Tulisan ini sebenarnya adalah pengantar sebuah buku yang
kutulis beberapa bulan terakhir. Buku yang berupa kumpulan tulisan dari setiap
kejadian yang kualami. Buku ini terinspirasi dari bukunya Dewi Lestari yang
berjudul filosofi Kopi. buku itu kusiapkan sebagai kado untuk WPS sehingga sebagian besar kisah di dalamnya kutulis mengenai wps.
#sebuah Pengantar
Tak ada yang
rahasia pada diri Tuhan tapi agaknya kita yang sombong. Banyak berfikir tapi
tidak dilakukan, sedang yang dikerjakan tak pernah difikirkan. Kebenaran tidak
mudah ditemukan sebab keadilan Tuhan telah sungguh memberikan keistimewaan bagi
semuanya tak terkecuali bagi yang salah. (Buat sang fajar dan bumiku tercinta,
karya Miftahul Huda Ms.)
Kumpulan tulisan ini sekilas saja menyeruak di
kepalaku sesaat setelah membaca buku karangan Dewi Lestari Filosofi Kopi. Kumpulan hikmah berserakan yang ternyata ada di sekitar
kita tanpa harus susah payah berkontemplasi dalam kegelapan malam untuk
mendapatkan ide menulis. Bahkan dalam setiap perjalanan hidup yang dijalani
selalu saja menyajikan pelajaran-pelajaran berharga tinggal bagaimana kita mengambil
dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk hidup kedepannya.
Hal itu pulalah yang menginspirasiku dalam memeluk
setiap hikmah yang kutemui setiap saat. Memang tidak mudah untuk mengartikan
semua kejadian yang dialami dan memetik hikmah yang terkandung di dalamnya
karena akan banyak interpretasi namun dengan sedikit berpikir dan membaca
fenomena maka setiap kejadian yang dialami benar-benar menyimpan hikmah yang
tidak sia-sia ketika kita mau belajar karena sejatinya belajar bukanlah tentang
membaca dan menulis namun belajar yang sesungguhnya adalah membuka hati dan
memahami hidup yang sedang dijalani.
Setiap dari apa saja yang dihadirkan oleh Tuhan ke
dunia ini pasti memiliki peran demi kelangsungan semesta. Jangankan manusia
bahkan semut sebagai makhluk kecil pun mempunyai peran yang sangat vital.
Bagaimana semut mengajarkan kepada manusia tentang pentingnya gotong royong
dalam mengerjakaan semua pekerjaan yang mungkin dianggap berat. Bagaimana lebah
mengajarkan manusia tentang kesetiaan dan pengorbanan bahkan itik yang
mengajarkan bagaimana kedisiplinan. Jadi amat sangat tidak arif jika ada
seseoarang yang merasa tidak mempunyai arti hidup di dunia ini dan berniat
untuk mengakhiri hidupnya.
Kita diajarkan untuk mengenal diri dan melalui
pengenalan diri tersebut kita akan mengenal Tuhan. Diri kita adalah sejatinya
adalah mikrokosmos. Semua terdapat di dalamnya dan menunggu untuk dimengerti. Orang
yang mencari kebahagiaan dengan jalan meninggalkan dirinya sama saja dengan
mencari semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Kebahagiaan itu terdapat di dalam hati setiap
manusia tinggal bagaimana mereka menundukkan diri untuk mengenali diri kemudian
berdamai dengan diri yang pada akhirnya mendamaikan hati. Dan itulah
kebahagiaan yang sejati.
Konon misteri kehidupan yang sedang kita jalani
sekarang akan terungkap ketika kita sudah meninggal, Semua yang menjadi
pertanyaan semasa hidup akan terjawab dan di setiap jawaban itu ternyata semua
hal yang terjadi adalah yang terbaik kepada kita. Keinginan-keinginan manusia
yang tidak terwujud sejatinya bahwa itu tidak baik untuk dirinya meski dalam
pemikiran manusia, itu adalah hal yang terbaik. Sehingga dalam hidup ini
seharusnya yang manusia lakukan adalah penerimaan yang ikhlas. Maksud dari
penerimaan yang ikhlas bukan berarti pasrah namun lebih kepada hasil dari
ikhtiar dan tawakkal. Setelah melalui proses tersebut maka manusia seharusnya
menyerahkan hasilnya kepada Tuhan dan menerima setiap keputusan yang terjadi.
ada sebagian orang-orang terpilih yang sudah mengetahui semua tabir kehidupan
saat hidup dan mereka itulah wali Allah dan tidak sedikitpun kekhawatiran dalam
diri mereka menjalani hidup.
Hidup akan menjadi indah ketika kita bisa mengerti
dan memahami setiap hikmah dari kejadian yang dialami karena sesungguhnya hidup
itu bahagia dan bahagia itu bukan tentang duniawi yang kasat mata namun tentang
hati yang mengerti akan kehidupan, mengerti akan dirinya dalam melangkah dan
paham untuk apa dia berada di dunia ini. Dalam artian dia mengetahui dengan
pasti apa yang harus dilakukannya dan karya apa yang akan dilahirkannya.
Dari prinsip penerimaan yang ikhlas maka dalam hidup
manusia tidak akan ada lagi kata “seandainya”, hidup ini adalah sebuah realita
maka kata seandainya adalah kata-kata penyesalan ataupun putus asa dari manusia
yang tidak mampu menerima dengan ikhlas setiap keputusan dari Langit.
Sudah begitu banyak contoh tentang hikmah yang tidak
kasat mata. Sejarah yang paling terkenal dan diceritakan dalam Al-Qur’an adalah
Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidir. Sejarah tersebut mengajarkan kepada
kita bahwa setiap yang kasat mata seringkali bukanlah hal terbaik. Atau contoh
yang paling dekat dengan kita adalah bagaimana ketika seorang anak kecil saat
sakit merasa di dzalimi oleh orang tua ketika diberi obat yang amat sangat
pahit namun dalam kasus ini, si anak itu tidak menyadari bahwa obat yang pahit
itu adalah yang terbaik untuk dirinya demi kesembuhannya.
Dibalik setiap kejadian selalu saja menyimpan
jawaban yang sesungguhnya. Manusia yang arif adalah manusia yang selalu
berfikir positif terhadap setiap keputusan dari Tuhannya. Tidak pernah mengikuti
hawa nafsu untuk menuntut sesuatu terjadi sesuai keinginannya. Seperti itulah
kita akan belajar dengan sebaik-baiknya tentang hidup yang hakiki bukan tentang
apa-apa yang kasat mata karena seringkali yang kasat mata itu adalah absurd.
Jojoran 3/61
24’3’14

No comments:
Post a Comment