June 15, 2015

Cerita Ironi Tentang Petani

Cerita tentang Petani selalu saja tidak bosan untuk diuraikan. Saya menulis tulisan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan tulisan Kak Yusran tentang Malu Aku Jadi Petani Indonesia namun murni pengalaman pribadiku dan percakapan-percakapan ringan dengan bapakku yang seorang petani tulen. Aku bahkan merasa akulah Asep sebenarnya dalam tulisan Kak Yusran dan itu fakta terjadi di kehidupanku bahkan diriku sendiri.

Sebelum mengurai ceritaku dengan bapak mengenai perbincangan masalah Petani, saya ingin bercerita tentang kampung halamanku yang berada jauh di bagian utara Sulawesi Selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Toraja. Kontur kampungku berbukit-bukit dan disitulah penduduk di kampungku bercocok tanam dari jaman dulu. meskipun ada sawah namun hanya berpetak-petak tidak seperti hamparan sawah yang amat luas di daerah bugis seperti pinrang.

Masyarakat di kampungku menggantungkan hidupnya dari hasil bertani dan sawah meski tidak bisa dikatakan berlebihan namun saya pun tidak pernah menemui masyarakat di kampungku yang tergolong miskin karena setidaknya mereka masih bisa makan sehari 3 kali bahkan masih tersisa untuk biaya membeli keperluan lain dan menyekolahkan anak-anaknya.

Ada cerita tentang kampungku yang membuat termasyhur sampai di daerah lain. Dulu entah tepatnya tahun berapa, kampungku terkenal dengan kampung jujur dan bebas dari pencurian, bayangkan saja ketika ada mangga ataupun kelapa jatuh dari pohonnya maka tidak ada seorang pun Masyarakat yang akan mengambilnya selain pemiliknya. Cerita lain adalah tidak pernah terjadi pencurian ataupun tindak kejahatan lainnya. memang dulu religiusitas di kampung sangat tinggi.

Kembali ke masalah petani. Saya tidak tahu pasti berawal dari mana, pola kehidupan di kampungku berubah bahkan sampai pada paradigma bahwa profesi sebagai petani adalah profesi yang berada di strata paling bawah dibandingkan dengan profesi lain seperti pedagang apatahlagi PNS. Masyarakat di kampungku sudah merubah isi kepalanya tentang sebuah pekerjaan bahkan sekolah selalu saja dikorelasikan dengan pekerjaan. Saya berkali-kali mendengar cerita sinis dari masyarakat tentang beberapa pemuda yang sudah menyelesaikan pendidikan sampai pada tingkat sarjana namun akhirnya kembali ke kampung dan bekerja sebagai petani, masyarakat di kampungku menganggap hal tersebut seperti aib yang memalukan.

Sampailah saya pada perbincangan tentang petani dengan bapakku. Berkali-kali ketika berbicara melalui telepon, saya selalu merasa tidak enak ketika bapakku seakan tidak mensyukuri pekerjaannnya sebagai petani. "nak, kalian harus meningkat dari orang tua, kami jadi petani dan jangan menjadi petani lagi seperti saya." Begitu berkali-kali pernyataan dari bapakku. secara tersirat bapakku seperti tidak mensyukuri pekerjaan sebagai petani dan dia seperti masyarakat pada umumnya di kampungku yang menganggap bahwa menjadi petani berarti memilih menjadi bagian strata paling bahwa dalam kehidupan bermasyarakat. dia bahkan berkali-kali menekankan bahwa kami sudah disekolahkan sampai sarjana sehingga harus bekerja kantoran.

Seringkali terdengar sangat keras ketika saya melancarkan protes kepada bapakku bahwa petani mungkin pekerjaan yang lebih bersih dari hal yang syubhat. Saya pun mengatakan bahwa menjadi petani bukan aib dan tidakkah kita memikirkan masa-masa yang lalu bahwa dari bertani lah kita bertumbuh dan tidak pernah sekalipun kita kelaparan.

Masyarakat di kampungku mayoritas berpikiran bahwa bekerja kantoran adalah sebenar-benarnya pekerjaan. mengenakan pakaian rapi, rambut disisir, berangkat jam 7 dan pulang jam 5 bagi mereka adalah pekerjaan ideal dan jauh lebih baik dari pekerjaan bersenjata cangkul, pakaian apa adanya dan berangkat jam berapa saja kemudian pulang berkubang lumpur. Entahlah apa yang sedang terjadi dalam pergeseran paradigma namun kesimpulanku bahwa itu terletak di dalam hati. ketika kita melakukan demi diri dan tulus bahkan hal tersebut bukan menjadi masalah namun beda halnya ketika kita sudah pada tingkat melihat sesuatu bukan pada esensinya bahkan terkadang fokusnya pada duniawi dan ingin dianggap berhasil oleh orang sekitar maka semua yang dianggap baik adalah yang kasat mata.

Saya pribadi memang dari dulu bekerja sambilan sebagai petani sejak masih SD sampai SMA dan sekarang saya tidak pernah menyesali kehidupan tersebut bahkan malah merindukannya. memang dulu sesekali terlintas pikiran bahwa bekerja kantoran masih lebih baik namun seiring seringnya mengamati banyak hal ternyata saya keliru.

Cara pandang orang tua seringkali berpengaruh terhadap perkembangan anak. Ketika distimulasi sesuai keinginan orang tuanya maka outputnya akan menjadi seperti paradigma orang tua yang berlanjut terus menerus atau sebaliknya akan menjadi pribadi yang menentang segala hal.

Kembali lagi bahwa profesi Petani sama sekali bukan profesi yang paling bawah dalam strata masyarakat bahkan profesi ini sangat vital dalam mata rantai kelangsungan hidup manusia. Namun ketika semua sudah menganggap bertani adalah pekerjaan yang memalukan maka tinggal menunggu waktu ada titik dalam mata rantai keberlangsungan hidup manusia yang terputus dan itu akan membuat kehidupan akan berhenti.

150615

No comments: