendapat seseorang karena amat sulit mengamini pendapat seseorang yang bertentangan dengan pendapat pribadi. pada akhirnya saya bersepakat bahwa kebenaran mutlak tidak ada pada diri manusia. kebenaran tersebut hanya berada dalam kekuasaan Tuhan.

kasus menyalahkan orang lain sedang merajalela di negeri ini. semua orang menunjuk hidung sendiri bahwa dialah yang paling benar sembari menihilkan pendapat orang lain. fenomena seperti ini berbahaya bagi kesehatan otak karena kita tidak berpikir lagi untuk belajar saat hati sudah berkeyakinan penuh bahwa kita mutlak benar.

wallahu alam bissawab.

Cipaku 6 2 17

January 20, 2017

Khutbah Jum'at

Pernah saya berniat rutin menuliskan kembali ceramah Jum'at. sekedar mengisi blog dan merawat ilmu yang disampaikan oleh para Khatib di setiap hari Jum'at, namun saya lupa tepatnya kapan niat saya tersebut terhenti. isi ceramah Jum'at yang membuatku malas untuk mewujudkan niatku bahkan terkadang saat khutbah Jum'at, saya memilih untuk menunduk dan menahan kepalaku dengan tangan kemudian mulai merapatkan mata. 

saya tidak kuat mendengar khutbah yang dipenuhi caci maki dan teriakan mengajak untuk membenci umat lain. khutbah seperti itu sangat sering bahkan hampir kudengar setiap Jum'at di Masjid yang berbeda. benar-benar membuatku menutup telinga untuk menghalau satu katapun kebencian yang merasuki kepalaku. bahkan serasa seperti hanya menyanggupi syarat sah shalat Jum'at ketika saya memilih untuk duduk menunggu shalat jum'at.

kali ini, meskipun khutbahnya termasuk lama namun tak sedikit pun mataku terpejam. saya menikmati tuturan lugas dari Khatib yang membahas hakekat Fisabilillah yang berbeda dari pemaparan Khatib pada umumnya. beliau tidak mempertentangkan antara Ibadah Mahdhah dan Ghaira Mahdhah. penjelasan yang runut dan mengajak jamaah untuk memahami secara komprehensif hal tersebut di atas.

beliau mengajak kita untuk bekerja keras dengan niat karena Allah untuk menjaga kehormatan kita. beliau menganjurkan jangan sesekali memiliki mentalitas peminta-minta. bekerja pada hakekatnya adalah berjuang Fisabilillah ketika diniatkan untuk mencari nafkah karena Allah, meniatkan untuk memberi hasil keringat kepada orang tua, kepada anak isteri yang menjadi tanggungan dan menafkahi diri sendiri untuk menjaga kehormatan diri.

Khatib kemudian menceritakan sebuah kisah tentang seorang Pengemis yang datang ke Rasulullah. pengemis tersebut hanya mempunyai tikar yang sudah terbakar dan sebuah cangkir. Rasulullah kemudian melelang dua barang milik pengemis tersebut. hasil penjualannya senilai 2 dirham sebagian diserahkan ke Pengemis tersebut untuk dibelikan makanan kepada keluarganya dan sisanya dibelikan sebuah kapak.

kapak tersebut diserahkan ke Pengemis kemudian Rasulullah menyuruhnya untuk mencari kayu di hutan dan dijual di Pasar. Pengemis tersebut tidak boleh menemui Rasulullah dalam rentang waktu 15 hari. pada hari yang telah ditentukan, Pengemis tersebut datang ke Rasulullah dan menyampaikan bahwa sekarang dia sudah punya 10 dirham.

Khutbah seperti itu benar-benar sudah langka ditemui pada masa sekarang. mayoritas Khatib meneriakkan takbir pada saat khutbah dan menebar kebencian. mereka yang menebar benih kebencian selalu merasa bahwa umat lain sedang membangun grand design untuk menghancurkan Islam. 

pada akhirnya, saya kembali menemukan kesejukan dalam sebuah khutbah Jum'at.

