Aku
bingung memulai dari mana tulisanku ini dalam rangka memperingati pertandingan
terakhir zanetti sebelum dia memutuskan pensiun akhir musim ini. Mungkin
sebagai pengantar, aku akan menceritakan Inter Milan sebagai klub Zanetti dan
juga merupakan klub favoritku sejak aku masih kecil sampai sekarang.
Aku
sudah menggandrungi olahraga sepakbola sejak aku masih bocah. Mungkin karena
pengaruh lingkungan dimana mayoritas anak laki di kampungku pasti suka
sepakbola. Pertandingan sepakbola di tv pun tak terlewatkan bahkan harus
begadang untuk menunggu siaran langsung di tengah malam saking sukanya pada
acara sepakbola. Masih sangat jelas kuingat, saat itu awal 2000an, kami sering
kumpul di rumah pamanku menonton karena saat itu masih jarang yang punya tv
lagian menonton bola tidak akan ramai jika sendirian.
Salah
satu pertandingan yang menguras emosi saat penentuan juara antara Inter Milan
dan Juventus. Saat itu Inter Milan sudah memimpin klasmen namun di pertandingan
terakhir harus menghadapi Lazio yang juga adalah klub kuat saat itu. Pada
akhirnya, dewi fortuna tidak berpihak pada Inter Milan karena mereka harus
menelan kekalahan 2-4. Mulai saat itulah aku sangat memfavoritkan Inter Milan,
entah karena kasihan ataupun memang saat itu Inter Milan bertabur pemain top
dunia.
Awal
tahun 2000an, aku mengikuti setiap berita tentang Inter Milan bahkan di setiap
pertandingannya, aku selalu menonton. Puasa gelar scudetto benar-benar dirasakan
Inter Milan di awal tahun 2000an. Meski sudah mendatangkan banyak pemain mahal yang
berlabel bintang namun tidak jua mampu mengantarkan Inter Milan merengkuh gelar
scudetto hingga puasa gelar itu terpuaskan pada musim 2006.
Diantara
pemain Inter Milan, ada dua yang amat aku idolakan. Alvaro Recoba dan Javier
Zanetti. Nama terakhirlah yang sampai sekarang menjadi legenda Inter Milan.
Sejak kedatangannya di Inter Milan pada tahun 1995, dia selalu setia pada klub
Nerazurri meski sudah menjelma menjadi bek ternama di blantika sepakbola dunia.
Pada masa krisis klub dan puasa gelar yang berkepanjangan, zanetti tetap setia
meski rekan-rekannya keluar dari klub karena berbagai alasan namun Zanetti lain
dari mereka. Inter Milan adalah rumah kedua baginya dan tidak akan pernah
meninggalkan klub itu. Sampai sekarang, dia disanjung baik oleh kawan maupun
lawan. Catatan kepribadiaannya pun amat sangat baik. Dia dikenal sebagai yang
low profie dan tidak cepat tersulut emosi.
Pertandingan
terakhirnya kemarin malam melawan Lazio di san siro benar-benar menguras emosi.
Semua fans mengucurkan air mata bahkan saat pertandingan berakhir, semua pemain
memeluknya sebagai salam perpisahan.
Zanetti
4ever
12.5.14

No comments:
Post a Comment