Perjalan berikutnya menjejakkan kaki di tanah Gorontalo. pertama kali bertandang ke kota ini yang merupakan provinsi pecahan dari Sulawesi Utara.
senja sudah menjuntai sesaat sebelum Pesawat yang membawaku ke kota ini landing di bandara. hujan pun menyambut yang membuat suasana semakin sendu. saya menumpang mobil travel dari Bandara ke kota. jalanan yang masih banyak rusak dan jarak yang jauh memaksa mobil yang kutumpangi menghabiskan waktu sekitar sejam dari bandara ke jl. Jend. Sudirman Gorontalo.
saya memilih menginap di hotel Eljie selain karena tarif yang lumayan murah juga strategis dari tempatku berkegiatan selama di Gorontalo.
Kota ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kota-kota di pulau Sulawesi. jalanan protokol yang tidak terlalu lebar dan struktur bangunan yang hampir sama bahkan cuacanya. di malam hari sekitar pukul 20:00, sepanjang jalan jend Sudirman sudah sepi dan jalanan yang gelap karena hanya terdapat beberapa lampu penerang.
selama 5 hari di kota ini, tidak ada yang terlalu istimewa dari beberapa hal yang kujumpai. dari segi makanan, layaknya mayoritas orang Sulawesi, di kota ini pun hidangan lauk ikan dengan berbagai jenis. pantai yang menjulur di belakang kantor Gubernur dan bukt-bukit yang mengelilingi kota ini.
ada sedikit kesamaan dengan kota Lasusua di Sulawesi Tenggara. kantor Pemerintahan berada di atas gunung hanya saja di Gorontalo, kantor pemerintaahannya berada di belakang laut dan mengarah ke tengah kota sedangkan di Lasusua, Kantor Pemerintahannya tepat berada di atas bukit yang mengarah ke laut.
saya juga berkesempatan bertemu dengan teman semasa kuliah. dia asli warga di kota ini dan kembali mengabdi di kota ini. kami menikmati salah satu hidangan makanan khas Gorontalo yaitu Binte. makanan ini terbuat dari parutan jagung dicampur dengan daging dan sayuran dan diberi kuah. hampir sama dengan makanan "Baro'bo" di kampungku namun rasanya yang sedikit agak berbeda.
Satu pemandangan yang sedikit membuatku risih saat mampir shalat Jum'at di perjalanan pulang menuju bandara. ada beberapa orang yang berpakaian adat menyambut Bupati setempat di depan pintu Masjid kemudian mengiringinya menuju saf paling depan. saya tidak tahu apa spirit dari budaya seperti itu namun sebagai pendatang, saya sedikit risih melihat hal tersebut karena seolah terlalu feodalistik dan mengagungkan pejabat yang menurutku ketika berada di dalam masjis, posisi semua orang sama saja.
29 03 17
No comments:
Post a Comment