20 1 16

OTS #2

Kota pertama yang kudatangi di Pulau Sumatera. tidak ada yang terlalu istimewa dari setiap ruang yang kupandangi di kota ini yang berbeda dengan beberapa kota yang sudah kujejaki. 

kota yang menurutku sudah masuk dalam ketegori panas. bayangkan saja, sesaat setelah masuk hotel, saya masih berkutat dengan keringat yang tidak berhenti mengucur dari pori-pori kulitku. suhu kota ini seakan menyeduh tubuh.

laiknya masakan khas dari daerah Sumatera, kota ini pun menyajikan makanan dengan bumbu aneka rasa dan pastinya santan yang mendominasi. bayangkan saja, ketika selesai makanan dengan lauk penuh santan kemudian disajikan buah durian sebagai hidangan cuci mulut. oh tak terkira ahli kesehatan akan sangat murka dengan menu seperti itu. namun manusia punya pertahanan tubuh alamiah, tidak serta merta rontok hanya karena makanan yang dikategorikan tidak sehat oleh ahli gizi. rumus dalam menjaga tubuh dari penyakit akibat makanan hanyalah berhenti makan sebelum kenyang. jangan terlalu berlebihan dalam memasok makanan ke tubuh kita yang nantinya sari-sari makanan tersebut hanya berakhir di closet.

ruang-ruang kota ini tidak terlalu berbeda. di jantung kota dipenuhi dengan gedung perkantoran dan usaha kuliner. kepadatan terjadi ketika pagi hari dan pada saat sore menjelang maghrib. jalanannya menurutku terlalu sempit untuk ukuran ibu kota Provinsi.

kota ini sangat akrab dengan asap dari hutan-hutan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit. saat saya di sana, asap sedang enggan menyambangi kota tersebut. namun menurut warga bahwa ketika terjadi serangan asap maka jarang pandang tidak lebih dari 50 meter atau bahkan kurang. amat sangat mengerikan mengingat masyarakat di kota ini sangat mobile.

kita akan sangat sulit membedakan orang Minang, Melayu dan China yang mendominasi kota ini. mereka memiliki tekstur wajah yang hampir mirip atau mungkin juga saya yang baru pertama kali ke sini sehingga kesulitan mengidentifikasi mereka.

oh, ya. kita ini mengesankan namun tidak terlalu cukup membuatku tertarik untuk tinggal di kota ini. jelas sangat berbeda ketika beberapa tahun silam, saat pertama kali menginjakkan kaki di salah satu kota di Jawa Timur, saya sudah punya firasat akan menetap lama di sana tetapi mungkin juga karena faktor isteriku yang membuatku mau tidak mau harus memantapkan hati untuk menetap di kota tersebut. hmm
20 1 17
sisa cerita di Pekanbaru

January 7, 2017

Ibu Pulang Kampung

waktu serasa berlari terlalu cepat. seperti hanya kibasan angin yang tak meninggalkan kesan. sebulan yang lalu, saya menjemput Ibu di Bandara. tak terasa, sudah sebulan berlalu dan esok hari, Ibu akan pulang kampung.

Saya menikmati masa ketika Ibu di sini menemaniku. mencium tangan Ibu ketika hendak berangkat ke kantor dan melihat wajahnya ketika pulang kantor. tidur bersama Ibu di ruang tengah dan bercerita apa saja tentang kabar dari kampung. menyicil rindu pada kenangan masa lalu di setiap detail tubuhnya dan geraknya.

lalu kemudian waktu dengan teganya berlalu begitu saja dan membawa Ibu pulang kampung esok hari. inginku Ibu tetap di sini bersamaku namun saya juga kasihan melihat Ibu tidak bisa melakukan apa-apa di rumah. hidup Ibu ada di kampung, hatinya telah bersemayam indah pada suasana kampung, tentang kesibukannya mengurusi dagangan, menengok kebun dan bercengkerama dengan sanak saudara.

meski hanya sebulan, namun setidaknya dahaga rindu terhadap Ibu sedikit terobati, apalagi setiap malam sebelum memejamkan mata, saya bisa sepuasnya memandang wajahnya.

Ibu pulang kampung

ada kesamaan saya dengan Ibu ketika tidur. kami sama-sama tidak bisa memejamkan mata ketika masa ada cahaya yang memapar wajah kami. alhasil saya dan Ibu pasti mematikan semua lampu ketika hendak tidur.

ah, Ibu adalah salah satu sebab hidupku masih bergairah. melakukan banyak hal demi mereka yang membuat gairah hidupku meledak-ledak.
 
