tulisan ini hanya merefleksikan sebuah kondisi paradoks yang sering dialami oleh manusia dalam perjalanan hidupnya. sejujurnya bahwa tulisan ini terinspirasi dari tulisan Yusran disini. aku pun langsung merefleksikan semua apa yang telah kulalui. aku yang lahir dan bertumbuh di desa penuh hutan benar-benar merasakan paradoks kehidupan yang sedang kualami. hampir persis seperti yang diceritakan oleh yusran darmawan di tulisannya tentang kegelisahannya melihat fenomena orang kota yang harus membayar mahal untuk bisa merasakan kehidupan seperti yang dirasakan oleh orang kampung secara alami.
satu setengah bulan yang lalu. aku dan teman sekantor touring ke sebuah daerah di Jawa Bandung, Bukit Moko dan Tebing Keraton. satu hal yang terlintas di kepalaku saat ditawari untuk ikut adalah sebuah tempat yang mungkin keren dan menarik minatku, kami pun diwajibkan membayar sewa 350 Ribu.
sabtu pagi kami sudah beranjak dari ibu kota menuju bandung. sekitar pukul 11:00 , kami sampai di tujuan pertama, Dusun Bambu. kulihat goresan wajah teman-temanku kagum dengan tempat tersebut karena memang mereka jarang bersentuhan dengan alam karena besar di kepungan gedung yang megah. namun reaksiku sama sekali tidak menampakkan sebuah kekaguman karena aku sadar bahwa kampung halamanku masih lebih asri dari yang sedang kami tempati sekarang.
tempat kedua adalah Tebing Keraton. lagi-lagi ekspektasiku tidak sesuai harapan karena yang kutemui di tempat tersebut hanya sebuah bukit yang di desain menjadi tempat wisata dan sama sekali tidak ada yang istimewa. mungkin karena aku yang menghabiskan masa kecilku di kampung yang berada di lereng Gunung sehingga tempat seperti itu tidak terlalu mengesankan bagiku bahkan terkesan biasa-biasa saja.
tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah Bukit Moko. lagi-lagi tempat ini hanyalah sebuah bukit yang lanscape nya seperti resting di kampungku. tidak ada yang terlalu istimewa selain jalanan menanjak ke sebuah bukit dan pemandangan kota di bawahnya, itu saja tidak lebih. hanya kumpulan aa dan teteh yang sedang memadu kasih disepanjang jalan itu sambil memandangi hamparan kota bandung di bawahnya.
aku mampir di rumah sahar, salah seorang kawan kuliah yang sekarang bermukim di Bandung. aku menceritakan antusiasme teman-temanku melihat pemandangan di bukit yang sebenarnya biasa-biasa saja bagi kami yang yang berasal dari kampung. sahar menimpali bahwa memang setiap tempat yang suasana perkampungan akan digandrungi oleh orang kota yang terbiasa dengan pengap dan riuhnya gedung tanpa pernah merasakan alam yang luas.
membaca tulisan Yusran Darmawan membuka mataku bahwa kehidupan paradoks sedang kualami. aku yang dulunya terbiasa dengan pegunungan bahkan setiap hari naik turun gunung ke kebun harus menelan pil pahit saat menyadari realita yang terbalik, aku hijrah ke ibukota dan akhir pekan, harus membayar 350 ribu untuk bisa kembali merasakan kehidupan di pegunungan. sesuatu yang benar-benar membuatku kadang geli.
rumus kehidupan mungkin memaksa kita untuk selalu bersyukur dengan apa sedang dijalani. setidaknya itu yang sekarang aku yakini bahwa senjata ampuh untuk tetap survive dalam kehidupan adalah bersyukur sebanyak-banyaknya. hal yang terlihat pada diri orang lain seringkali memang lebih baik daripada yang ada di diri sendiri meski seringkali yang ada di kita bahkan lebih baik.
"orang yang paling bahagia di dunia ini adalah orang yang selalu bersyukur atas apa yang ada padanya."
alam adalah hidup masa kecilku
entah sekarang
mereka menjadi asing saat aku menjadi kaum urban
huhuh
240415
No comments:
Post a Comment