May 31, 2014

Gadis tak dianggap


tulisan ini adalah refleksi dari perasaan gadis yang mengirimi pesan bbm semalam bahwa dia merasa paling tidak bisa dan bahkan merasa tidak dianggap oleh kelompoknya di prajabatan yang sedang dijalaninya. Penuturannya yang jujur bahwa hal ini berkaitan dengan sifatnya yang pendiam dan jarang sekali tampil sebagai pembicara atau bahkan mengeluarkan pendapat di forum. Dalam kerja-kerja kelompok pun dia terkadang dianggap sebagai figuran karena semua teman-temannya mempunyai retorika yang bagus dan mempesona.

Persoalan ini sebenarnya ada pada sebagian besar orang apalagi yang mempunyai sifat dasar pemalu tak terkecuali aku. Saat SMA dulu aku begitu pemalu bahkan terkadang saat tampil di depan wajahku akan berubah warna menjadi merah padam dan alhasil aku akan diledek habis-habisan oleh teman-temanku. Ada rasa yang amat sangat tidak menyenangkan memang saat itu namun pilihanku saat itu adalah tetap menjadi diriku dan belajar lebih tekun, setidaknya aku sedikit diperhitungkan dalam hal pelajaran.

Setelah menginjakkan kaki dibangku kuliah, aku bertekad kuat untuk berubah sikap menjadi lebih pede. Awalnya aku ikut organisasi dan ternyata it works. Di beberapa organisasi kampus, setidaknya tidak ada ledekan yang aku terima bahkan di forum-forum aku dengan begitu entengnya berpendapat apa saja semauku tanpa harus was-was akan diledek seperti waktu di SMA bahkan di beberapa kesempatan aku menjadi pemateri di forum diskusi yang pada waktu SMA sama sekali tidak bisa kubayangkan.

Setelah sarjana, aku sering merenungkan perjalananku dan beberapa kesimpulan yang kuambil adalah dalam sebuah kelompok itu sama sekali tidak ada yang figuran. Aku juga sering merefleksikan diriku di SMA bahwa kebanyakan dari kita yang meledek orang lain itu karena kita ingin menutupi kekurangan ataupun bahkan ingin menjadi seperti mereka namun tidak bisa.

Menjadi pemalu atau bahkan tidak menonjol sama sekali bukan aib bahkan itu adalah sebuah kelebihan karena disitulah kita bisa membiasakan diri untuk bekerja dengan ikhlas. Orang yang sering dipuji atau bahkan dianggap jago dalam sebuah kelompok amat sangat riskan menjadi sombong dan merendahkan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak dianggap dan sering diledek sangat besar peluang untuk belajar bagaimana menghargai orang dan juga membiasakan diri bersifat rendah hati tapi tidak rendah diri.

Ada beberapa kisah tentang kejadian seperti ini dan terjadi dimana-mana. Dulu, ketika Gusdur menjadi presiden, Beliau pernah keluar dari istana memakai kaos oblong dan celana pendek, berselang beberapa waktu saat Beliau sudah tidak menjadi presiden dan diundang ke acara kick andy, Beliau ditanya alasan kenapa memakai celana pendek di depan istana. Dengan enteng Beliau menjawab “ supaya saya tidak dianggap menjadi presiden dan hati menjadi dingin.” Meski aku rasa ada alasan filosofi lain yang terkandung di dalamnya namun kurasa bahwa jawaban tersebut adalah ajaran bagaimana kita tawaddu.

Cerita kedua, aku lupa sumbernya namun pernah membaca sebuah kisah tentang seorang anak yang nyantri di sebuah pondok. Anak itu seperti terisolasi karena di saat teman-temannya belajar menghapal Al-Qur’an, dia malah mengurus kebutuhan lain kyai nya seperti mengurus kuda, mencuci pakaian, memasak dan pekerjaan lain yang mungkin pada saat kita berada di sebuah kelompok dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Begitu seterusnya yang dikerjaan oleh anak itu dengan ikhlas tanpa mengeluh sama sekali namun apa yang terjadi pada akhirnya, si anak yang dianggap figuran tersebut menjadi kyai yang paling termasyur di antara teman-temannya. Begitulah hasil penghidmatan dan usaha yang didasarkan oleh keikhlasan yang membuahkan hasil.

Sering sekali kita mendengar kalimat-kalimat bijak bahwa pujian itu membunuh dan kritikan itu membangun atau juga bekerjalah bukan karena ingin dianggap namun bekerjalah dengan sebaik-baiknya. Jangan menggantungkan harapanmu kepada manusia karena percayalah engkau akan kecewa dan jangan sekali-kali membantu dengan pamrih karena engkau pun akan kecewa pada akhirnya dan begitu banyak kalimat mutiara lainnya yang memang benar adanya namun sebagai manusia, mengaplikasikan kata-kata tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan karena manusia sejatinya doyan akan pujian. Kita butuh kerja keras untuk seperti itu.

Untuk Gadis yang sedang prajab. Nikmati saja peranan sebagai figuran dan merasa tidak dianggap pintar. Itu lebih baik untukmu dari pada disanjung. Banyak hal yang engkau bisa pelajari dibanding ketika disanjung. Bekerja lah karena ikhlas. Ketika berada di forum, berpendapatlah kalau memang dianggap perlu namun jangan sekali-kali berpendapat karena ingin dianggap pintar. Aku sudah berada pada dua kondisi yang berbeda seperti itu dan aku anggap banyak hal yang dipelari ketika berada pada kondisi figuran.

 Nb. Tulisan ini sebenarnya masuk dalam proyek buku yang berjudul Gadis dan warna pink  namun karena urgensi harus dibaca olehnya jadi saya upload sekarang. ( berlagak sok penulis. wkwkwkw)
Cilandak, 31 mei 2014

No comments: