May 7, 2014

CERITA DALAM JALANAN #5


Mungkin itu menulis edisi cerita dalam jalanan ini tak aka nada habisnya. Mobilitas yang tinggi di kota ini telah membuat masyarakatnya menjadi amat sangat individualis bahkan sangat sulit untuk mengerti orang di sekitarnya. Bukan untuk mengeneralisir orang-orang disini dalam apa yang kutulis benar-benar adalah fenomena yang kujumpai di setiap waktu saat aku mengarungi jalanan ini meski itu sangat subjektif karena mungkin saja ada di bagian kota ini orang-orang baik
Beberapa waktu lalu saat mengantar windi ke kosnya, aku melewati jalanan kompas dari kuningan menuju mampang. Jalanan yang sangat padat di bilangan rasuna said mengharuskanku melewati jalanan kecil untuk sampai di mampang. Melewati samping jembatan fly over di mampang, jalanan kembali padat. Seorang pengendara motor matic di depanku terkesan terburu-buru, meski semua pengendara di kota ini seakan berlari mengejar waktu, dia selalu ingin menyalip kendaraan di depannya. Sebuah taxi express yang akan berbelok menghalangi jalannya, dengan kesalnya si pengendara matic itu berteriak kepada sopir taxi,” woeyyy, gue duluan donggg.” Si sopir taxi kemudian mundur sedikit dan memberi jalan kepada si pengendara motor. Aku yang tepat berada di belakangnya merasa miris karena menurutu, jelas sekali bahwa si pengendara motor yang tergesa-gesa sedangkan si sopir taxi hanya diam. 

Mungkin saja si pengendara motor itu tergesa-gesa untuk pulang ke rumah bertemu anak isteri setelah penat bekerja seharian namun tidakkah dia mengerti bahwa si sopir taxi harus banting tulang mengejar setoran bahkan sampai larut malam. Dia harus berjuang memutari kota ini yang padat untuk tetap bertahan hidup sedangkan mungkin pengendara motor sama sekali tidak mau mengerti. 

Kota ini sesungguhnya memberi kita ruang untuk belajar bersabar. Ujian kesabaran sesungguhnya disajikan ketika kita berkendara di kota ini apatahlagi ketika kita mendapatkan perlakuan yang semena-mena dari pengendara lain bahkan di kota ini, dengan begitu mudahnya orang-orang mencaci, mengumpat bahkan bertindak fisik kepada orang lain hanya karena masalah kecil. Hidup bagi mereka hanya untuk mereka tanpa harus mengerti orang di sekitarnya.


Cilandak, 7 mei 2014
Catatan tertinggal

No comments: