Mungkin
itu menulis edisi cerita dalam jalanan ini tak aka nada habisnya. Mobilitas yang
tinggi di kota ini telah membuat masyarakatnya menjadi amat sangat individualis
bahkan sangat sulit untuk mengerti orang di sekitarnya. Bukan untuk
mengeneralisir orang-orang disini dalam apa yang kutulis benar-benar adalah
fenomena yang kujumpai di setiap waktu saat aku mengarungi jalanan ini meski
itu sangat subjektif karena mungkin saja ada di bagian kota ini orang-orang
baik
Beberapa
waktu lalu saat mengantar windi ke kosnya, aku melewati jalanan kompas dari
kuningan menuju mampang. Jalanan yang sangat padat di bilangan rasuna said
mengharuskanku melewati jalanan kecil untuk sampai di mampang. Melewati samping
jembatan fly over di mampang, jalanan kembali padat. Seorang pengendara motor
matic di depanku terkesan terburu-buru, meski semua pengendara di kota ini
seakan berlari mengejar waktu, dia selalu ingin menyalip kendaraan di depannya.
Sebuah taxi express yang akan berbelok menghalangi jalannya, dengan kesalnya si
pengendara matic itu berteriak kepada sopir taxi,” woeyyy, gue duluan donggg.” Si
sopir taxi kemudian mundur sedikit dan memberi jalan kepada si pengendara
motor. Aku yang tepat berada di belakangnya merasa miris karena menurutu, jelas
sekali bahwa si pengendara motor yang tergesa-gesa sedangkan si sopir taxi
hanya diam.
Mungkin
saja si pengendara motor itu tergesa-gesa untuk pulang ke rumah bertemu anak
isteri setelah penat bekerja seharian namun tidakkah dia mengerti bahwa si
sopir taxi harus banting tulang mengejar setoran bahkan sampai larut malam. Dia
harus berjuang memutari kota ini yang padat untuk tetap bertahan hidup sedangkan
mungkin pengendara motor sama sekali tidak mau mengerti.
Kota ini
sesungguhnya memberi kita ruang untuk belajar bersabar. Ujian kesabaran
sesungguhnya disajikan ketika kita berkendara di kota ini apatahlagi ketika
kita mendapatkan perlakuan yang semena-mena dari pengendara lain bahkan di kota
ini, dengan begitu mudahnya orang-orang mencaci, mengumpat bahkan bertindak
fisik kepada orang lain hanya karena masalah kecil. Hidup bagi mereka hanya
untuk mereka tanpa harus mengerti orang di sekitarnya.
Cilandak,
7 mei 2014
Catatan
tertinggal

No comments:
Post a Comment