May 27, 2014

DIA ADALAH PEMBELAJAR HIDUP


Kita ada debu tak berbekas
Disapu angin dan menghilang sekejap
Kita adalah pembohong yang ulung
Meminta dengan harap kepadaNya kemudian maksiat
Apa yang mesti harus dibanggakan dengan semua ini
Dengan hampa yang serasa berisi
Beribu peringatan namun tak satupun yang menyadarkan
Serasa hati telah terkunci oleh kesombongan yang amat sangat
Entahlah namun tetap saja seperti itu bahkan untuk memikirkannya pun aku tak sanggung
Tak sanggup karena malu dan tak sanggup karena melampaui batas

Aku ingat dua puluh tahun lalu. sesosok bocah yang tahunya bermain.
Bermain apa saja yang bisa menyenangkan hati, saat perut lapar kemudian pulang dan setelah itu bermain lagi.
Tak peduli apapun yang terjadi
Aku ingat saat senja, dia bergegas pulang ke rumah kemudian mandi
Karena senja hari berarti waktu baginya mengaji iqra di surau.
Di malam hari, dia diajar membaca oleh ibu yang amat sangat disayanginya kemudian terlelap dengan buku-bukunya, begitulah dia sampai menginjak sma

Kuingat sepuluh tahun yang lalu, dia sudah bertumbuh menjadi remaja yang mulai berpikir.
Bermain bukan lagi dunianya karena ada dunia di depan yang mulai dia khawatirkan.
Kesenangan masa kecilnya terampas oleh baying-bayang masa depan yang kata orang masih kabur.
Ah seandainya dia tidak diajarkan seperti itu, dia akan tetap menjalani hidupnya dengan bersenang-senang

Kuingat tujuh tahun yang lalu. Dia sudah berstatus sebagai pelajar di tingkat perguruan. Katanya lebih banyak yang mesti dipelajari dan terlalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan berharap tidak dipandang sebagai mahasiswa kuper. Dia belajar banyak teori dan berlagak sebagai pembela rakyat
Namun pada akhirnya, setelah sampai saat ini dan masa depan yang akan dilaluinya
Dia mulai mengerti bahwa belajar bukan tentang baca buku, belajar bukan untuk dipandang cerdas.
Belajar adalah untuk memperbaiki diri
Mengenal diri dan bermanfaat untuk sesama




 

Cilandak, 27’5’14

No comments: