Entah mulai kapan aku selalu berpikir tentang ini,
tentang hidup yang dinikmati. Kekhawatiran demi kekhawatiran telah merampas
kenikmatan hidup. Aku sendiri sering mengalami hal seperti itu. Mengkhawatiran dan
mencemaskan sesuatu yang belum ada sehingga hidup yang sedang kujalani tidak
bisa kunikmati dengan baik. Salah satu momen yang dalam hidup yang dinikmati
saat masih bocah, saat belum mengerti tentang hidup dengan berbagai tawaran
kemewahan di dalamnya dan saat nafsu menguasai belum merasuk dalam sukma. Hal yang
terpikirkan oleh setiap bocah hanyalah bermain dan menikmati permainan dengan
sepenuh hati dan saat itulah kita benar-benar hidup.
Sejak menginjakkan kaki di SMA, terkadang kita berpikir
untuk cepat selesai dan menjadi seorang mahasiswa dengan berbagai kekerenan
yang kerap terlihat. Kuliah tanpa seragam dan seabrek kegiatan lain. Setelah kuliah,
terkadang kita ingin cepat selesai dengan berbagai alasan, ingin cepat kerja,
tidak mau berlama-lama kuliah dan alasan lainnya yang pada akhirnya kita tidak
menikmati hidup saat itu. Setelah sarjana dan bekerja, kita ingin menikah
dengan alasan tidak fokus bekerja ketika belum ada anak isteri bahkan ada juga
yang sedang bekerja namun setiap hari selalu saja mengeluh dan melihat
pekerjaan lain selain pekerjaannya amat sangat menyenangkan. Mereka selalu
berpikir bahwa pekerjaan yang sedang dijalaninya adalah pekerjaan yang paling
berat.
Pikiran-pikiran semacam itu benar-benar menghalangi kita
untuk menikmati hidup yang sedang dijalani. Kita terpasung oleh
keinginan-keinginan yang belum ada, kita terbelenggu oleh masa lalu dan anehnya
lagi, kerap kali ketika melewati masa yang dulu sangat mereka hindari namun
saat sudah melewati masa itu, mereka baru merasakan nikmatnya bahkan
berandai-andai untuk kembali ke masa itu. Betapa banyak dari kita yang ingin
cepat selesai sma atau kuliah namun ketika sudah selesai, kita selalu berpikir
ternyata begitu menyenangkan menjadi seorang pelajar sma ataupun mahasiswa dan
parahnya ingin kembali ke masa itu.
Menikmati hidup adalah persoalan bersyukur. Bagaimana kita
menyikapi hidup yang sedang dijalani dan menganggap bahwa inilah jalan hidup
yang pantas dijalani untuk sekarang ini tanpa harus ada kekhawatiran untuk masa
depan dan memori masa lalu yang melenakan.
Cilandak, 7 mei 2014

No comments:
Post a Comment