Cahaya berpendar dalam dinding nurani yang roboh akan ingin nafsu yang membara, seakan memaksa keluar dan meluluhlantahkan sisasisa iman yang tersisa
selaksa aib terus saja tersembur dari mulut busa
entah sesuatu yang disengaja ataupun asa yang mulai bergeser dari porosnya
kita tenggelam dalam nafas yang saling mengadu dengan mata yang menahan perasaan di ubunubun
aku seakan tersesat di setiap helaan nafasmu yang membuat nafasku menyatu
sisa farfummu menyeretku dalam kelam yang tak berujung
aku mengadah
namun seperti pekat yang terlihat tak mampu berkata apaapa
aku hanya bisa pasrah dengan desahan malam
semakin menenggelamkanku dalam kabut dosa
aku berdiri
merapikan lengan bajumu yang terkoyak
di setiap percikan bau mulut kita yang melekat di lengan baju
ah, aku tak kuasa dengan tangis alam menghampiri
hujatan semesta membuatku semakin merasa seperti pendosa tak berhati
ingin kuakhiri hajat ini
inginku membersihkan noda malam
namun tak jua ada energi
aku menangis
meski seringkali kesadaranku berucap bahwa itu tangisan palsu
karena esok akan berulang lagi
dalam sepi
tertulis doa ini Tuhan
Sembuhkanlah luka nurani ini
di pintu gerbang Ramadhan
1501615
No comments:
Post a Comment