October 26, 2025

Pengingat Terbaik

Seharusnya, semakin jauh jejak langkah yang kita kisahkan, maka semakin paham bahwa hidup ini akan menuju satu titik temu. Idealnya seperti itu, namun ternyata terlalu banyak dinamika yang membuat idealitas itu menjauh dari realitas yang dijalani. Manusia sering terkecoh dengan hal-hal artifisial dan tidak mampu mengidentifikasi mana yang seharusnya menjadi prioritas.

Saya termasuk kumpulan manusia yang semakin menua tetapi belum jua menemukan kebijaksanaan. Saya masih terus memendam berbagai ambisi yang fatamorgana dan serangkaian keinginan yang sifatnya material. Saya percaya bahwa untuk mendapatkan hal inti, kita harus memilih rasa sakit yang harus dijalani.

Tadi pagi, saya menjenguk engkong, tetangga yang rumahnya tepat hanya beberapa jengkal dari rumah kami. Dia tetangga yang pertama kali kami kenal sejak memilih bermukim di tempat kami sekarang, sejak delapan tahun silam. 

Saya begitu sangat kaget ketika mengetahui bahwa ternyata dia sudah tidak mampu duduk dan badannya semakin kurus. Padahal dua minggu lalu ketika sakitnya baru didiagnosa, dia masih sangat semangat bercerita apa saja. Atau dua bulan lalu ketika istrinya dirawat di RS, dia bercerita dengan penuh harap bahwa semoga istrinya segera sembuh dan biarkan dia mencari nafkah.

Tidak sampai sebulan, dia jatuh sakit yang lebih parah, kemudian hanya berselang beberapa minggu kemudian, keadaannya semakin lemah.

Saya kemudian menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat karena serasa baru kemarin dia terlihat energik menjalani hari-harinya.

Benarlah nasihat bahwa pengingat terbaik dalam hidup adalah menjenguk orang sakit. Melihat keadaan mereka akan membawa kita pada satu kesimpulan bahwa hidup ini akan berujung pada kefanaan dan dalam penantian ke titik itu, kita sebaiknya melakukan hal yang baik-baik saja.

October 25, 2025

Pertanyaan Repetitif

Rabu kemarin di sebuah kelas pagi, salah seorang mahasiswa bertanya pertanyaan retoris dan sangat umum, Apakah agama meruapakn salah satu penghambat kemajuan sebuah negara? 

Mahasiswa yang bertanya memang salah satu mahasiswa yang cukup vokal di kelas saya dan seringkali menanyakan isu-isu terkini yang mungkin tidak terlalu relevan dengan mata kuliah, namun saya suka karena sejatinya ruang kelas harus menjadi ruang dialektis antara mahasiswa dengan pengajar.

Di kelas Politik luar negeri kemarin, kami membahas tentang signifikansi Islam dalam politik luar negeri kemudian dalam sesi diskusi, lahirnya pertanyaan di atas. Entah pertanyaan itu benar-benar lahir dari refleksi pribadinya dengan mengamati fenomena yang ada di tengah masyarakat atau pernah membaca pertanyaan yang sama. Satu hal yang pasti bahwa pertanyaan semacam itu sudah sangat umum saya temukan di berbagai forum bahkan sejak saya kuliah S1 hampir dua puluh tahun yang lalu.

Relevansi agama dan ilmu pengetahuan telah menjadi perdebatan yang cukup sengit beberapa abad terakhir bahkan sampai sekarang. Ada begitu banyak perbedaan pendapat terkait diskursus ini. Sebagian memang percaya bahwa agama menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, sebagian lagi mencoba untuk menemukan titik temua antara kedua dan sebagian tidak terlalu peduli tetapi menempatkan konteksnya.

Sekira dua tahun lalu, saya pernah ikut dalam forum diskusi dengan Hamid Basaid tentang agama dan ilmu pengetahuan. Dia sendiri seperti memisahkan antara kedua diskursus ini namun dalam hal ilmu pengetahuan, dia mencoba untuk tidak membawa unsur agama. 

Salah satu ilustrasinya yang masih saya ingat bahwa kalau agama, percaya dulu sebelum diriset sementara sains, kita wajib melakukan riset sebelum mempercayai itu semua. 

Begitulah dua hal ini selalu diperdebatkan tetapi kemudian pada konteks yang lebih spesifik tentang jawaban atas pertanyaan di atas, apakah agama benar-benar menghambat perkembangan sains?

Sejarah membuktikan bahwa jawabannya bisa "ya" dan "tidak."

Ada masa ketika agama dijadikan alat untuk membungkam sains seperti yang kita saksikan pada abad pertengahan di Eropa, namun ada juga masa ketika agama fine-fine saja saat bergandengan dengan agama yang bisa kita baca pada sejarah perkembangan sains masa keemasan Islam.

Manusia oh Manusia

Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Jakarta kemarin sore dengan iringan hujan deras yang mengguyur, saya asyik mendengarkan radio dari HP. Tepat di bilangan Pasteur sebelum masuk tol, penyiar berita menceritakan tentang kisah pilu di Garut. Kisah yang tidak mampu saya selesaikan secara tuntas karena sudah mual, bukan karena mabok darat tetapi isi ceritanya.
Kisah itu tentang seorang ayah tiri yang merudapaksa anak tirinya sejak 2023 saat si anak masih duduk di bangku SMP. Kejadian itu baru diketahui ketika si anak sudah SMA dan sedang hamil. Teman-temannya yang curiga karena perubahan bentuk tubuhnya kemudian melaporkan ke gurunya lalu dibawa ke puskesmas.
Ironisnya, kejadian itu terjadi di rumah sendiri ketika ibu kandung, atau istri si ayah sedang tidak berada di rumah. Si anak tidak bisa berbuat apa-apa karena mungkin berada di dalam ancaman. 
Kemudian pagi ini, saya membaca berita di media online tentang seorang remaja yang mengubur bayinya di kebun pisang. Entah mungkin hasil dari hubungan gelap atau karena kebablasan saat pacaran namun saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana bisa manusia mengubur bayinya yang tidak berdaya. 
Kita disuguhi dengan berbagai peristiwa-peristiwa yang membawa pada satu pertanyaan bahwa apakah manusia benar-benar makhluk yang paling tinggi dari yang lain, ataukah seperti yang dikatakan oleh Dostoyevsky dalam bukunya
"Catatan dari Bawah Tanah"
"Cacat terburuk manusia adlah penyimpangna moralnya yang terus-menurus tak kenal henti. Apabila manusia tidak menemukan sebuah jalan keluar, dia akan menciptkana kehancuran dan kekacauan, menciptakan segala macam penderitaan supaya mencapai tujuan."

October 24, 2025

Hal-Hal yang Tidak Perlu Direspons

Sepertinya saya harus merutinkan kembali menulis untuk melepaskan semua penat yang ada di kepala. Melepaskan semua tanpa harus menyiksa diri dengan pikiran-pikiran yang tak kan pernah ada habisnya. Saya bahkan merasa tidak mampu menampung informasi yang masuk jadi menulis merupakan saluran untuk mengeluarkan satu persatu yang tidak harus ditampung.

Saya mulai dari satu hal yang harus saya lepaskan tentang informasi bahwa saya menjadi objek gibahan. Berat memang tapi saya berusaha untuk lebih rasional memikirkan apa respons yang lebih baik. Saya menakar berbagai hal yang sebaiknya dilakukan, mulai dari reaktif, mendiamkan, atau cara-cara lain yang mungkin bisa dilakukan.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari referensi yang mungkin membantu saya untuk menemukan solusi yang terbaik. Saya membuka youtube dengan kata kunci merespons gibah. Muncullah berbagai ceramah yang menganjurkan untuk tidak terlalu peduli karena sejatinya, sekeras apapun kita berusaha dan melakukan hal yang baik-baik, selalu saja menyisakan orang-orang yang tidak akan pernah setuju dengan kita.

Hidup adalah pilihan tentang diri kita, tentang apa yang seharusnya diusahakan tanpa berusaha untuk menyenangkan semua orang. Perjalanan hidup adalah perjalanan untuk menemukan siapa kita sebenarnya yang autentik tanpa perlu menjadi seorang yang disukai semua orang. Toh bahkan nabi Muhammad sekalipun sebagai manusia yang paripurna, tetap saja ada yang tidak menyukainya.

Sepanjang perjalanan hidup saya, tidak pernah saya menemukan sesosok manusia yang dihormati karena berusaha menyenangkan semua orang. Manusia yang terhormat adalah dia yang melakukan hal-hal baik atas dasar niat yang baik, bukan ingin dipuji dan disukai.

Jadi berhentilah untuk menjadi manusia yang ingin disukai semua orang, namun bukan berarti melakukan apa saja yang memang di luar batas-batas aturan. Jika pada akhirnya mendengar bahwa ada sebagian yang tidak menyukai diri kita bahkan bergunjing di belakang kita maka yakinilah bahwa itulah hidup. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah menjadi objek gibahan kecuali yang hidup menyendiri.

"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu" (Ali bin Abi Thalib).

October 21, 2025

Republik Kampus (2)

#Kelelahan Eksistensial

Lima tahun yang dijalani di kampus ini tidak membuat Gunawan mampu menerima realitas yang ada. Dia seolah menjadi budak industri pendidikan yang menjalani hari-hari yang repetitif, bangun pagi, bersiap ke kampus, aktivitas di kampus, pulang ke rumah, malam mengerjakan tugas yang tertunda, kemudian kembali berbaring untuk sekadar melepas penat dan esoknya akan berlangsung seperti biasanya.

Gunawan sadar bukan ini yang ada di idenya ketika pertama kali memutuskan menjadi seorang Pengajar di kampus. Dia terlalu idealis membayangkan ruang-ruang seperti lingkaran Wina, mazhab teori kritis, Akademianya Platon, dan kelompok intelektual lain yang melahirkan berbagai ide-ide besar.

Setiap kali tiba di kampus dan mulai membuka laptopnya, yang tersisa di dadanya hanyalah rasa sesak yang merupakan kristalisasi dari kelelahan psikis. Kelelahan yang lahir dari realitas yang jauh dari idealitas yang dia impikan.

Setiap kali Gunawan ingin memulai untuk kembali produktif namun idenya terhenti pada kalimat pertama, "menjadi Dosen merupakan panggilan hati nurani....," Gunawan merasa sangat bersalah untuk melanjutkan kalimat berikutnya karena yang dia saksikan hanyalah realitas semu tentang dunia Dosen yang penuh dengan drama kehidupan. Tidak ada nuansa akademik secara lahiriah tetapi hanya artifisial.

Dosen melakukan penelitian karena kewajiban dan dana hibah yang besar, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dikerjakan hanya memenuhi kewajiban BKD, pun mengajar tidak benar-benar menciptakan ruang akademis yang emansipatif kepada seluruh mahasiswa. 

Bahan presentasi dibuat dengna bantuan AI, referensi dari situs internet yang tidak jelas, Dosen yang tidak pernah membaca buku dan berbagai ironi lain.Publikasi artikel di jurnal jangan ditanya, sebagian mengambil tugas mahasiswa diedit menggunakan chatGPT kemudian dipublikasikan dengan sistem fastrek, jadilah sebuah aritkel publikasi yang diklaim.

Gunawan duduk di sudut pantry dengan segelas kopi yang masih ngebul sambil menatap dari jendela langit Surabaya yang dipenuhi polusi di pagi hari. Kampus yang dulunya dianggap bermartabat ternyata hanya gedung yang ramai oleh akademisi tetapi sepi.

Sebuah spanduk besar terpajang di gerbang kampus dengan tulisan "Kampus Berdampak" berkibar lesu tanpa makna. Kalimat tersebut hanya jargon kosong yang sama sekali tidak berdampak pada siapa saja yang ada di kampus.

Akreditasi kampus yang unggul hanyalah tulisan di sertifikat, bukan kualitas pemikiran yang benar-benar mencerminkan keunggulan kampus. Merdeka belajar hanya sebatas pelonggaran pada sistem belajar yang digunakan oleh dosen pemalas, bukan pada aspek pemikiran yang berdaulat.

Gunawan membuka diktat yang dipenuhi catatan-catatan kecil tentang rencana penelitian, kini kosong tak bermakna. Ia menulis curhatannya "Saya tidak sedang bekerja tetapi lelah mengharapkan hal-hal ideal." Kalimat itu menenangkan sekaligus menakutkan dan bagai mimpi buruk. Ada pengakuan bahwa harapan yang dulu menjadi bahan bakar semangatnya sebagi seorang Pengajar, kini nyaris padam. 

Gunawan menatap ke luar jendela dan memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang di area kampus. Beberapa sibuk  membuat konten promosi untuk acara kampus, beberapa duduk di taman sambil tertawa dengan ponsel di tangan. Dia tidak mendapati mahasiswa yang duduk di bangku taman sambil membaca buku, pemandangan yang dulu sering dia saksikan ketika masih kuliah.

Gunawan menatap mereka dengan sambil merefleksikan apa yang terjadi. Ia muak atas kondisi yang dia saksikan, tapi juga tak sanggup. 

Mungkin mereka hanya meniru kami,” gumamnya lirih. 

Kalau dosennya sibuk rapat dan menulis laporan, kenapa mereka harus sibuk membaca buku?”

Senja menjelang maghrib, Gunawan memutuskan pergi ke kafe baca di pinggir kota, tempat pelariannya selama ini sambil merawat idealitas yang hanya tersisa sedikit di kepalanya. Di sana, aroma kopi dan tumpukan buku tua menjadi semacam terapi penyembuhan jiwa. Ia membuka kembali buku The Myth of Sisyphus karya Albert Camus, yang dulu ia baca saat kuliah.

Manusia absurd,” tulis Camus, 

“Manusia yang sadar akan kehampaan hidup namun tetap menolak bunuh diri.

Gunawan sedang menjadi Sisifus yang jenuh tentang makna kehidupan, dan tetap bertahap sambil terus menjalani absurditas kehidupan. selain karena larangan agama, Gunawan menolak bunuh diri juga karena menyadari bahwa hidup yang absurd tidak selayaknya diselesaikan dengan bunuh diri.

Gunawan membaca kalimat itu berulang-ulang tentang Sisifus yang menjalani hidup absurd dengan kebahagiaan. Ia merasa seperti sedang menatap dirinya sendiri di cermin. Ya, hidupnya absurd. Ia tahu dunia akademik penuh kepalsuan, tapi tetap datang setiap hari ke kampus, mengajar, memberi nilai, dan menghadiri rapat. Seolah semua itu masih berarti.

Gunawan mencoba untuk menjadi Sisifus yang utuh bahwa apa yang dia jalani itu memang membosankan tetapi bagaimana menjalani kebosanan dengan rasa bahagia.

Beberapa hari kemudian, Bu Rani menghampirinya di kantin kampus. “Gun, kamu jarang kelihatan akhir-akhir ini. Katanya sekarang lebih sering di luar?”
Gunawan tersenyum tipis getir. “Masih di sini, Bu. Hanya sedang mencoba memahami kembali apa artinya menjadi dosen.”
Bu Rani tertawa kecil nan sinis “Kamu terlalu serius, Gun. Jalani saja, toh semua orang juga begitu.
Gunawan membalas pelan, “Ya, Bu. Mungkin itu masalahnya."

Gunawan tidak pernah sekalipun menemukan koleganya di kampus yang memiliki pemikiran yang sama, bagaimana merawat marwah kampus yang seharusnya menjadi laboratorium kehidupan untuk menguji hal-hal yang ideal, bukan hanya sekadar tempat mencari nafkah.

Sambil mengendarai motor bututnya,  pikirannya berkecamuk tentang banyak hal. Ia menatap kaca spion motornya. Dalam pantulan kaca itu, ia melihat wajahnya yang mulai menua. Lelah, tapi masih menyala samar meskipun sangat sedikit. Ia sadar, bukan sistem kampus yang sepenuhnya membuatnya hampa, tapi dirinya sendiri yang masih menuntut makna dari ruang yang sudah berhenti bermakna.

Malam itu, Gunawan menulis lagi di jurnal pribadinya. Blog yang sudah dibuatnya puluhan tahun silam ketika masih kuliah S1.

Aku tidak sedang mencari dunia yang sempurna sebagaimana di dalam kepala saya, hanya ingin tempat di mana kejujuran tidak dianggap ancaman dan menyisakan sedikit harapan bagi mahasiswa yang ingin menjadi manusia.”

Hari berikutnya, Gunawan kembali mengajar. Kali ini ia memilih untuk bicara lebih sedikit dan mendengar lebih banyak. Ia memulai kelas dengan pertanyaan sederhana, 

Kenapa kalian kuliah?”

Pertanyaaan retoris yang selalu dia dengar dari dosen-dosennya dulu. 

Ruang kelas hening, beberapa mahasiswa heran dengan sikap Gunawan yang lain dari biasanya. Sosok yang biasanya memulai kelas dengan senyuman tipis sambil berusaha melontarkan candaan yang garing, kali ini Gunawan sedikit lebih serius.

"Biar dapat kerja, pak" tiga atau empat mahasiswa menjawab serentak.

Gunawan mengangguk dan mencoba memahami apa yang ada di benak mahasiswanya. 

"Itu alasan yang tidak salah, tetapi coba direfleksikan dengan lebih mendalam, apakah bekerja benar-benar adalah tujuan akhir kalian, atau hanya cara untuk bertahan hidup?"

Tidak ada yang merespons tetapi hanya wajah-wajah penuh tanda tanya, entah heran atas sikap Gunawan atau benar-benar berpikir tentang jawaban.

Sore harinya, setelah kelas selesai. Gunawan memilih untuk tidak langsung pulang tetapi ia kembali membuka laptopnya. File tulisan lama“Perbaikan Negara diawali dari Dunia Kampus” kembali terbuka. Ia membaca paragraf pembuka, lalu menambahkan satu kalimat baru di bawahnya:

Mugnkin saja ide perbaikan negara tak akan pernah dimulai dari dunia kampus seperti yang dikisahkan sejarah yang romantik, karena kampus sudah lebih dulu menjadi negara, lengkap dengan pejabat, fraksi, dan rakyat kecilnya. Negara yang penuh dengan intrik dan melupakan bagaimana membangun manusianya

Gunawan berhenti menatap layar yang memantulkan wajahnya. Entah kenapa, kali ini ia tidak merasa mual. Mungkin karena ia akhirnya berdamai dengan absurditas yang sedang dijalaninya. Berat, tetapi dia terlanjur setuju dengan Albert Camus bahwa absurditas kehidupan harus dijalani dengan riang gembira, toh akhirnya juga akan mati.

Di luar, Surabaya malam itu ramai, suara klakson, tawa anak muda, Bonek mania yang sedang menuju stadion, dan aroma hujan bercampur debu. Gunawan menutup laptopnya dan tersenyum kecil.

Ia tahu, kelelahan ini mungkin tak akan hilang. Tapi setidaknya ia kini mengerti tentang hidupanya,

"Bertahan pun bisa menjadi bentuk perlawanan."

