![]() |
| DUNIA ANNA |
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerjemah : Irwan Syahrir
Penyunting : Esti Budihapsari
Tebal: 244 hlm
Cetakan : 1, Oktober 2014
“Umat manusia di Bumi ini tidak selalu hidup secara bersamaan. Keseluruhan umat manusia tidak hidup hanya dalam satu kurun waktu. Telah hidup manusia sebelum kita, lalu kita yang hidup saat ini, dan generasi selanjutnya yang akan hidup sesudah kita. Dan mereka yang hidup sesudah kita haruslah diperlakukan sebagai satu kesatuan. Kita harus memperlakukan mereka seperti perlakuan yang kita harapkan dari mereka jika saja mereka hidup di planet ini sebelum kita.” [hal 62-63].
Perkenalan saya dengan karya Jostein Gaarder hanya sebatas ketika membaca sepintas buku Dunia Sophie, karya paling penomenal dari Jostein Gaarder. Pria yang seumuran dengan ayahku ini memang paiawai dalam membumikan Filsafat. dari novel-novelnya yang dikemas dengan cerita yang sederhana namun mampu membawa pesan yang sebagian dari kita tidak pernah berpikir ke arah kesitu
Novel Dunia Anna adalah karya Jostein Gaarder yang mengandung pesan tentang masalah lingkungan. jostein memang terlihat sangat rapi dalam menceritakan setiap detail isi cerita dengan tidak terlepas dalam menyisipkan setiap pesan yang ingin disampaikan. Dia melihat kehidupan ini secara komprehensif.
Jostein Gaarder nampaknya amat sangat concern dengan masalah lingkungan. di novelnya kali ini, Jostein benar-benar menyusun sebuah cerita yang menggambarkan betapa ia dengan amat sangat khawatir bahwa suatu saat nanti, bumi akan mengalami degradasi yang begitu rusaknya karena ulah perbuatan manusia.
saya berangan-angan seandainya saja Jostein sedikit meluangkan waktunya dan merendahkan hatinya untuk mempelajari Al-Qur'an maka dia akan menemukan ayat yang persis menerangkan seperti kekhwatirannya akan kerusakan bumi yang diungkapkan dalam novelnya tersebut.
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar, katakanlah Muhammad ; Bepergianlah di Bumi lalu lihatlah bagaiman kesudahan orang-orang terdahulu, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah"
(Q.S. Ar Rum (30) : 41-42)
manusia bukan sentra dari kehidupan ini namun ada saling keterkaitan antara semua makhluk hidup meski pada dasarnya manusia sering kali menempatkan dirinya sebagai yang paling berkuasa di muka bumi dan menganggap elemen semesta yang lain adalah objek bagi kepuasaan mereka, alhasil yang terjadi kemudian adalah kerusakan parah di bumi yang juga sebenarnya sangat merugikan generasi berikutnya.
sudah seharusnya manusia mulai berpikir bahwa hidup bukanlah tentang bagaimana mengeksploitasi bumi untuk kemewahan mereka namun hidup adalah tentang merawat bumi demi kelangsungan spesies manusia. jika manusia melakukan kerusakan di bumi maka ada dosa turunan yang akan terus berlanjut ke generasi berikutnya sampai akhirnya bumi hancur karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
seringkali menyalahkan binatang buas yang keluar dari hutan menghabiskan tanaman masyarakat atau mungkin kejadian alam lainnya yang kita anggap tidak biasa namun pernahkah kita mencoba untuk kembali merenungi apa causa proxima dari setiap kejadian tersebut karena tidak mungkin ada fenomena di semesta ini yang ujug-ujug terjadi begitu saja tanpa ada sebab.
ketika kita sudah mampu menempatkan diri kita bagian dari alam semesta maka di situ titik tolak dimana kita mampu merasakan setiap akibat dari apa yang akan kita lakukan di bumi ini. contoh kecil saja ketika kita membuang sampah sembarang maka kita akan merasa risih ketika sudah menjadi bagian dari bumi. kita akan merasakan bagaimana beratnya bumi mengurai sampah plastik yang memakan waktu sampai jutaan tahun lamanya.
Bumi adalah rumah kita dan harus diperlakukan sebagai milik sendiri. dijaga layaknya kita membutuhkan untuk selamanya dan selalu dibersihkan. mencintai bumi seperti rumah yang akan diwariskan kepada anak-anak kita sehingga tidak ada kerusakan bahkan ketika kita berpikir untuk mewariskan kepada generasi, rumah itu diperbaiki sedemikian rupa dan tanpa cacat sedikitpun
cuap-cuap tentang novel Dunia Anna
Akhir Mei 2015

No comments:
Post a Comment