#Kelelahan Eksistensial
Lima tahun yang dijalani di kampus ini tidak membuat Gunawan mampu menerima realitas yang ada. Dia seolah menjadi budak industri pendidikan yang menjalani hari-hari yang repetitif, bangun pagi, bersiap ke kampus, aktivitas di kampus, pulang ke rumah, malam mengerjakan tugas yang tertunda, kemudian kembali berbaring untuk sekadar melepas penat dan esoknya akan berlangsung seperti biasanya.
Gunawan sadar bukan ini yang ada di idenya ketika pertama kali memutuskan menjadi seorang Pengajar di kampus. Dia terlalu idealis membayangkan ruang-ruang seperti lingkaran Wina, mazhab teori kritis, Akademianya Platon, dan kelompok intelektual lain yang melahirkan berbagai ide-ide besar.
Setiap kali tiba di kampus dan mulai membuka laptopnya, yang tersisa di dadanya hanyalah rasa sesak yang merupakan kristalisasi dari kelelahan psikis. Kelelahan yang lahir dari realitas yang jauh dari idealitas yang dia impikan.
Setiap kali Gunawan ingin memulai untuk kembali produktif namun idenya terhenti pada kalimat pertama, "menjadi Dosen merupakan panggilan hati nurani....," Gunawan merasa sangat bersalah untuk melanjutkan kalimat berikutnya karena yang dia saksikan hanyalah realitas semu tentang dunia Dosen yang penuh dengan drama kehidupan. Tidak ada nuansa akademik secara lahiriah tetapi hanya artifisial.
Dosen melakukan penelitian karena kewajiban dan dana hibah yang besar, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dikerjakan hanya memenuhi kewajiban BKD, pun mengajar tidak benar-benar menciptakan ruang akademis yang emansipatif kepada seluruh mahasiswa.
Bahan presentasi dibuat dengna bantuan AI, referensi dari situs internet yang tidak jelas, Dosen yang tidak pernah membaca buku dan berbagai ironi lain.Publikasi artikel di jurnal jangan ditanya, sebagian mengambil tugas mahasiswa diedit menggunakan chatGPT kemudian dipublikasikan dengan sistem fastrek, jadilah sebuah aritkel publikasi yang diklaim.
Gunawan duduk di sudut pantry dengan segelas kopi yang masih ngebul sambil menatap dari jendela langit Surabaya yang dipenuhi polusi di pagi hari. Kampus yang dulunya dianggap bermartabat ternyata hanya gedung yang ramai oleh akademisi tetapi sepi.
Sebuah spanduk besar terpajang di gerbang kampus dengan tulisan "Kampus Berdampak" berkibar lesu tanpa makna. Kalimat tersebut hanya jargon kosong yang sama sekali tidak berdampak pada siapa saja yang ada di kampus.
Akreditasi kampus yang unggul hanyalah tulisan di sertifikat, bukan kualitas pemikiran yang benar-benar mencerminkan keunggulan kampus. Merdeka belajar hanya sebatas pelonggaran pada sistem belajar yang digunakan oleh dosen pemalas, bukan pada aspek pemikiran yang berdaulat.
Gunawan membuka diktat yang dipenuhi catatan-catatan kecil tentang rencana penelitian, kini kosong tak bermakna. Ia menulis curhatannya "Saya tidak sedang bekerja tetapi lelah mengharapkan hal-hal ideal." Kalimat itu menenangkan sekaligus menakutkan dan bagai mimpi buruk. Ada pengakuan bahwa harapan yang dulu menjadi bahan bakar semangatnya sebagi seorang Pengajar, kini nyaris padam.
Gunawan menatap ke luar jendela dan memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang di area kampus. Beberapa sibuk membuat konten promosi untuk acara kampus, beberapa duduk di taman sambil tertawa dengan ponsel di tangan. Dia tidak mendapati mahasiswa yang duduk di bangku taman sambil membaca buku, pemandangan yang dulu sering dia saksikan ketika masih kuliah.
Gunawan menatap mereka dengan sambil merefleksikan apa yang terjadi. Ia muak atas kondisi yang dia saksikan, tapi juga tak sanggup.
“Mungkin mereka hanya meniru kami,” gumamnya lirih.
“Kalau
dosennya sibuk rapat dan menulis laporan, kenapa mereka harus sibuk membaca
buku?”
Senja menjelang maghrib, Gunawan memutuskan pergi ke kafe baca di pinggir
kota, tempat pelariannya selama ini sambil merawat idealitas yang hanya tersisa sedikit di kepalanya. Di sana, aroma kopi dan tumpukan buku tua
menjadi semacam terapi penyembuhan jiwa. Ia membuka kembali buku The Myth of Sisyphus
karya Albert Camus, yang dulu ia baca saat kuliah.
“Manusia absurd,” tulis Camus,
“Manusia yang sadar
akan kehampaan hidup namun tetap menolak bunuh diri.”
Gunawan sedang menjadi Sisifus yang jenuh tentang makna kehidupan, dan tetap bertahap sambil terus menjalani absurditas kehidupan. selain karena larangan agama, Gunawan menolak bunuh diri juga karena menyadari bahwa hidup yang absurd tidak selayaknya diselesaikan dengan bunuh diri.
Gunawan membaca kalimat itu berulang-ulang tentang Sisifus yang menjalani hidup absurd dengan kebahagiaan. Ia merasa seperti
sedang menatap dirinya sendiri di cermin. Ya, hidupnya absurd. Ia tahu dunia
akademik penuh kepalsuan, tapi tetap datang setiap hari ke kampus, mengajar,
memberi nilai, dan menghadiri rapat. Seolah semua itu masih berarti.
Gunawan mencoba untuk menjadi Sisifus yang utuh bahwa apa yang dia jalani itu memang membosankan tetapi bagaimana menjalani kebosanan dengan rasa bahagia.
Beberapa hari kemudian, Bu Rani menghampirinya di kantin kampus. “Gun, kamu jarang kelihatan akhir-akhir ini. Katanya sekarang lebih sering di
luar?”
Gunawan tersenyum tipis getir. “Masih di sini, Bu. Hanya sedang mencoba memahami
kembali apa artinya menjadi dosen.”
Bu Rani tertawa kecil nan sinis “Kamu terlalu serius, Gun. Jalani saja, toh semua orang
juga begitu.”
Gunawan membalas pelan, “Ya, Bu. Mungkin itu masalahnya."
Gunawan tidak pernah sekalipun menemukan koleganya di kampus yang memiliki pemikiran yang sama, bagaimana merawat marwah kampus yang seharusnya menjadi laboratorium kehidupan untuk menguji hal-hal yang ideal, bukan hanya sekadar tempat mencari nafkah.
Sambil mengendarai motor bututnya, pikirannya berkecamuk tentang banyak hal. Ia
menatap kaca spion motornya. Dalam pantulan kaca itu, ia melihat wajahnya yang
mulai menua. Lelah, tapi masih menyala samar meskipun sangat sedikit. Ia sadar,
bukan sistem kampus yang sepenuhnya membuatnya hampa, tapi dirinya sendiri yang
masih menuntut makna dari ruang yang sudah berhenti bermakna.
Malam itu, Gunawan menulis lagi di jurnal pribadinya. Blog
yang sudah dibuatnya puluhan tahun silam ketika masih kuliah S1.
“Aku tidak sedang mencari dunia yang sempurna sebagaimana di
dalam kepala saya, hanya ingin tempat di mana kejujuran tidak dianggap ancaman
dan menyisakan sedikit harapan bagi mahasiswa yang ingin menjadi manusia.”
Hari berikutnya, Gunawan kembali mengajar. Kali ini ia memilih untuk bicara lebih sedikit dan mendengar lebih banyak. Ia memulai kelas dengan pertanyaan sederhana,
“Kenapa kalian kuliah?”
Pertanyaaan retoris yang selalu dia dengar dari
dosen-dosennya dulu.
Ruang kelas hening, beberapa mahasiswa heran dengan sikap Gunawan yang lain dari biasanya. Sosok yang biasanya memulai kelas dengan senyuman tipis sambil berusaha melontarkan candaan yang garing, kali ini Gunawan sedikit lebih serius.
"Biar dapat kerja, pak" tiga atau empat mahasiswa menjawab serentak.
Gunawan mengangguk dan mencoba memahami apa yang ada di benak mahasiswanya.
"Itu alasan yang tidak salah, tetapi coba direfleksikan dengan lebih mendalam, apakah bekerja benar-benar adalah tujuan akhir kalian, atau hanya cara untuk bertahan hidup?"
Tidak ada yang merespons tetapi hanya wajah-wajah penuh tanda tanya, entah heran atas sikap Gunawan atau benar-benar berpikir tentang jawaban.
Sore harinya, setelah kelas selesai. Gunawan memilih untuk tidak langsung pulang tetapi ia kembali membuka
laptopnya. File tulisan lama“Perbaikan Negara diawali dari Dunia Kampus” kembali
terbuka. Ia membaca paragraf pembuka, lalu menambahkan satu kalimat baru di
bawahnya:
“Mugnkin saja ide perbaikan negara tak akan pernah dimulai dari
dunia kampus seperti yang dikisahkan sejarah yang romantik, karena kampus sudah lebih dulu menjadi negara, lengkap dengan
pejabat, fraksi, dan rakyat kecilnya. Negara yang penuh dengan intrik dan melupakan bagaimana membangun manusianya”
Gunawan berhenti menatap layar yang memantulkan wajahnya. Entah kenapa, kali ini ia tidak merasa mual. Mungkin karena ia akhirnya berdamai dengan absurditas yang sedang dijalaninya. Berat, tetapi dia terlanjur setuju dengan Albert Camus bahwa absurditas kehidupan harus dijalani dengan riang gembira, toh akhirnya juga akan mati.
Di luar, Surabaya malam itu ramai, suara klakson, tawa anak muda, Bonek mania yang sedang menuju stadion, dan aroma hujan bercampur debu. Gunawan menutup laptopnya dan tersenyum kecil.
Ia tahu, kelelahan ini mungkin tak akan hilang. Tapi setidaknya ia kini mengerti tentang hidupanya,
"Bertahan pun bisa menjadi bentuk perlawanan."
No comments:
Post a Comment