Aku membalutmu dengan hening malam ini
pelukan dingin menghangatkan aroma kebersamaan kita dengan cengikancengikan sepi
aku merindu rinai yang selalu datang bertamu
namun entah di 2 kamis bulan juni, dia masih enggan menampakkan kehangatannya
aku melukis rindu dengan sisa salju yang kupungut di negeri seberang
ingin kukabarkan semua cerita tentangmu yang mendamba laut
"besok aku kan pergi sebentar waktu sayang, menyeberang lautan bertangan hampa. aku kembali saat sepi mendera dan rindu di ubunubun."
begitu pamitmu saat sebuah kecupan hangat kudaratkan di keningmu yang berkerut disiram hening.
sebentar saja waktu bertanya tentangku namun aku tak pernah peduli. lautan mengirimkan angin rindu saat kau mulai beranjak
aku seakan diremas malam yang dingin saat merayakan kepergianmu untuk sementara
namun tak juah tangisku
kakimu semakin melukis peta dan semakin menjauh.
namun sepanjang jalan di kota ini selalu saja meyakinkanku bahwa tak ada kata ingkar dalam pelukan semalam
hanya sedikit waktu yang hilang dan kemudian kembali saat rindu menyiksa
karena langit percaya kita adalah bilangan ganjil yang selalu menggenapkan
kita tidak akan pernah berbelah menjadi dua oleh jarak karena ganjil tak bisa berpisah
hutan semakin menakar dirinya menjadi taman percintaan kita
lautan pun berteriak
memekakkan telinga bagi para bedebah penebar asmara
tapi aku hanya disini untukmu
menyimpan sisasisa hidup bersama kenanganmu
110615
pelukan dingin menghangatkan aroma kebersamaan kita dengan cengikancengikan sepi
aku merindu rinai yang selalu datang bertamu
namun entah di 2 kamis bulan juni, dia masih enggan menampakkan kehangatannya
aku melukis rindu dengan sisa salju yang kupungut di negeri seberang
ingin kukabarkan semua cerita tentangmu yang mendamba laut
"besok aku kan pergi sebentar waktu sayang, menyeberang lautan bertangan hampa. aku kembali saat sepi mendera dan rindu di ubunubun."
begitu pamitmu saat sebuah kecupan hangat kudaratkan di keningmu yang berkerut disiram hening.
sebentar saja waktu bertanya tentangku namun aku tak pernah peduli. lautan mengirimkan angin rindu saat kau mulai beranjak
aku seakan diremas malam yang dingin saat merayakan kepergianmu untuk sementara
namun tak juah tangisku
kakimu semakin melukis peta dan semakin menjauh.
namun sepanjang jalan di kota ini selalu saja meyakinkanku bahwa tak ada kata ingkar dalam pelukan semalam
hanya sedikit waktu yang hilang dan kemudian kembali saat rindu menyiksa
karena langit percaya kita adalah bilangan ganjil yang selalu menggenapkan
kita tidak akan pernah berbelah menjadi dua oleh jarak karena ganjil tak bisa berpisah
hutan semakin menakar dirinya menjadi taman percintaan kita
lautan pun berteriak
memekakkan telinga bagi para bedebah penebar asmara
tapi aku hanya disini untukmu
menyimpan sisasisa hidup bersama kenanganmu
110615
No comments:
Post a Comment