Seharusnya, semakin jauh jejak langkah yang kita kisahkan, maka semakin paham bahwa hidup ini akan menuju satu titik temu. Idealnya seperti itu, namun ternyata terlalu banyak dinamika yang membuat idealitas itu menjauh dari realitas yang dijalani. Manusia sering terkecoh dengan hal-hal artifisial dan tidak mampu mengidentifikasi mana yang seharusnya menjadi prioritas.
Saya termasuk kumpulan manusia yang semakin menua tetapi belum jua menemukan kebijaksanaan. Saya masih terus memendam berbagai ambisi yang fatamorgana dan serangkaian keinginan yang sifatnya material. Saya percaya bahwa untuk mendapatkan hal inti, kita harus memilih rasa sakit yang harus dijalani.
Tadi pagi, saya menjenguk engkong, tetangga yang rumahnya tepat hanya beberapa jengkal dari rumah kami. Dia tetangga yang pertama kali kami kenal sejak memilih bermukim di tempat kami sekarang, sejak delapan tahun silam.
Saya begitu sangat kaget ketika mengetahui bahwa ternyata dia sudah tidak mampu duduk dan badannya semakin kurus. Padahal dua minggu lalu ketika sakitnya baru didiagnosa, dia masih sangat semangat bercerita apa saja. Atau dua bulan lalu ketika istrinya dirawat di RS, dia bercerita dengan penuh harap bahwa semoga istrinya segera sembuh dan biarkan dia mencari nafkah.
Tidak sampai sebulan, dia jatuh sakit yang lebih parah, kemudian hanya berselang beberapa minggu kemudian, keadaannya semakin lemah.
Saya kemudian menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat karena serasa baru kemarin dia terlihat energik menjalani hari-harinya.
Benarlah nasihat bahwa pengingat terbaik dalam hidup adalah menjenguk orang sakit. Melihat keadaan mereka akan membawa kita pada satu kesimpulan bahwa hidup ini akan berujung pada kefanaan dan dalam penantian ke titik itu, kita sebaiknya melakukan hal yang baik-baik saja.
No comments:
Post a Comment