7 1 17

semoga saya punya banyak waktu untuk menengok Ibu kapan saja saya mau.

December 31, 2016

Kepergian

Saya benci menulis tulisan penutup tahun ini. Seharusnya resolusi adalah tulisan penutup tahun 2016 di lapak ini namun apa daya, dengan segala keterpaksaan, tulisan tentang kepergianlah yang menutup tahun ini.
Selalu ada rasa hampa yang menggelayut di lubuk hati ketika ditinggal seorang keluarga.

Berbagai kenangan kebersamaan kembali menari-nari di kepalaku. Memoriku dengan jelas menghadirkan wajahnya yang penuh dengan senyuman dan setiap perlakuannya terhadapku dengan penuh kasih.

Nenek hada- seringkali kami cucunya memangilnya dengan julukan nenek tega. Saya tidak tahu asal muasal julukan tersebut- tadi selepas maghrib sudah menunaikan perjalanan hidupnya di bumi. Beliau sedang melakukan perjalanan ke alam selanjutnya.

Jelas akan banyak tangis yang melepas kepergiannya. Kebaikannya sudah menjadi rahasia umum di keluarga besar kami. 

Mayoritas remaja dari kampung kami ketika pertama kali datang ke Makassar melanjutkan kuliah, maka rumahnya menjadi persinggahan pertama. Beliau menyiapkan apapun yang dibutuhkan.

Saya sendiri tidak bisa melupakan semua kebaikannya. Sejak 2006, saya mulai mengakrabi rumahnya di Makassar saat masih kuliah. Meski saat itu saya ngekos namun selalu saja nenek tega menjadi pelarianku ketika stok makanan sudah habis di kos.

Saat saya melangsungkan pernikahan di ujung timur pulau ini, nenek tega hadir menghadiri acara resepsi pernikahanku. Beliau yang menjadi pendampingku.

Terakhir kali bersua dengannya saat saya mudik di akhir tahun 2015. Saya mengunjungi beliau bersama isteriku. Sikapnya tidak pernah berubah. Beliau masih selalu mencurahkan perhatiannya terhadapku. Menanyakan remeh temeh tentangku.

Saya berbicara dengannya lewat telepon sesaat sebelum beliau berangkat menunaikan ibadah haji. 

Sepulang dari tanah suci, beliau mengalami sesak nafas yang kemudian membatasi aktivitasnya. Beliau sudah tidak berjualan di pasar mulai saat itu.

Hidup memang tentang perpisahaan namun tetap saja, setiap kali perpisahan datang menyapa, kita seakan sulit berdamai dengannya.

Ajal kematian adalah keniscayaan. Hidup memang teman sejati dari kematian yang berarti melangkahkan kaki ke keabadian.

Semoga Tuhan menempatkan nenek hada di tempat yang terbaik di sisiNya.

Cilandak, 31 12 16. 22:06 Wib


December 30, 2016

Semacam Impian 2017

http://sijorikepri.com/tujuh-resolusi-keuangan-tahun-baru/
 
Sudah sangat banyak olok-olok pada setiap kebiasaan menuliskan resolusi di akhir tahun. menuliskan resolusi berarti sudah siap lahir batin menjadi bahan bullyan oleh beberapa teman. namun saya tidak pernah kapok menulis niatan yang menurutku baik di setiap akhir tahun sebagai rencana dan harapan tahun berikutnya.

Resolusi 2016 :
"Melanjutkan resolusi 2015 yang belum tercapai yang dibuat pada tahun 2014 dan direncakan tahun 2013 serta dicita-citakan tahun 2012."

Menggelikan memang. setiap akhir tahun, kita bersemangat menghadapi tahun berikutnya dengan kobaran semangat dalam mencapai target hidup namun seringkali, belum sampai pertengahan tahun, semangat tersebut meredup digerus kerikil-kerikil hidup meski saya sendiri berpendapat bahwa seringkali komitmen kita yang tidak terlalu kuat.

Saya lupa dari tahun berapa saya ikut-ikutan membuat resolusi di setiap akhir tahun. dua tahun belakangan, beberapa resolusi yang kubuat di tahun sebelumnya tercapai. seperti ada energi dari semesta yang ikut mendoakan ketika niatan baik diabadikan dalam tulisan sehingga ketika semangat sedang dalam titik nadir, tulisan tersebut menjadi reminder bahwa ada niatan baik yang harus saya tuntaskan.

Untuk akhir tahun ini, saya tidak terlalu muluk-muluk merencanakan apa yang harus kucapai tahun depan, mungkin juga karena kehadiran bayi mungilku yang membuat perhatianku terfokus padanya. jelas jika harus membuat resolusi maka saya hanya berharap semoga anak isteriku tetap dalam keadaan sehat lahir batin. meski saya kira hal tersebut bukan sebuah resolusi karena setiap saat saya berdoa kepada Tuhan atas kebaikan-kebaikan untuk keluargaku.

Impian yang lebih konkrit ingin kucapai tahun 2017 adalah melanjutkan kuliah ke jenjang S2. rencana yang lain membeli rumah untuk anak isteri dan keluarga. Saya pun berharap semoga di tahun 2017, saya bekerja di bidang yang tidak bersentuhan dengan bidang finance. berpikir untuk tidak bekerja di bidang finance lebih kepada usaha saya mencoba belajar menjaga nafkah untuk keluargaku dari unsur riba, gharar ataupun haram, meski sebenarnya sih ruang riba, haram ataupun gharar dalam kajian yang lebih mendalam bisa ada di semua lini tidak hanya di finance namun mungkin jiwa saya yang tidak settle di dunia finance. semoga  di tahun depan bisa berkarya di bidang pengawasan atau bidang yang bergerak dalam bidang kajian, Penelitian dan riset. Saya juga menyimpan harapan yang amat besar di tahun depan bisa melakukan hal-hal baik yang konkrit bagi orang lain.
 
Terakhir keinginan yang selalu kupendam adalah melihat Ibu dan Bapak umrah, Amin.



Cipaku, 30 12 16

December 29, 2016

Penat

Penat

dalam diam yang bersekat
entah rasa yang berkali lipat
tak paham akan kalimat

kata
kerja
hampa
dan bosan yang menyergap

statis dalam sebuah kondisi yang menggerus ide
membunuh waktu yang seharusnya berharga

sampai kapan?
harus ada perubahan
belajar adalah jawaban
menemukan visi hidup
semoga bisa sekolah lagi

Amin

29 12 16

Pemain yang harus dijual oleh Inter Milan

http://www.soccerticketsonline.com/inter-milan-tickets/

Seretnya prestasi Inter Milan di paruh musim 16/17 sama sekali diluar ekspektasi. barisan pemain kelas atas mengisi line up klub di musim ini namun hasil tidak sesuai dengan harapan. Inter bahkan berada di bawah Atalanta.

Inter belum jua menunjukkan perbaikan di awal musim 2016/17. masih angin-anginan di beberapa pertandingan yang dilakoni. belum mampu menemukan racikan yang pas untuk bersaing di papan atas klasmen serie A. sampai pekan ke-18, Inter masih ketetaran di posisi 7.

Kegagalan paling menyakitkan dialami Inter di Liga Eropa. Mereka gagal lolos dari babak penyisihan setelah dua kali dikalahkan oleh klub dari Israel, Hapoel Be'er Sheva. Inter Milan benar-benar menunjukkan performa di bawah titik nadir kejayaan. pasca menjadi jawara Eropa bahkan dunia di tahun 2010, Inter mulai ngos-ngosan di semua kompetisi yang diikuti.

Kegagalan di Liga Eropa membuat Inter harus membenahi skuad supaya tidak terlalu gemuk. jalan satu-satunya adalah meminjamkan beberapa pemain yang tidak terlalu signifikan pengaruhnya atau bahkan menjualnya secara permanen.

Inilah beberapa pemain yang seharusnya direshuffle dari komposisi skuad Inter Milan :
  •  Andre Ranocchia
Sempat menjabat sebagai kapten dan diproyeksikan menjadi pemimpin di tubuh Inter semenjak ditinggal I Capitano, Ranocchia malah bermain jauh dari harapan. penampilannya seringkali membawa malapetaka karena blunder yang memalukan dan seringnya keteteran ketika membendung serangan striker lawan yang memiliki kecepatan di atas rata-rata.

