saya tidak ingin ikut-ikutan pro terhadap hukuman mati yang sedang menjadi hot issue di negeri ini ataupun tidak ingin menjadi orang yang kontra terhadap kebijakan tersebut. kapasitas untuk membicarakan kebijakan tersebut haruslah punya banyak referensi tanpa sekedar membaca dari sosial media yang hanya merupakan opini liar dari masyarakat luas bahkan sama sekali saya tidak punya pretensi untuk menjustifikasi benar salah atas kasus tersebut. saya hanya mengetahui sekilas karena ramai dibicarakan oleh orang di kantor dan sesekali membaca di media online.
tepatnya semalam dini hari tanggal 29 April 2015 pukul 00:25 WIB delapan terpidana mati, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia); Martin Anderson (Ghana); Raheem A Salami, Sylvester Obiekwe, dan Okwudili Oyatanze (Nigeria); Rodrigo Gularte (Brasil); serta Zainal Abidin (Indonesia) menemui ajalnya sumber, sebenarnya ada sembilan terpidana mati yang siap di eksekusi namun ternyata hanya delapan karena salah seorang dari narapidana tersebut ditunda eksekusinya, perempuan tersebut bernama Mary Jane asal Filipina. tidak perlu saya utarakan semua kronologis dari kedelapan narapida yang sudah dieksekusi dan kesalahan apa yang menyebabkan mereka sampai harus meregang nyawa dengan cara seperti itu. kronologisnya sudah bertebaran di media-media dan percakapan masyarakat.
saya lebih tertarik membahas sisi lain dari Mary jane, salah satu Narapida Narkoba yang sudah dijadwalkan dieksekusi semalam namun ditunda karena ada alasan eksternal. sebenarnya bukan benar salahnya yang ingin kuceritakan namun lebih kepada perasaan sesosok manusia biasa menghadapi maut yang sudah ditentukan. perasaan seperti apa yang berkecamuk di dalam diri Mary Jane saat ini.
kematian selalu saja menjadi misteri yang paling menakutkan karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan mereka akan menemui maut kemudian ketika berada di posisi Mary Jane yang sudah ditentukan ajalnya oleh manusia, bagaiman kegoncangan yang terjadi di dalam jiwanya bahkan ketika tanggal 29 April yang sudah dijadwalkan ternyata diundur, Mary Jane seakan dipermainkan oleh maut. saya bahkan bersimpati kepadanya dan mungkin saja dia lebih tersiksa dari kedelapan narapida yang sudah dieksekusi. persoalan mati memang akan dilalui oleh semua orang namun kesiapan dalam menghadapi maut adalah sesuatu yang paling menyiksa.
Sosok Mary Jane sedang menjalani hidupnya yang berat. entah nantinya hukumannya akan di PK ataupun rencana eksekusi akan tetap dilaksanakan terhadap dirinya namun tetap saja bahwa hari-hari ini menjadi hari paling mengerikan baginya. sosoknya yang seperti diberitakan di media-media bahwa hanya seorang warga miskin dengan dua anak di Filipina yang kemudian menjadi korban human trafficking.
entah sikap apa yang harus saya ambil melihat kasus hukuman mati. disatu sisi melihat seorang manusia dengan cara menjemput mautnya di tangan orang menurut saya amat sangat tidak adil meski mungkin di mata hukum dia "layak" mendapat hukuman setimpal atas kesalahan yang dilakukan.
hidup memang semua panggung pertunjukkan yang selalu menghadirkan drama yang tak terduga. masa depan selalu saja menjadi rahasia semesta yang tidak pernah bisa diprediksi meski manusia merencakan masa depannya serapi apapun namun tetap saja akan menjadi misteri.
Rawamangun.290415
tepatnya semalam dini hari tanggal 29 April 2015 pukul 00:25 WIB delapan terpidana mati, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia); Martin Anderson (Ghana); Raheem A Salami, Sylvester Obiekwe, dan Okwudili Oyatanze (Nigeria); Rodrigo Gularte (Brasil); serta Zainal Abidin (Indonesia) menemui ajalnya sumber, sebenarnya ada sembilan terpidana mati yang siap di eksekusi namun ternyata hanya delapan karena salah seorang dari narapidana tersebut ditunda eksekusinya, perempuan tersebut bernama Mary Jane asal Filipina. tidak perlu saya utarakan semua kronologis dari kedelapan narapida yang sudah dieksekusi dan kesalahan apa yang menyebabkan mereka sampai harus meregang nyawa dengan cara seperti itu. kronologisnya sudah bertebaran di media-media dan percakapan masyarakat.
saya lebih tertarik membahas sisi lain dari Mary jane, salah satu Narapida Narkoba yang sudah dijadwalkan dieksekusi semalam namun ditunda karena ada alasan eksternal. sebenarnya bukan benar salahnya yang ingin kuceritakan namun lebih kepada perasaan sesosok manusia biasa menghadapi maut yang sudah ditentukan. perasaan seperti apa yang berkecamuk di dalam diri Mary Jane saat ini.
kematian selalu saja menjadi misteri yang paling menakutkan karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan mereka akan menemui maut kemudian ketika berada di posisi Mary Jane yang sudah ditentukan ajalnya oleh manusia, bagaiman kegoncangan yang terjadi di dalam jiwanya bahkan ketika tanggal 29 April yang sudah dijadwalkan ternyata diundur, Mary Jane seakan dipermainkan oleh maut. saya bahkan bersimpati kepadanya dan mungkin saja dia lebih tersiksa dari kedelapan narapida yang sudah dieksekusi. persoalan mati memang akan dilalui oleh semua orang namun kesiapan dalam menghadapi maut adalah sesuatu yang paling menyiksa.
Sosok Mary Jane sedang menjalani hidupnya yang berat. entah nantinya hukumannya akan di PK ataupun rencana eksekusi akan tetap dilaksanakan terhadap dirinya namun tetap saja bahwa hari-hari ini menjadi hari paling mengerikan baginya. sosoknya yang seperti diberitakan di media-media bahwa hanya seorang warga miskin dengan dua anak di Filipina yang kemudian menjadi korban human trafficking.
entah sikap apa yang harus saya ambil melihat kasus hukuman mati. disatu sisi melihat seorang manusia dengan cara menjemput mautnya di tangan orang menurut saya amat sangat tidak adil meski mungkin di mata hukum dia "layak" mendapat hukuman setimpal atas kesalahan yang dilakukan.
hidup memang semua panggung pertunjukkan yang selalu menghadirkan drama yang tak terduga. masa depan selalu saja menjadi rahasia semesta yang tidak pernah bisa diprediksi meski manusia merencakan masa depannya serapi apapun namun tetap saja akan menjadi misteri.
Rawamangun.290415
No comments:
Post a Comment