June 10, 2015

Tentang Jodoh

Saya dulu berangan-angan berjodoh dengan gadis yang bisa kutemani diskusi, tentang hidup ataupun bahkan tentang semua remeh temeh. Seorang gadis yang suka membaca dan menulis apa saja. entah mungkin karena terpengaruh dengan beberapa model pasangan seniorku dimana mereka sering berpacaran dan tentunya ada yang sampai menikah dengan gadis yang satu kepala dengan mereka. dalam artian bahwa passion mereka sama.

hingga akhirnya saya kemudian menakar diri. melihat ke dalam diriku sampai dimana sebenarnya kualitas diriku yang harus kujadikan patokan untuk mencari pasangan. harus kuakui bahwa jodoh bukan tentang sebuah pilih memilih yang seenak jidat kemudian dengan angan-angan palsu namun dia lebih pada masalah hati dan keyakinan.

kriteriaku berubah suatu waktu mungkin di akhir-akhir kuliah. saya sudah mulai mendiskusikan masalah jodoh dengan beberapa temanku di Makes. salah satu kawanku pernah mengatakan bahwa
 " jika kita ingin mencari jodoh, maka hal yang pertama yang harus kita lihat adalah bagaimana hubungan gadis tersebut dengan ibunya, bagaimana dia memperlakukan ibunya. hal kedua sebelum mendekati gadis yang sudah sesuai dengan kriteria kita adalah pertama-tama kita dekati ibunya."

hasil diskusi dengan teman-temanku tersebut selalu terngiang-ngiang di kepalaku. saya juga sebenarnya menyadari bahwa tidak begitu mudah untuk memilih pasangan yang kita akan temani seumur hidup. saya tidak munafik bahwa saya pun mendamba pasangan yang cantik sesuai standar fisik secara umum namun kemudian hatiku lebih memilih untuk mencari perempuan yang cantik hatinya dan bersabar dikala saya sedang dalam keadaan susah.

 kebiasaanku ketika bertemu dengan orang baru adalah mencoba membaca hati mereka sehingga terkadang ketika saya bertemu dengan orang baru, hal yang pertama kulakukan adalah banyak diam karena dengan begitu, saya bisa mempelajari orang dari cara bicaranya namun tidak serta merta saya menjustifikasi seseorang pada pertemuan pertama karena seringkali kita akan mengenal karakter seseorang ketika sudah beberapa kali berinteraksi meski begitu, ada hal prinsipil yang saya tetap pegang ketika berinteraksi di awal pertemuan misalnya orang yang suka mengumbar keberhasilannya, orang yang suka mengeluh dan orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain. mungkin itu sebagian kriteria bagi saya untuk menilai orang pada awal pertemuan.

saya bertemu dengan windi bersama dua perempuan temannya. seperti biasa saya bukan orang yang cepat akrab dengan orang asing. saya lebih sering mengamati. dari hasil pengamatan saya, saya tahu bahwa windi dan linda orangnya baik bukan saya menganggap bahwa teman perempuan yang satu itu tidak baik cuma karena dia masuk dalam kriteria yang saya sebutkan diatas maka saya tidak menganggap dia bisa menjadi kawan pencerita. kawan perempuan yang satu terlalu suka mengeluh, seringkali menceritakan kejelekan orang lain di belakang orang atau istilahnya ghibah bahkan terkadang pula sering menceritakan kesuksesan-kesuksesannya di masa lalu. windi dan linda lain. meski berbeda karakter, windi pendiam dan linda lebih periang namun mereka tidak termasuk dalam kriteria jelek yang kusebutkan.

pada akhirnya, saya sangat dekat dengan mereka berdua bahkan windi lebih dari sekedar dekat. dia menjadi calon isteriku. saya benar-benar menerapkan hasil diskusi saya dengan teman saya yang ada di Makes. sebelum mendekati windi, saya sudah tahu bagaimana kedekatan dia dengan ibunya dan bagaimana dia memperlakukan ibunya bahkan sejauh yang saya tahu, windi tidak ingin menyusahkan ibunya. langkah kedua ketika ingin mendekati windi adalah mendatangi langsung ibunya. memang pada awalnya ibunya kurang setuju namun pada akhirnya dia mengiyakan. 

hal yang kutemai dari interaksiku dengan keluarga windi adalah kesabaran. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sifat windi dan ibunya. saya harus akui bahwa saya tertinggal jauh jika berbicara masalah kesabaran bahkan saya yang sering marah dan ngambek kepada mereka berdua. saya selalu saja geram ketika mereka di dzalimi orang lain namun mereka memilih untuk sabar.

perjalanan waktu selama 2 tahun banyak mengajarkan hal baru ketika berinteraksi dengan mereka. klimaksnya saat ini saat saya dan windi berencana menikah dan saya dibebaskan oleh ibunya membantu dana secukupnya meski saya sadari bahwa menikah saat ini tidaklah murah namun ibunya benar-benar legowo saat saya hanya mempunyai dana amat sangat sedikit untuk membantu resepsi pernikahan kami. 

speachless..
11 juni 2015

No comments: