May 21, 2014

CERITA AYAH TENTANG JODOH


Ayah selalu saja memberikan kebebasan kepada anak-anaknya yang ingin memilih jodoh. Kebebasan dalam artian yang  bertanggung jawab. Dalam beberapa kali pembicaraanku dengan Ayah mengenai jodoh, aku selalu saja merekam dengan baik seperti apa jodoh yang baik menurut ayah. Baginya memilihkan jodoh kepada anaknya adalah hal yang picik karena yang akan menjalani adalah anaknya sendiri namun di sisi lain, memberikan pandangan-pandangan tentang jodoh adalah keharusan baginya karena ayah memerankan sebagai pengontrol bagi apa saja yang akan diputuskan oleh anak-anaknya.

Seminggu yang lalu, saat aku iseng membuka percakapan tentang jodoh dengan ayah, beliau berpesan bahwa engkau adalah laki-laki maka banyak hal yang engkau butuhkan dalam mempersiapkan dirimu mencari jodoh. Menurutnya, mencari isteri itu adalah urusan mengurus makhluk hidup yang bernama manusia bukan benda mati jadi perkara mencari isteri bukan perkara membeli ikan di pasar. Beliau menyarankan kepadaku bahwa sebelum aku benar-benar ingin mencari jodoh maka aku sendiri yang harus memperbaiki diri dan mempersiapkan mental karena akan membimbing  seorang manusia yang pasti punya keinginan sendiri. Beliau juga berpesan bahwa aku sebagai laki-laki seharusnya mempunyai pegangan hidup dalam hal ini mata pencaharian karena tugas dari seorang ayah adalah bertanggung jawab secara lahir dan bhatin kepada keluarganya. Pelajaran itu yang kudapat dari ayah saat minggu lalu aku meneleponnya.

Tadi maghrib, aku kembali menelepon ayah, setelah saling menanyakan kabar masing-masing aku berterus terang kepada ayah tentang keinginanku menikah setelah mendapat pekerjaan. Seperti dugaanku bahwa ayah sama sekali tidak merasa keberatan bahkan beliau menanyakan bahwa apakah aku sudah mempunyai calon maka kujawab dengan jujur bahwa aku sudah mempunyai calon dan akan mengenalkan kepada ayah setelah aku bekerja. Ayah kemudian menitipkan satu pesan yang akan selalu kuingat bahwa tidak masalah engkau mencari jodoh siapapun itu namun ingatlah bahwa carilah calon isteri yang tidak malu atas kondisi orang tuamu. Ceritakan kepada calonmu tentang semua keadaan orang tuamu. Ceritakan tentang pekerjaan ayah yang seorang petani dan juga ceritakan tentang pekerjaan ibumu yang seorang pedagang kue di pasar. Jika memang calonmu tidak menerima atau bahkan malu maka tinggalkanlah dia karena sesungguhnya bahwa ketika menikah itu maka mertua seharusnya sudah dianggap sebagai orang tua sendiri dan bagaimana calon isterimu menganggap orang tuamu sebagai orang tuanya sendiri ketika dia malu melihat keadaan orang tuamu. Ceritakan pula tentang rumah kita yang tidak lebih dari gubung yang tetap kita syukuri, jika dia tidak sudi menginjakkan kakinya di rumah orang tuamu maka tinggalkanlah dia dan carilah yang bisa menerimamu apa adanya.

Ayah memang selalu memberi nasehat saat aku akan mengambil sebuah keputusan. Beliau tidak pernah memaksakan sebuah keputusan hanya saja memberi nasehat-nasehat yang nantinya akan menjadi pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan.



Terima kasih ayah
Cilandak, 21’5’14

No comments: