bermuaralah air dari pipimu yang menggemaskanku. tiada tersisa dari nestapa yang kita tinggalkan di sudut taman penuh dengan noda tak bersisa
"kita terlalu lama mencumbui yang tak dimiliki" begitu ujarmu sambil nafasmu yang menyisakan aroma di baju singletku yang sudah bernoda
kita selalu mempermainkan ikrar yang kita rangkai untuk tidak melepas semua peluru yang salah sasaran
"kau tahu kan apa yang telah kita tinggalkan untuk kenangan yang nista, aku merindukanmu dalam setiap pelukan yang penuh dosa namun entah kenapa tak dapat kulepas dari semua yang kuingkari". begitu petuahku setelah memuaskan dahaga mencicipimu.
Malam semakin mencemaskan kita yang masih dipeluk sepi. aku menari diantara rerumputan yang mengumpat busa sisa bualan. semakin sirna saja bau tanah yang ditebarkan oleh hujan senja kemarin. aku dan kau mencarinya di sekujur waktu yang lampu namun tak sedikitpun jejak yang dijumpai.
aku ingin sekali berenang di dasar sukmamu kemudian menyatukan semua rasa yang masih terisa untukmu namun dimanakah dia?
beginilah nasib mempermainkan rasa yang engkau tanam semenjak perkenalan kita di kota itu. aku pun membenci nasib itu karena dia mengambang dalam asa yang tak kunjung berakhir.
"kita masih harus menunggu ijab untuk menyatu dalam raga yang tak terpisah" begitu ujarmu saat kumulai melangkah dalam rasamu yang terdalam.
sekarang aku harus menari dan melupakan sejenak aroma tubuhmu, membuang sampai di dasar jurang yang terdalam dan mungkin akan kupungut di waktu yang tepat
tepatnya di tanggal 3 Oktober 2015
Rawamangun.050615
"kita terlalu lama mencumbui yang tak dimiliki" begitu ujarmu sambil nafasmu yang menyisakan aroma di baju singletku yang sudah bernoda
kita selalu mempermainkan ikrar yang kita rangkai untuk tidak melepas semua peluru yang salah sasaran
"kau tahu kan apa yang telah kita tinggalkan untuk kenangan yang nista, aku merindukanmu dalam setiap pelukan yang penuh dosa namun entah kenapa tak dapat kulepas dari semua yang kuingkari". begitu petuahku setelah memuaskan dahaga mencicipimu.
Malam semakin mencemaskan kita yang masih dipeluk sepi. aku menari diantara rerumputan yang mengumpat busa sisa bualan. semakin sirna saja bau tanah yang ditebarkan oleh hujan senja kemarin. aku dan kau mencarinya di sekujur waktu yang lampu namun tak sedikitpun jejak yang dijumpai.
aku ingin sekali berenang di dasar sukmamu kemudian menyatukan semua rasa yang masih terisa untukmu namun dimanakah dia?
beginilah nasib mempermainkan rasa yang engkau tanam semenjak perkenalan kita di kota itu. aku pun membenci nasib itu karena dia mengambang dalam asa yang tak kunjung berakhir.
"kita masih harus menunggu ijab untuk menyatu dalam raga yang tak terpisah" begitu ujarmu saat kumulai melangkah dalam rasamu yang terdalam.
sekarang aku harus menari dan melupakan sejenak aroma tubuhmu, membuang sampai di dasar jurang yang terdalam dan mungkin akan kupungut di waktu yang tepat
tepatnya di tanggal 3 Oktober 2015
Rawamangun.050615
No comments:
Post a Comment