Sebagai seorang pemain berkewarganegaraan Italia, saya sempat menaruh harapan kepadanya sebagai suksesor Materazzi yang mampu meraih seabrek prestasi di Inter Milan maupun timnas Italia. doi sebenarnya punya potensi menyamai prestasi Materazzi dengan berpostur tubuh tidak jauh beda namun ternyata visi bermain sebagai pemain belakang yang membedakannya. tidak hanya lugas menjaga pertahanan, Materazzi juga rajin menyumbang pundi-pundi gol.

sempat dipinjamkan ke Sampdoria paruh kedua musim lalu, kini kembali ke Inter namun permainannya sama sekali tidak meningkat, masih sangat jauh dari harapan. inilah alasan utama saya menempatkannya di daftar urutan pertama pemain yang harus dijual permanen di jendela transfer kedua.
  • Yuto Nagatomo
menempati posisi sebagai bek kiri dan punya kecepatan yang mumpuni membuat Nagatomo masih dipercaya berada di skuad Inter Milan, namun saya pribadi menilai bahwa Nagatomo memiliki kekurangan yang fundamental yang membuatnya layak dijual secara permanen oleh Inter Milan. 

kemampuan membaca permainan lawan yang kurang, ketenangan dalam menguasai bola dan umpan yang tidak bertenaga dan sering tidak menjangkau sasaran membuat saya menempatkannya di urutan kedua pemain yang harus didepak secara permanen.
  • Felipe melo
Melo yang memiliki postur tubuh yang kekar sebenarnya sudah sangat mendukung sebagai pra syarat seorang gelandang bertahan yang mempunyai peran utama mematahkan serangan lawan sebelum memasuki jantung pertahanan, namun permainan yang terlalu keras menjurus kasar dan visi menyerang yang tidak terlalu baik menjadi nilai minus dan harus dijual segera.

Melo memiliki type permainan seperti De Jong yang hanya berpikir bagaimana merebut bola dari kaki lawan bagaimanapun caranya. sangat berbeda jauh dari pemain jangkar seperti Patrick Viera yang pawai merebut bola dari kaki lawan, penguasaan bola yang baik dan memikirkan kapan dan bagaimana bola dialirkan ke striker yang nantinya dikonversi menjadi gol.

kedatangan Joao Mario menurutku sudah cukup sebagai alasan untuk menjual Melo. meski posisi mereka tidak persis sama namun Mario bisa mengambil peran Melo.
  • Geoffrey Kondogbia
Kondogbia sama sekali belum membuktikan bahwa dia layak dibeli dengan harga mahal. permainannya masih sangat jauh dari harapan. seringkali salah mengumpan, kerap kehilangan bola dan visi bermain yang kurang membuat dirinya belum layak mengisi skuad Inter Milan untuk saat ini.

salah satu nilai plus karena dia masih sangat muda. tahun depan, Kondogbia baru akan memasuki umur 24 tahun dan menurutku, dia masih punya banyak waktu untuk memperbaiki permainannya. untuk saat ini, Inter hanya perlu meminjamkannya ke klub lain demi mendapatkan menit bermain yang lebih banyak. kekhawatirannya jika doi dijual permanen, suatu saat dia akan mencapai level permainan seperti yang diharapkan.
  • Jonathan Biabiany
hanya mengandalkan kecepatan menurutku tidak cukup sebagai alasan bagi Inter untuk mempertahankannya. sempat beberapa kali dipinjamkan ke klub lain sebelum kembali ke Inter tahun lalu namun permainannya tidak pernah mencapai level yang menjanjikan.

Biabiany sepertinya hanya mengandalkan kecepatan menyisir pinggir lapangan namun dribel yang payah dan stamina yang hanya cukup untuk bermain satu babak. kehadiran Candreva seharusnya sudah menjadi alasan rasional bagi Inter untuk menjualnya secara permanen. toh Inter memiliki kelebihan stok pemain setelah gagal di Liga Eropa.
  • Rodrigo Palacio
sudah memasuki umur senja bagi ukuran pemain profesional yang bermain di level liga Serie A, Inter Milan seharusnya sudah harus memikirkan melego Palacio. kontribusi pemain dengan ciri khas kuncir ini pun tidak terlalu signifikan sejak bergabung 4 tahun yang lalu.

