May 31, 2014

Bocah dan segelas kopi tumpah



Peristiwa ini terjadi sekitar dua bulan lalu saat aku  masih berada di surabaya. Seingatku waktu menjelang maghrib, aku mampir di sebuah indomaret tepat di jalan karang menjangan. Saat itu situasi di indomaret sangat ramai dan parkiran sangat penuh. Aku sampai harus mengantri di depan kasih beberapa menit untuk membayar jajan yang kubeli. Indomaret karang menjangan ini memang sering kali ramai pada sore hari karena berdekatan dengan beberapa warung.

Di depanku ada seorang ibu paruh baya dan seorang bocah perempuan yang lucu dan imut berusia sekitar 6 tahun, Biasanya di dekat kasir itu ada dispenser yang berisi kopi dan tinggal pencet lalu dibayar di kasir. Namanya anak-anak yang ingin mencoba dan tidak pikir panjang untuk melakukan sesuatu, tiba-tiba saja anak tersebut memencet dispenser itu. Si ibu sama sekali tidak menyadari namun kasir indomaret melihat dan mengejar si ibu yang sudah keluar dari indomaret dan meminta denda bayaran dari segelas kopi tersebut. Kuingat jelas harga kopi tersebut 5 ribu.

Si ibu yang panik dan mungkin sedikit malu kemudian kembali ke kasir membayar kopi tersebut. Dengan wajah yang amat sangat kesal, dia terburu-buru keluar dari indomaret dan menghampiri anaknya yang sudah menunggu di parkiran. Aku mengikutinya dan ingin tahu apa yang akan dilakukan terhadap anaknya dan benar dugaanku, dia parkiran dia memarahi dan membentak anaknya meski aku tidak mendengar apa yang dikatakan karena agak jauh namun dari gerak tubuh dan mimiknya dia begitu sangat marah terhadap anaknya

Melihat kejadian itu, aku hanya mengelus dada dan kasihan. Segelas kopi yang bahkan hanya berharga 5 ribu harus dibalas dengan pendidikan karakter yang tidak mendidik. Sering sekali aku menjumpai perlakuan seperti itu. Benarlah bahwa guru yang paling baik itu adalah orang tua dan aku percaya bahwa 90 % karakter anak ditentukan oleh pendidikan dari orang tuanya. Seringkali orang tua lebih mementingkan ego dari pada kasih sayang terhadap anaknya.  Ibu diatas tidak menyadari bahwa bentakannya kepada anaknya bahkan di kerumuman banyak orang sama sekali jauh tidak sebanding dengan uang 5 ribu. Dia tidak bisa membayar kelak karakter anaknya bahkan hanya dengan uang 5 ribu. Aku selalu ingat pesan Uztads Hamzah yang sekarang menjadi Pembina pesantren Immin Makassar bahwa seorang wanita hanya membutuhkun kasih sayang yang tulus untuk menjadi seorang isteri dan ibu tidak ada yang lain. Harus kuakui bahwa pernyataan itu benar. Ibu adalah penentu yang paling besar terhadap perkembangan karakter seorang anak. Ketika dia benar dalam mengurus anak maka seorang anak menjadi baik.

Nabi Muhammad pun pernah memarahi seorang ibu yang pipis di gendongannya. Dengan berujar bahwa bekas pipis itu bisa bersih dengan air namun bentakan terhadap anak sama sekali tidak bisa hilang seumur hidupnya. Beliau pun sangat menyayangi cucu-cucunya bahkan ketika shalat, Beliau pernah menggendong cucunya, namun kenapa orang tua sekarang dengan mudahnya memperlakukan anak-anaknya sesuka hati apalagi yang belum tahu apa-apa. Aku berdoa semoga isteriku kelak adalah isteri yang berhati tulus dan punya kasih sayang tanpa batas kepada anak-anaknya.


Cilandak, 31’5’14

No comments: