May 23, 2014

TENTANG PERCAKAPAN DENGAN KAWAN


Ini tentang percakapan dengan Nasrullah beberapa hari yang lalu. Kebiasaan kami memang selalu bertukar pikiran dan saling memberi saran. Ada satu hikmah yang patut diaplikasikan dari pembicaraan kami. Nasrullah bertutur banyak tentang kesimpulan-kesimpulan yang terjadi dalam hidupnya selama ini, tentang kegagalan dan keberhasilannya.

Dia menceritakan saat dia ingin menikah. Niatnya untuk menikah sudah memenuhi rongga kepalanya namun calon dan uang panai saat itu belum ada. Perlu diketahui, di masyarakat Bugis, uang pana’i adalah salah satu factor penentu bagi laki-laki untuk menikah. Menurutnya, dia memperkencang doanya dan mengandalkan kekuatan Allah. Dia mengakui bahwa dia ingin menikah namun sama sekali belum cukup modal dan apatahlagi belum mempunya calon. Namun begitulah kekuasaan Allah, serasa dengan berjalan sendiri akhirnya dia bisa menikah dengan cara yang tidak disangka-sangka. Dia mengambil hikmah dari sini bahwa mengandalkan Allah melebihi dari segalanya dan meniadakan kekuatan kita adalah hal yang mutlak untuk ditempuh.

Cerita kedua dari Nasrullah saat dia pulang dari jepang. Dia berniat untuk mendaftar di beberapa tempat. Beberapa teman dekatnya mendukung rencananya untuk mendaftar di beberapa tempat dan bahkan teman-temannya merasa sangat optimis karena nasrullah sudah mempunyai sertifikat dari jepang sehingga kemungkinan untuk lulus sangatlah besar. Nasrullah pun begitu adanya namun hingga beberapa tempat yang dicoba namun tidak satupun yang memanggilnya untuk tes. Pelajaran yang dia sampaikan disini bahwa dia terlalu mengandalkan dirinya dan sudah melupakan kekuatan Allah.

Mungkin kondisi seperti ini pulalah yang sedan kualami. Ada keinginan untuk menikah namun ada variabel yang belum terpenuhi dan seharusnya semua itu kupasrahkan kepada Allah karena sesungguhnya ketika memang belum waktunya maka ketentuan Allah tidak bisa terlaksana. Selayaknya bahwa semua hal dipasrahkan kepada Allah ketika kita sudah melakukan ikhtiar dan biarkanlah cerita Allah yang berjalan sesuai rencanaNya.

Sadar atau tidak bahwa sebagai manusia yang mengaku beragama Islam dan percaya penuh kepada Allah maka tidak selayaknya kita mengandalkan diri kita dalam mengusahakan sesuatu karena sesungguhnya kita tidak punya apa-apa dan tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa izin dari Allah. Banyak sekali kasus yang relevan dengan cerita dari ullah. Terkadang kita meremehkan seseorang namun pada akhirnya dia memperoleh lebih dari kita dalam artian dia lebih berhasil dari kita sedangkan terkadang pula kita mengagumi seseorang karena kepandaiannya namun pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Mungkin saja ini terletak pada kepasraan kepada Allah SWT.



Nb. cerita diatas kutulis ulang dari percakapan saya dengan nasrullah.

Cilandak, 23’5’14

No comments: