May 31, 2017

#OTS 5

untuk kesekian kalinya, Saya menginjakkan kaki di daerah yang baru demi tugas kantor. kali ini Saya berangkat ke bagian Sumatera yang paling dekat dengan Banten dengan Bis. ada sensasi tersendiri melakukan perjalanan darat dengan pulau yang berbeda. perjalan ditempuh sekitar 6 jam.

sekitar jam 8 malam, Saya sudah siap sedia di Gambir dengan modal 1 tas ransel. Saya dan salah seorang teman memilih tempat duduk 2 kursi dari belakang sopir. Bis yang kutumpangi ternyata berbeda jauh dari bis-bis yang sering kutumpangi dari Surabaya-Ngawi.

Bis ini dikelola oleh Damri dengan fasilitas yang lumayan mumpuni. terdapat toilet dan ruang khusus bagi perokok. terdapat pula sandaran kaki yang memudahkan kita membaringkan badan untuk membunuh waktu panjang selama perjalanan.

tepat pukul 21:00 WIB, bis mulai bergerak ke arah tol dalam kota. padatnya kendaraan memaksa bis hanya bergerak perlahan. jam segitu memang adalah puncak macetnya kendaraan apatahlagi bertepatan dengan weekend. Saya mulai memejamkan mata ketika bis sudah memasuki tol. entah berapa kali bis memepet kendaraan di depannya sehingga membuatku tidak begitu pulas.

Saya tidak tahu pasti pukul berapa bis kemudian mulai merapat ke Pelabuhan kemudian masuk ke kapal Ferry. Saya tiba-tiba saja terperanjat ketika Sopir meminta para penumpang turun dari bis dan naik ke ruang tunggu kapal.

sekitar 2 jam perjalanan di laut, akhirnya Kapal sandar di Pelabuhan Bakauheni. Para penumpang bis kemudian kembali naik ke bis dan melanjutkan perjalanan ke kota. jalanan dari Pelabuhan ke kota sangat sempit dan masih terdapat lubang yang membuat bis seringkali harus extra keras menghindari jalanan yang rusak. pekatnya malam membuatku tidak bisa menikmati pemandangan di daerah yang terkenal dengan transmigran dari Jawa.

sekitar pukul 03:00 subuh dinihari, kami tiba di tengah kota dan turun di patung Gajah. kesan pertama Saya terhadap kota ini adalah kebersihan. teramat sulit menemukan sampah di pinggir jalan, bahkan Pasar yang biasanya terdapat banyak sampah pun sangat bersih.

Saya dan teman memilih menginap di Hotel Astoria. hotal yang hanya berjarak beberapa meter dari patung Gajah dan tidak sampai 1 km dari tempat aktivitasku selama di kota tersebut. 

semua kota memiliki suasana dan ciri khas tersendiri. kota ini terlihat sangat asri apatahlagi di pagi hari karena Masyarakatnya yang sadar akan kebersihan. di malam hari, salah satu spot tempat anak muda menghabiskan malam adalah di bundaran depan mesjid Agung.

selama 5 hari di kota ini, rasanya belum bisa mencicipi suasana dari setiap sudut kota karena kesibukan kerja yang tidak bisa ditunda. untuk ukuran makanan, seperti biasa di pulau Sumatera, didominasi dengan masakan khas Padang dan juga pempek, namun menurutku, harga makanan terutama Pempek Naujubillah mahalnya. untuk ukuran porsi kecil dengan 2 piring seharga 188 ribu plus minuman dingin yang seharusnya tidak terlalu mahal.

Jumat pagi pukul 10:00, kami berbalik arah ke Jakarta. perjalanan pulang sedikit lebih memiliki sensasi karena bisa memandang alam di pagi hari bahkan di atas kapal, Saya bisa memuaskan hasrat memandang indahnya biru laut yang lama sudah tidak kunikmati.

kami tiba di Stasiun Gambir pukul 19:00.

31 5 17

April 18, 2017

Membincang Kembali Dampak Teknologi

Kemajuan teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. ruang dan waktu sudah menjadi wacana yang usang. sepertinya ruang dan waktu hanya ilusi dalam tataran komunikasi di era seperti sekarang. semua serba modern dan ternafikan dengan kemajuan teknologi. kendala apa lagi yang harus dikeluhkan atas setiap hal yang serba ada dan serba bisa seperti sekarang.

memutar kembali diskursus yang lampau ternyata semakin menguatkan pada kenyataan sekarang, bahwa teknologi bisa mendekatkan orang dengan jarak bermil-mil baik via suara, video atau segala fitur-fitur yang disiapkan oleh kecanggihan teknologi namun di sisi yang lain, teknologi pun seakan melebarkan jarak antar mereka yang hanya berada beberapa jengkal namun komunikasi lewat handphone, benar-benar ironi. interaksi antar sesama hanya sebatas chat maupun telepon. itulah mengapa kita sering melihat gerembolan zombie di setiap tempat, mereka menunduk sembari memandang layar handpone tanpa mengerti dan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Betapa absurnya mereka yang duduk di taman, berjalan bersama handai tauladan, menghabiskan makan malam dengan keluarga di rumah namun tangan tidak lepas dari tombol hp dan mata tidak sekalipun luput memandangi layar hp yang entah apa daya tarik dari benda kecil tersebut yang dengan jelas telah merenggut kemanusiaan kita.

setiap kali berkunjung ke Swalayan atau gerai HP maka kenyataan yang kita temui adalah orang bejibun mengantri di setiap stand handphone. setiap hari, penjualan hp tidak pernah sepi dan sebenarnya, fungsinya sudah menggantikan fungsi manusia itu sendiri. mereka atau sesungguhnya kita semua mencurahkan waktu dan tenaga bekerja berjam-jam kemudian melempar hasil keringat di setiap gerai hp. betapa mengerikan.

mereka bekerja untuk membeli barang yang menjadi simbol bahwa mereka bisa survive di tengah manusia-manusia "modern."

pada suatu titik, manusia akan merasa hampa dengan setiap apa tersedia secara instan. seharusnya kemudahan dalam mengakses segala hal tentunya berbanding lurus dengan kualitas diri namun pada kenyataan tidak. kita muda mengakses informasi, mengetahui banyak hal namun tidak mendalam. seringkali hanya mengambil sedikit manfaat untuk dijadikan bahan debat supaya terlihat cerdas. 

kenyataan lain mungkin tentang janji. bagaimana generasi pra milenium mampu menepati janji dengan baik tanpa komunikasi via telepon dibandingkan generasi sekarang yang selalu keteteran mengatur waktu. jalinan silaturrahim generasi sebelumnya selalu terjalin dengan erat namun manusia sekarang tidak mampu menjaga silaturrahim dengan baik karena tergadaikan dengan barang-barang teknologi. mereka seakan tidak bisa jauh dari benda kecil.
ada guyonan yang entah dimana saya baca. "seberapa lama kita bisa hidup tanpa paket internet?"

18 4 17

Klub lokal yang bernama PSM

Tidak seperti di Jawa Timur yang mayoritas  kota/kabupaten punya klub profesional, Sulawesi Selatan praktis hanya memiliki PSM sebagai salah satu klub yang berlaga di pentas liga tertinggi di tanah air. meski dulu sempat mencuat Persim Maros namun lambat laut hilang dari peredaran. Persipare Pare-Pare belum mampu menancapkan eksistensinya di dunia persepakbolaan Indonesia.

tidak mengherankan jika seluruh penduduk yang berasal dari Sulawesi selatan bahkan juga Sulawesi Barat yang dulunya adalah bagian dari Sulawesi Selatan, mengidolakan PSM Makassar. meski sudah berdiri sendiri sebagai sebuah Provinsi, Warga Sulawesi Barat masih punya ikatan emosional dengan klub PSM apatahlagi, beberapa pemain andalan PSM berasal dari Sulbar. 

PSM Makassar hampir sama dengan Persib Banding yang diidolakan masyarakat se Provinsi. hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena klub sepakbola di dua provinsi tersebut hanya satu yang masuk dalam jajaran klub elit. coba bandingkan di Jawa Timur. hampir setiap kota kabupaten memiliki klub yang berkompetisi di liga 1 maupun liga 2. bahkan rivalitas atas suporter Persebaya dan Arema yang notabene masih dalam satu provinsi sangat kental. sejarah perseteruan antar kedua Suporter tersebut sudah memakan banyak korban jiwa. selain kedua klub tersebut, ada Persela Lamongan, Madura United, Persik, Persegres dan beberapa klub lain.

sebagai warga yang lahir dan tumbuh di Sulawesi Selatan, Saya pun tidak ketinggalan mengidolakan PSM. Saya masih ingat di erah awal tahun 2000 sebelum banyaknya TV yang beredar di Kampung, kami sering mengikuti setiap pertandingan PSM lewat radio. ada sensasi tersendiri mengikuti pertandingan lewat radio yang tidak didapatkan saat menonton bola. misalnya saja, ketika bola masih jauh di tengah lapangan, reporter begitu menggebu-gebu dengan nada tinggi layaknya bola sudah hampir gol.

sampai sekarang, meski sudah merantau di beberapa daerah dan menetap di pulau lain, sama sekali tidak mengurangi rasaku untuk mengidolai PSM. meski di beberapa musim, PSM seperti tidak punya taji namun PSM tidak pernah benar-benar tenggelam.

untuk musim liga 1 2017. PSM kembali menggeliat dengan kepengurusan di dalam tubuh internal yang lebih profesional. transfer pemain yang didatangkan pun tidak mengecewakan. salah satu terobosan yang paling membahagiakan adalah kembalinya beberapa pemain asli Sul-Sel yang sudah menjadi bintang sepakbola. Hamka Hamzah dan Zulkifli Syukur adalah representasi dari pemain Makassar yang sukses di blantika sepakbola Nasional. 

kedua pemain tersebut memang bukan jaminan PSM secara otomatis juara namun setidaknya, mentalitas juara yang sudah ada di dalam diri mereka bisa ditularkan ke pemain muda. ada semacam kebahagiaan tersendiri ketika melihat klub idola diisi oleh pemain binaan sendiri.

di pertandingan awal, PSM mampu menundukkan Persela meski secara pribadi, Saya masih belum puas melihat permainan yang ditunjukkan oleh pemain PSM. mereka kurang greget dalam bermain apatahlagi ketika salah satu Pemain Persela terkena kartu merah. 

kredit poin harus diberikan ke Hamka Hamzah melihat totalitasnya dalam menjaga pertahanan PSM. terlihat semangat yang membara di setiap ekspresi wajahnya untuk mempersembahkan yang terbaik untuk klub kelahirannya, bahkan di salah satu momen ketika gawang PSM hampir dibobol syamsul Arif, Ekspresi emosional Hamka diperlihatkan kepada teman-temannya yang terlambat menutup pergerakan Syamsul Arif.

apresiasi yang tinggi pun pantas dialamatkan kepada pemain muda yang berperan penting di sektor gelandang, Asnawi Mangkualam. pemain yang baru berumur 17 tahun tersebut menunjukkan karakter PSM yang keras dan tidak pantang menyerah. jika dia tetap berada di jalur yang benar dan tidak cepat merasa puas maka saya yakin, dia akan menjadi pemain gelandang terbaik di Negeri ini.

oh iya semoga tahun ini PSM Makassar bisa menjuarai Liga 1.
Ewako PSM

18 4 17

April 17, 2017

Mengikuti Tahlilan tanpa ikut Makan

Beberapa waktu yang lalu, tetangga sebelah rumah meninggal. seorang Ibu paruh baya dengan tiga orang anak namun sampai ajal menjemput, dia hanya berdua dengan anak sulungnya. dua anak perempuannya sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing. 

Si Ibu sudah lama menderita penyakit darah tinggi dan gula. setiap harinya hanya dihabiskan di rumah dan bercengkerama dengan para tetangga.

pagi hari menjelang kematiannya, dia tidak menampakkan sesuatu yang menjadi firasat. dia masih bercengkerama dengan mertua saya dan duduk di gang depan rumah. dia hanya bercerita bahwa anaknya yang sudah menikah selalu menolak jika diajak menginap di rumahnya sedangkan si Ibu ingin bercengkerama dengan cucunya yang belum genap berumur setahun.

mendekati ajalnya, si Ibu diajak bepergian oleh anaknya namun di tengah perjalanan, si Ibu kejang dan langsung dilarikan ke rumah sakit. selang beberapa jam kemudian, ajal sudah menjemputnya.

sudah menjadi tradisi di kalangan mayoritas orang Jawa bahwa ketika meninggal dunia, maka akan diadakan tahlilal selama tujuh hari berturut-turut kemudian 40 hari, 100 hari dan seterusnya. saya yang tumbuh dan besar di kalangan Muhammadiyah sudah tidak melakukan tradisi seperti itu bahkan terkadang hanya tahlilan 3 hari setelah kematian itupun sangat tidak dianjurkan untuk memotong hewan ternak untuk dihidangkan pagi para tetangga yang ikut tahlilan, paling mewah hanya kue.

pada dasarnya, saya suka ikut tahlilan. melantunkan shalawat nabi dan kalimatullah secara berjamaah bahkan seringkali saya larut dalam rasa yang haru ketika lantunan kalimatullah menggema dan merasuki sanubari namun di sisi lain, saya sebisa mungkin menolak dengan cara halus untuk tidak makann daging yang dihidangkan.

pada saat tahlilan tetangga, saya selalu memilih tempat di dekat pintu sehingga memungkinkan saya  untuk pamit lebih dulu setelah doa sebelum makanan dihindangkan. itu cara yang menurutku paling aman saya lakukan. saya bisa ikut tahlilan namun tidak ikut makan daging yang dihidangkan.

semoga sikap yang saya tempuh tidak salah.

April 17

March 29, 2017

#OTS 4

Perjalan berikutnya menjejakkan kaki di tanah Gorontalo. pertama kali bertandang ke kota ini yang merupakan provinsi pecahan dari Sulawesi Utara.

senja sudah menjuntai sesaat sebelum Pesawat yang membawaku ke kota ini landing di bandara. hujan pun menyambut yang membuat suasana semakin sendu. saya menumpang mobil travel dari Bandara ke kota. jalanan yang masih banyak rusak dan jarak yang jauh memaksa mobil yang kutumpangi menghabiskan waktu sekitar sejam dari bandara ke jl. Jend. Sudirman Gorontalo.

saya memilih menginap di hotel Eljie selain karena tarif yang lumayan murah juga strategis dari tempatku berkegiatan selama di Gorontalo.

Kota ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kota-kota di pulau Sulawesi. jalanan protokol yang tidak terlalu lebar dan struktur bangunan yang hampir sama bahkan cuacanya. di malam hari sekitar pukul 20:00, sepanjang jalan jend Sudirman sudah sepi dan jalanan yang gelap karena hanya terdapat beberapa lampu penerang.

selama 5 hari di kota ini, tidak ada yang terlalu istimewa dari beberapa hal yang kujumpai. dari segi makanan, layaknya mayoritas orang Sulawesi, di kota ini pun hidangan lauk ikan dengan berbagai jenis. pantai yang menjulur di belakang kantor Gubernur dan bukt-bukit yang mengelilingi kota ini.

ada sedikit kesamaan dengan kota Lasusua di Sulawesi Tenggara. kantor Pemerintahan berada di atas gunung hanya saja di Gorontalo, kantor pemerintaahannya berada di belakang laut dan mengarah ke tengah kota sedangkan di Lasusua, Kantor Pemerintahannya tepat berada di atas bukit yang mengarah ke laut.

saya juga berkesempatan bertemu dengan teman semasa kuliah. dia asli warga di kota ini dan kembali mengabdi di kota ini. kami menikmati salah satu hidangan makanan khas Gorontalo yaitu Binte. makanan ini terbuat dari parutan jagung dicampur dengan daging dan sayuran dan diberi kuah. hampir sama dengan makanan "Baro'bo" di kampungku namun rasanya yang sedikit agak berbeda.

Satu pemandangan yang sedikit membuatku risih saat mampir shalat Jum'at di perjalanan pulang menuju bandara. ada beberapa orang yang berpakaian adat menyambut Bupati setempat di depan pintu Masjid kemudian mengiringinya menuju saf paling depan. saya tidak tahu apa spirit dari budaya seperti itu namun sebagai pendatang, saya sedikit risih melihat hal tersebut karena seolah terlalu feodalistik dan mengagungkan pejabat yang menurutku ketika berada di dalam masjis, posisi semua orang sama saja.

