Ini tentang percakapan
dengan Nasrullah beberapa hari yang lalu. Kebiasaan kami memang selalu bertukar
pikiran dan saling memberi saran. Ada satu hikmah yang patut diaplikasikan dari
pembicaraan kami. Nasrullah bertutur banyak tentang kesimpulan-kesimpulan yang
terjadi dalam hidupnya selama ini, tentang kegagalan dan keberhasilannya.
Dia menceritakan saat dia
ingin menikah. Niatnya untuk menikah sudah memenuhi rongga kepalanya namun
calon dan uang panai saat itu belum ada. Perlu diketahui, di masyarakat Bugis,
uang pana’i adalah salah satu factor penentu bagi laki-laki untuk menikah. Menurutnya,
dia memperkencang doanya dan mengandalkan kekuatan Allah. Dia mengakui bahwa
dia ingin menikah namun sama sekali belum cukup modal dan apatahlagi belum
mempunya calon. Namun begitulah kekuasaan Allah, serasa dengan berjalan sendiri
akhirnya dia bisa menikah dengan cara yang tidak disangka-sangka. Dia mengambil
hikmah dari sini bahwa mengandalkan Allah melebihi dari segalanya dan
meniadakan kekuatan kita adalah hal yang mutlak untuk ditempuh.
Cerita kedua dari Nasrullah saat
dia pulang dari jepang. Dia berniat untuk mendaftar di beberapa tempat. Beberapa
teman dekatnya mendukung rencananya untuk mendaftar di beberapa tempat dan
bahkan teman-temannya merasa sangat optimis karena nasrullah sudah mempunyai
sertifikat dari jepang sehingga kemungkinan untuk lulus sangatlah besar. Nasrullah
pun begitu adanya namun hingga beberapa tempat yang dicoba namun tidak satupun
yang memanggilnya untuk tes. Pelajaran yang dia sampaikan disini bahwa dia
terlalu mengandalkan dirinya dan sudah melupakan kekuatan Allah.
Mungkin kondisi seperti ini
pulalah yang sedan kualami. Ada keinginan untuk menikah namun ada variabel yang
belum terpenuhi dan seharusnya semua itu kupasrahkan kepada Allah karena
sesungguhnya ketika memang belum waktunya maka ketentuan Allah tidak bisa
terlaksana. Selayaknya bahwa semua hal dipasrahkan kepada Allah ketika kita
sudah melakukan ikhtiar dan biarkanlah cerita Allah yang berjalan sesuai
rencanaNya.
Sadar atau tidak bahwa
sebagai manusia yang mengaku beragama Islam dan percaya penuh kepada Allah maka
tidak selayaknya kita mengandalkan diri kita dalam mengusahakan sesuatu karena
sesungguhnya kita tidak punya apa-apa dan tidak ada sesuatupun yang terjadi
tanpa izin dari Allah. Banyak sekali kasus yang relevan dengan cerita dari
ullah. Terkadang kita meremehkan seseorang namun pada akhirnya dia memperoleh
lebih dari kita dalam artian dia lebih berhasil dari kita sedangkan terkadang
pula kita mengagumi seseorang karena kepandaiannya namun pada akhirnya tidak
mendapatkan apa-apa. Mungkin saja ini terletak pada kepasraan kepada Allah SWT.
Nb. cerita diatas kutulis
ulang dari percakapan saya dengan nasrullah.
Cilandak, 23’5’14

No comments:
Post a Comment