October 19, 2025

Republik Kampus (1)

#Merawat Idealisme

Gunawan tidak pernah sama sekali membayangkan sebelumnya apa yang sedang dijalaninya sekarang di dunia kampus. Ruang yang sebelumnya dibayangkan sebagia dunia ideal ternyata tidak lebih dari sebuah republik mini. 

Birokrasi yang tak kalah rumit dari birokrasi pemerintah, fraksi yang saling hujat, idealisme yang dibonsai, dan nuansa yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia politik. Dunia akademik yang Gunawan bayangkan sebagai dunia dialektis, tempat ide dipertengkarkan, dan hasil riset yang melimpah ternyata hanya fatamorgana kosong.

Tahun ini memasuki lima tahun Gunawan menjalani profesi sebagai pengajar di tingkat universitas. Idelismenya masih utuh namun mulai luruh sekian persen. Semangatnya masih tinggi meski dia mulai realistis atas apa yang harus dijalani di hari-hari mendatang. Ruang ini bukan potongan surga yang ada di bumi, tapi tidak lebih dari ruang orang-orang yang sedang berkompetisi memapankan diri masing-masing.

Masih segar diingatannya saat minggu pertama menginjakkan kaki di kampus. Dia disambut para Dosen yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing tanpa ada sama sekali salam perkenalan. Gunawan mulai ragu, namun mencoba menepis dengan pikiran-pikiran baik bahwa begitulah para Akademisi, karena terlalu sibuk memikirkan masa depan bangsa sehingga sapaan pun tak sempat.

Sekian hari berlalu, aktivitasnya dipenuhi dengan aneka hidangan rapat, tumpukan map, ratusan borang, dan wajah-wajah kolega yang tidak lebih sekadar karyawan, bukan pribadi yang berdaulat atas ide-ide, bahkan Gunawan tak sempat lagi mengingat berapa rapat yang harus diikuti dalam sebulan.

Agenda pertama, pembagian tugas akreditasi,” kata Pak Kaprodi, suaranya serak seperti mesin fotokopi yang kelelahan. Wajahnya seakan menggambarkan bahwa dia sudah cukup lelah dengan segala rutinitas di industri pendidikan, bukan instansi pendidikan.

Bu Rani langsung menimpali, “Saya pegang kriteria penelitian ya, Pak. Biar cepat, soalnya saya sudah biasa ngerjain.” Kalimat yang sepertinya template dan respons yang cepat agar tidak diberikan tugas yang memberatkan.

Gunawan mencoba menawar, “Kalau boleh, saya ingin bantu di bagian pengabdian masyarakat, Pak. Biar bisa turun langsung ke UMKM. Saya tertarik untuk mengimplementasikan beberapa hasil penelitian saya di masyarakat

Bu Rani menatapnya sambil tersenyum pahit dan menampakkan senioritas di sorot wajahnya. “Wah, semangat ya, Gunawan. Tapi di sini sistemnya sudah jalan. Jangan diutak-atik dulu, nanti repot. Tidak perlu terlalu idealis.

Bu Rani tidak pernah memanggilnya dengan panggilan mas meskipun secara usia, mereka lahir di tahun yang sama. Entahlah. Namun Gunawan tidak pernah mempermasalahkan karena sejak kuliah, dia selalu terbiasa dengan iklim emansipasi di setiap organisasi yang diikutinya. Penghormatan tidak pada panggilan tapi bagaimana menghargai sesama dalam ruang-ruang akademik. Penghormatan panggilan hanyalah sekadar retoris dan artifisial.

Gunawan hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia tahu “sistem” itu hanya cara halus dari para kolega senior untuk membungkam dan menutup ruang bertumbuh bagi orang baru dan tentu dimaknai sebagai: Jangan ganggu status quo.

Hampir dua dekade silam ketika masih kuliah, Gunawan selalu menentang setiap sistem yang dia anggap tidak adil dan merusak iklim kampus yang seharusnya inklusif dan emansipatif. Namun saat ini, dia mencoba untuk menyimak setiap fenomena yang ditemuinya meskipun pada beberapa kesempatan, kehadirannya hanya dianggap angin lalu.

Hari-hari berlalu sampai menjelang lima tahun, Gunawan sadar bahwa ide tidak pernah menjadi barang istimewa di kampus, namun siapa yang paling mampu mengambil hati pimpinan, dia yang akan berada di posisi yang nyaman. 

Satu-satunya pelarian Gunawan ketika sedang penat adalah sebuah kafe baca di pinggir Surabaya menuju Sidoarjo. Buku, kopi, dan laptop menjadi senjata untuk mencoba menerima kenyataan bahwa dia sedang terjebak di suatu tempat yang ideal dalam pikirannya namun realitasnya tidak lebih dari sekadar industri pendidikan. Pengajar bukan lagi sosok yang dijaga marwahnya tetapi hanya atribut yang dikejar untuk kepentingan masing-masing.

Gunawan belajar cara bertahan untuk tetap survive, dengar lebih banyak, bicara secukupnya dan tidak perlu menjilat. Tapi setiap kali ia mencoba diam dan menjauh dari keriuhan, selalu saja muncul suara di kepalanya yang memberontak dan menuntut Gunawan secara moral, suara idealisme yang dulu membuatnya yakin jadi dosen adalah panggilan, bukan pekerjaan

Suatu pagi ketika Surabaya didera hujan yang sangat deras. Setibanya di ruang dosen, Gunawan mendengar percakapan dua koleganya.
Katanya semester depan bu Rani mau naik jadi wakil dekan,” bisik bu Nirma, dosen yang minggu lalu bergibah dengan ibu Rani tentang Kaprodi yang dianggap memihak ke dosen lain.
Pantesan akhir-akhir ini rajin ikut semua kegiatan, dari seminar sampai lomba tumpeng” balas pak Sukamto sambil terkekeh.

Gunawan pura-pura sibuk di depan laptopnya, tapi bibirnya ikut tersenyum. Dalam hati ia mengakui, politik kampus di Surabaya lebih hidup daripada politik di Balai Kota. Minggu lalu bu Nirma begitu akrab dengan bu Rani namun dibelakang bergunjing tentang koleganya.

Gunawan tidak hanya menyerah pada para kolega tetapi juga para mahasiswa yang semakin berkurang keinginan untuk belajar. Tentu bukan karena kesalahan mahasiswa karena dosen mencontohkan hal yang sama.

