masihkah kopi pagi ini hangat di setiap urat tenggorokanku
ketika hati memilih untuk tidak tenang
masihkah ada sisasisa bau tanah sehabis dihampiri hujan semalam
tanya itu selalu memenuhi ubunubun kepala
serupa tubuh yang selalu memahami kebahagiaan di sudut sepi
kita sering mengunjungi cerobong-cerobong panjang dalam kehidupan gelap
"apa bedanya sepi dan bahagia ketika kita ada, semua melebur menjadi fana" bisikmu lirih tepat ketika kita mendaki sunyi.
iya, mereka hanyalah frase bentukan otak yang bingung merumuskan istilah dan semua melebur di dalam pelukan malam ini
sebuah tanya tentang pagi melintas tepat di setiap relung hatiku. meminta untuk memberinya jawaban
"aku ingin engkau pulang membawa rinduku yang hilang" jawabku khidmat
tak ada kata dalam diam hanya tatapan matamu yang berubah menjadi mentari dengan cahayanya berpendar menerangi kebersamaan kita
kita melukis senja dengan tinta hujan
kita bertamu pada malam dalam hening, tidur dalam pelukannya kemudian bermimpi tentang bahagia
kita berdoa menjelma menjadi butiran harapan untuk masa nanti
"kita tak akan pernah melepaskan genggaman tangan ini kan kak..?" tanyamu dalam ujung pendakian kita pada tepi malam
"iya, sampai waktu pada akhirnya menjadi pembeda antara jarak langkah kita..!! jawabku sambil memberimu setangkai mawar rindu yang layu
kita akhirnya sampai di kelokan waktu
saatnya merebahkan tubuh menanti hujan yang bergelayut
selamat malam dek.
100615
ketika hati memilih untuk tidak tenang
masihkah ada sisasisa bau tanah sehabis dihampiri hujan semalam
tanya itu selalu memenuhi ubunubun kepala
serupa tubuh yang selalu memahami kebahagiaan di sudut sepi
kita sering mengunjungi cerobong-cerobong panjang dalam kehidupan gelap
"apa bedanya sepi dan bahagia ketika kita ada, semua melebur menjadi fana" bisikmu lirih tepat ketika kita mendaki sunyi.
iya, mereka hanyalah frase bentukan otak yang bingung merumuskan istilah dan semua melebur di dalam pelukan malam ini
sebuah tanya tentang pagi melintas tepat di setiap relung hatiku. meminta untuk memberinya jawaban
"aku ingin engkau pulang membawa rinduku yang hilang" jawabku khidmat
tak ada kata dalam diam hanya tatapan matamu yang berubah menjadi mentari dengan cahayanya berpendar menerangi kebersamaan kita
kita melukis senja dengan tinta hujan
kita bertamu pada malam dalam hening, tidur dalam pelukannya kemudian bermimpi tentang bahagia
kita berdoa menjelma menjadi butiran harapan untuk masa nanti
"kita tak akan pernah melepaskan genggaman tangan ini kan kak..?" tanyamu dalam ujung pendakian kita pada tepi malam
"iya, sampai waktu pada akhirnya menjadi pembeda antara jarak langkah kita..!! jawabku sambil memberimu setangkai mawar rindu yang layu
kita akhirnya sampai di kelokan waktu
saatnya merebahkan tubuh menanti hujan yang bergelayut
selamat malam dek.
100615
No comments:
Post a Comment