Selalu saja ada hikmah yang kudapat ketika berbicara
dengan ayah, apapun itu. Aku memang sering menelepon ayah sekedar untuk melepas
kangen. Tadi aku meneleponnya sekitar setengah jam. Kami berbicara banyak dan
tentang apa saja bahkan tentang hidup. Dia menasehatiku banyak hal. Dia mengatakan bahwa jalani hidup dengan apa
adanya dan yakinlah bahwa ada Allah yang mengaturnya maka kita hanya menjalani
hidup dengan bersandar kepadaNya.
Tadi itu beliau banyak bercerita tentang makanan. Hal yang
beliau tekankan kepadaku adalah ketika mencari kerja, jangan sekali-kali
menyogok karena uang sogokan itu akan selalu mengalir dalam diri. Beliau juga
menekankan bahwa ketika mencari rejeki buat anak isteri maka jangan sekali-kali
mencari rejeki yang bersumber dari yang haram karena itu akan mendarah daging
dalam tubuh anak isteri dan menjadi tanggung jawab bagi dirimu. Beliau mencontohkan
bahwa dalam pembagian warisan, jangan sekali-kali mengambil yang bukan hakmu
karena yakinlah itu akan merusakmu. Satu satu hal yang menentukan dalam
pembentukan karakter anak manusia dari makanannya, apakah makanannya bersumber
dari yang halal ataukah dari yang haram.
Beliau juga menceritakan bahwa sama sekali tidak merasa
minder dengan kondisi rumah kami di kampung yang mulai rewot. Bagi bapak selama
rumah itu masih bisa dihuni maka patut untuk disyukuri karena semua itu pada
akhirnya akan ditinggalkan dan hanya akan menjadi puing belaka. Beliau sama
sekali tidak pernah menuntut banyak hal tentang duniawi ini karena baginya
kebahagiaan hakiki adalah bersama dengan Tuhan. Semua hal selalu saja menjadi
perhatiannya dan beliau tidak pernah lelah mengingatkan kami tentang apa saja
yang luput dari perhatian kami.
Terakhir inti dari percakapan kami adalah tentang sifat
dalam hati seseorang. Ketika dalam diri kita masih ada sifat rakus dan tidak
merasa puas akan apa yang dimiliki maka kita masih harus membersihkan hati. Sifat
seperti itu akan mendorong kita untuk terus mengumpulkan harta. Sifat seperti
itu pula menandakan seseorang bahwa dia belum bersyukur dan kemungkinan ketika
menjadi pejabat akan melakukan korupsi jika masih memiliki sifat seperti itu. Bahkan
juga ketika dalam hatinya masih ada bibit-bibit sifat rakus dan tidak pernah
puas maka yakinlah tidak ada yang bisa memuaskan atas kepemilikan duniawi ini. Dalam
bahasa duri dikenal dengan istilah madoang
mang’assang.
Cilandak,
21’5’14
Setelah
percakapan tadi pagi dengan sang Ayah

No comments:
Post a Comment