Mahasiswa sekarang kehilangan seleranya untuk membaca buku dan diskusi, pikir Gunawan. Sangat fasih berpendapat tetapi sangat lemah mempertahankan argumennya secara ilmiah. Nilai bukan hasil belajar, tapi hasil negosiasi. Saat diberi tugas esai, yang mereka cari bukan referensi, tapi “contoh dari ChatGPT.

Dalam beberapa kali kesempatan sebelum memulai kelas, Gunawan sering bertanya secara retoris “Kenapa tidak baca literatur sendiri di buku atau jurnal?”

Jawabannya selalu sama dan serentak, Waktunya, Pak... saya juga kerja sambilan.

Gunawan memahami bahwa hidup di Surabaya keras, bahkan mungkin juga di kota-kota besar lain. Banyak mahasiswa kuliah sambil kerja, ngekos seadanya, bahkan kadang ngajar les demi bayar UKT. Tapi di sisi lain, mereka juga terlalu cepat menyerah dan pasrah pada kondisi, seolah perjuangan akademik tak lagi relevan di kota yang lebih menghargai relasi daripada argumen.

Kondisi ini diperparah dengan realitas kampus bahwa mayoritas dosen akan selalu memberikan nilai tinggi kepada mahasiswanya karena berpengaruh pada akreditas.

Sore itu, setelah kelas selesai, seorang mahasiswi menghampirinya di kantin kampus.

Pak, saya mau bimbingan. Saya pengen nulis skripsi soal potensi usaha anak muda Surabaya untuk ekspor, tapi bingung teorinya apa.”

Gunawan memandang wajah mahasiswi itu, penuh gugup tapi jujur. Ada sesuatu yang membuatnya tenang.

“Coba mulai dari hal yang kamu alami sendiri. Kamu lihat temanmu-temanmu yang sudah pernah membuat usaha? usaha di bidang apa? Apakah usaha sejenis sudah pernah ekspor? Dari situ cari teorinya.”

Mahasiswi itu mengangguk. “Makasih, Pak. Saya kira teori dulu baru observasi.

Gunawan tersenyum. “Kalau di lapangan, kadang teori harus mengejar realitas, bukan sebaliknya.” hal yang membuatnya senang karena masih ada sebagian mahasiswa yang benar-benar serius dalam belajar dan juga memikirkan apa yang akan diteliti.

Saat mahasiswi itu pergi dan menghilang dari pandangannya, Gunawan duduk sendirian di ruang dosen sambil memandang tumpukan buku yang menunggu dibaca. Di luar, suara klakson dan pedagang sate Madura menembus jendela. Surabaya sore itu panas, tapi ada rasa damai kecil di dadanya.

Ia sadar, mungkin dunia akademik tak seindah yang dulu ia bayangkan. Tapi di antara laporan akreditasi palsu, rapat tak berujung, dan mahasiswa yang setengah putus asa, masih ada momen-momen kecil yang membuat semuanya terasa berarti seperti percakapan barusan.

Malamnya, Gunawan pulang melewati kawasan Bungurasih yang ramai. Orang-orang hendak pulang ke kota masing-masing. Lampu toko menyala, pedagang asongan yang tetap bersemangat, dan aktivitas lain yang membuatnya merasa hidup kembali. 

Ia berpikir, mungkin memang begitu hidup di kota ini, kota pahlawan yang keras tapi jujur. Tak ada ruang untuk bersembunyi di balik slogan “akademik yang bermartabat.

Kampusnya mungkin tak pernah tidur. Tapi bukan karena semangat ilmiah, melainkan karena semua orang terlalu sibuk menjaga posisi.

Gunawan tersenyum getir. Di sisa malam itu, ia menyalakan laptopnya, membuka berkas tulisan lama, esai tentang integritas akademik yang dulu ingin ia kirim ke media nasional.

Judulnya masih sama: “Perbaikan Negara diawali dari Dunia Kampus”

Dan ia menulis ulang kalimat pertamanya:

Menjadi dosen merupakan tugas mulia untuk berkontribusi dalam memperbaiki kondisi negara. menjadi dosen bukan sekadar atribut untuk dibanggakan di depan mertua tetapi panggilan nurani untuk tumbuh bersama para mahasiswa. Kelak mereka akan menjadi laskar negara yang membawa kebaikan bangsa dan negara.

Kalimat yang cukup ideal yang membuat Gunawan beberapa kali merasa mual ketika menyadari bahwa kampus tidak lebih dari miniatur negara dengan segala problematikanya.

#Edisi 1

October 17, 2025

Khawatir Tentang Rumah

Two days ago, my wife informed me that the house in front our house was being expanded, which would likely narrow the access way to our house. This was sad news because our house is located in the middle of other people's houses.

A few months earlier, a high wall had been built on the empty land behind our house, set aside only about half a meter of access from the back. We often use the front access road, but it turns out that the house in front is also building a wall that almost completely blocks access to our house.

I feel like I'm the main character in a soap opera with a story about a house trapped among other houses. I'm sad, not for myself, but for my wife and kid. I haven't been able to think clearly about what steps to take because, until now, moving is not an option. The mortgage on the house still has three years left, while our savings are far from enough to buy a new house.  

I sit in the corner of the room, thinking about all the waves of life that keep crashing in, but as long as I’m still breathing, I have to keep my knees strong to stand and be there for my wife and children. They deserve a better life.  

Oh God, forgive your servant.

Mempertanyakan Diri

Bisa dibayangkan dengan umur segini, saya masih bergulat dengan pertanyaan eksistensi. Tentang jalan yang sedang ditempuh, tentang keputusan hidup yang sudah dijalani dan semua rasa penasaran akan eksistensi diri. 

Mungkin saya terlalu terlambat untuk bergulat dengan diri dan jawaban-jawaban yang ada di dalam karena merasa mampu menaklukkan dunia. Ketika waktunya kembali, saya menemukan semua hampa dalam diri, kosong dan gelap.

Saya sudah terlalu jauh tersesat di labirin kehidupan tanpa ada pemandu yang jelas. Benar-benar tercerabut dari dalam diri sendiri dan mengambang seperti kapas yang diterbangkan oleh angin entah kemana.

Saya tiba pada satu momen ketika semua tidak mampu saya taklukkan bahkan sekadar menatap diri di depan cermin pun tak sanggup. Saya seperti mengejar fatamorgana yang tak berwujud dan pada akhirnya membuat saya tak tahu arah pulang.

