Ayah selalu saja memberikan kebebasan kepada anak-anaknya
yang ingin memilih jodoh. Kebebasan dalam artian yang bertanggung jawab. Dalam beberapa kali
pembicaraanku dengan Ayah mengenai jodoh, aku selalu saja merekam dengan baik
seperti apa jodoh yang baik menurut ayah. Baginya memilihkan jodoh kepada
anaknya adalah hal yang picik karena yang akan menjalani adalah anaknya sendiri
namun di sisi lain, memberikan pandangan-pandangan tentang jodoh adalah
keharusan baginya karena ayah memerankan sebagai pengontrol bagi apa saja yang
akan diputuskan oleh anak-anaknya.
Seminggu yang lalu, saat aku iseng membuka percakapan
tentang jodoh dengan ayah, beliau berpesan bahwa engkau adalah laki-laki maka
banyak hal yang engkau butuhkan dalam mempersiapkan dirimu mencari jodoh. Menurutnya,
mencari isteri itu adalah urusan mengurus makhluk hidup yang bernama manusia
bukan benda mati jadi perkara mencari isteri bukan perkara membeli ikan di
pasar. Beliau menyarankan kepadaku bahwa sebelum aku benar-benar ingin mencari
jodoh maka aku sendiri yang harus memperbaiki diri dan mempersiapkan mental
karena akan membimbing seorang manusia
yang pasti punya keinginan sendiri. Beliau juga berpesan bahwa aku sebagai
laki-laki seharusnya mempunyai pegangan hidup dalam hal ini mata pencaharian
karena tugas dari seorang ayah adalah bertanggung jawab secara lahir dan bhatin
kepada keluarganya. Pelajaran itu yang kudapat dari ayah saat minggu lalu aku
meneleponnya.
Tadi maghrib, aku kembali menelepon ayah, setelah saling
menanyakan kabar masing-masing aku berterus terang kepada ayah tentang
keinginanku menikah setelah mendapat pekerjaan. Seperti dugaanku bahwa ayah
sama sekali tidak merasa keberatan bahkan beliau menanyakan bahwa apakah aku
sudah mempunyai calon maka kujawab dengan jujur bahwa aku sudah mempunyai calon
dan akan mengenalkan kepada ayah setelah aku bekerja. Ayah kemudian menitipkan
satu pesan yang akan selalu kuingat bahwa tidak masalah engkau mencari jodoh
siapapun itu namun ingatlah bahwa carilah calon isteri yang tidak malu atas
kondisi orang tuamu. Ceritakan kepada calonmu tentang semua keadaan orang tuamu.
Ceritakan tentang pekerjaan ayah yang seorang petani dan juga ceritakan tentang
pekerjaan ibumu yang seorang pedagang kue di pasar. Jika memang calonmu tidak
menerima atau bahkan malu maka tinggalkanlah dia karena sesungguhnya bahwa
ketika menikah itu maka mertua seharusnya sudah dianggap sebagai orang tua
sendiri dan bagaimana calon isterimu menganggap orang tuamu sebagai orang
tuanya sendiri ketika dia malu melihat keadaan orang tuamu. Ceritakan pula
tentang rumah kita yang tidak lebih dari gubung yang tetap kita syukuri, jika
dia tidak sudi menginjakkan kakinya di rumah orang tuamu maka tinggalkanlah dia
dan carilah yang bisa menerimamu apa adanya.
Ayah memang selalu memberi nasehat saat aku akan
mengambil sebuah keputusan. Beliau tidak pernah memaksakan sebuah keputusan
hanya saja memberi nasehat-nasehat yang nantinya akan menjadi pertimbangan
dalam mengambil sebuah keputusan.
Terima kasih ayah
Cilandak, 21’5’14

No comments:
Post a Comment