Kali ini saya tarawih di mesjid nurul jami Rawamangun. Mesjid ini memang mungkin menjadi pilihan terbaik dari tiga mesjid yang ada di dekat kosku karena dari ketiga mesjid tersebut, satu-satunya mesjid yang mengadakan ceramah agama setelah shalat isya pun jumlah rakaat tarawihnya 8.
Ceramah malam ini tidak jauh berbeda dengan ceramah malam sebelumnya. Membahas masalah keislaman yang skriptualis dan mengkritik beberapa hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan kaidah Islam.
Dia menekankan ceramahnya pada ayat "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam" kemudian penceramah mengulas lebih jauh bahwa orang yang mencari jalan diluar Islam adalah orang yang sesat.
Kritikannya terhadap beberapa wacana kekinian misalnya tentang isu penghilangan kolom agama di ktp kemudian tentang pernyataan bahwa kita yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa.
Di titik masalah toleransi dan menghormati sesama, saya sendiri punya pandangan yang entah benar ataupun keliru bahwa dalam toleransi seharusnya yang pertama dilakukan adalah kita menghormati orang lain dan tidak mesti untuk meminta dihormati ataupun dihargai dari orang lain jadi fokusnya ada di diri kita ke orang lain. Dalam kasus puasa, malah kita yang berpuasa seringkali meminta mereka yang tidak berpuasa menghormati kita, tidak makanlah di depan kita, tidak minumlah, kalau seperti itu maka menurut saya, harusnya dibalik. Tidak usah risih jika ada orang yang memang tidak berpuasa toh puasa adalah ibadah privasi huhungan personal dengan Tuhannya.
Entah kenapa mayoritas ceramah tarweh yang kudengar selalu saja berputar pada masalah perbedaan dan parahnya karena para penceramah lebih menonjolkan perbedaan tersebut daripada menjunjung toleransi.
Ada lagi ceramah habis shalat Ashar yang kudengar di mesjid pendurenan dekat RS Mata "Aini." niatan awalnya memang baik karena menceritakan tentang idola, bagaimana bisa generasi Islam lebih mengenal para pemain sepakbola daripada pejuang Islam, mengenal Baik Leonel Messi daripada Umar bin Abdul Aziz. di titik itu mungkin saya sepakat meski akar masalahnya bukan sepenuhnya karena salah generasi namun karena pendidikan yang diberikan oleh generasi sebelumnya.
penceramah tersebut kemudian melanjutkan dengan ulasan tentang menjadi hafizs Al-Qur'an namun di tengah ceramahnya, dia dengan nada menyindir mengatakan bahwa berharap suatu saat nanti calon presiden diberikan syarat hapal 30 Juz dan dengan suara pelan dan seakan berbisik mengatakan bahwa " maksudnya supaya Jokowi tidak terpilih lagi."
Saya tahu pasti kalimat penceramah tersebut ditujukan untuk menyindir keislaman jokowi bahkan dengan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa penceramah yakin Jokowi tidak hapal Al-Qur'an. setelah kalimat tersebut, saya lalu beranjak keluar dari Jamaah.
Saya sebenarnya bukanlah Die Hardnya Jokowi namun satu hal yang ingin saya katakan bahwa Jokowi telah memenangkan suara rakyat dari sistem pemilihan yang telah kita sepakati terlepas dari beberapa orang yang tidak memilih namun toh kenyataannya Jokowi telah menjadi pemimpin Indonesia. kalaupun kita kemudian mengkritiknya maka seharusnya yang dikritik adalah kinerja dengan data yang akurat bukan pada masalah kepribadian bahkan hal yang bersifat privasi.
entahlah
Mesjid Nurul Jami Rawamangun
13 Ramadhan 1436 H
No comments:
Post a Comment