Saya sedang di sini, di tempat yang dulu pernah saya cita-citakan tetapi realitasnya meleset jauh dari idealitas yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Semua seakan memuaskan keinginan tetapi tidak dengan makna yang saya cari.

Di titik ini, saya membayangkan ibu saya yang semakin menua dengan rambut yang sudah memutih, ayah yang tidak lagi ke kebun karena dimakan usia dan saya di sini, meratapi semua kegagalan demi kegagalan hidup untuk lebih bermakna.

Dada saya seringkali berdegup kencang sekian kali lipat dari yang biasanya. Degup yang lahir dari ketidakmapuan diri menahan keinginan demi keinginan yang semakin membara tetapi tidak jua tercapai, yang tersisa hanya raga yang letih.


15 Okt 2025

October 15, 2025

Saya Lupa Menulis

Tahun 2025 sudah memasuki bulan Oktober dan saya merasa tidak memiliki progress yang berarti. Pagi ini, tetiba saya membuka blog lalu menyadari bahwa betapa malasnya saya menulis tahun ini. Sejak Memulai blog ini 15 tahun lalu, maka tahun ini adalah tahun paling sedikit postingan bahkan sampai tulisan ini saya posting, baru dua tulisan yang nangkring di beranda.

Entahlah, namun begitu saya menyadari bahwa sudah sekian lama saya lupa caranya menulis, tidak hanya sekadar merangkai kata namun juga mengartikulasikan setiap hal yang saya alami sehari-hari, entah yang sifatnya reflektif maupun kejadian empirik.

Saya sudah tidak muda lagi dan angka usia semakin bertambah namun cita-cita lama menerbitkan buku masih tetap saja mengambang. Memang tahun ini saya menerbitkan buku namun saja buku referensi, bukan buku refleksi kehidupan seperti yang saya bayangkan sebelum.

Saya lupa menulis dan entah sampai kapan karena terjerat dengan drama kehidupan.

15 Oktober 2025

April 17, 2025

Belajar Menahan

Minggu lalu di salah satu kelas, saya mengalami hal yang membuat saya perlahan mengelus dada. Pengalaman yang menguji apakah saya harus bertindak reaktif untuk memperlihatkan kuasa saya atau tetap tenang untuk berdamai dengan hal yang bisa saja saya perlakukan lebih dari itu.

Pada salah satu mata kuliah, saya sedang memberikan pengarahan penugasan kepada mahasiswa. Saya menunjukkan salah seorang mahasiswa untuk memberikan contoh mengenai apa yang diinginkan sepuluh tahun ke depan? atau dia mau jadi seperti apa sepuluh tahun lagi?

Jawabannya tentu membuat saya sedikit terpancing ketika dia menjawab ingin membeli mobil mewah namun dengan nada bercanda dan diiringi sorakan dari teman-temannya.

Tentu tidak keliru tetapi ada yang salah dari bagaimana interaksi dia di dalam kelas. Saya memilih untuk tidak reaktif karena saya benar-benar khawatir, jangan-jangan responsnya seperti itu karena tidak terlalu suka dengan mata kuliah yang sedang diajarkan atau mungkin cara saya yang terlalu monoton.

Namun demikian, refleksi mendalam terhadap kejadian itu membuat saya semakin sadar bahwa selain berpikir bagaimana mengubah cara pandang mereka, saya juga berpikir bagaimana mengubah cara saya dalam mengajar.

January 1, 2025

1 Januari 2025

Tidak banyak yang saya lakukan di awal tahun 2025 selain menghabiskan waktu di perjalanan balik ke Jakarta. Ketika gemuruh Terompet bersahut-sahutan sebagai penanda perganti tahun waktu indonesia tengah (WITA), saya sedang berada di atas travel dari kampung ke bandara Sultan Hasanuddin. Saya tidak menyadari tepatnya di daerah mana ketika pergantian tahun, mungkin saja di Pare-Pare karena saya terlelap dalam tidur. Sebelumnya saya terbangun di daerah Pinrang dan waktu masih menunjukkan 23.20 WITA.

Satu hal yang berkesan karena mobil travel Daihatsu Xenia yang kami tumpangi dari kampung ke bandara Hasanuddin penuh sesak dengan barang dan penumpang. Terdapat tiga orang di depan termasuk Sopir dan sekarung beras serta tas pakaian yang diletakkan di bawah. Kami berempat di tengah yang idealnya hanya memuat tiga orang sehingga cara duduk kami harus serong agar muat. Sementara di belakang ada satu penumpang tetapi barang bawaan tumpah ruah. Ada sekitar 70 plastik besar lombok yang sebagian besar di ikat di atap mobil. Kap bagasi bahkan tidak bisa ditutup rapat sehingga diikat dengan tali. Bahkan ada satu penumpang yang tidak jadi ikut karena sudah tidak ada tempat duduk.

Saya baru tahu bahwa ternyata di setiap momen tahun baru, tidak ada travel yang berangkat ke Makassar, bukan karena alasan ingin merayakan tahun baru tetapi kekhawatiran keselamatan di jalanan. Begitu banyak pemuda yang mengadakan pesta di setiap daerah jalan poros bahkan terkadang tidur di tengah jalan ketika dalam keadaan mabuk berat.

Itu juga yang menyebabkan mobil yang kami tumpangi sesak dengan penumpang yang harus berangkat malam itu juga dan barang-barang. Sebenarnya mobil yang kami tumpangi juga awalnya tidak akan berangkat tetapi pesanan lombok dalam jumlah besar yang mengharus dia berangkat di malam tahun baru.

Sopir menyetir dengan sangat kencang bahkan bebarapa kali hampir menabrak kendaraan di depannya. Saya kira dia sedang dalam pengaruh alkohol ternyata dia harus sampai di Makassar sebelum subuh karena lombok harus segera diambil Pelanggan. Praktis kami menempuh perjalanan dua jam lebih cepat dari biasanya.

Kami tiba di bandara pukul 03.20 WITA artinya sekitar sepuluh jam sebelum terbang ke Jakarta. Setiba di bandara, tujuan kami adalah Musala untuk istirahat. Untungnya bisa tidur di Musala sehingga bisa istirahat tetapi saya memilih tidak tidur dan hanya putra saya yang tidur. Kami di Musala sampai pukul 07.30 WITA sebelum bergeser ke gerai Roti O untuk sarapan kopi dan coklat dingin serta dua potong roti O.

Sekira puku 09.00 WITA, kami memutuskan masuk ke ruang tunggu dan menikmati pemandangan orang-orang yang sedang bersiap berangkat. Kami menunggu di gate 6 bersama beberapa penumpang yang juga hendak ke berbagai daerah.

Waktu tidak terasa berlalu karena saya masih harus ikut zoom meeting membahas persiapan AMI Prodi bahkan sejam sebelum boarding, rapat baru selesai. Putra saya masih sempat makan siang di gerai AW sementara saya memilih untuk tidak makan karena tidak ada lauk selain ayam, setahuku.

Oh iya, memang saya memutuskan tidak makan daging selain ikan sejak beberapa tahun belakangan. Saya hanya menoleransi komitmen saya ketika berada di kampung dan yakin bahwa daging ayam/sapi disembelih oleh keluarga dan dimasak oleh ibu atau kakak perempuan saya.

Kami boarding tepat waktu pada pulul 13.55 WITA. Tidak ada masalah berarti bahkan perjalanan sangat lancar sampai di Jakarta. Setiba di kedatangan bandara Soekarno Hatta terminal 1A, kami langsung keluar memesan taxi online karena saya menaruh semua barang bawaan di kabin sehingga tidak perlu menunggu barang dari bagasi.

Awalnya saya ingin memesan taxi Maxim tetapi menurut saya harganya di atas taxi online pada umumnya. Saya kemudian menuju titik pemesanan Gocar dan ternyata memang benar, harganya jauh lebih murah. Awalnya saya order tanpa memasukkan kode promo "Gobandara" namun ketika menyadari bahwa ada promo, saya menanyakan ke petugasnya dan untungnya masih bisa dicancel lalu kemudian diinput kembali dan mendapatkan potongan sekitar 40 ribu rupiah.

Sistem pick up di Gocar bandara menggunakan sistem antrean. Butuh waktu sekitar 10 menit menunggu sebelum dijemput mobil. Perjalanan dari bandara ke Kebagusan sangat lancar, mungkin warga ibu kota masih di luar kota merayakan momen liburan tahun baru. Meskipun jalanan lancar tetapi mobil berjalan sangat pelan. Saya menduga si sopir dalam keadaan lelah. 

Kami tiba di rumah sekitar pukul 16.00 WIB. Saya memutuskan langsung mandi karena sedari berangkat dari bandara, ingin buang air kecil. Setelah itu, saya istirahat untuk melepas penat perjalanan panjang dari kampung.

Habis maghrib sekira pukul 18.30 WIB, saya tertidur di sofa sementara saya belum salat Isya. Saya sudah tidak sadar sampai akhirnya terbangun pada pukul 03.40 WIB keesokan harinya. Akhirnya saya baru salat Isya pada pukul 04.45 WIB.

Begitulah perjalanan di hari pertama tahun 2025. Tidak ada yang spesial bahkan semua berakhir dengan hari-hari yang sama.

Selanjutnya, mari menyelesaikan tugas-tugas kecil di hari-hari berikutnya.

December 31, 2024

Semacam Resolusi

Saya sangat menyadari bahwa resolusi yang saya buat setiap akhir tahun/awal tahun baru selalu berakhir pada arsip berdebu, tetapi entah kenapa, menyusun resolusi semacam candu atau mungkin rutinitas yang harus dituliskan. 

Tahun ini pun demikian adanya. Saya tahun perjalanan 2025 pada akhirnya bagaimana bertahan dari satu masalah ke masalah yang lain tetapi menulis resolusi wajib saya lakukan, setidaknya komitmen mengisi blog ini.

Awal tahun seringkali serasa sangat panjang tetapi entah kenapa, rasanya sedetik berlalu, kita akan sampai lagi pada akhir tahun dan menyalakan kembang api. Selalu begitu setiap tahunnya dan kita melewati kesedihan demi kesedihan yang diselingi sedikit canda tawa.

Tahun ini, saya menuliskan resolusi yang repetitif dari tahun-tahun sebelumnya dan sedikit penambahan. Resolusi ini secara random dan urutan penulisan tidak berdasarkan prioritas. 

Here's the resolution I'm aiming for:

Melanjutkan study S3 jurusan HI (konsentrasi EPI/Studi keamanan dan HAM/politik Islam) di kampus luar negeri dengan beasiswa full funding. Mendapatkan sertifikat toefl ITP minimal skor 550. Membaca buku minimal 3 buku sebulan. Earning a salary at least equal to my wife's salary. Mengurangi kontak dengan gadget yang tidak produktif. a vacation abroad with my family. Rutin salat Tahajud. Became a guest speaker at various events. Mengajar di kampus yang sekota dengan istri* (pass pppk). Lingkungan pekerjaan yang kondusif dan saling mendukung. Menemukan mentor dalam pekerjaan dan hidup. Menguasai satu bidang keilmuan secara mendalam. Melunasi cicilan rumah. Mengunjungi orang tua di kampung minimal 2x setahun. Membelikan mobil untuk istri. Menerbitkan tiga buku termasuk buku keilmuan dan buku renungan. Mampu mengelola emosi dan menghilangkan penyakit hati.

* Mengajar di kampus dengan jurusan HI dan kampus yang memenuhi kuota minimal mahasiswa per kelas sehingga tidak mengharuskan setiap dosen terlibat aktif dalam tim PMB.
Demikianlah, mungkin saja selanjutnya perjalanan melewati tahun hanyalah perjalanan untuk bertahan atas setiap masalah yang akan menghadang, mungkin pada akhirnya kita hanya bicara bagaimana bertahan, bahkan tidak sempat memikirkan impian-impian besar.

Pada akhirnya, setelah menjalani hari demi hari di tahun 2025, saya akan mengutip lirik lagu Melly Goeslow yang berjudul Catatanku.

"… Tuhan terserah padamu
Aku ikut maumu TuhanKu catat semua ceritakuDalam harianku"

Buku yang Saya Baca di Tahun 2024

Selama tahun 2024, saya memaksakan diri untuk menambah bacaan saya karena selama ini, saya merasa bahwa waktunya hanya habis sia-sia.

1. Polemik Sains

Buku yang merupakan kumpulan dari berbagai tulisan oleh beberapa tokoh. Awalnya tulisan ini distimulasi oleh status GM di facebooknya pada awal merebaknya Covid-19. Kurang lebih dia mempertanyakan sains yang tidak jua menjawab Pandemi saat itu. Saling sanggah melalui tulisan kemudian menjadi sarapan renyah bagi khalayak untuk menikmati dialektika yang terjadi.

