May 27, 2014

SEBUAH PENGANTAR


Tulisan ini sebenarnya adalah pengantar sebuah buku yang kutulis beberapa bulan terakhir. Buku yang berupa kumpulan tulisan dari setiap kejadian yang kualami. Buku ini terinspirasi dari bukunya Dewi Lestari yang berjudul filosofi Kopi. buku itu kusiapkan sebagai kado untuk WPS sehingga sebagian besar kisah di dalamnya kutulis mengenai wps.

#sebuah  Pengantar
Tak ada yang rahasia pada diri Tuhan tapi agaknya kita yang sombong. Banyak berfikir tapi tidak dilakukan, sedang yang dikerjakan tak pernah difikirkan. Kebenaran tidak mudah ditemukan sebab keadilan Tuhan telah sungguh memberikan keistimewaan bagi semuanya tak terkecuali bagi yang salah. (Buat sang fajar dan bumiku tercinta, karya Miftahul Huda Ms.)

Kumpulan tulisan ini sekilas saja menyeruak di kepalaku sesaat setelah membaca buku karangan Dewi Lestari Filosofi Kopi. Kumpulan hikmah berserakan yang ternyata ada di sekitar kita tanpa harus susah payah berkontemplasi dalam kegelapan malam untuk mendapatkan ide menulis. Bahkan dalam setiap perjalanan hidup yang dijalani selalu saja menyajikan pelajaran-pelajaran berharga tinggal bagaimana kita mengambil dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk hidup kedepannya. 

Hal itu pulalah yang menginspirasiku dalam memeluk setiap hikmah yang kutemui setiap saat. Memang tidak mudah untuk mengartikan semua kejadian yang dialami dan memetik hikmah yang terkandung di dalamnya karena akan banyak interpretasi namun dengan sedikit berpikir dan membaca fenomena maka setiap kejadian yang dialami benar-benar menyimpan hikmah yang tidak sia-sia ketika kita mau belajar karena sejatinya belajar bukanlah tentang membaca dan menulis namun belajar yang sesungguhnya adalah membuka hati dan memahami hidup yang sedang dijalani.
Setiap dari apa saja yang dihadirkan oleh Tuhan ke dunia ini pasti memiliki peran demi kelangsungan semesta. Jangankan manusia bahkan semut sebagai makhluk kecil pun mempunyai peran yang sangat vital. Bagaimana semut mengajarkan kepada manusia tentang pentingnya gotong royong dalam mengerjakaan semua pekerjaan yang mungkin dianggap berat. Bagaimana lebah mengajarkan manusia tentang kesetiaan dan pengorbanan bahkan itik yang mengajarkan bagaimana kedisiplinan. Jadi amat sangat tidak arif jika ada seseoarang yang merasa tidak mempunyai arti hidup di dunia ini dan berniat untuk mengakhiri hidupnya.

Kita diajarkan untuk mengenal diri dan melalui pengenalan diri tersebut kita akan mengenal Tuhan. Diri kita adalah sejatinya adalah mikrokosmos. Semua terdapat di dalamnya dan menunggu untuk dimengerti. Orang yang mencari kebahagiaan dengan jalan meninggalkan dirinya sama saja dengan mencari semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam.  Kebahagiaan itu terdapat di dalam hati setiap manusia tinggal bagaimana mereka menundukkan diri untuk mengenali diri kemudian berdamai dengan diri yang pada akhirnya mendamaikan hati. Dan itulah kebahagiaan yang sejati. 

Konon misteri kehidupan yang sedang kita jalani sekarang akan terungkap ketika kita sudah meninggal, Semua yang menjadi pertanyaan semasa hidup akan terjawab dan di setiap jawaban itu ternyata semua hal yang terjadi adalah yang terbaik kepada kita. Keinginan-keinginan manusia yang tidak terwujud sejatinya bahwa itu tidak baik untuk dirinya meski dalam pemikiran manusia, itu adalah hal yang terbaik. Sehingga dalam hidup ini seharusnya yang manusia lakukan adalah penerimaan yang ikhlas. Maksud dari penerimaan yang ikhlas bukan berarti pasrah namun lebih kepada hasil dari ikhtiar dan tawakkal. Setelah melalui proses tersebut maka manusia seharusnya menyerahkan hasilnya kepada Tuhan dan menerima setiap keputusan yang terjadi. ada sebagian orang-orang terpilih yang sudah mengetahui semua tabir kehidupan saat hidup dan mereka itulah wali Allah dan tidak sedikitpun kekhawatiran dalam diri mereka menjalani hidup.

Hidup akan menjadi indah ketika kita bisa mengerti dan memahami setiap hikmah dari kejadian yang dialami karena sesungguhnya hidup itu bahagia dan bahagia itu bukan tentang duniawi yang kasat mata namun tentang hati yang mengerti akan kehidupan, mengerti akan dirinya dalam melangkah dan paham untuk apa dia berada di dunia ini. Dalam artian dia mengetahui dengan pasti apa yang harus dilakukannya dan karya apa yang akan dilahirkannya.

Dari prinsip penerimaan yang ikhlas maka dalam hidup manusia tidak akan ada lagi kata “seandainya”, hidup ini adalah sebuah realita maka kata seandainya adalah kata-kata penyesalan ataupun putus asa dari manusia yang tidak mampu menerima dengan ikhlas setiap keputusan dari Langit. 

Sudah begitu banyak contoh tentang hikmah yang tidak kasat mata. Sejarah yang paling terkenal dan diceritakan dalam Al-Qur’an adalah Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidir. Sejarah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa setiap yang kasat mata seringkali bukanlah hal terbaik. Atau contoh yang paling dekat dengan kita adalah bagaimana ketika seorang anak kecil saat sakit merasa di dzalimi oleh orang tua ketika diberi obat yang amat sangat pahit namun dalam kasus ini, si anak itu tidak menyadari bahwa obat yang pahit itu adalah yang terbaik untuk dirinya demi kesembuhannya. 

Dibalik setiap kejadian selalu saja menyimpan jawaban yang sesungguhnya. Manusia yang arif adalah manusia yang selalu berfikir positif terhadap setiap keputusan dari Tuhannya. Tidak pernah mengikuti hawa nafsu untuk menuntut sesuatu terjadi sesuai keinginannya. Seperti itulah kita akan belajar dengan sebaik-baiknya tentang hidup yang hakiki bukan tentang apa-apa yang kasat mata karena seringkali yang kasat mata itu adalah absurd.


Jojoran 3/61
24’3’14  

No comments: