Ini cerita tentang orang Jepang yang sering kujumpai di
indomaret genteng ijo. Secara kebetulan kami berkenalan. Ceritanya seperti ini,
Beberapa minggu lalu, dia menegurku dan meminta untuk menjelaskan synopsis sebuah
film Indonesia yang berjudul sebelum pagi datang kembali. Ternyata dia adalah
penyuka film dan saat itu dia ingin menghabiskan weekendnya dengan menonton
film namun terlebih dulu dia browsing tentang film yang tayang hari itu. Tiba-tiba
saja dia browsing tentang film tersebut dan sinopsisnya hanya tersedia dalam
bahasa Indonesia. Dia tidak mengerti bahasa Indonesia maka dia memintaku untuk
menjelaskan cerita film tersebut. Dengan bahasa inggris yang seadanya, aku
menjelaskan tentang cerita film tersebut alhasil dia akhirnya tertarik dan
menonton film tersebut dan mulai saat itu, kami selalu smsan.
Oh ya, sampai lupa menulis namanya. saat berkenalan, dia
hanya bilang namaku Nao alhasil sampai sekarang aku memanggilnya dengan nama
tersebut. Setelah pertemuan pertama tersebut, kami seringkali bertemu di
indomaret sekedar untuk bertukar cerita. Dia bekerja di sebuah klinik di
bilangan sudirman. kami terkadang bertemu saat malam hari karena dia bekerja
sampai malam. Pernah suatu waktu, kami berbicara banyak tentang negaranya, aku
mengatakan bahwa negaranya dikenal sebagai Negara yang maju di kancah
internasional namun ternyata jawabannya diluar prediksiku. Dia bilang jepang
saat ini sedang dalam masa krisis, banyak hal yang mengindikasikan kondisi
tersebut. Bahkan menurutnya lagi, meski masyarakat jepang mengaku beragama
namun sesungguhnya uang adalah segalanya di jepang dan dalam pikiran orang
jepang hanya bekerja dan bekerja bahkan menurutnya lagi setiap hari pasti ada
orang yang bunuh diri karena stress dan tekanan kerja yang begitu mengerikan.
Di pertemuan lain waktu. Kami bercerita tentang kehidupan
pribadi. Dia menanyakan kepadaku bahwa apakah aku bahagia mempunyai pasangan
dan tentu saja aku menjawab sangat bahagia kemudian dia bertanya lagi apakah
aku berniat menikah dan jelas saja kujawab iya. Memang di masyarakat jepang,
menikah bukanlah hal yang terlalu pentign dan bahkan dalam urusan biologis,
mereka bisa memuaskan kapan saja tanpa ada larangan dari siapapun. Di umurnya
yang mungkin sudah diatas 30 tahun, dia belum juga menikah dan bahkan dari
ceritanya belum ada niat kea rah pernikahan.
Beberapa hari yang lalu, dia mengirimiku sms dan minta
tolong dipinjamkan laptop. Aku dengan senang hati meninjamkannya laptop dan
ternyata dia butuh laptop untuk mengupdate CV nya. Alhasil kutanyakan akan hal
itu dan dia bercerita bahwa memang kontraknya di klinik akan berakhir dua
minggu ke depan dan kemungkinan dia harus pulang ke jepang untuk beberapa saat dan
jika ada kesempatan untuk kembali ke Indonesia maka dia dengan senang hati akan
kembali ke sini.
kawan Nao lagi memesan nasi di warung genteng ijo
Cilandak, 26’5’14

No comments:
Post a Comment