Tulisan tersebut memicu reaksi dari kelompok yang pro terhadap sains dan memulai perdebatan yang gurih. Mereka mengeluarkan semua jurus untuk saling menantang dengan rasionalitas standpoint masing-masing. Sains, Agama, dan Filsafat.

2. SAMSARA.

Novel ini dikarang oleh Zara Zettira yang sudah sangat lama saya miliki ketika masih tergabung di Penerbit Erlangga. Novel yang merupakan program diskon dari kantor.

Novel ini bercerita tentang Asya, seorang perempuan yang tidak terlalu mendapat kasih sayang dari ibunya, sementara ayahnya sudah meninggal, memiliki tekad untuk berkarir di Amerika Serikat. Selepas kuliah di Psikologi UI, dia akhirnya menemukan jalan menuju AS melalui tante Amri, yang ternyata merupakan ibu kandungnya. Ibu yang membesarkannya bukanlah ibu kandungnya.

Cerita ini sarat hal-hal metafisika di mana tante Amri dan Asya merupakan tokoh yang mampu memikirkan masa depan, cenayang.

3. Who Rules the World.

Noam Chomsky adalah seorang seorang aktivis keturunan Yahudi yang tinggal di AS tetapi pandangan politiknya sangat keras mengkritik kedua negara tersebut. Dalam buku ini, Chomsky memperlihatkan begitu banyak fenomena yang menggambarkan AS menerapkan standar ganda dalam setiap kebijakannya. Dalam satu kasus mendukung penegakan HAM tetapi di kasus lain, mereka menginjak-injak penegakan HAM.

Dalam buku ini juga, Chomksy menguliti relasi antara Palestina dan Israel. Relasi tersebut terbentuk dari pola kolonialisme yang diterapkan oleh Israel dan tentu saja dibantu oleh AS.

4. Hidup di luar Tempurung

Buku karya Benedict Anderson yang tidak terlalu tebal. Ben bercerita awal hidupnya sampai akhirnya jatuh cinta terhadap Indonesia, meskipun pada suatu masa, dia dicekal masuk ke Indonesia selama 27 tahun. Ben akhirnya memilih Siam sebagai tempat tinggalnya sebelum akhirnya dia diperbolehkan masuk ke Indonesia pasca reformasi.

Ben menceritakan lika liku kehidupannya sebagai peneliti dan akademisi. Kajian wilayah yang ditekuninya dianggap kelas kedua tetapi tidak menyurutkam kecintaannya terhadap bidangnya.

Ben memberikan cara ideal memulai riset menarik yaitu seorang periset berangkat dari pertanyaan yang dia sendiri juga tidak tahu jawabannya. Setelah itu, baru menentukan perangkat intelektual yang akan digunakan.

Ben juga menceritakan bagaimana mahakaryanya Imagined Communities mulai digagas sampai menghasilkan buku yang mempesona

5. The Socrates Express

Ini buku terakhir yang saya selesaikan di bulan Januari 2024 merupakan karya Eric Weiner. Buku ini merupakan ekspresi Eric menerjemahkan beberapa pemikiran Filsuf dengan mengkontekstualisasikan dengan kehidupan sehari-hari.

Eric sangat menyukai berjalan kaki, pun bepergian dengan kereta api. Namun dia tidak menyukai bepergian dengan bis karena menurutnya tidak bisa berpikir saat di perjalanan. Tulisannya dibuka dengan pandangan Aurelius tentang kehidupan, bagaimana bangun dari rebahana.

Eric juga mengelaborasi bagaimana Rousseau sangat menyenangi jalan kaki bahkan sampai kakinya terluka karena jalan kaki. Selanjutnya beberapa pemikiran filsuf yang diceritakan oleh Eric.

Saya merasa bahwa buku ini seperti buku Dunia Sophie nya Jostein Gaarder tetapi tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Eric, sangat lebih menyukai cara Jostein merumuskan pemikiran para filsuf melalui cerita-cerita fiksinya dengan menggunakan orang ketiga.

6. Melihat Terang

Setelah beberapa bulan tidak fokus membaca buku karena serangkaian pekerjaan yang menumpuk dan kebiasaan lama menghabiskan waktu dengan HP, maka mulai lagi menyelesaikan janji kepada diri untuk memperbanyak asupan bacaan.

Buku kali ini merupakan buku ringan yang ditulis oleh Agung Adiprasetyo, mantan CEO Gramedia. Buku ini merupakan hikmah keseharian yang sangat dengan aktivitas sehari-hari untuk menemukan diri yang tersesat dengan rutinitas yang jumud. Mungkin terkesan klise karena banyaknya genre buku yang sama tetapi selalu ada kisah-kisah baru yang menggugah kembali gairah memulai hal-hal yang baik.

Saya suka bab yang berjudul "Tenang Saja, Jagoan Biasanya Menang Terakhir." Pada bagian ini, ada satu kisah yang sangat menyentuh. Kisah tentang seorang ayah bernama Tom Smith yang mengumpulkan anak-anaknya saat sakaratul maut. Salah seorang putrinya komplain karena ayahnya sama sekali tidak mewariskan harta kepada anak-anaknya.

Sekian tahun berlalu, anaknya yang bernama Sara Smith sedang mengikuti wawancara di sebuah perusahaan ternama. Salah seorang panitia memastikan kepada Sara mengenai nama belakang Smith. Sara menjawab bahwa nama itu diambil dari nama ayahnya.

Ketua panitia tiba-tiba kaget dan berseru, Anda ini putrinya Tom Smith. Dia kemudian bercerita bahwa Tom Smith yang menandatangani formulir keanggotaannya di institut Administrator secara cuma-cuma bahkan dia sama sekali tidak tahu alamat Tom Smith karena dia melakukan pekerjaannya secara profesional.

Singkat cerita, Sara diterima dan karirnya cemerlang di perusahaan yang dia daftar. Pada suatu kesempatan, Sara Smith ditanya rahasia kesuksesannya. Dia menjawab dengan yakin, "Ayah."

Sara Smith yang awalnya komplain terhadap Ayahnya karena tidak mewariskan harta, pada akhirnya baru menyadari bahwa Ayahnya mewariskan intergritas, disiplin, kontrol diri, dan takut kepada Tuhan. Ayahnya tidak mewariskan saldo rekening.


#Desember 2024