Saya selalu percaya pada setiap kehidupan yang selalu terjadi karena ada sebab meski saya sadari bahwa sebab yang saya maksud bukanlah sebuah sebab yang kasat mata. Misalnya saja, pernah suatu waktu ketika baru beberapa bulan di kota ini, saya dan win mengitari sisi kota dengan kendaraan motor, pada saat akan pulang di bilangan jalan merdeka, seingatku itu setelah maghrib. Dengan jumawa saya berkoar kepada win bahwa saya sudah sangat hapal jalan pulang alhasil baru beberapa menit kalimat tersebut keluar dari mulutku, saya seakan tidak tahu jalan pulang bahkan berputar-putar sampai bilangan harmoni. Sekitar satu kemudian baru menemukan jalan pulang. Aku berujar kepada win bahwa hal tersebut terjadi karena kepongahanku yang sok hapal. Semua terjadi karena kehendakNya.
Hal serupa kemudian terjadi lagi tadi siang. Meski tidak sama persis namun sebab akibat pun terjadi pada hal yang kualami tadi. Saat pulang dari pasar senen membeli beberapa buku, saya mengajak windi ke bilangan tanah abang membeli jaket. Tepat di jalan merdeka, ada tukang parkir yang berteriak bahwa jangan jalan ke arah situ karena dilarang. Saya dengan angkuhnya berceloteh diatas motor sambil tetap memacu motor bahwa tukang parkir tersebut ingin supaya saya memarkir motor di areanya. Memang sih harus bayar 10 rb. Namun salahku bahwa saya seakan terkesan mencacinya. Baru 5 menit, saya ditilang karena memang jalan protokol tersebut tidak boleh dilalui motor.
Setelah menyelesaikan perkara dan membayar 30 rb, saya dan win meninggalkan tempat tersebut kemudian kukatakan bahwa saya ditilang bukan karena melanggar tetapi karena mencaci tukang parkir yang mengingatkan.
Mungkin sebagian orang menganggap bahwa itu mitos. Orang akan menganggap bahwa kejadian pertama diatas terjadi karena memang saya belum hapal jalanan sehingga kesasar dan kejadian kedua terjadi karena saya memang melanggar. Saya pun mengamini alasan seperti itu namun entah kenapa, sebab yang lebih kearah tak kasat mata yang timbul dalam hati saya anggap sebagai causa proxima yang membuat kejadian-kejadian tersebut nyata adanya.
Saya selalu percaya bahwa apa kejadian "Negatif" yang menimpaku selalu diawali dengan hatiku yang dzalim entah itu kepada diri sendiri maupun orang lain. Saya selalu sadar bahwa untuk membuat hidup disekitarku bahagia maka yang pertama adalah bhatinku dan itu berlaku untuk semua hal.
Sudah seringkali saya menulis bahwa diri adalah mikrokosmos dan apa yang terjadi dalam mikrokosmos akan memantulkan akibatnya dalam rupa musibah yang nyata. Bahkan sampai pada khilaf yang laten sekalipun akan muncul dalam bentuk akibat negatif bagi diri.
Satu hal yang perlu diingat bahwa jika ingin hidup menjadi bebas dari semua yang tidak diingankan maka jaga hati dan selalu bersihkan hati dari penyakit-penyakitnya yang laten. Meski tak terlihat namun dampaknya lebih besar.
020615
No comments:
Post a Comment