Kita ada debu tak berbekas
Disapu angin dan
menghilang sekejap
Kita adalah pembohong yang
ulung
Meminta dengan harap
kepadaNya kemudian maksiat
Apa yang mesti harus
dibanggakan dengan semua ini
Dengan hampa yang serasa
berisi
Beribu peringatan namun
tak satupun yang menyadarkan
Serasa hati telah terkunci
oleh kesombongan yang amat sangat
Entahlah namun tetap saja
seperti itu bahkan untuk memikirkannya pun aku tak sanggung
Tak sanggup karena malu
dan tak sanggup karena melampaui batas
Aku ingat dua puluh tahun
lalu. sesosok bocah yang tahunya bermain.
Bermain apa saja yang bisa
menyenangkan hati, saat perut lapar kemudian pulang dan setelah itu bermain
lagi.
Tak peduli apapun yang
terjadi
Aku ingat saat senja, dia
bergegas pulang ke rumah kemudian mandi
Karena senja hari berarti
waktu baginya mengaji iqra di surau.
Di malam hari, dia diajar
membaca oleh ibu yang amat sangat disayanginya kemudian terlelap dengan
buku-bukunya, begitulah dia sampai menginjak sma
Kuingat sepuluh tahun yang
lalu, dia sudah bertumbuh menjadi remaja yang mulai berpikir.
Bermain bukan lagi
dunianya karena ada dunia di depan yang mulai dia khawatirkan.
Kesenangan masa kecilnya
terampas oleh baying-bayang masa depan yang kata orang masih kabur.
Ah seandainya dia tidak
diajarkan seperti itu, dia akan tetap menjalani hidupnya dengan bersenang-senang
Kuingat tujuh tahun yang
lalu. Dia sudah berstatus sebagai pelajar di tingkat perguruan. Katanya lebih
banyak yang mesti dipelajari dan terlalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan
berharap tidak dipandang sebagai mahasiswa kuper. Dia belajar banyak teori dan
berlagak sebagai pembela rakyat
Namun pada akhirnya,
setelah sampai saat ini dan masa depan yang akan dilaluinya
Dia mulai mengerti bahwa
belajar bukan tentang baca buku, belajar bukan untuk dipandang cerdas.
Belajar adalah untuk
memperbaiki diri
Mengenal diri dan
bermanfaat untuk sesama
Cilandak, 27’5’14

No comments:
Post a Comment