May 26, 2014

KAWAN DARI JEPANG


Ini cerita tentang orang Jepang yang sering kujumpai di indomaret genteng ijo. Secara kebetulan kami berkenalan. Ceritanya seperti ini, Beberapa minggu lalu, dia menegurku dan meminta untuk menjelaskan synopsis sebuah film Indonesia yang berjudul sebelum pagi datang kembali. Ternyata dia adalah penyuka film dan saat itu dia ingin menghabiskan weekendnya dengan menonton film namun terlebih dulu dia browsing tentang film yang tayang hari itu. Tiba-tiba saja dia browsing tentang film tersebut dan sinopsisnya hanya tersedia dalam bahasa Indonesia. Dia tidak mengerti bahasa Indonesia maka dia memintaku untuk menjelaskan cerita film tersebut. Dengan bahasa inggris yang seadanya, aku menjelaskan tentang cerita film tersebut alhasil dia akhirnya tertarik dan menonton film tersebut dan mulai saat itu, kami selalu smsan.

Oh ya, sampai lupa menulis namanya. saat berkenalan, dia hanya bilang namaku Nao alhasil sampai sekarang aku memanggilnya dengan nama tersebut. Setelah pertemuan pertama tersebut, kami seringkali bertemu di indomaret sekedar untuk bertukar cerita. Dia bekerja di sebuah klinik di bilangan sudirman. kami terkadang bertemu saat malam hari karena dia bekerja sampai malam. Pernah suatu waktu, kami berbicara banyak tentang negaranya, aku mengatakan bahwa negaranya dikenal sebagai Negara yang maju di kancah internasional namun ternyata jawabannya diluar prediksiku. Dia bilang jepang saat ini sedang dalam masa krisis, banyak hal yang mengindikasikan kondisi tersebut. Bahkan menurutnya lagi, meski masyarakat jepang mengaku beragama namun sesungguhnya uang adalah segalanya di jepang dan dalam pikiran orang jepang hanya bekerja dan bekerja bahkan menurutnya lagi setiap hari pasti ada orang yang bunuh diri karena stress dan tekanan kerja yang begitu mengerikan.

Di pertemuan lain waktu. Kami bercerita tentang kehidupan pribadi. Dia menanyakan kepadaku bahwa apakah aku bahagia mempunyai pasangan dan tentu saja aku menjawab sangat bahagia kemudian dia bertanya lagi apakah aku berniat menikah dan jelas saja kujawab iya. Memang di masyarakat jepang, menikah bukanlah hal yang terlalu pentign dan bahkan dalam urusan biologis, mereka bisa memuaskan kapan saja tanpa ada larangan dari siapapun. Di umurnya yang mungkin sudah diatas 30 tahun, dia belum juga menikah dan bahkan dari ceritanya belum ada niat kea rah pernikahan.

Beberapa hari yang lalu, dia mengirimiku sms dan minta tolong dipinjamkan laptop. Aku dengan senang hati meninjamkannya laptop dan ternyata dia butuh laptop untuk mengupdate CV nya. Alhasil kutanyakan akan hal itu dan dia bercerita bahwa memang kontraknya di klinik akan berakhir dua minggu ke depan dan kemungkinan dia harus pulang ke jepang untuk beberapa saat dan jika ada kesempatan untuk kembali ke Indonesia maka dia dengan senang hati akan kembali ke sini.




kawan Nao lagi memesan nasi di warung genteng ijo

Cilandak, 26’5’14

No comments: