June 17, 2015

Sisa Percakapan Dengan Bapak (Lagi)

paling tidak seminggu sekali saya menelepon Bapak di kampung. sekedar menanyakan kabarnya dan keluarga lainnya. seringkali ketika menelepon bapak, banyak sempalan cerita yang sayang sekali kalau tidak saya uraikan. sekedar untuk mengingat-ingat hikmah pembicaraan dengan Bapak meski terkadang seringkali kami berselisih pendapat untuk sebuah kasus.

Pembicaraan kami sebenarnya tidak pernah mengarah ke hal yang amat serius meski beberapa kali saya menangkapi pernyataannya yang menurutku tidak sesuai dengan idealisme abal-abal yang masih kurangkul misalnya pernyataannya tentang petani. Menurut saya bahwa hal-hal seperti itu penting untuk saya tanggapi

Bapak memang terkenal orang keras dan tak pernah kompromi namun ada lagi hal yang yang tidak kusepakati dengan apa yang ada di kepalanya. Misalnya saja ketika menjalin silaturrahim, bapak terkadang mengkorelasikannya dengan peluang kerja yang ada dari orang. Beberapa kali saya mendiskusikan hal tersebut bahwa menggantungkan nasib kepada orang lain adalah sesuatu yang keliru karena pada akhirnya ketika jalan tersebut yang akan ditempuh dalam mencari rejeki "pekerjaan" maka akibatnya hanya 2, ketika orang tersebut mampu membantu kita mendapatkan pekerjaan maka kita akan selalu merasa berutang budi dan tidak jarang yang malah menjadi ekor orang tersebut, hal kedua jika dia tidak mampu membantu kita maka kita pada akhirnya akan sakit hati dan terkadang antipati terhadap orang tersebut.

Ada sebuah cerita nyata di kampungku tentang seorang polisi yang pangkatnya sudah masuk dalam jajaran tinggi, saya lupa apa jabatannya. Dia terkenal bisa meloloskan orang-orang di kampungku masuk polisi sehingga tidak heran, banyak sekali orang yang bertandang ke rumahnya apatahlagi orang tua yang punya anak laki-laki yang digadang-gadang bisa dititipkan untuk menjadi seorang polisi. itu dulu saat saya masih bocah. dia benar-benar menjadi idola bahkan ketika beliau mudik maka bisa dipastikan rumahnya akan ramai. saya harus mengakui bahwa bapak juga sering silaturrahim karena memang abang saya yang sulung saat itu berniat mendaftar polisi. alhasil ketika tamat SMA, abang saya benar-benar mendaftar polisi dan sang polisi tadi yang jadi bumpernya. meski 3 kali mengikuti seleksi masuk polisi, abangnya tidak lulus dan yang mungkin menjadi ironis baginya karena pada kesempatan terakhir mendaftar, abang saya jatuh pada tes terakhir.

sejak saat itu, Bapak maupun abang saya sudah tidak terlalu akrab dengan polisi tadi. memang sebelumnya, banyak orang di kampungku yang "berhasil" lulus karena dibackingi oleh Bapak polisi tersebut namun ada insiden yang membuat dia tidak punya lagi power. tepat saat abangku mendaftar untuk terakhir kalinya, ad orang yang membocorkan kepada instansi kepolisian bahwa dia bisa meloloskan calon polisi alhasil pada saat itu, semua calon polisi yang berasal dari kabupaten kami tidak lulus dan termasuk abang saya yang jatuh di tes terakhir. entah isu itu benar atau tidak namun begitulah cerita yang beredar luas, pada saat itu, saya sudah duduk di bangku SMP.

saya tidak tahu persis perasaan Bapak kenapa pada saat abang saya tidak lulus, dia begitu menjaga jarak dari polisi tersebut. cerita Bapak kemudian berlanjut semalam. katanya bapak Polisi tersebut yang sudah lanjut usia dan terserang maaf "Stroke" sempat mudik minggu lalu. tidak ada satupun warga di kampung saya yang menjenguknya padahal dulu saat masih aktif sebagai polisi dan punya power di Polda, dia selalu dikunjungi ketika mudik.

Bapak bercerita bahwa si Polisi tersebut mengatakan bahwa " saya masih bisa kok meloloskan orang masuk Polisi" entah apa yang ada dipikiran pak polisi tersebut namun menurut Bapak bahwa ada perasaan lirih dari pernyataannya tersebut karena jarang sekali orang yang menjenguknya tidak seperti saat dia masih punya kekuasaan.

sempalan-sempalan cerita dari bapak semakin menyadarkanku bahwa dunia ini memang tempatnya mayoritas orang yang melihat apa yang nampak. mereka menginkan duniawi dan akan berlalu seketika ketika duniawi sudah tidak di tangan. pun mengingatkanku bahwa roda hidup selalu saja akan berputar entah putarannya lambat ataupun cepat namun begitulah hakekat hidup. satu hal yang harus dipegang teguh adalah semua yang dilakukan seharusnya karena berasal dari nurani terdalam bukan karena ada sesuatu yang diinginkan. menjalin silaturrahim haruslah murni karena niat yang suci bukan karena ingin dekat dan mendapatkan manfaat dari silaturrahim tersebut

ah, sudah dulu
160615

No comments: