Judul : Pasung Jiwa
Pengarang : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia
Hal : 328 ; 20 cm
ISBN : 978-979-22-9557-3
Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Rawamangun
080615
Pengarang : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia
Hal : 328 ; 20 cm
ISBN : 978-979-22-9557-3
Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Kalimat di sampul belakang novel tersebut yang membuatku tertarik membelinya ketika mengitari hamparan buku di Lt 4 pasar senen. Setidaknya bahwa fenomena kebebasan seringkali menerabas keingintahuanku sehingga tanpa pikir panjang, kusodorkan lembaran 20 ribuan kepada penjualnya dan membawa pulang novel tersebut.
Seminggu lamanya novet ini hanya menganggur dan menemaniku di sudut kasur tanpa kubuka segelnya. Dengan berbagai alasan di kepalaku bahwa aku belum punya waktu, masih terlalu capek atau sibuk dengan memainkan hp sampai akhirnya novel tersebut terkadang hanya menjadi bantal.
Semalam secara perlahan aku mebuka sampul novel tersebut. Perlahan kubaca kalimat demi kalimat di setiap lembarannya. Aku bahkan tidak berkedip sampai kulihat jam menunjukkan pukul 24:00. Kupaksa menutup novel setelah 3/4 halaman selesai kulahap.
Ada dua tokoh utama yang dimunculkan di novel ini, yang pertama adalah sasana. Dia terlahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pengacara dan ibunya seorang dokter bedah. sederhananya bahwa Sasana lahir dengan kecukupan ekonomi bahkan ketika masih kecil, bergiliran guru piano didatangkan oleh orang tuanya untuk mengajarinya main piano. meski Sasana sendiri tidak suka dengan hal itu namun untuk menyenangkan orang tuanya, dia mampu melahap pelajaran piano dan memainkan musik klasik dengan baik terbukti dengan banyaknya medali yang diraih di setiap lomba.
meski begitu, passion sasana tidak di piano bahkan sejak dia mendengar orkes dangdut di samping rumahnya, dia tertarik dan ikut menonton dangdut sambil goyang alhasil ketika orang tuanya mengetahui akan hal tersebut, sasana dimarahi habis-habisan karena kedua orang tuanya menganggap musik dangdut adalah musik untuk orang berandalan.
prestasi sasana di sekolah terbilang cukup memuaskan. dia selalu mampu meraih sepuluh besar. saat tamat SMP, kedua orang tuanya memasukkan sasana di sekolah katolik khusus laki-laki meski sasana adalah seorang muslim. periode pergulatan sasana mungkin dimulai saat di SMA. pertama kali masuk di sekolah tersebut, dia dikeroyok oleh geng siswa di sekolah tersebut. peristiwa tersebut selalu berlanjut dan sasana tidak pernah jujur kepada orang tuanya hingga suatu waktu, sasana jujur akan semua kejadian tersebut dan ayah sasana yang seorang pengacara melaporkan kasus tersebut ke polisi namun kasus tersebut tidak pernah ditindaklanjuti karena salah seorang dari pengeroyok sasana adalah anak jenderal.
sasana kemudian kuliah di kota Malang. masa ini yang menjadi awal dari kisah sasana mencari kebebasannya. meski terlahir sebagai seorang pria namun sasana merasa jiwanya feminim walaupun untuk urusan asmara, sasana tidak pernah jatuh cinta kepada laki-laki. sasana hanya bertahan 2 bulan kuliah kemudian memutuskan untuk berhenti ketika bertemu cak jek dan mengamen keliling kota Malang. profesi inilah yang dianggap oleh sasana adalah kebebasan bagi jiwanya.
kebebasan selalu terampas pada sebuah momen untuk memperjuangkan idealisme. berawal ketika cak man datang di rumah sasana (sasa), sejak menjadi pengamen keliling bersama cak jek, sasana dikenal sebagai sasa, mengabarkan bahwa anaknya yang bernama marsini yang bekerja di sidoarjo hilang sudah seminggu. menurut cerita cak man bahwa anaknya hilang setelah dia minta kenaikan gaji kepada bosnya.
Cak man, Cak Jek, sasa dan 6 orang temannya sepakat untuk aksi menuntut Marsini dikembalikan. mereka menuju Sidoarjo dan melakukan aksi di jalanan. aksi tersebut diredam paksa oleh aparat dan mereka ditangkap dan dipenjarakan. sasa mengalami kejadian paling kelam dalam hidupnya. di dalam penjara, dia dilecehkan secara seksual yang selalu menghantuinya sepanjang hidupnya.
setelah dibebaskan, sasa kembali ke jakarta namun apesnya, dia dianggap gila karena masa lalu yang selalu menghantuinya. dia dimasukkan ke dalam Rumah sakit jiwa. meski dalam kesadarannya bahwa dia tidak gila namun hanya mendapatkan kebebasannya.
sementara itu, Cak Jek berangkat ke Batam dan bekerja sebagai buruh pabrik ketika dibebaskan dari penjara setelah melakukan aksi menuntut dikembalikannya Marsini. berkerja di Batam tidak serta merta membuat hidup cak Jek menjadi lebih baik. dia bekerja sebagai pembuat kaca dan menghabiskan waktunya menjalani rutinitas sebagai buruh. suatu waktu dia memecahkan kaca tanpa sengaja dan menerima konsekuensi tidak digaji selama 2 hari. cak jek tidak terima dan dia memukul mandornya alhasil dia dipecat dan melarikan diri. cak jek kemudian hidup dengan seorang wts di sebuah rumah namun tak lama, mereka diusir oleh warga sekitar. cak jek kembali ke jawa namun sebelumnya singgah di jakarta.
dia bertemu dengan Laskar pembela Agama di jakarta yang bermarkas di petamburan. cak jek kembali memulai hidup baru sebagai laskar pembela agama. menggrebek tempat maksiat adalah pekerjaan sehari-harinya. beberapa saat kemudian, cak jek kembali ke malang dan bergabung dengan laskar malang. nama cak jek semakin tenar di malang.
sementara itu, sasa sudah menjadi penyanyi yang tenar dan sering mendapat panggilan menyanyi sampai ke luar kota, pada suatu waktu, sasa mendapat undangan menyanyi di Malang. malam itu sepertinya menjadi klimaks dari novel tersebut karena saat tampil menyanyi, Laskar pimpinan Cak Jek membubarkan paksa acara tersebut. sasa dipermalukan oleh anggota cak jek dan dia dijadikan tersangka penistaan agama. cak jek kembali galau karena dialah yang menjadikan hidup sasana menjadi sasa namun dia pula yang menghancurkannya.
sasa akhirnya disidang dan dijebloskan penjara. cak jek kemudian menjenguk sasa dan mengajak sasa kembali mengamen bersamanya. seperti kata mereka bahwa itulah kebebasan mereka.
"Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orang tuaku, lalu semua
orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu
yang kulakukan . Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang
hidupku. Semuanya mengurungku, mengurungku menjadi tembok-tembok tinggi
yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku".
(hlm 293)
overall, cerita dari novel ini mengasikkan karena semua yang digambarkan di dalam novel tersebut ada di sekitar kita bahwa seringkali ada dalam diri terutama masalah kebebasan. pada dasarnya, semua orang ingin menjadi apa adanya dan melakukan sesuai dengan nuraninya dan bebas dari intimidasi apapun sehingga kebebasan adalah kata yang sakral bagi manusia untuk menemukan dirinya.
namun seperti kutipan paling awal dari tulisan ini bahwa apakah kebebasan tersebut benar-benar ada? ada banyak hal yang tanggung di dalam novel ini, bukan pada endingnya namun dalam beberapa kasus yang diselipkan terlihat begitu setengah-setengah. bagian paling mengecewakan yang adalah perjuangan marsini menuntut kenaikan gaji kemudian hilang dan aksi jalanan sasa dan kawan-kawannya yang hanya beberapa orang kemudian setelah mereka dipenjara, cerita tersebut menguap begitu saja. tidak ada pesan yang tertera dibaliknya atau bahkan metode aksi massa yang lebih rapi.
novel ini benar-benar menggelinding begitu saja menceritakan bagian-bagian kehidupan kita yang sayangnya tidak berakhir pada sebuah kesimpulan. entah novel ini murni menjadi novel psikologi ataupun novel politik namun tidak ada yang kelar. semua diceritakan dan tidak meninggalkan pendapat dari penulisnya.
jika dikatakan novel ini hanya pada novel tentang mencari kebebasan namun sebagai orang awam, saya beranggapan bahwa seharusnya penulis memberikan sedikit pandangannya tentang seperti apa itu kebebasan ataukah makhluk apa itu kebebasan. mungkin juga kesimpulan penulis ada pada kata tanya dibawah ini
Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Rawamangun
080615
No comments:
Post a Comment