Palacio sepertinya berada pada persimpangan antara striker murni dan penyerang lubang namun menurutku, ketika ditempatkan di kedua posisi tersebut, Palacio terlalu nanggung dalam menjalankan perannya. dia tidak terlalu baik sebagai seorang striker murni karena posiotioning yang tidak terlalu mumpuni dan finishing yang masih jauh dari harapan. Palacio pun tidak terlalu baik sebagai penyuplai bola. seringkali kalah dalam perebutan bola.
  • Stevan Jovetic
Saya masih ragu menempatkan Jovetic dalam daftar pemain yang harus dijual. naluri mencetak gol yang tinggi rasanya menjadi pertimbangan, apatahlagi kemampuan olah bolanya yang mumpuni.

namun dengan sangat terpaksa, Jovetic harus dijual demi memaksimalkan peran Eder dan menjajal kemampuan Gabriel Barbosa. ketakutan terbesar saya adalah Barbosa dijual terlalu cepat sedangkan dia belum diberikan menit bermain yang cukup untuk membuktikan kapasitasnya sebagai pemain muda yang potensial. apatahlagi dalam beberapa kesempatan, agennya sudah mulai berkoar-koar tentang peluang Barbosa minggat dari skuad Inter Milan. penjualan Jovetic mungkin menjadi pertimbangan bagi Barbosa untuk lebih bersabar tinggal di Giueseppe Meazza.

Forza Inter
29 12 16

December 22, 2016

Redefenisi Rumah dan Pulang

https://twitter.com/MNCPlayID/status/546964210039521280

Semenjak Ibu datang menjengukku, tidak ada lagi perasaan rindu yang membuncah untuk pulang kampung menengok masa lalu, menelusuri kepingan-kepingan yang menemani bertumbuh dalam kebahagiaan di masa lampau. sulit rasanya untuk menyimpulkan bahwa Ibu merangkum semua yang kurindukan namun, harus kuakui bahwa dirinya berhasil membuatku menawar semua rindu terhadap kenangan yang ingin kuulang.

Entah berapa kali saya pernah menumpahkan beberapa tetes air mata di perantauan ketika menyadari bahwa begitu jauhnya saya berjalan menjauh dari jangkauan Ibu. ada rasa hampa yang menggelayut di sudut hatiku setiap mengingat wajahnya yang sendu, selalu ada perasaan bersalah untuk tidak menemani Ibu menua. 

Tulisan ini sangat sentimentil pastinya, selalu begitu setiap kali saya menulis tentang Ibu. tapi tak apalah, toh saya memang ingin menulis tentang rumah, pulang dan Ibu. 

Rumah selalu kita asosiasikan dengan bentuk fisik berupa bangunan tempat berteduh bersama handai tauladan. Pulang pun dimaknai sebagai sebuah bentuk perjalanan kembali ke rumah setelah sekian lama menuntaskan perjalanan. 

Semua Perantau pasti pernah merasakan betapa pulang menjadi sebuah oase untuk menyejukkan rasa rindu terhadap keluarga, rumah, kampung dan semua hal yang diakrabi sejak kecil. Lebaran menjadi momen paling ditunggu bagi Perantau untuk menuntaskan kerinduan. segala hal bahkan yang sampai di luar nalar pun akan ditempuh demi sebuah ritual mudik.

Semua gelora kerinduan terhadap rumah dan kampung seketika menjadi jinak ketika kutatap wajah Ibu yang sedang berjalan keluar dari ruang kedatangan di Bandara sesaat ketika menjemputnya dua minggu lalu. rambutnya mulai memutih diselimuti uban, langkahnya sedikit gontai menahan berat tubuhnya yang semakin melar, mukanya menampakkan keriput meski tidak menggerus senyumannya.

Ibu kemudian menemaniku di sini selama sebulan. bersama anak isteri. setiap malam, saya tidur bersama Ibu di ruang tengah. saya punya kesempatan menatap wajahnya setiap kali beliau tidur di sampingku. ada guratan lelah yang bersemayam di wajahnya di usianya yang semakin menua, tidak bisa ditutupi dengan apapun. Ibu butuh istirahat, duduk di rumah sambil menikmati masa tua bersama cucu.

etapi Ibu menolak ide-ide masa tua yang ada di kepalaku. Beliau selalu menolak setiap kali harus berdiam diri di rumah. hal tersebut malah membuat semua badannya pegal-pegal. Ibu menikmati masa tuanya berjualan di pasar, sesekali menengok kebunnya dan bercengkerama dengan handai tauladan di kampung.

dua minggu di sini, Ibu sudah tidak kerasan karena hanya di rumah. diajak jalan-jalan pun, Ibu ogah-ogahan karena tidak kuat naik mobil. Beliau lebih menikmati di rumah bersama si kecil.

Ibu adalah rumah yang sebenarnya. Ibu adalah tempat berpulang setiap kali saya menahan rindu yang bergejolak. tempat bertumpu setiap kali saya goyah dan semua hal yang kubutuhkan menyatu dalam dirinya.

semoga sehat selalu bu.

Selamat hari Ibu
22 Desember 2016

December 19, 2016

Roda Perjalanan Pemain Timnas Indonesia

Lagu Netral “Garuda di dadaku” berkumandang tiada henti di Stadion Pakansari Bogor pada final leg I Piala AFF 2106. Sekitar 30 ribu masyarakat Indonesia memadati bangku penonton dengan penuh semangat yang bergelora mendukung timnas Indonesia.

Tertinggal 0-1 di babak I tidak menyurutkan hasrat suporter Indonesia untuk tetap mendukung tim kesayangan Mereka. Tidak ada kata putus asa sebelum 90 menit berakhir.

Seperti mendapat suntikan energi dari harapan para Suporter, permainan timnas Indonesia membaik di babak II. Mereka mengkreasi permainan dengan lebih rapi, teratur dan terus menekan pertahanan Thailand. Alhasil, Rizky Pora dan Hansamu Yama memuaskan dahaga Suporter Indonesia akan kemenangan atas Thailand. Skor tersebut bertahan sampai pertandingan usai.

Terpilih menjadi salah satu pilar timnas Indonesia selain sebagai sebuah kebanggaan juga menjadi beban yang amat berat. Butuh berkali lipat fisik terlebih mental bagi pemain timnas.

Kita harus menyadari bahwa suporter Indonesia adalah barisan fans yang haus akan kemenangan. Mereka akan melakukan apa saja demi mendukung timnas namun di hal, mereka sangat kejam ketika mengkritik pemain yang dianggap layak mengambil bagian dalam tim.

Hansamu adalah contoh nyata bagaimana suporter Indonesia begitu berlebihan memuji ketika tampil gemilang dan akan sangat sadis mencela ketika melakukan kesalahan sedikit pun. Hansamu menjadi Publik Enemy saat melakukan pelanggaran terhadap Irfan Bachim di ujicoba terakhir sesaat menjelang dimulainya Piala AFF. Berbagai cacian dialamatkan kepadanya. Dia akhirnya membalikkan cacian menjadi pujian setelah pada pertandingan semifinal, dia mampu mencetak gol saat bersua dengan Vietnam. Namanya semakin menterang saat kembali mencetak gol kemenangan di laga Final leg I.

Ada beberapa pemain yang mengalami nasib yang sama dengan Hansamu. Awalnya dihujat tetapi kemudian dipuja, ada juga beberapa pemain yang awalnya dipuja karena penampilannya yang cemerlang di laga ujicoba namun berbalik hujatan di laga Piala AFF ketika penampilan mereka menurun.

Tercatat ada Kurnia Mega dan Ferdinand Sinaga yang bernasib sama seperti Hansamu. Di laga uji coba dicaci namun kemudian berbalik dipuji saat mereka menampilkan permainan menawan di laga piala AFF 2016. serangan terhadap Kurnia Mega begitu masif di sosial media. Dirinya dianggap tidak layak menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang bahkan Andritany dianggap lebih baik dari dirinya. Penyelamatan demi penyelamatan penting di laga Piala AFF membuat Kurnia Mega mampu membungkan kritikan yang dialamatkan kepada dirinya. Begitupun halnya Ferdinand, awalnya dicibir hanya bisa mengandalkan kecepatan lari namun di Piala AFF, meski berstatus pemain pengganti, dirinya mampu membuktikan mampu menyulitkan pertahanan lawan meski sampai pertandingan final leg I, dirinya belum mampu mencebloskan gol.

Stefano Lilipaly juga awalnya dianggap salah satu pemanggilan spekulasi oleh Riedl. Stefano dianggap tidak akan mampu menyatu dengan tim karena pemanggilannya yang mepet dan tidak ikut pemusatan latihan dari awal, namun Stefano benar-benar menjawab kritikan atas dirinya. Selama laga Piala AFF, Stefano berubah menjadi roh permainan di lapangan tengah. Dia tidak tergantikan dalam semua laga Timnas Indonesia di piala AFF.

Lain halnya dengan Yanto Basna. Awalnya dipuji sebagai pemain bertahan yang sangat tenang dan mampu menjaga pertahan Indonesia dengan sangat baik namun kenyataan pahit harus dialami oleh Basna di laga penyisihan piala AFF. Dia tidak mampu menjaga asa Suporter bahkan dianggap lubang menganga di pertahanan Indonesia. Sadisnya lagi, saat dirinya terkena akumulasi kartu dan dipastikan tidak tampil di laga berikutnya, banyak suporter timnas yang malah bersyukur. Hansamu Yama yang menggantikan Basna di pertandingan berikutnya semakin membuat dirinya terlupakan karena Hansamu tampil baik bahkan mencetak gol. Basna bahkan sampai harus merilis Pledoi atas penampilannya.

Lerby menjadi pemain yang dihujat sejak ujicoba sampai perhelatan piala AFF. Dia dianggap hanya bisa berlari tanpa kemampuan dribel dan visi bermain. Meski berhasil membobol gawang Thailand di pertandingan pertama, namun tetap saja tidak berhasil memperbaiki citra penampilannya di mata Suporter. Apatahlagi di Pertandingan berikutnya, dia sama sekali tidak memberikan kontribusi yang nyata bagi tim.

Pemain lain yang notabene jauh dari hingar bingar perbincangan netizen adalah barisan pemain cadangan yang belum diturunkan selama piala AFF. Muchlis Hadi, Bayu Gatra, Gunawan Dwi Cahyo, Andritany, Teja Paku Alam dan Abdul Rahman masuk dalam jajaran pemain yang jarang dibicarakan.

Boaz Salossa adalah primadona dari semua pemain. Kemungkinan tidak ada satu pun masyarakat pencinta sepakbola di negeri ini yang memungkiri keberadaan Boaz di timnas. Selain sebagai kapten, dia juga menjadi mentor bagi para juniornya.

“Kaka Boci selalu menjadi inspirasi saya dan seluruh pemain. Ia tak banyak bicara, tapi kerja kerasnya di lapangan membuat kami terpacu,” kata Fachrudin Aryanto

“Dia sangat rendah hati. Bikin pemain muda seperti saya percaya diri. Dia juga yang menguatkan saya ketika tak sengaja membuat Irfan Bachdim cedera sebelum berangkat ke Filipina,” ujar Hansamu

Boaz yang sekarang adalah antitesa dari pribadi seorang Boaz beberapa tahun lalu. Dulu, Boaz dianggap tidak nasionalis dan sering melakukan tindakan indisipliner. Boaz yang sekarang adalah pribadi yang lebih tenang. Kita jarang sekali melihat tindakannya memprotes keputusan wasit secara berlebihan bahkan Dia lebih banyak menenangkan para juniornya ketika tensi permainan meninggi.

Pada akhirnya, kita sebagai suporter timnas Indonesia seharusnya mendukung semua pemain yang terpilih mengambil bagian di Tim. Entah pemain starter ataupun pemain cadangan. Mereka adalah wakil Indonesia di bidang sepakbola.

Pada dasarnya, kita bisa saja mengkritik penampilan para pemain yang dianggap tidak memuaskan namun perlu diingat bahwa kritik yang dilontarkan seharusnya konstruktif bukan malah melemahkan mental pemain yang bersangkutan.

Sejauh ini, Yanto Basna dan Zulham Zamrun adalah dua pemain yang diserang netizen dengan sangat keras sedangkan kita ketahui, kedua pemain tersebut sudah berjuang sepenuh hati ikut ambil bagian dalam perjuangan Timnas merebut piala AFF.

Pada akhirnya, dibutuhkan kematangan mental bagi semua suporter untuk legowo dalam setiap hasil yang dicapai timnas. Toh kerangka timnas yang sekarang bukan yang terbaik dari generasi pemain Indonesia karena aturan yang ketat.

Jum'at, 16 12 16