May 21, 2014

CERITA AYAH TENTANG BERSYUKUR


Selalu saja ada hikmah yang kudapat ketika berbicara dengan ayah, apapun itu. Aku memang sering menelepon ayah sekedar untuk melepas kangen. Tadi aku meneleponnya sekitar setengah jam. Kami berbicara banyak dan tentang apa saja bahkan tentang hidup. Dia menasehatiku banyak hal.  Dia mengatakan bahwa jalani hidup dengan apa adanya dan yakinlah bahwa ada Allah yang mengaturnya maka kita hanya menjalani hidup dengan bersandar kepadaNya.

Tadi itu beliau banyak bercerita tentang makanan. Hal yang beliau tekankan kepadaku adalah ketika mencari kerja, jangan sekali-kali menyogok karena uang sogokan itu akan selalu mengalir dalam diri. Beliau juga menekankan bahwa ketika mencari rejeki buat anak isteri maka jangan sekali-kali mencari rejeki yang bersumber dari yang haram karena itu akan mendarah daging dalam tubuh anak isteri dan menjadi tanggung jawab bagi dirimu. Beliau mencontohkan bahwa dalam pembagian warisan, jangan sekali-kali mengambil yang bukan hakmu karena yakinlah itu akan merusakmu. Satu satu hal yang menentukan dalam pembentukan karakter anak manusia dari makanannya, apakah makanannya bersumber dari yang halal ataukah dari yang haram.

Beliau juga menceritakan bahwa sama sekali tidak merasa minder dengan kondisi rumah kami di kampung yang mulai rewot. Bagi bapak selama rumah itu masih bisa dihuni maka patut untuk disyukuri karena semua itu pada akhirnya akan ditinggalkan dan hanya akan menjadi puing belaka. Beliau sama sekali tidak pernah menuntut banyak hal tentang duniawi ini karena baginya kebahagiaan hakiki adalah bersama dengan Tuhan. Semua hal selalu saja menjadi perhatiannya dan beliau tidak pernah lelah mengingatkan kami tentang apa saja yang luput dari perhatian kami.

Terakhir inti dari percakapan kami adalah tentang sifat dalam hati seseorang. Ketika dalam diri kita masih ada sifat rakus dan tidak merasa puas akan apa yang dimiliki maka kita masih harus membersihkan hati. Sifat seperti itu akan mendorong kita untuk terus mengumpulkan harta. Sifat seperti itu pula menandakan seseorang bahwa dia belum bersyukur dan kemungkinan ketika menjadi pejabat akan melakukan korupsi jika masih memiliki sifat seperti itu. Bahkan juga ketika dalam hatinya masih ada bibit-bibit sifat rakus dan tidak pernah puas maka yakinlah tidak ada yang bisa memuaskan atas kepemilikan duniawi ini. Dalam bahasa duri dikenal dengan istilah madoang mang’assang.


Cilandak, 21’5’14
Setelah percakapan tadi pagi dengan sang Ayah

No comments: