Showing posts with label Hari Ibu. Show all posts
Showing posts with label Hari Ibu. Show all posts

December 22, 2016

Redefenisi Rumah dan Pulang

https://twitter.com/MNCPlayID/status/546964210039521280

Semenjak Ibu datang menjengukku, tidak ada lagi perasaan rindu yang membuncah untuk pulang kampung menengok masa lalu, menelusuri kepingan-kepingan yang menemani bertumbuh dalam kebahagiaan di masa lampau. sulit rasanya untuk menyimpulkan bahwa Ibu merangkum semua yang kurindukan namun, harus kuakui bahwa dirinya berhasil membuatku menawar semua rindu terhadap kenangan yang ingin kuulang.

Entah berapa kali saya pernah menumpahkan beberapa tetes air mata di perantauan ketika menyadari bahwa begitu jauhnya saya berjalan menjauh dari jangkauan Ibu. ada rasa hampa yang menggelayut di sudut hatiku setiap mengingat wajahnya yang sendu, selalu ada perasaan bersalah untuk tidak menemani Ibu menua. 

Tulisan ini sangat sentimentil pastinya, selalu begitu setiap kali saya menulis tentang Ibu. tapi tak apalah, toh saya memang ingin menulis tentang rumah, pulang dan Ibu. 

Rumah selalu kita asosiasikan dengan bentuk fisik berupa bangunan tempat berteduh bersama handai tauladan. Pulang pun dimaknai sebagai sebuah bentuk perjalanan kembali ke rumah setelah sekian lama menuntaskan perjalanan. 

Semua Perantau pasti pernah merasakan betapa pulang menjadi sebuah oase untuk menyejukkan rasa rindu terhadap keluarga, rumah, kampung dan semua hal yang diakrabi sejak kecil. Lebaran menjadi momen paling ditunggu bagi Perantau untuk menuntaskan kerinduan. segala hal bahkan yang sampai di luar nalar pun akan ditempuh demi sebuah ritual mudik.

Semua gelora kerinduan terhadap rumah dan kampung seketika menjadi jinak ketika kutatap wajah Ibu yang sedang berjalan keluar dari ruang kedatangan di Bandara sesaat ketika menjemputnya dua minggu lalu. rambutnya mulai memutih diselimuti uban, langkahnya sedikit gontai menahan berat tubuhnya yang semakin melar, mukanya menampakkan keriput meski tidak menggerus senyumannya.

Ibu kemudian menemaniku di sini selama sebulan. bersama anak isteri. setiap malam, saya tidur bersama Ibu di ruang tengah. saya punya kesempatan menatap wajahnya setiap kali beliau tidur di sampingku. ada guratan lelah yang bersemayam di wajahnya di usianya yang semakin menua, tidak bisa ditutupi dengan apapun. Ibu butuh istirahat, duduk di rumah sambil menikmati masa tua bersama cucu.

etapi Ibu menolak ide-ide masa tua yang ada di kepalaku. Beliau selalu menolak setiap kali harus berdiam diri di rumah. hal tersebut malah membuat semua badannya pegal-pegal. Ibu menikmati masa tuanya berjualan di pasar, sesekali menengok kebunnya dan bercengkerama dengan handai tauladan di kampung.

dua minggu di sini, Ibu sudah tidak kerasan karena hanya di rumah. diajak jalan-jalan pun, Ibu ogah-ogahan karena tidak kuat naik mobil. Beliau lebih menikmati di rumah bersama si kecil.

Ibu adalah rumah yang sebenarnya. Ibu adalah tempat berpulang setiap kali saya menahan rindu yang bergejolak. tempat bertumpu setiap kali saya goyah dan semua hal yang kubutuhkan menyatu dalam dirinya.

semoga sehat selalu bu.

Selamat hari Ibu
22 Desember 2016