29 03 17

Pulang Kampung

Pulang kampung ibarat melampiaskan rindu yang menggumpal. Mengisi energi positif yang terkuras habis atas bias kehidupan kota bahkan memastikan semua keluarga terkasih dalam baik-baik saja di kampung halaman yang sudah tertinggal jauh. menahan sesak memandangi memori masa lalu dan menghirup udara yang telah membesarkan raga.
saya berkesempatan pulang kampung di minggu-minggu yang sibuk atas rutinitas di kantor. perjalanan dinas ke salah satu daerah di Sulawesi menjadi peluang bagiku untuk pulang kampung mengingat setiap pesawat yang terbang dari Ibukota ke tempat dinasku harus transit di Makassar.

2 hari di kampung sudah lumayan mengisi energi rindu.saya tiba di kampung sabtu pagi dinihari. tidak ada yang terlalu berubah begitu mencolok dari kampung yang kutinggalkan 5 tahun lalu. jalanan yang masih sama dan bangunan yang tidak terlalu banyak bertambah.

satu hal yang membuatku meringis ketika melihat gunung di sekeliling kampungku sebagian besar terlihat gundul. beberapa tahun terakhir, mayoritas penduduk di kampungku semakin bersemangat membuka lahan baru untuk ditanami bawang bahkan bukit yang dulunya ditumbuhi pepohonan pun dibabat dan disulap sebagai lahan perkebunan bawang.

tidak, sama sekali tidak ada rasa iri melihat gairah penduduk kampung yang semakin giat bekerja di kebun bahkan sebaliknya, saya bergembira atas fenomena tersebut mengingat mata pencaharian di kampungku adalah bertani. namun menurutku beberapa dari mereka kebablasan dan terlalu bersemangat membuka lahan baru untuk perkebunan bawang merah. bayangkan saja sampai di puncak gunung pun, sudah tidak terlihat hijaunya pepohonan dan berganti dengan tanaman bawang merah.

dampak dari pembukaan lahan besar-besaran terlihat ketika kita melewati jalanan yang menjulur sepanjang kaki gunung. aspal penuh dengan lumpur yang berasal dari tetesan sisa hasil siraman dari perkebunan bawang merah bahkan sungai yang dulunya jernih terlihat seperti susu cokelat di musim hujan. salah satu kampung dilanda banjir bandang padahal sejak dari dulu, tidak pernah ada sejarah banjir bandang terjadi di sana.

hasil dari bawang merah yang menggiurkan benar-benar membuat gelap mata beberapa mereka. bahkan salah satu cerita ada seorang petani yang mendapat keuntungan sampai 1 miliar dari hasil penjualan bawang merah.

dari banyaknya cerita keberhasilan petani bawang, juga terselip kisah pilu. salah satu musuh terbesar bagi petani bawang adalah ulat. untuk menanggulanginya, maka para Petani mengandalkan racun ulat yang dicampur dari 5 jenis racun ulat yang berbeda. dalam sehari, paling tidak petani melakukan sekali penyemprotan. salah satu cerita yang kudengar ada seorang petani yang mati sesaat setelah makan roti sehabis menyemprot ulat. diduga bahwa racun tersebut mencemari roti yang dimakannya.

berita kematian petani akibat terpapar racun ulat sudah beberapa kali terjadi bahkan setidaknya ketika kita tidak memakai masker dan berada beberapa meter dari orang yang sedang menyemprot ulat maka  seringkali kita akan mengalami gejala mual bahkan muntah.

saya membayangkan beberapa tahun ke depan, ketika tidak ada pertimbangan rasional dalam pembukaan lahan bawang merah maka kemungkinan akan terjadi bencana yang tidak diinginkan. meski sama sekali saya tidak mengharapkan hal tersebut terjadi.

29 03 17

Impian yang Hilang

membaca artikel ini seakan membawaku kembali ke beberapa tahun yang lalu. kisah yang hampir sama kulalui saat masa-masa remaja. mungkin hanya sebagian potongan kisah yang tidak persis sama, namun semangat yang kumaknai dari tulisan tersebut sama seperti yang kurasakan. layaknya sepakbola adalah pelarian dari setiap masalah sebagai seorang anak yang hidup di pedesaan.

tidak sulit untuk mengidentifikasi stimulan awal kenapa saya sangat mengandrungi permainan sepakbola. di kampungku, terdapat sebuah lapangan bola yang merupakan sentrum hiburan bagi penduduk di kampungku di sore hari sesaat setelah pulang dari kebun. hampir pasti setiap lelaki di kampungku menggemari permainan bola.

pola kehidupan masa kecilku di kampung hanya berputar pada sekolah kebun dan lapangan sepakbola. pagi saya menghabiskan waktu di Sekolah kemudian siang setiba pulang dari sekolah, saya harus mengurus sapi dan kambing kemudian pada sore hari setelah shalat ashar, saya sudah siap di lapangan.

Piala dunia dan Piala Eropa adalah hiburan paling ditunggu mulai anak SD sampai orang tua. seringkali kami menonton bareng dengan menggunakan media layar tancap. 

Saya mulai mengikuti pertandingan sepakbola antar sekolah setingkat SD di kecamatan. seingatku, saat itu, saya baru menginjak kelas 4. tidak ada pemain yang boleh menggunakan sepatu bola sehingga untuk menghindari perihnya telapak kaki akibat gesekan dengan lapangan yang keras maka kami mengakalinya dengan menggunakan kaos kaki beberapa lapis. 

Euforia pertandingan tersebut masih membekas di memoriku. beberapa hari sebelum pertandingan, saya sudah menyiapkan baju yang akan saya kenakan pada saat pertandingan. berhubungan karena pada saat itu belum ada jersey seragam yang disiapkan pihak sekolah dan kami hanya diberitahu bahwa dres scode baju warna putih, maka saya memilih baju warna kuning dengan beberapa tulisan di depannya. pada saat itu, jersey sepakbola masih menjadi hal yang mewah bagi kami yang hidup di kampung.

Tim sekolah kami kalah pada saat itu namun tidak ada kesedihan karena pada dasarnya, pertandingan hanya sebagai sebuah kesenangan semata. saya ditempatkan sebagai Gelandang namun yang menjadi kesulitan adalah kami menggunakan lapangan ukuran orang dewasa sehingga tak terkira tenaga yang terkuras.

hari-hari setelah pertandingan tersebut, saya semakin mencandui permainan ini. ada perasaan tidak senang ketika hujan mengguyur pada sore hari karena banyak teman-teman sebaya yang malas bermain sepakbola akibat lapangan yang berlumpur.

kamar saya dipenuhi dengan poster pemain sepakbola Eropa bahkan semua buku tulis sekolah saya disampul dengan plastik kemudian saya sisipkan gambar pemain sepakbola yang digunting dari lembaran majalah maupun surat kabar. bahkan beberapa sisa tempelan gambar pemain masih ada di dinding rumahku.

menginjak sekolah menengah, saya semakin sering bermain sepakbola apatahlagi sudah dipercaya ikut bermain dengan orang dewasa meski awalnya harus menjadi kiper. memang sudah menjadi preseden di kampungku bahwa ketika bermain sepakbola, anak SMP yang akan menjadi "korban" sebagai penjaga gawang mengingat posisi tersebut amat sangat tidak populer.

saya mulai reguler bermain dengan orang dewasa  saat kelas 2 SMP. saya sangat menyukai posisi Gelandang karena menurutku, posisi tersebut tidak banyak disalahkan ketika kalah. meski sudah sering latihan namun saya belum kunjung mendapatkan kesempatan mengikuti pertandingan tarkam di tim kampungku. saya masih bersetia sebagai Suporter.

Kelas 1 SMA menjadi titik balik dalam karirku di persepakbolaan amatir. pada saat itu pula, saya berhasil membeli sepatu bola hasil tabunganku sendiri. warna metalik namun kebesaran. saya sudah dipercaya sebagai salah satu bagian dari tim 2 yang merupakan kumpulan dari anak-anak yang belum matang dan dikombinasikan dengan orang dewasa yang sudah melewati usia pemain sepakbola. jadi di kampungku, ada dua tim yang diikutkan setiap kali ada helatan turnamen.

tidak terlalu lama untuk mendapatkan kepercayaan menjadi bagian dari tim utama. sejak kelas 2 SMP, saya sudah menjadi bagian dari tim utama yang sering mengikuti turnamen yang diadakan di kecamatan berbeda di kabupaten. namun salah satu turnamen yang membekas di memoriku adalah turnamen tarkam U-18. bahkan di turnamen tersebut, saya dipercaya sebagai seorang kapten meski saya diharuskan mengisi posisi sebagai bek. ada kebanggaan tersendiri mengenakan ban kapten karena secara otomatis, akan menjadi pusat perhatian. kami kalah dari tuan rumah melalui adu pinalti di putaran 8 besar.

kepercayaan diri saya benar-benar memuncak dan meyakini bahwa sepakbola adalah hidupku sehingga pada suatu waktu sesaat setelah makan malam, saya mengutakan niat saya kepada bapak saya bahwa suatu saat saya akan menjadi seorang pemain sepakbola.

"Kau tidak bisa hidup dari sepakbola. lihat mereka yang pintar main sepakbola di kampung, paling jauh hanya main di tarkam" jawaban bapakku benar-benar meluluhkan energiku menjadi seorang sepakbola.

meski masih sering menggiati permainan sepakbola, namun jawaban bapakku perlahan-lahan menggerus niatku menjadi seorang sepakbola. setamat SMA kemudian melanjutkan kuliah di ibu kota provinsi membuatku semakin jarang berlatih sepakbola. meski sesekali saya masih mengikuti turnamen ketika libur kuliah.

Satu hal yang saya sesali pada saat itu adalah tim sepakbola kampungku dikenal sangat temperamen bahkan hampir pasti setiap kami bertanding, akan ada kericuhan di lapangan yang berakhir dengan tawuran. hal tersebut membuat beberapa panpel turnamen tidak mengundang tim dari kampungku dalam waktu yang lama. 

saat ini, permainan sepakbola di kampungku mulai hilang ruhnya. tidak ada lagi permainan sepakbola pada sore hari bahkan lapangan sepakbola sebagian sisinya dijadikan sebagai lapangan bola voli oleh remaja perempuan. tidak ada lagi energi kegembiraan di sore hari.

impian menjadi seorang pemain sepakbola profesional sudah mustahil bagi saya bahkan bermain sepakbola pun jarang. hanya sesekali itupun permainan futsal yang menurutku sama sekali tidak menggairahkan. namun sekarang saya sudah punya seorang anak yang masih bayi. saya berhasrat untuk menceritakannya bahwa ada permainan keren yang bisa menjadi energi hidup yaitu sepakbola. saya tidak akan pernah memaksanya menjadi apa suatu saat nanti dan saya akan tetap bangga atas pilihan-pilihan hidupnya yang bermanfaat namun kebanggaan saya akan berlipat jika dia memilih menjadi seorang pemain sepakbola profesional. satu hal yang lebih penting bahwa saya dan ini mungkin sedikit otoriter bahwa dia harus menjadi fans Inter Milan atau setidaknya tidak boleh memilih Juventus dan Manchester United sebagai klub idola

Rabu, 29 03 17

March 17, 2017

Bandara Bersama Senja

Perjalanan Gorontalo ke Makassar benar-benar melelahkan. Saya melepas penat tepat di depan tulisan Bnadara sambil menunggu adekku yang sedang dalam perjalanan menjemputku.

Aku menerawang kota ini, langitnya yang sedang disambangi mendung. Ada semacam rasa hampa yang tibatiba menghinggapiku, entah perasaan seperti apa atau mungkin perasaan sentimental ketika menyadari bahwa kota ini hampir saja menjadi asing bagiku.
Bandara Hasanuddin

Hampir tujuh tahun kota ini kutinggalkan sesaat setelah menyelesaikan kuliahku. Aku menerabas lautan menjadi perantau di pulau sebelah. Entah apa tujuanku namun ternyata, keputusan merantau membuatku menemukan takdir menetap di pulau jauh. Aku berjodoh dengan banyak hal di sana dan harus melepaskan semua kenangan di kota ini.

Kali ini, aku menginjakkan kaki di kota ini. Menyendiri di kerumuman manusia yang sedang beranjak dan datang di bandara. Aku menatap setiap sudut kota dan kemudian berpikir,sebenarnya apa yang sedang kukejar?  Toh pada akhirnya semua akan tiba di persinggahan terakhir.

Namun sekali lagi, aku sudah memiliki tanggungan yang harus kujaga dan semoga jadi jalan menyusuri jalan hidupku.

Bandara Makassar. 17 3 17

March 3, 2017

# OTS 3

Pekerjaan ini benar-benar membawaku melancong ke sudut Negeri ini. tanpa harus mengeluarkan sepersen dana pun, saya sudah menginjakkan kaki di beberapa tempat dimana seringkali orang lain harus mengumpulkan dana untuk sampai di sana.

bulan kedua tahun ini, saya kembali menjejak langkah di sebuah pulau yang dikenal sebagai tujuan para Turis.menikmati cuaca yang menyengat dan dinamika kehidupan yang lebih variatif. orang-orang yang dengan tampilan nyentrik tanpa harus terganggu pandangan orang lain.

Matahari mulai menanjak ketika Pesawat yang saya tumpangi akan mendarat di Bandara kota ini. saya menjumpai pemandangan yang indah ketika memandangi hamparan laut dari atas Pesawat. Bandara kota ini tepat berada dipinggir laut.

saya menumpang taxi ke arah bilangan ibu kota. sopirnya banyak bercerita tentang kota ini dan segala dinamikanya. saya menenjumpai suasana kota di jawa dari cara berbicara si sopir. ada kesamaan ntonasi suara penduduk kota ini dengan orang-orang di jawa. satu hal yang membuatku kikuk adalah sewa taxi yang menurutku terlalu mahal untuk ukuran jarak dari bandara ke kota apatahlagi taxi tersebut tidak menggunakan argo.

lima hari di kota ini membuatku bisa merasakan atmosfer kota dan penduduknya yang terlampau sangat berbeda dengan kultur di kampung halamanku. kota ini penuh dengan bau dupa setiap pagi. kota yang menurutku tidak terlalu terburu-buru seperti Jakarta.

untuk ukuran makanan, saya harus bisa memilah makanan yang saya konsumsi karena kota ini melegalkan segala macam makanan yang menurut keyakinan yang kuanut haram untuk dikonsumsi. terlalu mudah menemukan babi guling ataupun warung lain yang menyediakan aneka masakan dari daging babi.

Saya mengunjungi beberapa spot wisata yang selama ini hanya bisa kulihat dan kubaca di media. kawasan wisata di kota ini dipenuhi oleh turis asing bahkan seakan orang asli di kota ini yang menjadi minoritas. kesenjangan antara pendatang dan penduduk asli.

pantai di kota ini memang indah. air laut yang bening dan pasir yang terhampar sepanjang bibir pantai. satu hal yang paling penting adalah pengunjung sangat sadar akan pentingnya untuk membuang sampah di tempatnya sehingga sangat jarang melihat sampah berserakan.

keberadaan saya di kota ini bertepatan dengan cuaca yang amat sangat menyengat. seperti membakar tubuh dan melululantahkan ubun-ubun. 

Saya beranjak pergi dari kota ini jumat sore tepat saat Matahari menuju peraduannya. bahkan saya menyaksikan pemandangan yang sangat indah di ruang tunggu bandara. amat sangat jelas melihat sang Mentari perlahan-lahan menghilang dari pandangan mata. Matahari yang berbalik arah tepat di seberang lautan sehingga memandangi sunset dilatari hamparan laut, indah.

semoga suatu saat kembali ke kota ini berlibur bersama keluarga
Pulau Dewata

3 3 17

February 19, 2017

Jokowi dan Ahok, mundurlah!!!

Di awal tahun ini, saya menyimpan pengharapan semoga Jokowi mundur dari kursi presiden dan Ahok mundur dari pencalonan pilkada DKI kemudian mengikhlaskan dirinya di penjara atas tuduhan penistaan agama.

bagaimana tidak, mereka bagaikan tandem pemicu ribut-ribut di negeri ini. kubu yang kontra sedemikian keras mendelegitimasi Jokowi dari pucuk pimpinan tertinggi negeri ini sedangkan kita ketahui, keputusan Ahok maju kembali sebagai calon Gubernur DKI mendapat reaksi yang amat sangat keras dari sebagian umat Islam.

puncak gunung es menemui titik klimaks ketika Ahok offside berbicara tentang elemen agama Islam di depan warga Kepulauan Seribu. kekhilafan Ahok tersebut membuatnya harus menanggung konsekuensi maha dahsyat.

keinginan saya tersebut diperkuat dengan fenomena bahwa apapun yang tidak disenangi oleh kelompok oposisi selalu dinisbahkan kepada Jokowi. titik nadir kebencian atas nama kepentingan kelompok benar-benar sedang berada di puncak. Ahok yang masih melenggang bebas sedangkan statusnya sudah terdakwa pun dianggap sebagai kesalahan Jokowi.

sebelumnya saya berharap bahwa dengan berakhirnya pilkada DKI Jakarta serta merta akan menurunkan tensi urat leher mereka yang sedang berkelahi argumen di media namun ternyata harapanku sirna. perseteruan mereka seakan menjadi-jadi apatahlagi Pilkada mengharuskan digelar dua putaran setelah tidak ada calon yang berhasil meraup suara 50%+1.

salah satu harapan meredakan ketegangan di negeri ini adalah Jokowi mundur dan merelakan negeri ini di tangan mereka yang sedari dulu menginginkannya dan Ahok menjauh dari percaturan politik DKI Jakarta. tidak menjadi soal bagi mereka apakah Ahok akan dipenjara ataupun tidak sepanjang Ahok tidak lagi mencalonkan dirinya sebagai Gubernur, itu intinya. menurutku.

Februari 2017

Andrea Ranocchia, Mencari diri di Iiga Inggris

http://www.andrearanocchia.com/2014/04/08/visita-in-sede/
Saya pernah menulis tentang para Pemain Inter Milan yang pantas untuk dijual dan Ranocchia adalah Pemain yang saya tempatkan berada di urutan pertama. alasan saya karena sejak bergabung dengan Nerazurri, dia tidak pernah benar-benar mampu menarik perhatian saya malahan dia sering melakukan blunder yang berujung kekalahan. postur tubuh yang mumpuni untuk menjadi seorang palang pintu ternyata tidak mampu dimanfaatkan dengan baik.

keinginan saya melihat Ranocchia untuk keluar dari pintu Inter Milan akhirnya terwujud. dia dipinang oleh salah satu klub Liga inggris, Hull City. penampilan perdananya membawa hoki ketika mengalahkan Liverpool dan ikut menyumbangkan satu assist, namun hal tersebut belum jua membuatku terkesan.

keputusannya untuk pindah ke Liga Inggris benar-benar di luar dugaanku. bagaimana tidak, Liga Inggris yang sejak dulu dikenal sebagai Liga yang mengandalkan kecepatan sangat berbanding terbalik dengan apa yang diperlihatkan oleh Ranocchia selama berbaju Nerazurri. dia selalu keteteran meladeni seorang striker yang mempunyai kecepatan di atas rata-rata.

Meski berstatus pemain pinjaman, saya berharap bahwa Ranocchia akan dipermanenkan oleh Hull City karena penampilannya selama berada di klub tersebut terbilang lumayan. mungkin saja Ranocchia adalah pemain yang potensial namun tidak cocok dengan pola permainan Inter Milan.

Semoga saja betah di Liga Premier bersama Hull City, Om Rano. cayoooo!!!!

Februari 2017

Gerombolan Analisator

Apa yang paling menyebalkan atas perkembangan internet yang semakin canggih? Menurut saya, munculnya gerombolan analisator abal-abal di media sosial.

Untuk setiap fenomena yang sedang mengemuka di ruang publik, kita pasti disuguhi berbagai macam analisa entah di beranda fesbuk, twitter, blog ataupun ruang dimana mereka bisa mengekspresikan eksistensi mereka dengan analisa-analisa yang menggelikan.

Saya akan melakukan kroscek terhadap penulisnya jika membaca sebuah artikel. Jika tidak jelas dan tidak relevan, dengan segera kutinggalkan. Memang sih semua hikmah harus diambil meski keluar dari dubur ayam tetapi toh terkadang menyebalkan.

Hal yang paling memuakkan menurutku adalah fenomena pilkada jakarta. Para anlisator karbitan keluar dari goa dengan berbagai macam ulasan. semua demi mencari perhatian atas kepentingan oligarki yang sedang dibelanya.

saya sangat kesal terhadap mereka yang berusaha menganalisa pilkada dari sudut pandang kelompoknya sendiri tanpa berusaha membuka sedikit ruang diskusi dengan analisa yang dianggapnya tidak sesuai dengan kepentingan kelompoknya. dia mengambil semua referensi yang berpihak pada kelompoknya untuk menguatkan pendapatnya meski disadari bahwa referensi tersebut tidak ilmiah bahwa berita Hoax.

saya menjumpai salah seorang yang dengan bahagianya mengcapture judul berita di salah satu media online kemudian menertawakannya karena menganggapnya bahwa media tersebut sedang menyebarkan berita Hoax dan di lain waktu ketika kelompok yang dibelanya ketahuan menyebarkan Hoax, dia hanya berujar singkat kemudian memakluminya sebagai bagian dari perjuangan. ingin rasanya saya menghujatnya saat itu juga namun saya kembali berpikir, apa bedanya saya dengan mereka jika harus mengeluarkan beribu hujatan. lebih baik diam kemudian mengusap dada ketika berhadapan dengan orang yang berpendirian seperti itu.

saya tidak punya tendensi apa-apa terhadap kubu yang sedang bertarung di pilkada kali ini, toh saya yakini bahwa mereka sedang berkompetisi atas kepentingan kelompok mereka namun saya hanya bersimpati bagi mereka yang benar-benar menutup hati demi melanggengkan tujuan mereka meski saya juga menyadari bahwa dari kelompok yang sedang bertarung, masih ada individu-individu di dalamnnya yang bersetia terhadap kebenaran dan saya menyenangi ulasan mereka yang berbuat adil sejak dalam pikiran. "meminjam istilah om Pram."

Februari 2017

Menyoal Sikap Iwan Fals

“Bang Iwan soal pilkada DKI mendukung Ahok, benarkah?”

Iwan Fals :
“Orang suka punya asumsi. Saya selalu ditarik-tarik ke politik. Dan bukan hanya sekarang Pilkada DKI, Pilpres 2014 pun demikian. Dari jaman-jamannya 3 partai pun demikian. Saya sudah katakan saya warga Depok Jawa Barat nggak mungkin dukung Ahok. Nggak mungkin juga dukung yang lainnya. Saya mengenal Ahok, saya mengenal Anies Baswedan, saya mengenal SBY. Saya apresiasi kepada orang yang berani berbuat untuk kebaikan. Saya netral kecuali untuk agama, keluarga, negara, kopi, dan followers.” Sumber.


Bertubi-tubi cacian, umpatan bahkan kritik yang menyerang pribadi Iwan Fals menjelang pilkada Jakarta. dari berbagai penjuru mata angin hanya karena berhembus isu bahwa IF berafiliasi dengan salah satu kandidat Gubernur meski berkali-kali IF sudah mengklarifikasi isu tersebut baik melalui wawancara maupun media sosial miliknya.

mungkin mereka belum lahir atau bahkan orang tua mereka masih mengenakan seragam sekolah ketika IF sudah berteriak lantang melawan rezim orde baru. pada saat itu, jelas lawan yang dihadapi adalah oligarki di negeri ini yang bersatu sedang berpesta pora menikmati keringat rakyatku.

sikap IF yang seakan netral pada saat situasi politik saat ini adalah pilihan terbaik. tetapi sialnya, sikap netral saat ini dianggap sebagai dosa besar. mereka yang sedang memperebutkan kekuasaan mengklaim diri mereka paling benar sehingga tidak salah jika publik figur yang tidak berafiliasi dengan kepentingan politik akan menjadi sasasaran empuk dari kedua kubu. 

Mereka seakan ingin menarik IF ke dalam pusaran politik yang berpihak ke kubu masing-masing. IF yang menyadari konstalasi perpolitikan terkini memilih untuk tidak bersuara karena sulitnya mengidentifikasi siapa sebenarnya lawan yang harus dihadapi.

IF mungkin saja paham bahwa kondisi yang sedang memanas saat ini adalah pertentangan kepentingan antar oligarki.memilih mengasingkan diri di pinggiran daerah Depok dan menyibukkan diri dengan berbagai konser adalah pilihan bijak. bagaimana tidak, kondisi politik sedang tidak ideal untuk menyuarakan aspirasi karena menentang salah satu kubu oligarki akan menjerumuskan ke dalam kepentingan oligarki yang lain.

IF yang tidak mau terlalu terlibat dalam peta politik saat ini membuatnya digugat massa yang sedang labil. banyak sentilan yang berseliweran di dunia maya yang menghujat IF bahwa ketika orde baru, dia sangat lantang mengkritisi pemerintah namun kenapa sekarang melempen. 
pertanyaan polos saya kepada mereka, memangnya IF punya tanggung jawab apa sehingga kalian selalu menggugatnya? jika dulu IF militan dalam menghalau pengaruh rezim orde baru maka itu salah satu pilihan hidupnya, pun demikian jalan yang beliau tempuh saat itu. memilih diam dan tidak ingin terlalu sok kritis di tengah kondisi politik yang abu-abu maka itupun adalah pilihan sadarnya. tidak ada paksaan baginya. saya yakin bahwa kalian hanya ingin menyeret IF menjadi bagian kubu kalian untuk merebut massa demi memenangkan kepentingan oligarki karena kalian sadar betul bahwa IF masih punya fans fanatik yang tergabung dalam OI.

salah seorang temanku bercerita dengan bangga bahwa ada seirang yang membakar semua koleksi kaset IF karena dia menganggap IF sudah tidak lagi memegang idealisme seperti yang ditunjukkannya pada masa orba. 

terlepas dari semua tudingan yang dialamatkan kepada IF. saya masih sangat yakin bahwa IF masih bersetia kepada idealisme yang dianutnya selama ini. keyakinan saya diperkuat oleh kenyataan bahwa IF tidak pernah menjadi anggota partai politik manapun sedangkan jika mau jujur, IF amat sangat mudah melanggeng di panggung politik jika saja dia mau dengan fans yang memujanya sebegitu banyaknya.

bagi mereka yang masih menganggap IF sudah menggadaikan idealismenya demi makan siang maka saya hanya bisa katakan bahwa kalian hanya sedang berusaha menghujatnya karena menginginkan IF menjadi bagian dari kalian.

Februari 2017