tulisan ini adalah refleksi dari perasaan gadis yang
mengirimi pesan bbm semalam bahwa dia merasa paling tidak bisa dan bahkan merasa tidak
dianggap oleh kelompoknya di prajabatan yang sedang dijalaninya. Penuturannya
yang jujur bahwa hal ini berkaitan dengan sifatnya yang pendiam dan jarang
sekali tampil sebagai pembicara atau bahkan mengeluarkan pendapat di forum.
Dalam kerja-kerja kelompok pun dia terkadang dianggap sebagai figuran karena
semua teman-temannya mempunyai retorika yang bagus dan mempesona.
Persoalan ini sebenarnya ada pada sebagian besar orang
apalagi yang mempunyai sifat dasar pemalu tak terkecuali aku. Saat SMA dulu aku
begitu pemalu bahkan terkadang saat tampil di depan wajahku akan berubah warna
menjadi merah padam dan alhasil aku akan diledek habis-habisan oleh
teman-temanku. Ada rasa yang amat sangat tidak menyenangkan memang saat itu
namun pilihanku saat itu adalah tetap menjadi diriku dan belajar lebih tekun,
setidaknya aku sedikit diperhitungkan dalam hal pelajaran.
Setelah menginjakkan kaki dibangku kuliah, aku bertekad
kuat untuk berubah sikap menjadi lebih pede. Awalnya aku ikut organisasi dan
ternyata it works. Di beberapa organisasi kampus, setidaknya tidak ada ledekan
yang aku terima bahkan di forum-forum aku dengan begitu entengnya berpendapat
apa saja semauku tanpa harus was-was akan diledek seperti waktu di SMA bahkan
di beberapa kesempatan aku menjadi pemateri di forum diskusi yang pada waktu
SMA sama sekali tidak bisa kubayangkan.
Setelah sarjana, aku sering merenungkan perjalananku
dan beberapa kesimpulan yang kuambil adalah dalam sebuah kelompok itu sama
sekali tidak ada yang figuran. Aku juga sering merefleksikan diriku di SMA
bahwa kebanyakan dari kita yang meledek orang lain itu karena kita ingin
menutupi kekurangan ataupun bahkan ingin menjadi seperti mereka namun tidak
bisa.
Menjadi pemalu atau bahkan tidak menonjol sama sekali
bukan aib bahkan itu adalah sebuah kelebihan karena disitulah kita bisa
membiasakan diri untuk bekerja dengan ikhlas. Orang yang sering dipuji atau
bahkan dianggap jago dalam sebuah kelompok amat sangat riskan menjadi sombong
dan merendahkan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak dianggap dan sering
diledek sangat besar peluang untuk belajar bagaimana menghargai orang dan juga
membiasakan diri bersifat rendah hati tapi tidak rendah diri.
Ada beberapa kisah tentang kejadian seperti ini dan
terjadi dimana-mana. Dulu, ketika Gusdur menjadi presiden, Beliau pernah keluar
dari istana memakai kaos oblong dan celana pendek, berselang beberapa waktu
saat Beliau sudah tidak menjadi presiden dan diundang ke acara kick andy,
Beliau ditanya alasan kenapa memakai celana pendek di depan istana. Dengan
enteng Beliau menjawab “ supaya saya tidak dianggap menjadi presiden dan hati
menjadi dingin.” Meski aku rasa ada alasan filosofi lain yang terkandung di
dalamnya namun kurasa bahwa jawaban tersebut adalah ajaran bagaimana kita
tawaddu.
Cerita kedua, aku lupa sumbernya namun pernah membaca
sebuah kisah tentang seorang anak yang nyantri di sebuah pondok. Anak itu seperti
terisolasi karena di saat teman-temannya belajar menghapal Al-Qur’an, dia malah
mengurus kebutuhan lain kyai nya seperti mengurus kuda, mencuci pakaian,
memasak dan pekerjaan lain yang mungkin pada saat kita berada di sebuah
kelompok dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Begitu seterusnya yang dikerjaan
oleh anak itu dengan ikhlas tanpa mengeluh sama sekali namun apa yang terjadi
pada akhirnya, si anak yang dianggap figuran tersebut menjadi kyai yang paling
termasyur di antara teman-temannya. Begitulah hasil penghidmatan dan usaha yang
didasarkan oleh keikhlasan yang membuahkan hasil.
Sering sekali kita mendengar kalimat-kalimat bijak
bahwa pujian itu membunuh dan kritikan itu membangun atau juga bekerjalah bukan
karena ingin dianggap namun bekerjalah dengan sebaik-baiknya. Jangan
menggantungkan harapanmu kepada manusia karena percayalah engkau akan kecewa
dan jangan sekali-kali membantu dengan pamrih karena engkau pun akan kecewa
pada akhirnya dan begitu banyak kalimat mutiara lainnya yang memang benar adanya
namun sebagai manusia, mengaplikasikan kata-kata tersebut tidak semudah
membalikkan telapak tangan karena manusia sejatinya doyan akan pujian. Kita
butuh kerja keras untuk seperti itu.
Untuk Gadis yang sedang prajab. Nikmati saja peranan
sebagai figuran dan merasa tidak dianggap pintar. Itu lebih baik untukmu dari
pada disanjung. Banyak hal yang engkau bisa pelajari dibanding ketika
disanjung. Bekerja lah karena ikhlas. Ketika berada di forum, berpendapatlah
kalau memang dianggap perlu namun jangan sekali-kali berpendapat karena ingin
dianggap pintar. Aku sudah berada pada dua kondisi yang berbeda seperti itu dan
aku anggap banyak hal yang dipelari ketika berada pada kondisi figuran.
Nb. Tulisan ini sebenarnya masuk dalam proyek buku yang berjudul Gadis dan warna pink namun karena urgensi harus dibaca olehnya jadi saya upload sekarang. ( berlagak sok penulis. wkwkwkw)
Cilandak, 31 mei 2014

No comments:
Post a Comment